Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Arum dibuat kesal, Dirinya akan pindah besok dan Rizal belum melaksanakan janjinya yang ingin bersamanya untuk terakhir kalinya
Biasanya Rizal akan datang padanya pada malam hari dan malam ini tidak "Apa mas Rizal udah gak tertarik sama aku?"
Sejak tadi Arum hanya menggerutu saja, sementara itu dikamar lain Rizal tengah sibuk melayani keperluan istrinya
Sejak tadi Hanna merasa gelisah, wanita hamil itu kesulitan mencari posisi yang nyaman untuk tidur dan Rizal terus mendampingi istrinya itu
"Mas pasti keganggu" Ujar Hanna merasa bersalah
"Gak apa-apa sayang! Biar kamu nyaman dulu" Rizal terus mengusap punggung istrinya kadang juga tangan lebarnya berada diperut yang sudah sangat membesar
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Rizal namun gelengan kepala Hanna berikan sebagai jawabannya
"Aku mau dielus-elus aja" Ujar Hanna semakin membenamkan wajahnya di dada suaminya
Rizal menurutinya, pria tampan itu mengusap pelan punggung istrinya itu membuat Hanna merasa nyaman lalu memejamkan matanya
Malam ini Rizal harus menemui Arum agar masalahnya dan wanita itu segera selesai. Ia tidak ingin memiliki urusan apapun lagi dengan wanita bernama Arum
Merasa sang istri telah terlelap, Rizal berusaha menarik diri. Namun saat Hanna merasakan pergerakan suaminya, wanita hamil itu kembali membuka matanya
"Mas mau kemana?"
"Maaf, maaf! Ayo tidur lagi!" Rizal kembali mengusap punggung istrinya itu dan tanpa sadar ia ikut terlelap
"Aku akan membuat rumah tangga kamu hancur mas!" Geram Arum karena Rizal tak kunjung datang
"Kamu yakin baik-baik aja?" Tanya Rizal karena sang istri tengah bersiap untuk ketempat senam
"Iya, lagian ini jadwal terakhir aku buat senam. Persalinan aku sebentar lagi, jadi ini perlu!"
Hanna sudah siap, pakaian olahraga itu mencetak tubuhnya yang begitu menggoda bagi Rizal, rasanya ia ingin menerkamnya saat ini juga
"Ayo!" Hanna melambaikan tangannya didepan wajah sang suami yang sepertinya melamun "Mas"
"Iya maaf, kamu yakin mau pakai itu?" Hanna melihat tubuh bagian atasnya, kausnya memang sedikit ketat, namun bagian celana ia masih mengenakan celana olahraga yang longgar
"Nanti aku ganti celananya di studio!" Jawab Hanna
"Bajunya sayang! Mas gak mau kamu diliatin sama cowok-cowok!" Rizal bersikap posesif
Bagaimana ia bisa membiarkan istrinya menjadi pusat perhatian para hidung belang diluar sana
"Apaan sih kamu mas! Emangnya siapa yang mau tergoda sama perempuan hamil yang gendut kayak aku!"
Hanna hanya menggelengkan kepalanya, menurutnya suaminya ini sangat berlebihan
"Ayo mas! Nanti aku telat loh!" Gerutunya karena sang suami tidak beranjak dari duduknya
Rizal berdiri, mendekat kearah lemari dan mengambil jaketnya "Kamu pake jaket!"
Hanna melongo, jaket ini sangat besar pada tubuhnya yang pendek karena jaket ini milik suaminya
"Ini jaket kamu! Kebesaran dong sama aku!" Gerutunya, namun hanya bisa pasrah saat sang suami memakaikannya ditubuhnya
"Biar perutnya ditutup aja! Nanti princess kita masuk angin!"
Hanna hanya bisa menggerutu dalam hatinya, ia pasrah saja saat kini tubuhnya telah terbungkus sempurna
"Puas?"
Rizal tersenyum lalu mengecup bibir ranum itu sekilas "I Love You!"
