NovelToon NovelToon
Jika Takemichi Dan Izana Menjadi Perempuan

Jika Takemichi Dan Izana Menjadi Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Tokyo Revengers / Tamat
Popularitas:46.9k
Nilai: 5
Nama Author: sit nur Aisyah

bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.

"wanita cantik" takemichi

"apa kau lihat lihat!?" izana

"garang sekali" takemichi

"kau sekarang sama denganku" izana

"hah?" takemichi nge-lag

"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

surviving child

Burung hantu yang tidak dikenal memberikan pesan untuk semua orang?.

.

.

.

.

Mikey mondar-mandir dengan gelisah di depan anggota Toman dan Tenjiku.

Sudah berhari-hari mereka mencari Takemichi dan Izana.

Mereka telah menyisir berbagai tempat, bahkan masuk ke beberapa hutan yang dianggap paling mencurigakan. Namun hasilnya tetap sama.

Tidak ada jejak.

Tidak ada petunjuk.

Dan itu membuat suasana menjadi semakin menegangkan.

"Menurutmu bagaimana bisa kau berteleportasi dan menggantikan posisi Izana saat itu?"

tanya Kakucho tiba-tiba.

Tatapannya tajam.

"Kenapa harus Izana yang dikirim ke sana?"

Kini semua orang menoleh ke arah Mikey.

Mereka juga menginginkan penjelasan yang lebih jelas.

Mikey menghela napas panjang.

Lalu mulai menceritakan semuanya.

"Takemichi memberiku kupu-kupu emas itu."

"Saat aku menggunakannya..."

Ia berhenti.

Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi.

"Aargh!"

"Sial!"

Kini mereka tidak hanya kehilangan Takemichi.

Tetapi juga Izana.

Dan tidak ada satu pun yang tahu di mana keduanya berada.

"Kita memang kehilangan mereka."

ucap Rindou sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Tapi mereka bukan anak biasa."

"Mereka bisa menjaga diri."

"Walaupun kita tetap khawatir."

Ia menatap Mikey.

"Hey."

"Kau ingat hutan tempat kau berada?"

Kini seluruh ruangan kembali memperhatikan Mikey.

"Hutan sihir."

jawabnya pelan.

"Satu-satunya yang tahu detail tempat itu cuma Takemichi."

"Aku hanya tahu di sana ada makhluk seperti vampir."

Semua terdiam.

"Dan kau sendiri tahu kalau vampir hanya dianggap mitos."

Mikey menunduk.

"Aku yakin Takemichi masih berada di sana."

Setelah mengatakan itu, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

Wajahnya terlihat sangat lelah.

"Jadi kita harus apa?"

tanya Draken.

"Bukankah kalau dibandingkan dengan mereka, kita bukan apa-apa?"

"Mereka memiliki kekuatan sihir."

"Sementara kita?"

Tidak ada yang menjawab.

Hingga akhirnya Kakucho berdiri.

"Ck."

"Cari saja mereka."

"Aku tidak peduli bagaimana caranya."

Ia berjalan menuju jendela yang terbuka.

Namun langkahnya terhenti.

Seekor burung hantu hitam besar sedang bertengger di sana.

Bulunya mengilap.

Tatapannya tajam seperti elang.

Dan di kakinya tergantung sebuah surat.

"Burung hantu?"

"Milik siapa ini?"

Kakucho langsung mengambil surat tersebut.

Ia membukanya perlahan.

Semua orang langsung mendekat.

Kakucho dan semua orang.

Aku harap kalian membaca surat ini.

Aku tahu aku salah karena pergi begitu saja bersama Takemichi tanpa memberi tahu siapa pun.

Oh iya, kalian tidak perlu khawatir.

Kami baik-baik saja.

Saat ini kami sedang bersekolah dan akan pulang saat liburan tiba.

Takemichi masuk ke asrama yang berbeda denganku.

Tahukah kalian?

Dia ditempatkan di Gryffindor yang berisi anak-anak pemberani dan hebat.

Bahkan ada seseorang yang disebut pahlawan dunia sihir di sana, dan entah kenapa Takemichi cukup akrab dengannya.

Sedangkan aku masuk ke Slytherin.

Kebanyakan penghuninya adalah bangsawan berdarah murni.

Aku juga tidak tahu kenapa bisa berakhir di sana.

Pokoknya jangan khawatir.

Kami baik-baik saja.

Dari Izana-mu.

Ruangan langsung hening.

Lalu—

"Hah..."

Kakucho menghela napas lega.

"Syukurlah."

"Jadi mereka aman."

Ekspresinya yang tegang sejak beberapa hari terakhir perlahan mengendur.

"Aku bisa tenang sekarang."

"Lagipula mereka memang tidak bisa melanjutkan sekolah sebelumnya."

"Setidaknya sekarang mereka punya tempat belajar."

Ia memandang burung hantu itu.

"Terima kasih sudah mengantarkan suratnya."

"Kau boleh pulang sekarang."

Namun—

Pat!

"Oi!"

Burung hantu itu mematuk tangannya.

Kakucho langsung meringis.

