Menikah atas keinginan orang tua merupakan sesuatu yang tidak di inginkan oleh siapapun termasuk Taka Sanjaya. Terlebih ia tidak tahu seperti apa bentuk perempuan yang di jodohkan dengannya. Ia merasa seperti membeli kucing di dalam karung.
Namun, apa jadinya jika kucing tersebut merupakan kucing anggora? Bagaimanakah kisah di antara keduanya?
Follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Usaha Diba
Bu Isma dan pak Surya senang lantaran Diba dan Taka sudah pulang ke rumah mereka. Sehingga mereka bisa berkumpul kembali makan malam bersama.
"Memangnya pak Sanjaya sudah pulang?" tanya bu Isma memastikan.
Diba menoleh ke arah suaminya, dan Taka yang menjawab pertanyaan bu Isma.
"Kata mama nanti sore atau besok pagi."
"Oh, begitu. Ibu senang kalau kalian sudah pulang ke sini lagi. Suasana rumah jadi rame, gak sepi."
"Kan ada ayah, bu," sahut Diba.
"Ayah kamu kan gak bisa di ajak ngobrol. Bawaannya serius mulu," jawab bu Isma dan membuat Taka mengulum senyum.
"Bukan ayah yang bawaannya serius, cuma ibu aja yang bawel. Gak bisa sebentar aja biarin ayah tenang, udah ngajak ngobrol lagi," sahut pak Surya.
"Kan ibu memang butuh teman ngobrol, ayah. Masa seharian ibu diam aja."
"Terserah ibu lah. Ayah emang gak pernah menang lawan ibu."
Taka dan Diba hanya tersenyum kecil menyaksikan perdebatan bu Isma dan pak Surya.
"Oh iya, kamu udah nyoba tes kehamilan positif atau belum?"
Pertanyaan pak Surya membuat Diba nyaris tersedak makanan. Beruntung ia bisa menahannya sehingga ayahnya tidak curiga.
Diba melirik suaminya. Ia bingung harus jawab apa. Beruntung bu Isma segera mengambil alih jawaban.
"Ayah .. Diba sama Taka kan baru nikah semingguan. Mana bisa langsung positif. Kita sabar aja. Lagian kita kan gak bisa mendahului ketentuan Allah. Kalau di kasih cepat ya syukur, kalau belum di kasih ya harus sabar."
"Iya, iya. Tapi ayah ingin cepat punya cucu, bu."
"Makanya harus sabar. Kita berdoa saja semoga Diba dan Taka segera di karuniai anak yang bakal jadi cucu kita."
"Aamiin .."
Diba hanya bisa menunduk. Dalam hati ia pun mengaminkan doa orang tuanya. Berharap jika suaminya segera membuka hati dan menjadikan dirinya sebagai istri seutuhnya agar bisa memberi cucu untuk ayah dan ibu. Namun, bagaimana bisa cepat mendapat cucu jika ia saja belum pernah di sentuh oleh Taka.
Diba berharap jika pelukan tadi malam menjadi awal bagi hubungan mereka. Dan semoga setelah ini, Taka bisa memberinya lebih dari sekedar pelukan.
Setelah makan malam, Taka dan Diba pun ke kamar. Taka mengambil ponsel yang ia letakan di atas bantal. Ia membuka kunci layar dan mendapat satu pesan baru dari mama Hartati.
Mama:
Taka, mama tadi udah ketemu sama Vina. Mama udah kasih dia pelajaran. Kalau dia sampai berani ganggu rumah tangga kalian lagi, bilang aja sama mama.
Taka mengetikan balasan.
Taka:
Iya, ma. Terima kasih.
Taka menaruh ponselnya di tempat semula dan menoleh ke tempat berdirinya Diba tadi. Namun, ia tidak menemukan istrinya. Begitu menoleh ke arah lain, ia mendapati Diba dengan pakaian yang sudah berbeda. Diba sudah mengganti pakaian dengan piyama blus terusan sebatas lutut dengan tali kecil di masing-masing bahu. Melihat itu air lur Taka mengumpul dan menelannya dengan sudah payah.
"Aku hanya berusaha agar do'a ayah dan ibu cepat terkabul, mas," ujar Diba dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Taka terpaku pada Diba, ia bahkan sampai tidak mengedipkan mata. Perasaan itu sudah tumbuh sejak ia benar-benar sudah mengakhiri hubungannya dengan Vina. Ia merasa sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadap Vina. Dan mungkin ini sudah waktunya ia menanam bibit perasaan untuk Diba.
Diba berjalan menghampiri Taka dan berdiri tepat di hadapan pria itu.
"Mas tenang aja, Diba gak maksa mas buat melakukannya malam ini. Ini hanya usaha Diba aja supaya mas bisa cepat mengabulkan permintaan ayah ibu."
"I-iya," jawab Taka gugup.
"Jadi mas mau Diba malam ini?"
Dengan cepat Taka menggeleng. Karena jujur ia masih saja gugup dan merasa canggung.
"Ya udah, gak apa-apa. Diba akan menanyakannya lagi besok. Setiap malam. Sampai mas benar-benar mau Diba."
Diba naik ke atas tempat tidur dan duduk menyandar di sandaran ranjang. Sementara tubuh Taka seketika membeku dan sulit mengendalikan diri. Ia berharap malam ini ia tidak lepas kontrol. Karena ia sudah berjanji akan melakukannya setelah benar-benar memiliki cinta yang tulus untuk Diba.
_Bersambung_