NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah

Status: tamat
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:413.5k
Nilai: 4.6
Nama Author: tompealla kriweall

Dianggap sebagai seorang sampah karena tidak memiliki pekerjaan dan bodoh, membuat Abiyasa harus berpikir ulang.

Abiyasa—selepas dari kecelakaan akibat orang lain mengincar nyawanya, siapa sangka dia mendapatkan sebuah kemampuan. Semacam kekuatan Forecast yang berguna untuk memperkirakan informasi yang bersifat prediktif dalam menentukan arah di masa depan.

Dengan kemampuannya itu, Abiyasa membuktikan diri bahwa dia tidak bisa dikatakan sebagai seorang sampah lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Besar

Abiyasa masih menemani Ajeng yang baru saja sadar setelah pingsan, akibat dari pengaruh obat bius yang digunakan untuk menculiknya tadi.

"Mas Abi, pulang." Ajeng berkata dengan lirih.

"Hmmm... kenapa?" tanya Abiyasa saat mendengar suara Ajeng yang meminta pulang.

"Pulang. A-ku... aku tidak suka berada di rumah sakit."

Ajeng tidak memberikan penjelasan secara rinci kenapa tidak tidak menyukai rumah sakit, meskipun semua orang juga tidak menyukai rumah sakit, apa lagi dalam keadaan sakit seperti ini.

"Aku menemui dokter dulu untuk konsultasi, ya." Ajeng menggangguk-anggukkan kepalanya setuju, karena dia ingin segera pulang ke rumahnya sendiri.

Ajeng memang tidak menyukai situasi dan kondisi di rumah sakit, karena setiap kali berada di rumah sakit dia akan teringat dengan papanya yang meninggal dunia di rumah sakit. Kejadian itu membawa dampak tersendiri baginya.

Setelah beberapa saat kemudian, Abiyasa datang bersama seorang dokter.

"Kita periksa dulu sebentar ya, Mbak. Nanti saya akan perbolehkan pulang jika kondisinya memang sudah membaik."

Ajeng hanya bisa mengangguk saja, sambil melihat ke arah Abiyasa yang berdiri di samping tempat tidur pasiennya. Tangan Abiyasa juga menggenggam tangannya, memberikan rasa aman dan nyaman karena tidak akan membiarkan dia seorang diri.

"Sebaiknya untuk sementara waktu tidur di sini dulu sampai besok pagi. Ini juga sudah pagi, tapi baru pukul setengah tiga."

Ajeng melirik ke arah dinding, melihat jam yang memang menunjukkan setengah tiga pagi. Berarti dia baru bisa pulang sekitar 4 jam kedepannya nanti.

Abiyasa mengangguk samar, dengan senyuman yang tulus untuk meyakinkan Ajeng supaya tidak merengek minta pulang.

"Terima kasih, Dok."

Dokter hanya mengangguk saja, kemudian pamit kembali ke ruang jaga. Sebagai seorang dokter, pastinya sudah terbiasa menghadapi pasien seperti Ajeng. Apalagi kejadian yang terjadi pada Ajeng, pasti meninggalkan ketakutan yang sangat sehingga ingin berada di tempat yang paling nyaman, dan tentunya tempat tersebut adalah rumahnya sendiri.

"Kita pulang besok ya," kata Abiyasa menyakinkan istrinya.

"Pa-ra penjahat itu..."

"Mereka sudah tertangkap. Indra yang mengurusnya." Abiyasa memberikan penjelasan singkat bahwa para pencuri tersebut sudah berada di kantor polisi.

"Hiks... huhuhu..."

"Hai, tenang. Ada aku, tenang ya."

Abiyasa menggenggam erat tangan Ajeng, mengusap-usap punggung tangan tersebut dengan satu tangannya yang lain. Dia ingin memberikan rasa nyaman untuk istrinya supaya tenang.

"Istirahatlah. Aku berada di sini, tidak akan pergi kemana-mana."

Dengan lembut, Abiyasa mengelus-elus rambut hitam Ajeng. Berharap agar usahanya ini bisa membuat Ajeng tertidur dengan cepat. Tapi kenyataannya sekarang Ajeng justru menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, karena kedua mata istrinya itu sedang berkaca-kaca.

"Maaf."

Satu kata itu lolos dari bibir Ajeng, meskipun suaranya lemah. Bibir tersebut juga tampak bergetar, tanda jika Ajeng masih dalam keadaan takut dan gugup.

Abiyasa tidak tega, apalagi dia tidak bisa memenuhi permintaan ajeng yang minta pulang ke rumah. Bukannya tidak mau, tapi Abiyasa merasa khawatir dengan kondisi kesehatan Ajeng dan ingin memastikan bahwa dia benar-benar siap untuk pulang setelah semua yang terjadi padanya.

"Kamu merasa lebih baik sekarang? Apakah kamu yakin ingin pulang?" tanya Abiyasa dengan berat hati. Dia tidak tega melihat Ajeng yang sedih seperti ini.

Menurut Abiyasa, jika hanya untuk tidur sebaiknya mereka memang pulang saja. Apalagi Ajeng yang menginginkan pulang.

"I-ya, aku merasa lebih baik sekarang dan ingin pulang. A-ku sudah merasa sangat lelah dan ingin beristirahat di rumah saja." Ajeng menatap Abiyasa dengan penuh permohonan.

"Tapi kamu masih terlihat pucat dan lemah. Apakah kamu yakin sudah siap untuk pulang?" tanya abiyasa sekali lagi.

Ajeng mengangguk cepat. "Iya, aku yakin. Aku hanya butuh istirahat di rumah dan kita bisa mengambil obat yang diresepkan dokter." Alasan yang dibuat Ajeng ada benarnya juga.

