NovelToon NovelToon
Buronan Cantik

Buronan Cantik

Status: tamat
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / Chicklit / Tamat
Popularitas:334.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Sina Tu Narti Ajj

Gara-gara pernah menggagalkan pernikahan Abian satu tahun yang lalu, Purnama terus ditargetkan Abian untuk menjadi calon istrinya sebagai pertanggung jawaban.

Purnama sampai kabur meninggalkan rumah besar keluarganya, karena tidak mau dinikahi Abian yang cuma ingin membalas dendam.

Ngeri akan ancaman Abian yang setiap tahun akan menjadikannya pencetak anak katanya, Purnama rela hidup di jalan sebagai ojol. Akan tetapi, profesi sebenarnya lebih mengerikan dari prediksi seseorang, gadis itu adalah salah satu intelijen. Skillnya pembuat peledak untuk Negara dan tentu saja penjinak bom terbaik yang ada.

Namun, di balik skills hebatnya, ada pengkhianatan yang terjadi sehingga ia ditargetkan menjadi buronan Negara sekaligus menjadi buronan meresahkan dari Abian.

Bagaimana cara ekstrim Purnama menyelesaikan dua masalah besarnya?

Dan jangan lupakan, ada Lautan - sahabat dari kecil yang menjadi partner duelnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sina Tu Narti Ajj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31# Mendengar Percakapan

Perjalanan para sahabat sahabat Ama terhambat oleh badai hujan di sertai angin ribut. Sejauh mata memandang di balik kaca mobil, keberadaan mereka jauh dari pemukiman warga. Sisi kiri dan kanan, hanya ada pepohonan kiri di jalanan gelap beraspal rusak tersebut.

Chiiit... Topan yang berada di kemudi, dengan cepat me-rem dadak mobilnya.

"Ah, Shiit..." Mereka kompak histeris saat tiba tiba satu pohon tumbang menghadang jalanan di depan sana.

"Kita tidak bisa melakukan perjalanan kalau badai hujan terus turun," kata Petir kemudian.

Ingin turun untuk bergotong royong memindahkan pohon tumbang tersebut, namun di luar sana masih hujan deras. Terpaksa, mereka menunggu keadaan kondusif sembari membahas plan demi plan penyerangan untuk musuh.

Di sisi Ama, pekerjaannya sudah selesai, tetapi masih enggan untuk melapor. Simi pun sebenarnya sudah tau, namun ia hanya bisa diam karena Ama mengancamnya akan merusak kunci sistem yang baru jadi tersebut kalau ia bertindak gegabah.

"Ama, aku ingin segera bertemu dengan anak ku," ucap Simi dengan nada penuh permohonan. Berharap, Ama tidak bermain main dengan Dusit.

Ama yang paham kegundahan seorang ibu itu, segera berbisik bisik dengan berkata, "Jangan terlalu percaya sama Dusit dan Ken, Simi. Coba pikirkan dengan logika mu, apakah Fren yang licik itu akan melepaskan kita semua dengan hidup hidup setelah kita mengetahui segala tindakan kejinya, eum? Gunakan ini mu..." Ama menunujuk kepalnya. "Aku yakin, kita pun akan di bunuhnya agar kejahatannya tidak terekspos di kemudian hari."

Simi terpaku di tempat sembari mencerna baik baik ucapan Ama yang tidak kepikiran sebelumnya. Sebagai seorang Ibu yang diancam, hanya keselamatan sang anak yang ada di otak dan selebihnya tidak ia pikirkan secara masak-masak akan tindak tanduk hasil keputusannya.

Mengakui ucapan Ama yang ada benarnya, tulang kaki Simi terasa melemas. Ama sigap menahan pundak Simi sembari bertanya, "Are you okay?"

"Buruk sekali!" Simi menggeleng gelengkan kepalanya, shock. "Ama, kamu benar. Fren dan Ken serta Dusit tidak akan pernah melepaskan lawan nya secara hidup hidup."

Gemas sekali Ama mendengar suara Simi yang baru sadar dari kebodohannya.

"Anak ku bagaimana, Ama?" Simi gelagapan.

