Tiara Andni sosok gadis yang begitu sempurna masih muda, cantik, mapan dan memiliki reputasi begitu baik, sungguh kehidupan yang sangat di impikan, namun siapa yang menyangka kesempurnaan hidupnya harus pupus di karenakan sebuah kecelakaan yang meregang nyawa
Saat ia terjaga ia sangat terkejut saat menerima kenyataan yang bahkan sangat sulit di terima logika ini, ia hidup kembali, dan bahkan ia harus hidup di tubuh orang lain yang memiliki nasib yang begitu menyedihkan
Jesika Alisia Hartawan seorang bocah berusia 16 tahun, bocah malang yang menjadi korban KDRT dari papanya
bagai mana kelanjutannya?
Apakah Tiara yang berada di tubuh Jesika akan memiliki akhir yang bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya'a Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Jesi" Nina dan Acha segera berjalan mendekati Jesika yang baru saja keluar dari motor Alvino, meski memiliki begitu banyak pertanyaan keduanya lebih memilih untuk diam dan akan membicarakannya nanti, bagai manapun saat ini Jesika sedang menjadi objek tatapan semua orang, selain itu mereka dapat melihat wajah kesal Jesika dan mereka berfikir jika ini waktu yang tidak tepat untuk bertanya
"Di larang banyak tanya gue ngak mood banget di tangan, jangan natap gue aneh gitu, karena dari tadi gue udah di liatin banyak orang dan Lo berdua mau ikut ikutan?"
"Ngak kok, Nina sama Acha emang mau nanya tapi kalo Jesi ngak mood kita nanyanya lain kali aja, kan masih ada banyak waktu" Ucap Nina dengan nada pelan, jika Jesika tak mau mengatakan maka mereka tak akan memaksa, karena mereka yakin cepat atau lambat Jesika akan bercerita tentang kejadian hari ini
"Perut gue lapar, kita ke kantin yuk" Ucap Jesika malas, ia bahkan tak suka di tatap seperti itu, ini tentu saja bukan salahnya, Alvino menyebalkan itu yang sangat keras kepala, ia sudah meminta untuk turun namun bahkan di abaikan dengan kejam, ia hanya tak ingin terlibat banyak masalah, Alvino cowok yang cukup populer di sekolah, dan hari ini ia akan di tatap dengan penuh permusuhan oleh para pengagum Alvino yang fanatik itu
"Ee Jesi Acha tungguin Nina" Ucap Nina segera mengejar kedua temanya
"Eh lo denger ngak sih, tadi si pangeran fisika bonceng cewek, dan lo tau siapa tu cewe?" Ucap seoang gadis yang memulai pembicaraan, kabar tentang Alvino membonceng cewek dengan mudah tersebar bagai tertiup angin, lihatlah, Jesika harus kembali mendengarkan ini saat ia baru menginjakan kakinya ke kantin, mereka baru sampai dan kabar dengan mudah menyebar kemana mana bahkan dalam sekian menit saja
"Emang siapa?, hoks kali, si pangeran fisika tu dingin banget boro boro boncengan orang di deketin aja ngak mau, kayak ngak tau aja Lo sama si Alvino" Sambung gadis lainya, ia masih tak percaya dengan kabar yang beredar ini, Alvino orang yang sangat mustahil untuk di dekati lalu hari ini ada kabar jika Alvino membonceng cewek, yang benar aja
"Yah lo kagak percaya, ni liat nih fotonya udah tersebar gini masih ngak percaya Lo, ini udah jadi kabar hot loh, bahkan liat deh baru di kirim dua menit lalu"
"Ge yakin kalo tu anak main dukun, secara mahluk kayak Al mustahil buat di deketin"
"Ngak boleh gitu, bilang aja kalo Lo ngiri"
"Kalo nggak main dukun apa namanya, mahluk kayak si Al yang anti banget sama cewek seketika mau Deket, kalo ngak main dukun apa namanya" Ucap si gadis dengan nada kesal, sejak Alvino pindah satu beberapa bulan lalu mereka sudah berangan untuk bisa dekat dengan Alvino namun ia bahkan tak mampu
