NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Mas RT

Mengejar Cinta Mas RT

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:109.8k
Nilai: 5
Nama Author: nath_e

Namanya Linda, umur 21 tahun, mahasiswi jurusan Ekonomi dari salah satu perguruan tinggi ternama di kota Semarang. Linda dan kelompoknya ditugaskan pihak kampus untuk menjalankan program KKN di sebuah desa yang terletak di daerah Bangetayu.


Di hari pertama Linda menjalankan tugas kesialan menghampiri. Linda tanpa sengaja merusak pembatas pagar desa yang baru saja ditanam warga. Untuk kali pertama Linda bertemu Yudhistira, seorang pemuda yang ternyata menjabat ketua RT setempat.


Pesona Yudhistira membuat hati Linda bergetar setiap kali melihatnya. Wajahnya yang tampan eksotik dan tutur kata yang lemah lembut tanpa meninggalkan kesopanan membuat Linda jatuh hati pada Yudhistira. Linda pun bertekad untuk mengejar cinta Yudhistira yang masih single.


Bagaimana kisah Linda untuk mendapatkan cinta mas RT? Ikuti keseruannya hanya di Mengejar Cinta Mas RT.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nath_e, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebakaran dan Cerita mistis

Yudhistira dan warga desa bahu membahu berusaha memadamkan api yang mulai membumbung tinggi. Bahan-bahan cat dan juga kayu yang mudah terbakar membuat api cepat menyebar dan membesar.

"Kunci, mana kunci?!" teriak Yudhistira pada karyawannya.

"Lho nggak dikunci kan mas RT?" sahut karyawan itu panik.

Yudhistira mencoba membuka pintu gerbang tapi pintu besi itu tak juga bergerak. "Iki sopo sih sing gembok regol!" teriak Yudhistira frustasi.

Yudhistira terus berusaha membuka pintu sementara warga lain dengan memakai tangga menyiramkan air dalam ember. Satu satunya akses jalan hanya lewat pintu yang kini sulit dibuka. Tangga menjadi satu satunya akses masuk. 

Linda panik ia ikut membantu warga memadamkan api, bersama rekan KKN yang lain. Linda mengatur nafas sejenak, ia berdiri di samping pohon besar yang tumbuh di dekat workshop. Matanya tiba-tiba saja menangkap sosok wanita yang kebingungan di lantai atas. Ia berkali kali melongok ke bawah, berjalan mondar mandir sambil mengacak rambut frustasi.

"Hah, ada orang di dalam!" Linda berteriak sambil menunjuk ke arah atas. "Mas RT, ada orang di dalam!"

Linda berlari menghampiri Yudhistira, "Ada perempuan terjebak di dalam!" 

"Perempuan? Masa sih, Bu Rus?" Yudhistira bertanya balik.

Linda pun menggeleng, "Bukan, lebih muda! Cepetan mas RT tolongin, sebelum atapnya ambruk!"

Yudhistira dibantu warga bergegas sekuat tenaga membuka pintu besi. Linda sendiri dengan cepat menghubungi nomor telepon yang tertera di spanduk. Bunyi dering telepon terdengar lirih ditengah - tengah suara teriakan warga.

"Angkat mbak'e, angkat!"

 Linda yang panik bermaksud menghubungi wanita yang ia lihat, pintu seperti terkunci dari dalam dan Linda berharap wanita yang tadi ia lihat bisa membukakan pintu sebelum semua terlambat. Meski kecil kemungkinan wanita itu akan mengangkat telpon setidaknya ia sudah berusaha untuk membantu.

"Halo," suara lemah wanita diujung sana membuat Linda melonjak kegirangan, usahanya berhasil.

"Mbak, mbaknya tolong bukain pintu depan! Ada akses ke pintu depan nggak?"

"Halo," suara itu kembali terdengar Linda begitu lemah dan lirih mirip seperti orang berbisik.

"Mbak, mbaknya jangan pingsan dulu! Tolong bukain pintunya, sekarang! Biar warga bisa padamkan api dan mbak bisa keluar!" Linda mulai frustasi karena wanita itu tidak juga merespon permintaannya.

"Sakiit … tolong," suara lirih nyaris tak terdengar Linda itu membuat gadis cantik itu tercekat, perasaannya tak enak.

"Mbak, kenapa? Apa semua mulai terbakar? Mbak terluka ya? Sabar ya mbak, tunggu! Bantuan sebentar lagi datang." 

Linda mulai membayangkan penderitaan wanita itu di dalam sana. Asap kehitaman mulai memenuhi langit malam, si jago merah menjilat dan melahap tiap sisi gedung, bau bahan kimia dari cat yang terbakar terasa menyesakkan dada.

"Mbak, tahan ya? Sabar, kuat disana!" airmata Linda nyaris jatuh saat ia berteriak pada Yudhistira, "Mas RT, cepetan! Itu mbaknya udah kesakitan, dia butuh bantuan!"

