Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Terbangun
Rasa panas itu lebih dulu membakar dada Keira sebelum ia sadar bahwa setengah tubuhnya terendam air.
Ia tersentak, membuka mata dengan napas patah-patah. Air kolam masuk ke mulutnya, dingin, berbau lumpur halus dan daun basah. Jantungnya seperti diremas tangan yang tidak kelihatan. Sakitnya naik dari dada ke tenggorokan, membuatnya hampir muntah.
Di depan matanya, api masih menyala.
Bukan api kecil dari kompor warteg. Api itu besar, merah, melahap langit-langit sebuah aula tinggi yang asing sekaligus terlalu akrab. Asap hitam menggulung. Lantai marmer dipenuhi pecahan kaca, darah, dan langkah kaki yang kacau.
Seorang pria berdiri di tengah kobaran itu.
Kemeja putihnya sudah berubah merah. Lengannya memeluk tubuh seorang perempuan yang tidak bergerak. Rambut perempuan itu basah oleh darah, jatuh menutupi separuh wajahnya. Pria itu menunduk, menempelkan dahinya ke dahi perempuan itu, lalu memanggil sebuah nama dengan suara serak.
Keira berusaha mendengar.
Nama itu pecah di antara bunyi api.
Dadanya kembali nyeri. Ia mencengkeram rumput di tepi kolam, kuku-kukunya menancap terlalu dalam sampai telapak tangannya perih. Satu tarikan napas lagi, lalu tubuhnya berhasil terseret keluar dari air. Lututnya menghantam batu pinggir kolam. Sakitnya nyata. Terlalu nyata.
Keira terbatuk-batuk.
Air menetes dari rambutnya, masuk ke leher, membasahi kaus tipis yang menempel di kulit. Matahari Jakarta menyilaukan matanya. Udara panas menampar wajahnya, membawa aroma kamboja, tanah basah, dan sesuatu yang mahal, sesuatu yang bahkan tidak bisa ia beri nama.
Ia menoleh pelan.
Kolam itu luas, dipenuhi daun teratai sebesar nampan. Bunga putih dan merah muda mengambang di antara bayangan langit. Di sekelilingnya berdiri tanaman tropis yang dipangkas rapi, jalan setapak dari batu alam, dan air mancur yang suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir tenggelam.
Di kejauhan, bangunan utama bergaya kolonial berdiri seperti istana orang kaya dalam sinetron. Pilar putih, jendela tinggi, dan atap tua yang terawat bersinar di bawah matahari.
Keira mengerjap.
Ini di mana?
Pertanyaan itu muncul terlambat. Sebelum takut, sebelum panik, otaknya yang terbiasa menghitung sisa uang makan justru bekerja lebih dulu.
Taman sebesar ini bisa membuatku makan warteg sepuluh tahun.
Pikiran itu begitu tidak pantas sampai ia hampir tertawa. Namun tawanya tersangkut di tenggorokan ketika ia melihat lengannya sendiri. Di kulitnya, bekas luka lama tampak putih pucat. Garis tipis dari pukulan bambu Bu Wati. Bekas luka kecil dekat siku dari panci panas waktu ia mencuci piring di dapur panti. Semua masih ada.
Ia Keira.
Anak panti. Bekas pelayan cafe. Perempuan yang seminggu lalu dibawa ke rumah keluarga Hendrawan tanpa penjelasan yang jelas.
Seminggu lalu?
Keira menekan dahinya. Ingatannya bertabrakan. Surabaya, cafe, Ko Kevin, acara bisnis di Jakarta, mobil hitam, gerbang besar Menteng compound. Lalu halaman ini. Kolam ini. Suara api. Pria berdarah itu.
Tangannya terasa sakit.
Ia menunduk dan baru sadar tangan kanannya terkepal terlalu kuat. Jari-jarinya kaku, seolah sedang menggenggam nyawa sendiri. Perlahan ia membuka kepalan itu.
Sebuah Liontin Giok terbaring di telapak tangannya.
Warnanya hijau lembut, dingin dan licin meski tangannya panas. Di permukaannya terukir pola awan yang halus. Benda itu jelas bukan miliknya. Keira belum pernah memegang perhiasan asli seumur hidupnya.
Tapi ketika ia mencoba meletakkannya di atas batu, jarinya menutup lagi.
Tidak.
Kata itu muncul begitu saja di kepalanya.
Keira menatap liontin itu lama-lama. Benda itu kecil, tidak lebih besar dari ibu jarinya, tetapi ada rasa aneh di dada setiap kali kulitnya menyentuh giok dingin itu. Seperti seseorang pernah meletakkan seluruh hidupnya di sana.
"Mbak Keira!"
Jeritan itu membuat Keira tersentak.