"Baiklah, aku akan memberitahu perawat dan dokter bahwa kamu ingin pulang saja. Tapi sebelum itu, kita sekalian tunggu hasil tes darah dan tes urine terakhirmu."

Tidak ada pilihan lain, Ajeng pun akhirnya menggangguk pasrah. "Baiklah, aku akan menunggu hasil tes terakhirku. Terima kasih, Mas Abi." Ajeng ucapkan terima kasih dengan wajah sendu.

Abiyasa mengelengkan kepalanya samar. "Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Aku senang bisa membantu dan menemanimu di sini. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar baik-baik saja sebelum pulang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Ajeng mendongak menatap wajah Abiyasa, kemudian menunduk lagi.

***

Di tempat lain, Ruhian sedang menyiapkan sesuatu sesuai dengan tugas yang diberikan Aji padanya.

"Sepertinya ini sudah beres."

Ruhian melihat perlengkapan dan peralatan yang dia butuhkan dengan wajah yang dihiasi senyuman puas. Dia membayangkan sejumlah uang dengan digit yang berjejer rapi, setelah menyelesaikan tugas ini.

"Setelah ini aku bisa berlibur sesuka hatiku, ditemani wanita-wanita cantik yang akan memuaskan ku. Hahaha..."

"Aku akan bergerak dengan cepat sehingga tidak akan ada yang sadar dengan keberadaan ku. Ini sungguh sempurna. Hahaha..."

Ruhian kembali tertawa-tawa senang karena ternyata untuk mendapatkan uang yang banyak dia tidak perlu bekerja keras seperti para kuli di pasar atau pelabuhan.

"Sering-sering saja ada job begini. Aku akan keliling dunia untuk menghabiskan uang, berfoya-foya dan menghabiskan waktu bersama para wanita yang aku inginkan."

Membayangkan bagaimana rasanya memiliki uang yang banyak sehingga bisa bersenang-senang, tanpa sadar Ruhian tersenyum-senyum sendiri seperti orang yang tidak waras. Dia membayangkan bagaimana rasanya menjadi Aji, yang bisa bermain-main dengan banyak wanita dalam semalam.

"Ah, uang memang bisa diandalkan. Hehehe... aku akan merasakannya sebentar lagi."

Bunyi keras dari ponselnya membuat Ruhian terkejut. Hampir saja dia memaki orang yang mengganggu kesenangannya saat melamun, tapi urung karena nama pemanggil tersebut adalah orang yang akan memberinya banyak uang sebentar lagi.

Cepat Ruhian menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilan telepon dari Aji, karena memang Aji yang sedang menghubunginya sekarang.

..."Ya Bos?"...

..."Semua sudah beres? Tentang semua yang kamu perlukan."...

..."Siap Bos, aman!"...

..."Ingat, jangan sampai ketahuan. Buatlah seakan-akan itu adalah sebuah musibah atau yang tidak pernah diduga."...

..."Pasti Bos!"...

..."Kerjakan dengan bersih dan jangan pernah menyangkut namaku!"...

..."Siap, pasti Bos."...

Klik

"Hahhh..."

"Aku pasti kerja dengan profesional, jadi aku pastikan semuanya beres." Ruhian bergumam seorang diri sambil tersenyum miring setelah panggilan telepon ditutup Aji.

Aji menghubunginya untuk memastikan bahwa semua rencana sudah dipersiapkan dan tidak ada yang tertinggal. Aji juga memperingatkan dirinya sekali lagi agar bekerja secara rapi, bersih dan dek meninggalkan jejak.

Dan yang paling penting adalah tidak menyangkut-pautkan Aji dalam pekerjaannya kali ini.

1
Mazree Gati
untung baca endingnya dulu,,endingnya ga asik
Omah Tien
cewe nya jg lembek g bisa jg diri
Omah Tien
malas nya ko g tegas ya biar kaka kalu jahat gapain mau lembek gitu
Omah Tien
ko tulisan nya ulang2 sih
roy
Luar biasa
Manusia Biasa: hai kak Jangan lupa mampir di novel
s2 dari Rahmat

sistem analisis nilai bangkitnya sang penguasa bisnis
total 1 replies
Jakaria Hidayat
Lumayan
Edy Sulaiman
no coment, ...!"
Edy Sulaiman
Mc Bloon.
Edy Sulaiman
Abyyasa sebagai Mc nmpknya tetap dungu dan oon sdh dikasih kelebihan dlm melihat masadepan dan sebelumnya masih tidak nengetahui siapa musuhnya saat ini.
Edy Sulaiman
sebenarnya AuThor ingin menggambarkan sedikit situasi Hukum di Negara Konoha
Edy Sulaiman
memang dalam Novel Durasi permainan wkl...wik..wik...sgt panjang, berbanding terbalik di alam nyata...hhh..semangat thor jgn kasih kendor wik...wik... nya..
Edy Sulaiman
mantap dua jam apa gak lecet tuh Goa kenikmatan Ajeng....hhhh
Edy Sulaiman
kok dihilangkan mayatnya, Seharusnya Abi tak langsung membunuh Yayan,Yayan dilumpuhkan dan telepon Polisi.
Edy Sulaiman
Idiot bin Tolol Mcnya.
Deki Marsoni
waduh nih orang gak niat buat cerita ya
Deki Marsoni
lebayyy lu buat nih orang
Deki Marsoni
gak ngeh liat yg kayak gini,
Deki Marsoni
lah dalah tadi bisa diliat dgn CCTV on bukan di dapur, kok masih cari k dapur, aaannneh
Deki Marsoni
eleeeh kamu gak sadis om
Hadimulya Mulya
klo ini crita emang org idiot,bukan nyamar,nyatanya pintu. aja gk di kunci katanya takut ketahuan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!