NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Atap Yang Sama

Makan malam berlangsung hangat.

Sesekali terdengar tawa kecil memenuhi ruang makan. Sebagian besar berasal dari Nenek yang terus bercerita tentang Evan saat masih kecil.

"Shana, kamu tahu?"

"Apa, Nek?"

"Waktu kecil Evan paling tidak suka makan sayur."

Evan langsung menghela napas.

"Nek..."

"Kenapa? Memangnya salah kalau Nenek cerita?"

Shana menahan tawanya.

"Benarkah?"

"Iya." Nenek mengangguk mantap.

"Kalau disuruh makan bayam, dia selalu menyembunyikannya di bawah nasi."

Shana spontan tertawa. "Sungguh?"

Evan hanya bisa memijat pelipisnya.

"Itu sudah lama sekali."

"Tapi tetap lucu."

Shana diam-diam menatap Evan sambil tersenyum. Mendengar cerita - cerita kecil tentang masa lalunya membuat sosok pria itu terasa lebih dekat. Tidak lagi hanya seorang CEO yang dingin. Melainkan seseorang yang pernah menjadi anak kecil, dimarahi karena tidak mau makan sayur.

"Nah, sekarang giliranmu."

Nenek tiba-tiba menatap Shana.

"Hah?"

"Ceritakan tentang dirimu."

Shana terdiam beberapa saat.

"Saya?"

"Iya."

"Tidak ada yang menarik, Nek."

"Nenek yakin ada."

Shana tersenyum kecil.

"Saya hanya tinggal sendiri di apartemen. Kalau libur biasanya bersih-bersih, belanja kebutuhan lalu memasak."

"Oh? Berarti kamu suka memasak?"

Shana mengangguk.

"Suka."

Mata nenek langsung berbinar.

"Kalau begitu, nanti pas libur mainlah ke sini."

Shana tampak terkejut.

"Kesini, Nek?"

"Iya."

"Nanti kita masak bersama."

Mata Shana ikut berbinar.

"Boleh?"

"Tentu saja."

"Nenek senang kalau ada teman memasak."

Shana tersenyum tulus.

"Kalau begitu saya akan datang."

"Kamu tinggal bilang saja kapan."

Nenek lalu melirik Evan dengan senyum penuh arti.

"Nanti Evan yang menjemputmu."

Evan yang sedang mengambil segelas air sempat terkejut mendengar namanya disebut. Namun sesaat kemudian, ia mengangguk pelan.

"Tentu."

"Oh, jangan begitu." Shana langsung menggeleng.

"Nanti malah merepotkan."

"Tidak ada yang merepotkan." Jawaban Evan terdengar tenang, tetapi begitu mantap hingga membuat Shana kehilangan alasan untuk menolak.

Nenek tersenyum puas.

"Tuh, Evan juga sudah setuju."

Shana hanya bisa melirik Evan sebentar. Pria itu kebetulan juga sedang menatapnya. Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Evan tersenyum tipis.

Tanpa sadar, Shana ikut membalas senyum itu sebelum buru-buru mengalihkan pandangannya.

Melihat reaksi keduanya, Nenek diam-diam menahan tawa.

"Makanan di meja sudah hampir habis, tapi kalian masih saja saling melirik." Gumamnya pelan.

"Nek..." Protes Evan.

"Apa? Nenek cuma bilang apa yang Nenek lihat."

Shana langsung menundukkan wajahnya. Pipi putihnya kembali memerah.

Malam semakin larut. Setelah makan malam selesai, mereka masih menghabiskan waktu di ruang keluarga sambil menikmati teh hangat. Obrolan ringan terus mengalir, diselingi tawa yang sesekali memenuhi rumah itu.

Sampai akhirnya, jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Shana melirik jam itu sekilas.

"Wah..."

"Kenapa?" Tanya Nenek.

"Sudah malam sekali."

"Oh, iya."

Shana perlahan berdiri.

"Sepertinya saya harus pamit."

Nenek justru menggeleng cepat.

"Belum."

Shana tersenyum kecil.

"Nanti kemalaman, Nek."

"Justru karena sudah malam."

"Nenek..."

Nenek menggenggam tangan Shana dengan lembut.

"Rumah ini jarang sekali seramai malam ini."

Kalimat itu membuat Shana terdiam.

"Nenek masih ingin mengobrol denganmu."

Shana menoleh kepada Evan, seolah meminta bantuan. Namun pria itu hanya tersenyum tipis.

"Saya ikut keputusan Nenek."

"Pak..."

"Evan," Koreksi pria itu pelan.

Shana langsung salah tingkah.

"I-ya... Evan."

Mendengar namanya kembali dipanggil seperti itu, senyum Evan semakin terlihat jelas.

Nenek yang melihat reaksi cucunya langsung terkekeh pelan.

"Ternyata cuman dipanggil nama saja sudah sebahagia itu."

"Nek..."

"Apa? Nenek benar, kan?"

Evan hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.

Nenek kembali menatap Shana.

"Begini saja."

"Iya, Nek?"

"Besok kan hari libur."

Shana mengangguk.

"Iya."

"Kalau begitu, menginap saja malam ini."

Shana sontak membulatkan mata.

"Menginap?"

"Iya."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi."

Nenek tersenyum lembut.

"Nenek masih ingin ngobrol banyak sama kamu besok pagi."

Shana tampak ragu.

"Saya takut merepotkan."

"Nak."

Nenek mengusap pelan punggung tangan Shana.

"Kalau Nenek sudah menganggapmu seperti cucu sendiri, mana mungkin kamu merepotkan."

Shana menatap wajah Nenek cukup lama. Perlahan, ia mengangguk.

