NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: HUJAN DAN LUKA YANG SEMAKIN DALAM

...BAB 16...

...HUJAN DAN LUKA YANG SEMAKIN DALAM...

Hampir satu bulan, sejak hari itu. Alina masih juga belum menampakkan dirinya. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada tanda-tanda gadis itu mau kembali menemui mereka. Aditya dan Kirana sudah berusaha segala cara. Menelepon bertanya berkali-kali, ke guru dan teman-temannya, mengirim pesan penuh permohonan, bahkan sempat datang ke sekolah Alina untuk menunggu, namun Alina selalu berhasil menghindar atau pergi lebih cepat sebelum mereka sempat bertemu.

Rasa cemas di hati kedua orang tua itu semakin hari semakin membesar. Aditya sering duduk termenung di kursi teras, matanya selalu tertuju ke jalan raya berharap melihat sosok putri tunggalnya datang berjalan pulang. Tubuhnya sekarang tampak kurus, wajahnya yang dulu tampan dan berwibawa sekarang terlihat pucat lesu karena kurang tidur, rasa bersalah terus menggerogoti hatinya.

Sedangkan Kirana, setiap malam selalu berdoa panjang di sudut kamar, air matanya tak henti menetes. Ia tahu betul betapa manja, betapa terbiasa hidup nyaman, dan betapa tidak terampilnya Alina mengurus dirinya sendiri. Ia takut gadis itu kelaparan, takut sakit tidak ada yang merawat, takut mengalami hal buruk yang tidak sanggup ia hadapi sendirian.

Mereka pun sempat bertanya pada teman-teman dekat Alina yang dulu sering datang ke mansion: Nayla, Keisha, dan Rania. Namun jawaban yang mereka dapatkan justru membuat hati mereka semakin perih. Ketiga gadis itu hanya menunduk ragu, wajah mereka kaku, lalu menjawab dengan nada dingin dan menghindar.

“Maaf Pak, Bu_ Kami sudah tidak dekat lagi sama Alina. Kami tidak tahu di mana dia tinggal sekarang,” jawab Nayla pelan, lalu buru-buru pergi bersama kedua temannya.

Baru setelah itu Aditya dan Kirana tahu kebenaran pahitnya. Berita kebangkrutan Aditya sudah menyebar luas ke seluruh kalangan sekolah elit tempat Alina bersekolah. Semua orang tahu, semua orang membicarakannya, bahkan banyak yang melebih-lebihkan cerita itu.

Teman-teman dekat Alina, yang dulu selalu bersama kemanapun, selalu memuji, memanjakan, dan bergantung pada kekayaan Alina, kini perlahan menjauh satu per satu. Mereka takut ikut terkena masalah, takut dianggap berteman dengan orang miskin, takut nama baik mereka ikut ternoda karena bergaul dengan keluarga yang sudah jatuh miskin. Nayla, Keisha, dan Rania pun ikut serta, memilih meninggalkan sahabat yang dulu selalu mereka banggakan, hanya demi menjaga status dan nama baik mereka sendiri.

Mendengar kenyataan itu, dada Kirana terasa seperti diremas kuat. Ia bisa membayangkan betapa sakitnya hati Alina, betapa sepinya rasanya saat semua orang yang ia percayai tiba-tiba berbalik menjauh. Rasa khawatirnya meledak menjadi rasa takut yang besar. Ia tidak bisa diam lagi, tidak bisa hanya menunggu di rumah sambil berdoa saja.

Siang itu, langit di luar mulai berawan kelabu, angin bertiup dingin membawa bau hujan yang akan turun. Kirana mengenakan baju gamis coklat dan jilbab lebar hitam, tak lupa membawa payung lalu sedikit bekal makanan yang ia masak sendiri. Setelah siap Karina berpamitan pada Aditya dengan suara tegas namun gemetar.

“Mas, aku mau ke sekolah Alina. Aku akan jemput dia pulang, apa pun yang terjadi. Aku tidak tega membiarkan dia sendirian di sana, sendirian di tengah orang-orang yang memusuhinya."

