Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Dua hari berlalu, namun suasana hati keduanya belum juga membaik. Lebih tepatnya, Clarklah yang masih bergeming dan enggan berdamai. Dante selaku suami hanya bisa mengelus dada, pasrah menerima perlakuan dingin dari istrinya yang terus mengabaikannya.
"Aku pergi," pamitnya pagi itu. Clark hanya melengos tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Dante menghela napas panjang. Ia menoleh pada kepala pelayan. "Segera kabari aku jika ada apa-apa dengannya."
"Baik, Tuan."
Di Luca Suite Hotel & Casino—pusat kendali bisnis Dante. Meski dikenal sebagai ketua mafia yang namanya mampu membuat siapa pun gemetar, Dante sebenarnya tipe yang tertib dan berpegang pada prinsip. Ia sudah lama meninggalkan dunia bawah tanah yang kotor, meski statusnya sebagai pemimpin tertinggi tak bisa dilepaskan.
Celaya dan beberapa kota lain berada di bawah kekuasaannya. Namun hari ini, sang penguasa yang ditakuti itu tampak seperti singa yang taringnya telah dicabut, karna lemah, galau, dan kehilangan harga diri di hadapan satu orang saja yaitu istrinya.
Meski nasibnya pasca-nikah terlihat menyedihkan, ia tak pernah menyesal. Baginya, Clark adalah rumahnya, belahan jiwanya, dan pusat dunianya.
Dante duduk di ruang kerjanya. Tadi pagi ia baru saja berkonsultasi lagi dengan Dokter Hudson, menceritakan nasib "temannya" yang lagi-lagi malang.
Mendengar keluhan itu, Hudson hanya mengangguk dengan wajah datar, meski dalam hati ia berjuang keras menahan tawa agar tak melukai perasaan sepupunya. Setelah Hudson pergi, Dante menatap benda-benda yang tertinggal di atas mejanya. Dokter itu sengaja membawanya serta menjelaskan fungsi masing-masing.
"Untuk lebih jelasnya, tonton saja video yang aku kirimkan," kata Haikuan dengan senyum tenang.
"Sekarang juga?" Dante menyipitkan mata.
"Ya."
"Bersamamu?" Ia ragu.
"Tentu saja." Hudson masih tersenyum manis. "Apa yang kau pikirkan? Aku ini dokter profesional dengan kredibilitas terjaga. Apa yang kulakukan murni untuk menolong pasien."
Dante yang paham arah pikiran sepupunya tersipu. "Sepertinya pekerjaanku selesai. Masih ada pasien yang menunggu. Tonton sendiri, perhatikan setiap langkahnya. Jika ada yang tak dimengerti, hubungi aku segera."
Dante mengangguk. Setelah Hudson pergi, ia pun memutar video itu.
"Huh, soal memasukkan saja aku juga bisa," gumamnya percaya diri. Namun bayangan wajah Clark yang meringis kesakitan seketika membuyarkan keberaniannya. Ia tak tega menjadi penyebab air mata istrinya.
Frustrasi, ia mematikan video dan membuka galeri ponsel. Sebuah foto seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun tersenyum manis.
Itu Clark kecil. Dante ikut tersenyum. Dari sinilah semuanya bermula.
Flashback bertahun-tahun silam
Langit musim panas begitu cerah. Dante yang berusia lima belas tahun sedang berkemas bersiap pulang bertemu orang tua yang sangat dirindukannya. Mobil jemputan hitam telah tiba, bukan hanya sopir, tapi juga Paman Zeck.
Paman itu tak berkata sepatah kata pun, melainkan langsung memeluknya erat. Dante merasa ada yang tak beres.
"Kau tidak sendiri. Kau masih memilikiku sebagai pamanmu, dan Hudson sebagai saudara," bisik Zeck. Lalu kabar yang menghancurkan dunia remaja itu meluncur pelan namun mematikan: "Semalam Ayah dan Ibu mengalami kecelakaan. Mereka tak selamat."
Kebahagiaan Dante runtuh seketika. Pemakaman kedua orang tuanya berlangsung berdampingan. Dante tak meneteskan air mata sedikit pun. Ia hanya diam mematung, seolah tak percaya. Seminggu kemudian ia tak kembali ke asrama, melainkan menjalani pendidikan di rumah. Hari ke-15 pasca-kepergian orang tuanya, ia berkunjung ke makam dengan setangkai bunga. Diam, kosong, sunyi.
Tiba-tiba tangan kecil menyentuh ujung kemejanya. Dante menoleh. Seorang gadis kecil dengan dua gigi kelinci tersenyum cerah. Dunianya yang kelam seketika diterangi cahaya kecil itu.
"Kak... bunganya cantik sekali. Bolehkah aku minta satu?" celotehnya renyah. Dante terpaku, tak menjawab. Melihat diamnya sang pemuda, wajah gadis itu seketika cemberut. "Kalau tidak mau, tak apa. Aku tidak memaksa."
Gadis kecil itu berjalan pergi, berhenti di sebuah makam sederhana tak jauh dari situ. Dante mendengarnya berbisik pelan "Mama, maafkan Clark. Lain kali Clark bawakan bunga untuk Mama."
Tak lama kemudian seorang gadis yang lebih besar datang dengan seikat bunga. "Kenapa tidak menunggu Kakak? Aku khawatir sekali."
"Maaf, Clark rindu Mama," jawab si kecil.
"Lihat, Kakak bawakan bunga untuk Mama." Wajah si kecil berseri-seri lagi. Mereka berdua bercerita riang hingga langit berubah jingga. Sebelum pulang, si kecil berpamitan pada makam ibunya. Dante memperhatikan dari kejauhan. Saat mereka masuk ke mobil, ia berjanji dalam hati untuk bertemu lagi dengan senyum itu.
Dante menatap foto itu lembut. Ternyata sejak saat itu pula benih perasaan itu sudah tertanam. Dan kini, anak kecil itu telah menjadi miliknya.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