"Tenanglah, Simi. Anak mu akan baik baik saja kalau kita bekerja sama melawan mereka?"

"Caranya?" Simi menaikkan satu alisnya saat melihat seringai tajam Ama.

"Lepaskan rantai kaki ku dulu, baru kita akan mencari celah menyelamatkan anak mu serta teman teman ku."

Simi terdiam sembari melirik dua rantai panjang yang membelit masing masing kaki Ama yang memang sedari awal gadis itu bekerja sudah di rantai agar kebebasannya hanya di dalam ruangan kerja tersebut saja.

"Kunci nya ada di tangan Ken, Ama," kata Simi ragu untuk mengambilnya.

"Ambil lah!"

"Tapi __"

"Terserah kamu saja sih, aku tidak memaksa. Kalau pun kita mati semua, aku mah tidak kepikiran anak karena memang tidak punya." Ama sengaja mempengaruhi Simi.

Mendengar kata anak, keberanian Simi tumbuh dua kali lipat. Wanita beranak satu itu, pergi dari ruangan tersebut tanpa pamit ke Ama.

Beberapa anak buah Dusit yang berjaga di penjuru pabrik, ia lewati begitu saja dengan beralasan ingin ke toilet.

Simi yang tidak ingin di curigai, memaksa dirinya harus berbelok ke arah toilet karena anak buah Dusit yang sudah di wanti wanti untuk mengawasinya itu, terus memperhatikannya.

Di dalam toilet, Simi tidak kehabisan akal. Wanita tersebut segera menutup closet duduk berwarna putih itu, lalu kakinya naik berpijak demi bisa menggeser penutup lorong ventilasi di atas sana.

"Terlalu tinggi..." gumamnya sedikit kesusahan membuka tutupnya. Berjinjit jinjit kaki Simi demi bisa menggesernya. Tapi masih tidak sampai. Sejenak, Simi melirik seisi toilet sempit tersebut. Tidak ada benda yang bisa digunakan untuk membantu diri nya.

Terbesit ide gila saat matanya melirik dua dinding penyekat toilet sempit itu. "Semoga tidak licin," katanya. Lalu mencoba merenggangkan ke dua kakinya ke masing-masing dinding. Kedua tangannya pun bekerja keras merambat di tembok. Setelah bersusah susah payah, Simi berhasil menggeser penutupnya.

Pelan pelan Simi bergerak di atas lorong ventilasi yang cukup sempit dan kotor berdebu ditambah kurang pencahayaannya.

"Semoga Ken sudah tidur," gumam Simi yang sudah berada di atas kamar pria itu.

Saat mengintip ke bawah melalui celah ventilasi kamar Ken, Simi terjeda. Samar samar dirinya mendengar seseorang sedang mengobrol yang Simi yakini suara itu berasal dari kamar Dusit, yang memang Ken dan suami bangsatnya itu bersebelahan.

Penasaran apa yang telah diperbincangkan Dusit, Simi pun merangkak maju dengan penuh ke hati hatian agar tidak menimbulkan suara mencurigakan untuk Dusit dengar.

"Pak Fren menyuruh kita meluncurkan nuklir di jam sebelas siang, Bos Muda. Detik detik itu adalah waktu Pak Presiden Negara Indonesia bertemu dengan Raja Thailand di titik kota ini. Adu domba kedua belah pihak Negara akan berlangsung besok, Tuan."

"Hahaha..." Dusit tertawa menyikapi penjelasan Asok.

Simi mendengus kesal pelan sembari memicing ke arah peta lokasi yang di tunjuk oleh Asok tadi. Meski kelewatan kesempatan bagus untuk merekam video sebagai tanda bukti membantu nama baik Ama bersih, Simi tetap mengeluarkan handphonenya. Dari celah celah kecil itu, ia berusaha merekam pembicaraan keduanya berharap ada percakapan selanjutnya yang menguntungkan diri nya.

"Setelah itu, Pak Fren juga menyuruh saya untuk membunuh semua sandera. Ken pun harus kita singkirkan katanya."