Aditya menatap istrinya dengan cemas, ingin melarang tapi tahu betul hati Kirana tidak akan bisa ditenangkan sebelum melihat Alina baik-baik. Ia hanya mengangguk pelan, lalu memegang tangan istrinya erat.

“Hati-hati, Kirana. Aku ikut doakan semoga dia mau mendengarkan kamu.”

Perjalanan menuju sekolah elit itu terasa jauh dan berat di hati Kirana. Sekolah itu tempat yang dulu sering ia kunjungi, tempat ia selalu datang dengan mobil mewah, pakaian rapi, disambut dengan hormat oleh semua orang. Kini ia datang dengan pakaian biasa, naik angkutan umum, merasa kecil dan tidak berdaya di depan gerbang tinggi yang megah itu.

Saat bel istirahat berbunyi, halaman sekolah yang luas itu seketika penuh dengan siswa-siswi yang berpakaian seragam rapi, berjalan berkelompok, tertawa, dan bercanda. Kirana berdiri di sudut gerbang, matanya berkeliling mencari sosok Alina. Dan tidak lama kemudian, ia melihatnya.

Alina berdiri sendirian di sudut lapangan, jauh dari keramaian. Pakaian seragamnya sedikit kusam, rambut panjangnya diikat asal tidak dihias rapi seperti dulu, wajahnya pucat dan tampak lelah. Di sekelilingnya, ada sekelompok gadis yang dulu sering bersamanya, kini berdiri melingkar sambil tertawa sinis, suaranya sengaja dikeraskan agar bisa didengar oleh Alina.

“Ih, lihat deh itu Alina! Dulu paling sombong, paling bangga jadi anak orang kaya, sekarang malah sendirian seperti orang terbuang,” ucap salah satu gadis dengan nada mengejek, diikuti tawa riuh teman-temannya.

“Iya benar! Katanya ayahnya pengusaha sukses, ternyata cuma penipu yang hutangnya di mana-mana. Pantas saja sekarang tidak punya apa-apa, sampai tidak punya rumah sendiri!” seru gadis lain, sambil menatap Alina dengan pandangan meremehkan.

“Dasar anak orang bangkrut! Jangan harap kamu bisa berteman sama kita lagi ya. Kami tidak mau nama baik kami kotor cuma karena berteman sama orang miskin sepertimu!”

Kata-kata tajam itu menusuk telinga Kirana dengan sangat jelas. Ia melihat tubuh Alina yang gemetar hebat, kepalanya tertunduk dalam, tangan kecilnya mengepal erat menahan amarah dan rasa sakit yang meluap. Tidak ada satu pun orang yang membela gadis itu, semua orang hanya melihat atau ikut tertawa, bahkan Nayla, Keisha, dan Rania hanya diam memandang dari kejauhan dengan wajah tidak berani menatap mata sahabatnya dulu.

Hati Kirana terasa perih sampai ke tulang. Ia tidak sanggup lagi melihat anak tirinya dihina dan dipermalukan seperti itu. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat menerobos kerumunan siswa, lalu berdiri tegak di depan Alina, melindungi tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri.

“Cukup! Kalian tidak boleh bicara seperti itu!” suara Kirana terdengar keras dan tegas, meskipun hatinya sedang gemetar ketakutan. “Siapa pun kalian, menghina orang lain itu tidak pantas, apalagi teman sekolah sendiri. Keadaan seseorang boleh berubah, tapi harga diri dan kehormatan tidak boleh direndahkan seperti ini!”

Kerumunan itu seketika diam, semua mata tertuju pada Kirana. Gadis-gadis yang mengejek itu terdiam kaget, lalu salah satu dari mereka berani berbicara balik dengan nada kasar.

“Hei, siapa kamu? Ini urusan kami sama dia, tidak ada urusannya sama kamu, Bu! Jangan-jangan kamu itu ibu tirinya Alina? Ibu tiri yang tidak punya harga diri sama seperti suamimu!” sindir salah satunya dengan puas, semua anak-anak gadis remaja itu tertawa.

