NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:21.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

​Langkah kaki Aris terasa teramat berat saat menyusuri koridor rumah sakit yang dingin. Langkahnya lunglai, bahunya terkulai lemas seperti tak bertulang. Kegagalan total dalam proses mediasi di Pengadilan Agama tadi siang benar-benar memukul telak sisa-sisa harapannya. Bayangan keputusasaan itu terus membayanginya sepanjang jalan kembali ke ruang perawatan ibunya.

​Pintu kamar rawat inap kelas tiga itu didorongnya pelan. Di dalam, Siska tampak sedang mengusap kening Bu Broto dengan kain basah. Ibu mereka sudah siuman sejak beberapa jam lalu, namun pandangan matanya redup dan separuh wajahnya tampak kaku akibat dampak serangan stroke. Suara rintihan samar keluar dari bibir Bu Broto yang miring, tak mampu mengeluarkan patah kata yang jelas.

​Aris mendaratkan tubuhnya di kursi plastik samping ranjang, menangkupkan kedua tangan ke wajahnya lalu menghela napas panjang yang teramat berat.

​"Bagaimana sidangnya, Mas?" tanya Siska pelan, menatap kakaknya dengan cemas.

​Aris menggelengkan kepala dengan raut wajah frustrasi. Dengan suara parau, dia menceritakan semua yang terjadi di ruang sidang kepada adiknya. Dia mencurahkan seluruh keluh kesahnya—bagaimana Rena menolak mentah-mentah ajakan damai, membongkar semua borok keuangan di depan majelis hakim, memperlihatkan rekaman video penggerebekan, hingga memohon agar hakim memutus perceraian mereka secepatnya tanpa ada kesempatan kedua.

​"Rena benar-benar sudah berubah, Siska... Dia tidak mau memaafkan kita sama sekali," ratap Aris dengan mata memerah.

"Mungkin karena kita sudah sangat keterlaluan sama mbak Rena. Aku baru menyadari sekarang, kalau mbak Rena adalah wanita yang sangat baik. Jauh berbeda dengan Linda. " ujar ​Siska setelah menyimak cerita kakaknya hingga tuntas.

Bukannya memberikan penghiburan atau ikut meratapi nasib mereka, wajah Siska justru mendadak berubah menjadi amat serius dan dingin. Dia melirik ke arah pintu kamar rawat yang tertutup rapat, lalu memajukan tubuhnya mendekati Aris.

​"Mas..." panggil Siska dengan bisikan yang tertahan, matanya berkilat penuh amarah yang terpendam. "Ada satu hal yang belum sempat aku ceritakan sama Mas Aris soal kejadian di kamar mandi tiga hari lalu."

​Aris mendongak, mengerutkan keningnya heran melihat perubahan raut wajah adiknya. "Hal apa?"

​Siska menarik napas dalam-dalam, menahan getaran di suaranya.

​"Waktu kita panik menggendong Ibu keluar dari kamar mandi pagi itu... aku mencium aroma wangi yang sangat tajam dari lantai di dekat pintu. Itu aroma sabun cuci piring," tutur Siska berbisik tegang. "Dan Mas ingat tidak, waktu dokter memeriksa kondisi fisik Ibu di IGD kemarin lusa? Dokter sempat bilang ke aku kalau di tumit dan telapak kaki kanan Ibu ada bekas noda sabun licin yang belum sempat terbilas!"

​Aris terbelalak sempurna. Darahnya seketika berdesir dingin, mendadak membeku. "M-maksudmu apa, Siska?!"

​"Maksudku, Ibu jatuh terpeleset bukan karena kecerobohan ibu sendiri, Mas! Karena jam dua pagi aku juga terbangun untuk buang air. Tapi tidak ada apa-apa disana, lantai kering. " celetuk Siska, giginya terkatut rapi menahan amarah yang meledak-ledak. "Sepertinya aada yang sengaja menyiramkan sabun licin di pintu kamar mandi sebelum Ibu bangun subuh itu! Dan siapa lagi orang di rumah itu yang punya niat jahat dan ingin mencelakai Ibu kalau bukan si Linda?!"

​BARRR!

​Pernyataan menohok dari adiknya itu seketika membuat Aris naik darah! Dadanya bergemuruh hebat, emosinya membumbung tinggi hingga ke ubun-ubun. Kepalan tangannya terkepal kuat di atas paha sampai buku-buku jarinya memutih. Bayangan wajah Linda yang berpura-pura terkejut dan menangis kepura-puraan saat kejadian pagi itu mendadak melintas di kepalanya sebagai sebuah pengkhianatan yang paling keji.

​"Kurang ajar!" geram Aris dengan napas memburu, mendadak bangkit berdiri dari kursinya. "Wanita iblis itu...! Aku akan pulang sekarang juga dan mencekik lehernya!"

​"Mas, tahan! Jangan emosi dulu!" pancing Siska cepat, memegang erat lengan kakaknya untuk menahannya.

​Siska menatap mata Aris dengan tegas, meminta kakaknya untuk tetap tenang dan berkepala dingin.

​"Mas Aris harus tenang dulu," tegas Siska memberikan pengertian. "Prioritas utama kita sekarang adalah Ibu. Ibu sudah sadar, dan kondisi fisiknya mulai stabil. Dokter bilang kalau respon obatnya bagus, besok atau lusa Ibu sudah diizinkan pulang ke rumah. Kita tidak boleh membuat keributan di sini yang bisa membuat kondisi Ibu drop lagi."