Yudhistira menoleh ke arah Linda, ia sedikit bingung tapi kemudian mengangguk ragu. Linda kembali berbicara dengan wanita di dalam sana.

"Mbak, menjauh dari sana cari perlindungan dari api! Ambil handuk atau kain basahin, bernafas di balik kain basah biar nggak keracunan asap!"

"Saakiiit, tolong!" kali ini suara itu terasa menegakkan bulu di tengkuk Linda, ia terdiam lalu menatap ke lantai dua workshop.

Bayangan wanita yang berdiri di balik jendela terlihat dari tempat Linda berada. Wanita yang tadi terlihat mondar mandir frustasi sedang menatapnya dengan mata tak bersahabat. Di belakangnya tampak jilatan api yang mulai membesar.

"Mbak, mbak dengar saya? Mbak bisa turun dari sana kan, itu bahaya mbak!"

"Tolong _,"

Bisikan panjang itu terdengar bagaikan nyata, Linda menjauhkan ponselnya. Matanya masih lekat menatap sosok wanita yang berdiri mematung di lantai dua.

"Saakiiit … panas,"

Seketika Linda gemetar, ia menoleh ke ponselnya yang sudah menjauh dari telinga. Suara itu terdengar sangat jelas di telinganya. Tatapan mereka beradu, Linda dan wanita berpakaian lusuh itu. Atap workshop ambruk tepat jatuh di atas sosok yang masih tak bergeming itu. 

Linda menjerit bersamaan dengan teriakan warga desa lain yang berkerumun. Kaki Linda lemas bagai tak bertulang, tubuhnya melorot ke tanah menatap nanar bangunan yang perlahan tapi pasti dilahap si jago merah.

Malam terasa begitu panjang, dua mobil unit pemadam kebakaran diterjunkan untuk mengatasi api. Menjelang adzan subuh, api berhasil dipadamkan. Separuh bangunan ludes terbakar termasuk pesanan siap ekspor ke Los Angeles yang harus dikirim bulan depan.

Yudhistira duduk lemas menatap bangunan workshopnya di depan rumah salah satu warga, pikirannya rumit membayangkan apa yang harus segera ia lakukan. Kerugian sudah bisa ditaksir Yudhistira dan itu tidak sedikit. Ia menghela nafas, mengontrol dirinya agar tidak larut dalam kesedihan.

Matanya menangkap Linda yang masih diam terpaku dengan tatapan kosong. Yudhistira mengingat ingat kejadian semalam, Linda berteriak tentang seorang wanita yang terjebak di dalam workshop. 

"Pak tunggu, apa di dalam sudah bisa dimasuki orang? Saya perlu memastikan sesuatu." Yudhistira bertanya pada salah satu petugas pemadam yang kebetulan lewat membawa gulungan selang.

"Masih diperiksa sama komandan mas, sebentar lagi selesai. Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk cepat datang tapi yah … mas tau sendiri banyak kayu dan bahan cat didalam jadi _,"

"Oh iya mas, sudah resiko saya. Ujian menjelang Ramadhan. Ehm, maaf apa mas menemukan jenazah di dalam?" 

"Jenazah? Apa ada orang didalam mas?" Petugas itu mengernyit heran.

"Eh, nggak ada? Perempuan di lantai dua?" tanya Yudhistira sekali lagi.

"Iya mas, nggak ada apa pun selain mebel hangus."

Yudhistira mengkerut, "Oh, begitu. Tapi semalam ada yang lihat perempuan minta tolong diatas sana."

Petugas pemadam kebakaran ikut melihat ke arah yang Yudhistira tunjuk. Kebetulan disaat yang bersamaan datang beberapa rekan lainnya.

"Nah, coba deh mas tanya sama komandan saya. Beliau baru cek semua keadaan."

Setelah beberapa saat berdiskusi dan membuat perkiraan yang terjadi Yudhistira mendekati Linda yang duduk sendirian.

"Lin, ngelamun?"

Kepala Linda menoleh perlahan pada Yudhistira, "Mas RT _," mata Linda terlihat membayang, Yudhistira pun duduk disebelah Linda.

"Lho kok malah kamu yang nangis sih? Kan saya yang kena musibah Lin?"

"Mas RT … Semalam itu _," Isak tangis Linda pecah saat itu juga setelah semalaman menahan diri.

Yudhistira reflek memeluk Linda dan membiarkan gadis itu menangis. "Kamu ini lucu aku yang rugi kamu yang nangis harusnya kan saya yang begini Lin."

"Bukan gitu mas RT, semalam aku tuh … aku liat anu."sahut Linda tak jelas.

"Anu apaan sih? Yang jelas kalo ngomong tuh!"

"Penampakan, setan, perempuan yang semalam aku telpon itu ternyata hantu!" jawab Linda masih di sela tangisannya.

"Hah, serius?" 

Linda tak lagi menjawab, ia menumpahkan semua rasa yang dirasakannya sejak semalam. Sementara Yudhistira menghubungkan kejadian luar biasa itu dengan kenyataan di lapangan. Tim damkar sama sekali tak menemukan jejak mayat manusia di sisa reruntuhan, cerita Linda mungkin benar adanya.