Kata itu membuat darah Kirana mendidih, tapi ia tetap tidak mundur. Ia tetap berdiri tegak, melindungi Alina dengan sekuat tenaganya.

“Ya, saya ibunya Alina, orang tua berhak membela anaknya! Kalian masih anak sekolah, apa sudah diajarkan sopan santun, begitu? Ingat, nasib orang itu berputar, hari ini kalian berada di atas, besok belum tentu kalian tetap di sana. Jangan pernah meremehkan orang yang sedang susah!”

Suasana menjadi tegang, semua orang menatap mereka dengan rasa penasaran. Kirana lalu berbalik cepat, menatap Alina yang masih tertunduk diam, matanya sudah penuh air mata. Ia mengulurkan tangan lembut, nada suaranya kembali menjadi lembut dan penuh kasih sayang, persis seperti ibu yang memanggil anaknya sendiri.

“Alina… Nak, ayo pulang sama Ibu. Jangan tinggal di tempat sempit sendirian lagi. Kami sudah punya rumah baru, rumah Mamamu. Di sana aman, nyaman, ada Papamu yang selalu menunggu kamu, ada Ibu yang akan merawat kamu. Dimas juga menunggumu, Nak. Ayo pulang sama Ibu, Nak… Ibu mohon sekali.”

Kirana pikir, setelah melihat ia membela diri, setelah melihat betapa susahnya hidup sendirian, hati Alina akan meleleh. Ia pikir gadis itu akan mau menerima uluran tangannya, mau pulang kembali ke pelukan keluarga.

Tapi kenyataan pahit justru datang dengan lebih menyakitkan.

Alina perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah padam karena marah dan menangis, pandangannya tidak lagi lembut, melainkan penuh kebencian dan rasa sakit yang meledak. Ia tidak melihat rasa sayang di mata Kirana, ia hanya melihat rasa malu, rasa marah, dan rasa jijik karena dipermalukan di depan semua orang.

Gadis itu menepis tangan Kirana dengan keras, sampai tangan Kirana terlempar ke samping.

“JANGAN SENTUH AKU!” teriak Alina keras, suaranya bergema di seluruh halaman sekolah, membuat semua orang terdiam kaget. “Kamu datang ke sini cuma ingin mempermalukan aku lagi kan?! Kamu pikir kamu hebat sudah membela aku? Semua orang sekarang makin tahu, makin tahu kalau aku cuma anak orang bangkrut yang dibela oleh ibu tiri rendahan sepertimu!”

Air mata mengalir deras di pipi Alina, bercampur dengan rasa marah yang tak tertahan.

“Semua ini salah kamu! Semua rasa malu, semua hinaan, semua kesusahan ini datangnya dari kamu! Kalau dulu kamu tidak datang ke rumah kami, kalau kamu tidak masuk ke hidup Papaku, Papa tidak akan berubah, kami tidak akan jatuh miskin seperti ini! Aku BENCI KAMU! Aku tidak akan pernah mau pulang sama kamu, tidak akan pernah mau menganggapmu sebagai ibuku seumur hidupku!” teriaknya.

Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menusuk tepat ke tengah dada Kirana. Rasanya napasnya tercekat, kakinya terasa lemas mau roboh, seluruh tubuhnya terasa dingin membeku. Di tengah keramaian ratusan siswa, di depan tatapan mata yang bercampur rasa kasihan dan rasa penasaran, Kirana berdiri diam seperti patung, hatinya hancur berkeping-keping. Semua kebaikan, semua kesabaran, semua kasih sayang yang ia berikan selama bertahun-tahun, dianggap sebagai kesalahan, dianggap sebagai penyebab semua musibah yang menimpa mereka.

Tepat saat itu, rintik hujan yang sejak tadi tertahan akhirnya turun dengan derasnya. Langit yang kelabu seketika menjadi gelap, air hujan turun membasahi seluruh tubuh Kirana dalam sekejap. Angin kencang bertiup, membuat suasananya semakin dingin dan menyedihkan.