"Kalau begitu... saya menginap"

"Wah, syukurlah."

Wajah Nenek langsung berbinar bahagia.

"Evan."

"Iya, Nek."

"Tolong antarkan Shana ke kamar tamu."

"Baik."

Evan berdiri, lalu menatap Shana dengan senyum yang sulit disembunyikan.

"Ayo."

Shana mengangguk pelan. Entah kenapa... Saat mengikuti langkah Evan menuju lantai atas, jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Dan, di belakang mereka, Nenek memperhatikan sambil tersenyum puas.

"Pelan-pelan saja..."

"Masih banyak waktu untuk kalian berdua."

***

Evan melangkah lebih dulu menaiki tangga. Shana mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

Rumah itu terasa begitu tenang. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di lorong lantai dua. Evan berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih.

"Ini kamarnya."

Ia membuka pintu perlahan.

Ruangan itu sederhana, tetapi sangat nyaman. Tempat tidur berukuran sedang dengan seprai putih bersih, lemari kayu, meja kecil di dekat jendela, dan balkon mungil yang menghadap taman belakang.

Shana tersenyum kagum.

"Kamarnya cantik."

"Semoga kamu nyaman."

"Sangat nyaman."

Evan berjalan menuju lemari, lalu mengeluarkan satu set handuk baru.

"Semua perlengkapannya sudah disiapkan nenek. "

Shana menerimanya sambil tersenyum.

"Terima kasih."

Evan mengangguk pelan.

"Oh iya..."

Shana menoleh.

"Ada apa?"

"Saya ambilkan baju ganti untukmu."

"Tidak usah, tidak perlu repot."

"Tunggu sebentar."

Tanpa memberi kesempatan Shana menolak, Evan sudah melangkah ke luar dari kamar.

Shana hanya bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.

"Orang ini..."

Beberapa menit kemudian terdengar ketukan pelan di pintu.

Tok... tok...

Shana segera membukanya.

Di depan pintu, Evan berdiri sambil membawa sebuah sweater abu-abu dan celana training hitam yang terlipat rapi.

"Ini."

Shana menerimanya dengan sedikit bingung.

"Saya rasa ukurannya tidak akan terlalu besar."

Shana menatap pakaian di tangannya. Lalu kembali menatap Evan.

"Maaf."

"Untuk apa?"

"Saya tidak punya persedian baju wanita di rumah."

Kalimat itu membuat Shana terkekeh pelan.

"Ya jelas tidak punya."

Evan ikut tersenyum.

"Jadi... untuk malam ini, kamu harus memakai baju saya."

Shana mengangguk pelan.

"Ini sudah lebih dari cukup."

"Kalau ada yang kurang nyaman, bilang saja."

"Tidak." Shana menggeleng sambil tersenyum hangat.

"Justru saya merasa tidak enak sudah merepotkan."

"Kamu tidak merepotkan, tidak pernah..."

Jawaban Evan terdengar begitu spontan hingga membuat keduanya sama-sama terdiam sesaat. Evan kemudian berdeham pelan untuk mengalihkan rasa canggung.

"Oh, ya."

"Hm?"

"Kamar saya ada di ujung lorong yang sama."

Shana mengikuti arah telunjuk Evan. Di ujung koridor tampak sebuah pintu berwarna coklat tua.

"Kalau ada apa-apa, kalau kamu membutuhkan sesuatu malam ini..."

Evan menatapnya lembut.

"... tinggal ketuk pintu kamar saya."

Shana mengangguk pelan. " Baik.".

"Kalau begitu... istirahatlah."

"Iya."

Evan berbalik hendak ke luar.

Namun baru dua langkah berjalan...

"Eva-n"

Suara Shana membuat langkahnya terhenti. Ia menoleh.

"Iya."

Shana tampak ragu-ragu.

"Terima kasih... untuk malam ini."

Tatapan Evan melembut.

"Saya yang harus berterima kasih."

"Kenapa?"

"Karena kamu mau datang."

Shana tersenyum tipis.

"Lalu..." Evan menambahkan pelan.

"... karena sudah membuat Nenek sangat bahagia."

Hati Shana terasa hangat mendengarnya. Ia mengangguk kecil.

"Selamat malam...Evan."

Untuk sesaat, Evan hanya tersenyum.

"Selamat malam, Shana."

Pintuk kamar pun tertutup perlahan.

Di balik pintu, Shana menyandarkan tubuhnya sambil memegang dadanya sendiri.

"Kenapa setiap kali bersamanya..."

"....jantungku selalu begini?"

Sementara itu, di kamar lain, Evan justru berdiri cukup lama di depan pintu kamarnya sendiri.

Sudut bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Malam itu...

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seseorang yang memenuhi pikirannya sedang tidur di bawah atap rumah yang sama dengannya.

-My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa kalian lucu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa gak duduk di balkon apa ruang tamu aja malah telfonan 🤣
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah lah Evan, cepat sat set halalin aja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
bener ya nenek cuma bilang apa yang terlihat 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
tidak merepotkan, malah senang ya Evan 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek menceritakan masa kecil Evan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
Diterima ga ya🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒: terima aja kak 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ngapain sih Nena ada disnaa JD kan ke ganggu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek benar, Evan gak bisa berpaling darimu Shana 🤭
⃟ ⃟🐬🅿!💤©€$™_- 🐟
ehekkk... hayooo Shanaaa😂🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
terus terang aja kalian tuh PD saling memikirkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kalian sudah cocok kayaknya knp gak jadian aja
Maura Ayna
semangat terussss, halalkan hubungan mereka🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!