"Mas RT, nyuwun sewu. Ada yang mau saya bicarakan!" Argo datang tergopoh-gopoh.

"Piye, Go?" sahut Yudhistira tanpa melepaskan pelukannya pada Linda.

"Nganu, semalam kata beberapa warga yang jadi saksi. Sebelum kebakaran itu ada beberapa karyawan kita yang nongkrong dalam workshop. Mereka asik ngobrol sampai akhirnya denger suara cewek ketawa dari lantai atas. Auto pada kabur mas, kemungkinan salah satu diantara mereka buang puntung rokok sembarangan saking takutnya. Puntung rokok itu kayaknya masuk ke serbuk kayu mas." 

Argo menjelaskan dengan hati-hati, mas RT menarik nafas panjang. "Wes tak kandani to jangan merokok di dalam workshop atau saat bekerja. Nek ngene Iki trus piye jal? Sopo sing meh tanggung jawab?" ujarnya kesal.

"Sopo wae kuwi sing tongkrongan? Mereka harus tanggung jawab sama saya!"

Argo menyebutkan beberapa nama yang disambut decak kesal Yudhistira. Linda mendongak lalu melepas pelukan.

"Nah kan ada suara cekikikan cewek, berarti aku nggak salah lihat semalam. Sumpah mas RT hantunya cewek!"

Argo dan Yudhistira saling menatap. Memang keberadaan penunggu di workshop bukan hal yang baru. Beberapa kali sempat terjadi penampakan wanita yang konon berasal dari salah satu kayu yang batal dibuat mebel. Kayu itu diletakkan di salah satu sudut workshop. Penjaga malam yang ditugaskan pun sering diganggu dengan suara-suara aneh bin ajaib di tengah malam tiba.

"Satu lagi mas RT, kata Bu Rus sebelum kejadian,.pak Warno tetangga kita dengar suara tangisan dari dalam dan suara benda berjatuhan."

"Cck, udah nggak usah dibahas hal kayak gitu! Yang jelas sekarang saya rugi ratusan juta!" 

"Ada yang bisa saya bantu?" suara Ratri membuat ketiganya menoleh.

1
Teh Mbak Sri
Setahuku sih..
Bikin karakter model Linda yg Oon dan cerewet..tapi mahasiswa..
Itu amat sangattt sulit.
Jauhhh lebih sulit dibanding bikin karakter Cool Jenius, dikit omong..
===
Asli...geleng2 buat Othornya..
Atau...jangan2..Othor biasa ngerjain temen2 dg mode oon, biar aman dari tugas kelompok..
ha.ha.ha.ha...
Lup Yu sekebon tetangga..
👍👍👍🙏🙏🙏
Teh Mbak Sri: Ooohhh..gitu toh..
Jadi, Linda dan Srikandi itu wujud testimoni toh.
Sweettt banget sihh..
Teng kyu yah karya2 ajib nya..
bener2 ajib.
Aku jadi ikut terinspirasi dehhh..
Tanggung jawab lo Thor, kalau aku gagal..😀
hi.hi.hi.hi..
🙏🙏🙏
total 2 replies
Raditya
Luar biasa
pelukis_senja: makasih🙏
total 1 replies
Teh Mbak Sri
Ada yg tahu gak, gimana caranya melepaskan gendam semar mesem dari Othor..
Biar gak mesam mesem sendirian kayak si Othor...🙏🙏🙏
Kabuuurrrr...
🏇🏇🏇🏇🏇🏇🏇🏇🏇
pelukis_senja: 🤣🤣kaaa
total 1 replies
Ardan
Luar biasa
Ardan
kereeennn
Ardan
suka banget ama alur ceritanya, dan gambar tokohnya jg menggambarkan banget ama karakternya lohh, kereeenn novelnya 😊🥰
pelukis_senja: makasih ka🙏
total 1 replies
Sri Keren Mutamimah
Luar biasa
Ali B.U
perjalanan anak mnusia yg hebat dan tanpa menyerah demi sang pujaan hati
Ali B.U
alhamdulillah wa syukurillah,
Ali B.U
nex,


komen berlogo
Ali B.U
🖒🖒🖒🖒🖒🖒
Ali B.U
hahahaha di buat kaku prutku sama prtanyaan ini
Ali B.U
hahahaha😆😆😆😆😆😆😆
Ali B.U
wah, jngkol ksukaan tuh
Ali B.U
auw terbakar
Ali B.U
wah bener2 si Ratri tu
Ali B.U
Mina Padi bisa berhasi jika dari tegalan kira2 1 mter di klilingin lubang semirip selokan yg dalamya 50cm lbar 50cm, dan tengahnya juga di bkin kubangan minim semeter persegi dalamnya 50cm
Ali B.U
nex
Ali B.U
wah mkan sahur sama orang yg di syang rasanya lebih .. ... .
Ali B.U
ayo semangat Lin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!