Hanna tersenyum, keduanya keluar dengan saling bergandengan tangan. Arum yang melihat itu jelas saja merasa cemburu
Rizal terlihat begitu bahagia bersama istrinya dan sepertinya pria itu melupakan janji mereka
Arum mengepal, melihat bagaimana Rizal begitu perhatian pada Hanna. Terlebih saat mendengar ucapan Warsih
"Ibu kayaknya salah pake jaket, ini kebesaran!" Ujar Warsih saat melihat majikannya itu
"Mbok tanya nih sama si posesif ini! Masa mau olahraga pake jaket" Gerutu Hanna yang sepertinya masih kesal
"Itu tandanya bapak sayang sama ibu, makanya bapak cemburu kalau ibu dilihat sama cowok lain"
Arum semakin mengepal kuat, ia ingin sadar diri, namun rasa cemburu ini tetap saja ada dan membuat hatinya terbakar
"Tau ah" Kesal Hanna
"Udah jangan marah gitu! Biar mas anterin sekarang!" Rizal membelai puncak kepala wanitanya itu dengan lembut
Saat keduanya hendak pergi, tatapan Rizal dan Arum bertemu. Wanita itu terlihat begitu kecewa dan Rizal mengerti itu
Rizal tersenyum saat sangat istri menegurnya lalu keduanya keluar rumah.
Rizal membuka pintu dan Hanna masuk mobil melaju, hingga tiga puluh menit kemudian mobil yang dikendarai Rizal tiba di studio senam
"Kamu pulangnya jam berapa?"
"Gak tau, mungkin siang" jawab Hanna
"Kalau senamnya udah selesai, langsung telepon mas!" Hanna mengangguk lalu turun dari mobil suaminya
"Mas mau kerja kan?"
Rizal mengangguk "Iya, mas mau ngecek proyek"
"Kalau gitu nanti biar aku dijemput sama Ipul aja!" Ujar Hanna tidak ingin merepotkan suaminya
"Ya udah, mas pergi dulu!" Hanna mencium punggung tangan suaminya dan Rizal mengecup kening istrinya seperti biasa
Sementara itu Rizal kembali kerumah dan bukannya bekerja, ia sudah tidak sabar untuk secepatnya tiba di rumah
Terlebih ada sesuatu dalam dirinya yang ingin segera dituntaskan karena tubuh menggoda Hanna pagi tadi
Sesampainya dirumah, kediaman itu terasa sepi. Rizal melangkah menuju kamar Arum. Tanpa mengetuk ia membuka pintu yang memang tidak dikunci
Arum tengah duduk disisi tempat tidur, wanita itu hanya melirik sekilas kearah pintu dimana Rizal baru saja masuk
"Kamu marah?"
"Menurut kamu?" Ketus Arum, wanita cantik itu memalingkan wajahnya
Rizal tersenyum, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru dari saku celananya kemudian membukanya dan memperlihatkannya pada Arum
Arum terbelalak, didepannya sebuah cincin berlian yang begitu indah. Kilauan nya bahkan sangat memanjakan mata
"Mas ini?" Arum menatap tak percaya
"Aku minta maaf, sebenarnya aku sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Tapi belum ada kesempatan" Ujar pria itu seraya menarik tangan Arum dan menyematkan cincin berlian itu dijari manisnya
"Kamu suka?" Arum mengangguk antusias, dengan wajah berbinar ia membenamkan dirinya dalam dekapan sang kekasih
"Aku suka, terima kasih mas!"
"Maaf karena beberapa hari ini aku mengabaikan kamu" Rizal mengusap punggung wanitanya itu
Arum menarik dirinya, ia menatap Rizal dengan cairan bening yang sudah membasahi pipinya
"Apa kita tidak bisa seperti ini terus mas? Aku gak masalah kok jadi simpanan selamanya"
Rasanya Arum tidak ingin melepaskan Rizal. Ia sudah terlalu jatuh cinta pada pria tampan ini
"Maaf Arum, bukannya aku tidak mau! Tapi aku ingin memperbaiki rumah tangga aku" Ujar Rizal
Ia sudah bertekad bahwa kebersamaan ini adalah yang terakhir. Dirinya tidak akan menggadaikan keluarganya demi kesenangan sesaat
"Aku akan pastikan kalau semuanya akan baik-baik saja, mbak Hanna tidak akan tahu" Arum memelas namun Rizal mengusap pipinya dengan lembut
"Kamu bisa meminta apapun! Tapi maafkan aku" Rizal mendekat, membubuhkan satu kecupan lembut di kening Arum dan wanita itu memejamkan matanya
"Kita selesaikan ini!" Rizal mendekatkan wajahnya hingga dua belah bibir itu bertemu
Kecupan itu turun pada leher jenjangnya dengan tangan Rizal yang mulai menjelajah. Tali penyangga daster yang Arum kenakan juga mulai ia turunkan
Tubuh Arum sudah terbaring dengan Rizal berada diatasnya "Aku pasti akan merindukan kamu Arum"
Napas keduanya saling memburu, suhu kamar mendadak naik terlebih cuaca diluar sangat terik yang semakin membakar dua insan yang tengah dimabuk kepayang itu
semoga byk yg baca