Ai Awso, si Bodyguard tapi lenje, suatu saat mendapat tawaran untuk mengawal Maria Zhang, Selebritis Seksi yang galak. Maria konon dihantui oleh sosok hantu penuh dendam, namun sosoknya meneror semua agen wanita yang ia sewa. Sosok itu tidak muncul kalau ada pria di dekat Maria.
Maria benci laki-laki karena rasa traumatis. Karena itu, Ai yang kemayu kerap dipilih untuk mendampinginya.
Mereka selalu berdua kemana-mana sampai akhirnya Maria lupa, kalau walau pun kemayu, tapi Ai laki-laki tulen. Gayanya aja lenje, tapi kalau udah berantem ya lebih gahar dari pria tulen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tante masih sebel
Kantor GSA
Gedung Garnet Grup
"Capeeeeeeeek!" seru Tresna sambil membuka rompi anti-pel…akor nya ke atas meja.
"Sama, kok gue tepar ya?! Kebanyakan makan tteokbokki kayaknya jadi klemar-klemer," keluh Heksa sambil tiduran di atas meja. Rompi Tresna jadi bantalnya.
"Widih, nemu 10rebu di selipan rompi, mayan," desis Heksa sambil mengantongi lembaran rupiah. Sekelas Tresna, Direktur Garnet Bank Cabang Singapura, ngantonginnya 10rebu.
"Awas itu tokalev dikunci nggak, nanti lo bawa tidur meledos nembus jempol ngomel-ngomeeel… Nggak bisa meeting lah nggak bisa ke wc lah nggak bisa megang sendok soto lah, minta disuapin lah..." Mooses memonyong-monyongkan bibirnya mengomeli Heksa.
Heksa memeriksa Tokalev yang terselip di pinggangnya. "Eh iya lupa kekonci. Gawat dah! Lo penyelamat hidup gue brooo!" dia toss sama Moses.
"Penyelamat hidup?" Tresna mengernyit, "Gue yang udah ngingetin ratusan kali soal kunci senpi, posisinya apa dong? Udah level dewata kayaknya, disembah," gerutu Tresna.
"Kalo lo ngingetin gue biasanya ada maunya. Kan gue back up kalo lo pingin liburan, gue di-jadiin tumbal shareholder. bukannya dewata, lo malah ngutang hutang budi ke gue! Jadi No tengkiu tengkiu prett!" desis Heksa sambil melanjutkan tidurnya.
Telepon Tresna berbunyi. Tulisannya Alumni Hati.
Alias, Mantan Bini.
"Apa sih ganggu orang lagi meeting aje," sapaan pertama Tresna.
"Gue di Jakarta nih, ketemuan yuk!" ajak si mabin.
"Ogah ah, ntar jadinya malah ribut," desis Tresna.
"Belom juga ketemuan udah sudzon,"
"Gue baru tugas ngamanin anak pejabat," gerutu Tresna, "Ajak aje laki lo,"
"Dah cerai, belum nemu yang lebih baik dari lo,"
Tresna diam.
Lalu melirik semuanya.
Saat itu setiap orang lagi pada sibuk, ada yang makan, ada yang tiduran, ada yang main jalangkung, ada yang main galaksin.
Lalu pria itu perlahan melipir keluar dari markas.
"Kamu sehat?" tanya Tresna. Lah kok jadi aku-kamu?!
"Nggak juga sih, lagi depresi aja," kata si Mantan Bini. Sebut saja namanya Trisni.
Lagi males nyari nama hahahaha.
Jangan sampe yang ini lupa lagi, nggak lucu pas ngadain kuis, otornya sendiri kalah hapalannya.
"Kenapa? Butuh apa?" tanya Tresna lembut.
"Butuh ada yang menemani. Sendiri itu sepi, walau pun sekeliling ada banyak orang, tapi hatiku terasa kosong," kata Trisni.
Tresna dalam hal ini lebih beruntung. Karena dia punya Amidis, dia punya Heksa, dan yang terpenting, dia punya GSA. Walau pun istri tak punya tapi dia tetap enjoy karena kelewat sibuk sama sosialisasi.
Kalau Trisni, usia sudah 48 tahun masih saja tidak punya pasangan tetap, kedua orang tuanya sudah tiada, karier lancar banyak uang seharusnya hal bagus, tapi yang mendekatinya malah kebanyakan tergiur hartanya. Apalagi dia perempuan, nyangkanya bisa dibohongi.
Dan ya dia memang sering dibohongi. Main Hati melulu soalnya.
Kalau soal perawakan, Trisni memang tidak terlalu charming bergelora seperti wanita-wanita di klan Bataragunadi yang memang DNAnya udah level dewita, wajah Trisni standar aja cenderung manis. Bodynya memang aduhai, tapi sifatnya sering labil.
Hubungan yang dijalaninya paling lama memang sama Tresna, karena keburu mlendung Amidis.