Alina tidak mau menatap Kirana lagi. Ia membalikkan badan, lalu berlari cepat masuk ke dalam gedung sekolah, menghilang di balik pintu, meninggalkan Kirana sendirian di tengah hujan deras itu.

Kerumunan siswa perlahan bubar, pergi masuk ke dalam gedung untuk menghindari hujan, meninggalkan Kirana sendirian berdiri di sana. Air hujan membasahi seluruh tubuhnya, membasahi wajahnya, bercampur dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Ia menggigil kedinginan, tubuhnya lemas, hatinya sakit luar biasa, lebih sakit daripada rasa sakit apa pun yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Bersambung ...

1
Kam1la
Alina, yang kuat yah...!
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
apakah hati alin perlahan menerima kehadiran Kirana dan Dimas
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak, ditunggu komennya. Krisan dari KK cantik 😍
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
lagian ngapain nikah lagi sih kalo ujung²nya kehidupan Dimas dan Kirana tetap sama bahkan menafkahi saja tampaknya jarang
Kayla Rane: lanjut terus k bacanya, nanti bakal ditemukan jawabannya..🤭 terimakasih komentar, dan likenya. 💞💞💞
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
sebenarnya si alin ini kayaknya peduli sama Kirana tapi dianya menyembunyikan rasa itu dan ditutup dengan rasa benci
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
jujur sebenarnya si alin emang agak nyebelin ya, tapi mungkin karna hati nya sudah beku jadi ya gitu 😕
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
pasti alin masih gak bisa terima kalo tiba² dia punya ibu baru yg cuma kerja jadi guru
falea sezi
😒 anak g tau diri bangke
Kayla Rane: sudah Bab 23 kk ditunggu komennya (Krisan dari KK cantik 😍)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hadiah nya sih keren, tapi nafkah setiap hari nya manaaaa? kata nya CEO, punya pulau pribadi 🤣🤣 sampai laptop rusak aja masih minta ganti, istri gak pegang uang samsek, hanya uang tabungan hasil usaha sendiri Pak Aditya gak punya gengsi kah? 🤣 atau Bu Kirana yg terlalu bodoh 🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lucu.. pelakuan Pak Aditya ke Bu Kirana dan Dimas, bukan seperti perlakuan seorang suami kepada istri, atau seorang ayah kepada anak, lebih seperti perlakuan kepada pembantu.
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak.. ditunggu komennya, (kritik sarannya KK)😍
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
looh tadi katanya jalan kaki, kok tiba2 ada mobil?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: wkwkwkwk.. sama2 kak thor
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak.. pak.. jangan jadi kepala keluarga pajangan donk, situ boleh bangga jadi ceo, tapi anak sambung dan istri diperlakukan begitu, sama aja harga diri kamu yg diinjak2 pak.. 🙏 kalau gak bisa melindungi mereka, mending gak usah dinikahi, toh kehidupan dimas dan kirana gak ada perubahan 😏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
papa nya aneh.. apa tujuannya menikah dengan Kirana? 🙄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
emang gak ada cctv apa? 😏 mustahal syekali 😌
Kayla Rane: Alina lebih pintar,sebelum buat fitnah dia matiin dulu cctv nya di ruang kerja papanya
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kan udh punya suami kaya, kok suaminya masih membiarkan aja bu Kirana dan Dimas kesusahan, terlepas dari sikap Alina dan pernikahan yg disembunyikan, setidaknya beri kehidupan yg layak untuk istri dan anak sambungnya, nafkah yg layak untuk mereka..
Kayla Rane: iya kan dari awal bab, si Alina udah gak suka udah berpikiran buruk duluan sama ibu tirinya bahwa Kirana nikahin papanya pasti mau nguras harta papanya saja. jadi Kirana walau sudah nikah sama papanya Alina masih berpenampilan sederhana, agar bisa diterima Alina bahwa penilaiannya tentang kirana salah.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!