​Aris menghembuskan napas kasar, mencoba menekan gelombang amarah yang membakar dadanya. Dia memandangi wajah ibunya yang terkulai lemah di atas bantal.

​"Kita fokus urus kepulangan Ibu dulu, Mas," lanjut Siska dengan tatapan mata yang penuh dendam. "Nanti, begitu Ibu sudah sampai di rumah dan posisinya aman... baru kita buat perhitungan yang sepadan kepada Linda! Kita akan bongkar semua kebusukannya dan tendang wanita itu keluar dari rumah kita!"

​Aris menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk pelan. Dendam membara kini berkobar di dadanya, menunggu waktu yang tepat untuk meledak.

​Sementara gelombang prahara dan dendam kian bergejolak di lingkaran keluarga Aris, kedamaian justru menyelimuti rumah kontrakan petak milik Rena.

​Sore itu, sepulang dari sidang di Pengadilan Agama, Rena duduk di tepi kasur lantainya yang empuk bersanding dengan Dio yang sedang belajar menulis. Cahaya jingga matahari sore menerobos lembut melalui jendela, memberikan kehangatan di dalam ruangan yang bersih dan wangi itu.

​Rena menghembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang terasa teramat lega dan tanpa beban. Ada perasaan puas dan tuntas yang membuncah di dalam dadanya. Setelah bertahun-tahun memendam rasa sakit, ditindas, dan dianggap tak berharga, hari ini dia akhirnya berhasil mengungkapkan seluruh unek-unek, penderitaan, dan bukti kebenaran di hadapan majelis hakim dan di depan muka Aris sendiri.

​"Ibu, Dio sudah selesai menggambar!" seru Dio riang dari sudut ruangan, memperlihatkan selembar kertas gambar berlukiskan dua orang yang bergandengan tangan di bawah matahari senyum. "Ini gambar Dio dan Ibu!"

​Rena tersenyum sangat tulus, sebuah senyuman indah yang sudah sangat lama tidak pernah terpancar dari wajahnya. Dia merentangkan kedua tangannya, menyambut Dio ke dalam pelukannya yang hangat dan mencium pucuk kepala anaknya dengan kasih sayang yang tumpah ruah.

​Sekarang, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Rena hanya tinggal menunggu waktu sampai ketukan palu hakim secara resmi memutus tali pernikahan beracun itu dan menyerahkan hak asuh Dio sepenuhnya ke tangannya.

​Langkahnya kini sudah sangat mantap. Di atas kakinya sendiri, di rumah petak yang sederhana ini, Rena bertekad penuh akan membesarkan Dio seorang diri. Dia akan mendidik, merawat, dan menyayangi putra tunggalnya itu dengan segenap jiwanya—bebas dari bayang-bayang hinaan, tanpa intimidasi, dan tanpa beban apa pun lagi dari Aris maupun keluarganya. Masa depan yang baru dan penuh harapan telah resmi dimulai.

1
Rina Arie
good
Maya indahsari
real life
Eys Resa: ❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Elina thea
di sini si Aris kelewat bodoh DECH...meskipun jabatannya di turunkan jadi karyawan biasa,seharusnya dia tetap bersyukur...bukannya itu jauh lebih baik daripada jadi driver online
Eys Resa: malu, kak... beban mental mungkin🫢
total 1 replies
Sayekti 0519
Alhamdulillah bagus sekali.ceritanya
aku pikir sampai Rena menikah lagi
Eys Resa: makasih kak, atas dukungannya🙏
total 1 replies
Adrian
kok tamat gak ada extranya kah
mama
yaaah udh tamat ajjh kak
Eys Resa: Terima kasih sudah mampir di novel ini, mohon maaf jika ceritanya terlalu singkat🙏
total 1 replies
putri 💕
y udh tamat aja Thor....gk ada sambungan nya kah thor
Eys Resa: enggak kak. mohon maaf mau istirahat dulu, follow aja nanti kalau ada novel baru biar dapat notif🙏🌹❤
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
semangat Rena, semoga jualan nasi gorengnya laris manis
Mefiani
kacian dech lo linda...mangkane dadi mantu tu tau diri..jangan mau enaknya tpi gak mau tanggung jawab saat dirumah palagi kamu juga mencelakai tuan rumah..rasakno🤣🤣
Eys Resa: hahaha
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
good job
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mefiani
cobaan terus berdatangan....
Mefiani: ok...istirahat aja dulu dan ditunggu meluncur cerita selanjute💪😘
total 4 replies
Mefiani
jangan harap kamu bisa kembali lagi sama rena...setelah apa yang kamu lakukan...terima sajalah keluarga aris dan dio dipaksa berpikir dewasa karena keadaan..💪
Ayunda
sukurin
Mefiani
salahmu dewe aris...mangkane punya istri baik itu dijaga bener2...bukan disia2kan...apalagi sampe terdengar atasanmu..siap2 menderita.kau buang keberuntungan dan kau ambil kesialan..sakano..🤣🤣
Lee Mba Young
semoga Ada warga yg memviralkan biar tmbh malu di tempat kerja Dan di pecat.
Lee Mba Young
semoga viral biar aris di pecat.
stela aza
lanjut thor
putri 💕
jangan lama" dong thor up nya
Lee Mba Young
nikah tanpa izin istri sah juga kena pasal. jd lapor kan sekalian.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!