Simi menyeringai, setidaknya ia mendapat hal menarik setelah bersusah susah payah masuk ke ventilasi. Rekaman tersebut, akan ia perlihatkan untuk Ken agar sadar kalau dalam dunia kejahatan, teman bisa saja dikhianati demi harta atau kekuasaan apapun itu.

"Eum, saya setuju dengan rencana Ayah. Tunggu sebentar..."

Simi membekap mulutnya agar nafas pun tidak disadari oleh Dusit yang saat ini, pria itu mengikis ke arah bupet, tepat di bawah persembunyiannya.

Dari atas, Simi terus memperhatikan Dusit yang membuka laci, mengeluarkan botol kecil yang tidak dimengerti oleh Simi, apa isinya itu?

"Racun tanpa bau tajam ini akan membunuh mereka semua dengan mudah. Apalagi Purnama, gadis liar itu terlalu pintar untuk di kelabui."

Meski suara Dusit pelan, Simi yang pendengarnya bagus, tetap saja bisa mendengar jelas suara kelicikan Dusit.

"Ambilah ini, Asok. Campuri makanan mereka setelah Purnama menyelesaikan sistem kunci peluncuran nuklir kita."

Asok meraih botol kecil tersebut. Lalu bertanya, "Jane, bagaimana, Bos? Apa saya juga harus memberikannya ke anak tiri Anda?"

"Jangankan Jane, Ibu nya pun harus kamu racuni."

****... Simi mengumpat geram dalam hati dengan tangan terkepal erat. Benar kata Ama, Fren dan Dusit tidak bisa ia percayai yang katanya akan membebaskan anak dan dirinya setelah pekerjaannya selesai.

"Aku harus bertindak cepat," monolognya yang harus menemui Ken untuk mengambil kunci rantai yang membelenggu kaki Purnama. Tanpa bantuan Ama, Simi meyakini dirinya akan kalah telak melawan Dusit beserta anak buahnya yang banyak.

Kreek....

"Hais..." Simi merutuki dirinya sendiri, akibat berbalik dengan keadaan sempit dan gelap, kepalanya terbentur, menimbulkan suara gaduh.

"Siapa di atas?" Dusit dan Asok menodong senjata. Tanpa menunggu lama, keduanya melepaskan peluru.

1
Mdede91
cerita yg menarik tp sayang sangat singkat..aku maunya yg beratus bab gitu/Facepalm/
Evi
ia suamiku jg gitu,, tak pandai romantis dengan kata-kata tp langsung dengan tindakan
Ran Aulia
seruu , romantic action 😍😍😍😍😍

terimakasih ya author ❤️❤️❤️❤️❤️
Rohma Wati Umam
Luar biasa
Jum Jumirah
yahhh tamat..
Jum Jumirah
keren ceritanya...
Zikri Alpalah
mudah mudahan g ngebosenin baca y ya thor
Leng Loy
Kasian Ama, belum kebongkar jg siapa dalangnya 🤔,, sepertinya petualang Ama msh panjang
Leng Loy
Duh tegang dech,Ama keren bgt, siapa sebenarnya sang penghianat 🤔
Leng Loy
Namanya disini keren" ya ada Purnama,Petir, Guntur,Lautan,Pelangi, Topan 😀
Leng Loy
Si Simi kok ngotot bgt mau nangkep Ama,jgn" dia dalangnya,jd curiga ma Simi 🤔
Leng Loy
Ya Allah Abian tidak sesuai ekspektasi, dia yg skrg yg ketakutan sama Ama 😀
Leng Loy
Wah ada penghianat,skrg Purnama mau nguber si Abian untuk misinya ☺️
Asngadah Baruharjo
ngakak paraahhh 😀😀😀
Asngadah Baruharjo
tegaanggg pollll 😀😀😀
Asngadah Baruharjo
purnama doaku menyertaimu wkwkwk 😀
Asngadah Baruharjo
luar biasa
Asngadah Baruharjo
kerennnnnnnn thoorrr 👍👍👍👍👍
Asngadah Baruharjo
piye to ikiihhhh,sek tas kabur kok ketangkap
Sulaiman Efendy
SEKALI LGI LOVE LOVE FULLLLLLLLLLLLLL BUAT MBAK SINA OTHOR TRSAYANG......
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!