"Iri tanda tak mampu?" Nina menyeletuk dengan kesal, enak saja menuduh, toh Alvino juga masih manusia, memiliki keinginan dekat dengan lawan jenis adalah hal yang sangat wajar bukan?, Si gadis yang sebelumnya berbicara terdiam membisu dan setelahnya bergerak cepat meninggalkan kantin, mereka sudah mendengar betapa sadisnya Jesika saat marah dan ia tak ingin wajah cantiknya di rusak oleh mahluk ini
"Ah lo ngagetin aja Lo pada, tapi Jes selamat ya, gue ikut senang karena akhirnya lo ngak ngehalu lagi buat berada di dekat si pangeran fisika, ucapan si Dini ngak didengerin" Ucap si siswi dengan nada santai, ia bukan geng yang memiliki obsesi pada si pangeran Fisika ia hanya suka menikmati keindahan dan sikap dingin si pangeran Fisika, ia tak berani berharap tinggi pada hal yang mustahil ia gapai
Sedangkan Jesika bahkan hanya menatapnya sekilas dan setelahnya meninggalkan si gadis yang menujukan wajah yang masih sama
Maafin jesi ya jana, jesi sedang bad mood jadi gitu deh"
"Santai aja, emang agak risih sih jadi bahan gosip satu sekolahan, gue ngerti kok" Ucap jana pelan, Acha menghela nafas pelan
"Yaudah Acha kesana dulu ya lanjutin makanya" Ucap Acha tersenyum lebar dan menyusul langkah jesika dan nina menuju bangku kosong yang akan mereka tempati
"Jes, jesi sabar yah, jangan marahin Jana, Jana ngak punya niat buruk kok" Ucap Acha pelan, ia sedikit kahwatir dengan tatapan Jesika, meskipun ia tau jika Jana tak memiliki niat buruk tapi ini tentu saja salah, jesika sedang kesal dan tak ingin membahas itu, dan kenyataanya semua orang sedang sibuk membahas kejadian di parkiran
Jesika menghela nafas pelan dan segera meninggalkan Jana dan temanya, ia sangat ingin marah, tapi ia tau jana bukan orang yang pantas untuk di marahi, toh jana adalah anak yang cukup baik
"Jesi jangan bad mood terus dong, ngeri tau" Ucap Nina lagi, yang di katakan Jana memang benar menjadi bahan gunjingan satu sekolah memang sangat tidak enak namun mereka bisa apa?, membungkam mulut mereka satu persatu?, dari ratusan bahkan ribuan siswa siswi mereka hanya akan menghabiskan waktu berharga jika melakukan itu
"Huh, yaudah deh, lupain aja tapi jujur ya gue kesal banget, dan Lo dengar gue di tuduh main dukun dong?, tapi yaudah deh malas banget bahas bahas itu, makan apa kita hari ini?" Ucap jesika pelan, ia tentu tak boleh seperti ini, bagai mana bisa ia membiarkan pangeran fisika menyebalkan itu membuat hari bahagianya kacau, oh tidak ia tak akan membiarkan itu terjadi
"Acha mau mie ayam, sama es jeruk" Ucap acha dengan semangat, waktu singkat sebelum jam masuk kelas tentu saja harus di habiskan dengan makan di kantin agar tak ada yang namanya kelaparan di tengah pelajaran, nanti ngak fokus belajar karena perut yang sedari tadi berdemo
"Nina mie bakso sama es teh" Sambung Nina lagi
"Yaudah, gue pesanin dulu" Ucap Jesika perlahan berdiri menuju ibu kantin untuk memesan makanan mereka, saat ini perut sedang lapar dan ia lebih suka mengisi perut dari pada mendengarkan segala omong kosong mahluk yang tak memiliki otak ini
"Bik mie ayamnya satu sama mie baksonya dua yah, trus minumnya es jeruk dua sama es teh" Ucap jesika pelan
"Iya neng neng tunggu di meja aja nanti bibik anterin kesana" Jawab si bibik kantin pelan dan mulai menyiapkan makanan yang di pesan
Sedangkan Jesika segera kembali ke mejanya untuk menunggu kapankah kiranya makanan itu sampai, perut lapar dan makan adalah pilihan yang tepat, mendengar gosipan orang orang tak bisa membuatnya kenyang, dari itu ia memilih untuk menganggap mereka kayu yang tak punya mulut