Setelah itu, burung tersebut terbang pergi begitu saja.

Meninggalkan Kakucho yang masih terpaku kebingungan.

"Sedang apa kau?"

Suara seseorang membuat Kakucho hampir melompat kaget.

Ia menoleh.

Dan menemukan Ran yang sedang menahan tawa.

"Ran!"

"Kau membuatku terkejut saja."

Ran terkekeh kecil.

"Lalu apa itu?"

tanyanya sambil menunjuk surat.

"Surat dari Izana."

"Dia bilang tidak akan pulang untuk sementara."

"Dia dan Takemichi akan bersekolah di sana."

Ran langsung mengambil surat itu.

Kemudian membacanya dengan suara keras agar semua orang bisa mendengar.

Setelah selesai, suasana menjadi jauh lebih tenang.

Setidaknya sekarang mereka tahu.

Izana dan Takemichi masih hidup.

Dan mereka baik-baik saja.

.

.

.

.

Beberapa minggu kemudian.

Pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam berlangsung seperti biasa.

Kelas Slytherin dan Gryffindor kembali digabung.

Para siswa sibuk mencatat, menjawab pertanyaan, dan mempraktikkan mantra yang diajarkan.

Poin asrama menjadi taruhan bagi semua orang.

Namun tidak bagi Izana.

Karena sejak guru sebelumnya terlalu sering bersikap tidak sopan kepada para siswi, Izana sudah kehilangan minat terhadap pelajaran itu.

Bahkan suatu hari ia langsung keluar kelas.

Dan tentu saja...

Ia menyeret Takemichi bersamanya.

Takemichi yang tidak mengerti apa-apa hanya mengikuti dengan bingung.

.

.

.

.

Perpustakaan Hogwarts.

"Takemichi."

"Hm?"

"Kau sudah menemukan informasi tentang Seraphim?"

tanya Izana.

Di hadapannya terdapat tumpukan buku yang hampir setinggi wajahnya.

Takemichi menghela napas panjang.

"Belum."

"Astaga, Za."

"Aku bahkan tidak menemukan satu buku pun tentang makhluk itu."

"Aku mulai pusing."

Ia membalik halaman demi halaman dengan frustrasi.

Izana menyandarkan dagunya ke tangan.

"Ayo semangat."

"Kita harus punya jawaban jika suatu hari identitas kita terbongkar."

Takemichi mengangkat alis.

"Maksudmu?"

"Kita tidak mungkin bilang kita dewi atau malaikat begitu saja."

"Kita harus punya penjelasan yang masuk akal."

Takemichi mengangguk pasrah.

"Baiklah."

"Aku akan mencari lagi."

Ia berdiri dan berjalan ke rak berikutnya.

Jam demi jam berlalu.

Namun hasilnya tetap nihil.

Tumpukan buku semakin banyak.

Sementara Izana mulai kehilangan kesabaran.

Ia menutup bukunya.

Lalu menenggelamkan wajah ke kedua tangannya.

Puk.

Seseorang duduk di samping mereka.

"Kalian sedang mencari apa?"

Suara itu terdengar familiar.

Keduanya menoleh.

Draco Malfoy.

Ia duduk dengan senyum cerah.

"Kami sedang mencari informasi tentang Seraphim."

jawab Izana lemas.

"Tapi tidak ada hasil sama sekali."

Draco terlihat berpikir.

"Seraphim?"

"Hmm..."

"Sepertinya di Malfoy Manor ada buku tentang itu."

Kedua pasang mata langsung menatapnya.

"Sungguh?"

Draco mengangguk.

"Aku akan mengirim surat kepada ibuku."

"Mungkin dia bisa membantu."

Setelah mengatakan itu, ia langsung berdiri dan pergi.

Meninggalkan Takemichi dan Izana yang saling berpandangan.

.

.

.

.

"Michiko!"

Takemichi menoleh.

Harry sedang berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan.

"Harry?"

"Sudah malam."

"Kenapa kau masih di sini?"

Harry tersenyum lebar.

"Mich."

"Boleh aku menemanimu?"

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik tangan Takemichi.

"Ayo."

Takemichi hanya bisa tertawa kecil.

"Tenang saja."

ucap Harry sambil berjalan.

"Aku tidak akan membocorkan rahasia kita."

Takemichi tersenyum lembut.

"Baiklah."

Mereka terus berjalan.

Hingga akhirnya tiba di sebuah danau besar.

Danau Hitam.

Takemichi duduk di bawah pohon persik yang tumbuh di tepi danau.

Harry duduk di sampingnya.

Keduanya sama-sama diam.

Menikmati suasana malam.

Setelah beberapa saat—

"Mich."

panggil Harry.

Takemichi menoleh.

"Ya?"

"Apa benar kau tinggal bersama Muggle?"

tanyanya pelan.

Takemichi mengangguk.

"Ya."

"Mereka cukup baik."

"Aku lumayan menyukai mereka."

Kemudian ia menatap Harry.

"Bukankah kau juga tinggal bersama Muggle?"

"Kenapa bertanya seperti itu?"