Dari arah jalan setapak, seorang gadis berseragam rumah tangga berlari. Wajahnya pucat, matanya merah, dan kerudungnya miring karena terburu-buru.
"Mbak Keira! Ya Allah, Mbak!" Ningsih hampir terpeleset saat sampai di dekat kolam. Ia langsung berlutut di samping Keira, tangannya gemetar saat menyentuh bahu Keira. "Mbak dengar saya? Mbak sakit di mana? Saya panggil orang tadi, saya cuma sebentar, tapi waktu balik Mbak sudah masuk air."
Keira menatapnya.
Nama gadis itu Ningsih. Pelayan yang ditugaskan untuk menemaninya sejak ia tinggal di compound ini. Mereka baru saling mengenal beberapa hari. Harusnya Keira hanya mengingat wajahnya sebagai gadis yang sering gugup dan terlalu mudah minta maaf.
Namun melihat air mata di pipi Ningsih, dada Keira tiba-tiba nyeri dengan cara yang berbeda.
Seperti ia pernah melihat gadis ini menangis lebih parah dari ini.
Seperti ia pernah kehilangan tangisan ini.
"Mbak?" suara Ningsih mengecil. "Jangan diam begitu. Saya takut."
Keira membuka mulut. Tenggorokannya perih.
"Aku..." Ia berhenti, lalu mengubahnya tanpa sadar menjadi lebih pelan. "Saya jatuh?"
Ningsih mengangguk cepat. Air matanya jatuh lagi. "Mbak berdiri di pinggir kolam. Saya kira Mbak cuma lihat bunga. Terus tiba-tiba Mbak roboh. Saya panik, saya lari panggil bantuan. Waktu balik, badan Mbak sudah separuh masuk air. Saya kira..."
Kalimatnya putus.
Keira melihat tangan Ningsih yang memegang bahunya. Jari-jari gadis itu dingin karena takut. Lucu. Seharusnya yang kedinginan adalah Keira, bukan dia.
"Aku belum mati," gumam Keira.
Ningsih terisak. "Jangan ngomong begitu, Mbak."
Keira ingin menjawab santai, tapi bayangan aula terbakar kembali berkelebat. Tubuh perempuan dalam pelukan pria itu. Darah di lantai. Suara yang memanggil nama yang tidak terdengar.
Kali ini Keira tidak bisa bercanda.
Ia menunduk, menyembunyikan liontin giok ke dalam genggaman. Ningsih baru menyadarinya.
"Itu..." Ningsih ragu. "Liontin itu punya Mbak?"
Keira ikut melihat tangannya.
Jawaban jujurnya adalah tidak tahu.
Tapi lidahnya berkata lebih cepat dari pikirannya, "Iya."
Ningsih mengangguk tanpa bertanya lagi. Mungkin karena ia terlalu takut, mungkin karena di rumah sebesar ini, orang kecil memang tidak boleh terlalu banyak bertanya.
Keira menahan gemetar di bahunya. Setiap bagian tubuhnya terasa berat, tetapi pikirannya justru mulai tajam. Jika ia benar-benar pingsan setengah jam di tepi kolam, kenapa tidak ada orang lain di sini? Kenapa hanya Ningsih yang berlari seperti dunia mau runtuh?
Karena baginya, Keira bukan siapa-siapa.
Anak panti yang dibawa masuk tanpa status. Tamu bukan, keluarga bukan, pegawai juga bukan. Kalau ia tenggelam di kolam semahal ini, mungkin orang-orang lebih sibuk memikirkan cara membersihkan airnya.
Pikiran itu seharusnya membuatnya marah. Anehnya, yang muncul justru rasa dingin yang tenang.
Baik. Kalau begitu, ia harus hidup lebih lama.
Setidaknya sampai tahu siapa pria dalam api itu. Sampai tahu mengapa liontin giok ini terasa seperti satu-satunya benda di dunia yang tidak boleh ia lepaskan.
Suara langkah terdengar dari arah bangunan utama.
Ningsih langsung menegakkan tubuh. Wajahnya berubah lebih pucat. Beberapa pelayan yang tadi hanya berdiri jauh di ujung taman ikut menunduk serempak. Bahkan suara air mancur terasa mengecil.
Keira mengikuti arah pandang mereka.
Dari balik cahaya matahari, seorang pria berjalan mendekat. Keira belum bisa melihat wajahnya dengan jelas. Hanya siluet bahu lebar, jas gelap, dan langkah yang begitu tenang sampai taman luas itu seperti memberi jalan untuknya.
Lalu suara itu terdengar.
Rendah. Dingin. Terkendali.
"Bagaimana keadaannya?"
Jantung Keira berhenti satu ketukan.
Suara yang sama.
Bukan dari taman ini. Bukan dari siang yang terlalu terang ini.
Dari dalam api.