Harry langsung memalingkan wajah.

Takemichi memperhatikan ekspresinya.

Ada sesuatu yang salah.

Dan ia bisa merasakannya.

"Kau punya masalah, ya?"

Harry terdiam.

"Mau bercerita padaku?"

tanya Takemichi lembut.

Harry membeku.

Selama hidupnya...

Tidak banyak orang yang bertanya apakah dirinya baik-baik saja.

Dan itu membuat matanya mulai memanas.

"Apakah boleh?"

suaranya bergetar.

Takemichi tersenyum.

Lalu membuka kedua tangannya.

"Boleh."

"Kemarilah."

Harry langsung memeluknya.

Takemichi memeluk balik tubuh kecil itu.

Perlahan menyalurkan sihir hangat yang menenangkan.

Harry merasa aman.

Nyaman.

Untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama.

Dengan suara pelan dan sesekali terputus, ia mulai menceritakan kehidupannya.

Takemichi mendengarkan semuanya.

Tanpa menghakimi.

Tanpa memotong.

Hanya mendengarkan.

Dan memeluknya lebih erat ketika Harry mulai menangis.

.

.

.

.

Tak lama kemudian Harry tertidur dalam pelukannya.

Takemichi mengelus rambut berantakan itu dengan lembut.

Dadanya terasa sesak.

Harry masih sangat kecil.

Namun beban yang dipikulnya terlalu besar.

Ia seharusnya bisa hidup normal.

Bermain.

Belajar.

Tertawa bersama teman-temannya.

Bukan memikirkan peperangan dan tanggung jawab yang bahkan tidak dimengerti orang dewasa.

Takemichi memandang wajah Harry yang tertidur.

Lalu menghela napas panjang.

Hingga sebuah suara terdengar dari belakangnya.

"Mrs. Hanaga."

"Kenapa kau masih berada di luar asrama malam-malam seperti ini?"

Takemichi langsung mengenali suara itu.

Severus Snape.

"Apakah kau ingin mendapat detensi?"

Takemichi tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Snape dengan mata lelah.

"Profesor."

ucapnya pelan.

"Bagaimana jika ada seorang anak yang hidupnya penuh kesulitan."

"Dan orang-orang di sekitarnya terus memanfaatkan dirinya?"

Severus mengernyit.

"Ada apa, Mrs. Hanaga?"

"Apakah kau sedang memiliki masalah?"

Takemichi menggeleng pelan.

"Ayolah, Sev."

"Jawab saja."

Mata Severus langsung menyipit ketika mendengar panggilan itu.

Namun ia tetap menjawab.

"Mungkin aku akan mencoba menegakkan keadilan untuk anak itu."

jawabnya datar.

Takemichi tersenyum tipis.

"Benar."

"Aku juga akan mencoba membantunya."

Ia menunduk menatap Harry.

"Dia tertidur?"

tanya Severus.

"Ya."

jawab Takemichi lembut.

"Setidaknya malam ini dia bisa tidur dengan tenang."

Severus menatap Harry lebih lama.

Lalu kembali menatap Takemichi.

"Apa maksudmu?"

Takemichi menghela napas.

"Profesor."

"Apakah kau tahu betapa menderitanya seorang anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang?"

Suara Takemichi terdengar sedih.

"Dia masih sangat kecil."

"Tapi sudah memikul terlalu banyak hal."

Severus terdiam.

Kemudian perlahan berjongkok di depan mereka.

Tatapannya jatuh pada wajah Harry yang sedang tertidur lelap.

"Dia..."

gumam Severus.

"Menderita?"

.

.

.

.

-TO BE CONTINUED-

1
Kirana Yola adiba
lanjut kak penasaran sama cerita selanjutnya
Kirana Yola adiba
aku penasaran kak lanjut kak
Kirana Yola adiba
lanjut kak penasaran aku dg cerita selanjutnya
makasih ya kak udah up banyak
shinobu
lanjut min ceritanya bagus
Kirana Yola adiba
penasaran aku dg cerita selanjutnya
shinobu
lanjut min ceritanya bagus min
shinobu
lanjut ke konten utama nya
Kirana Yola adiba
lanjut kak
Kirana Yola adiba
aduh penasaran aku lanjut kak semangat
Saada Sania
lanjut author
Kirana Yola adiba
lanjut kak
hore kakak up
Kirana Yola adiba: sama sama
total 4 replies
REN & HARUKA
baguss thorrr🤩
누르하이다🤭☺️
pantesan thor aku tungguin gak up up ternyata eh ternyata.....
누르하이다🤭☺️: gak papa thor tapi kalo ada rencana mau buat cs/novel baru kabari ya thor biar aku bisa basa
total 2 replies
Kirana Yola adiba
padahal cerita nya bagus dan menarik
AkuAulia loplop pecinta BxB: iya bener
total 3 replies
haruchiyo aya
Luar biasa
aza
Kecewa
aza
Buruk
Kirana Yola adiba
lanjut kak
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak
nea oktavia d
author lanjut
Shazarina Kamlun
di tunggu kelanjutaanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!