"Ya sudah, mau ketemu dimana?" tanya Tresna akhirnya.
"Cafe di Garnet Grup aja ya, ajak Amidis ya. Aku kangen dia juga,"
"Oke,"
Dan Tresna pun memutuskan sambungan telepon lalu kembali masuk ke dalam markas untuk mencari Amidis.
Tidak sulit mencari Amidis, karena tu bocah lagi konser dadakan di atas meja sambil nyanyi lagu My Heart Will Go On.
Sementara Capung, Alexis dan Moses mengangkat tangan ke udara meresapi suara Amidis yang memang ala-ala Elvis keselek salak.
"Mid, Amid! Sini kamu," panggil Tresna sambil melambaikan tangan agar Amidis menghampirinya.
"Pah, beneran aku nggak punya hubungan apa apa sama Bik Markonah! Ketemu cuma say hay doang pagi-pagi kalo aku nitip ngantri bubur, suer Pah!" Amidis langsung cuap-cuap. Belom juga disemprit pake priwitan.
"Bukan itu Mid," gumam Tresna, lalu dia menunduk dan berbisik, "makan siang bareng mama yuk,"
"Hm… Aku sebenernya males, Pah. Papa sendiri aja deeeh, maksi berdua sama mama sana,"
"Kenapa sih?"
"Aku kalau sama kalian tuh, bagaikan Nun sukun diantara Idgham bilagunah, terlihat namun tak dianggap,"
"Heh?"
"Papa mama biasanya ribut ngobrol berdua pake bahasa galaksi Bekasi, aku suka dicuekin,"
"Kali ini sepertinya kita bertiga bagaikan Sukun bertemu huruf Idgham Bighunnah. Melebur dan Mendengung,"
"Serius?"
"Mungkin saja kita bertiga akan bersatu kembali,"
Amidis menaikkan alisnya ," Serius Pah? Kok bisa?"
"Mama kamu baru saja bercerai lagi,"
"Yess!"
**
Dan apa kabar Wakom GSA kita tercinta? Rumi Rutherford yang lagi menye-menye?
Saat ini di ruang interogasi, suasana sedang memanas. Aura gelap memenuhi setiap sudut dan hawa pengap membuat udara sumpek
Karena di dalam ruang interogasi, ada…
Pak Arman VS Om Leon
Buaya VS Singa
Kenapa Pak Arman logonya buaya ya? Apakah karena dia setia sama satu wanita saja, walau pun dia mantan sejuta wanita?
Yang mana pun harafiahnya, dia beneran cocok dikaitkan dengan buaya.
"Seumur hidup gue, pernah kita cocok satu sama lain. Sama-sama sebel sama Alex," kata Om Leon, "Dan kali ini sayang sekali kita cocok lagi. Sama-sama nggak setuju anak-anak menjalin cinta cintaan,"
Pak Arman merogoh jasnya dan meraih G2 Combatnya, lalu ia letakkan di atas meja, di depan Om Leon.
"Wih, baru tuh…" desis Om Leon.
"Parabellum nih, produksi baru PT. Pindad," desis Pak Arman pake songong.
Om Leon mengeluarkan Revolver built in nya.
"Dih, nggak mau kalah banget sih!" Ejek Pak Arman, tapi matanya nggak lepas dari revolver Om Leon.
"120 berlian 1 karat," desis Om Leon sombong.
"Berliannya asli ato budidaya di lab?" Pak Arman mengernyit meragukan keaslian.
"Asli dong! Gue tambang sendiri dari Yakutsk nih!" Om Leon sewot.
"Kebanyakan gaya lo, revolvernya cuma 6 peluru," ejek Pak Arman
"Ya emang cuma buat gaya, emang lo tembak-tembakan melulu, dasar maniak adrenalin…" gerutu Om Leon.
"Umur segini gue masih fit, nggak cuma duduk ngitung cuan pake sempoa sambil ngeliatin anak buah main congklak kayak lo,"
"Lo pikir gue engkoh-engkoh Glodok?!"
Rumi yang berada di tengah+tengah hanya ngedumel.
"Gue ada di tengah-tengah Lansia tapi pemikirannya kayak bocah," gerutu Rumi.
Di tengah adegan adu mulut, ponsel Rumi pun bergetar.
Rumi pun memeriksa ponselnya, lalu tersenyum bahagia. Pesan singkat dari sang pacalll,
"Sibuk sayang?" pesan dari Nayaka, pake emot 'love'.
Rumi segera menekan tuts keyboard di ponsel layar sentuhnya dan mengetik, "Lumayan. Kamu udah makan?"
"Belom, aku lagi persiapan pemotretan untuk Dahlia's Passion,"
Rumi diam dan membayangkan. Pasti Nayaka sangat cantik dalam balutan gaun indah bertabur batu mulia.
"Aku sebentar lagi ke atas, lagi ngurusin para cukong berantem," ketik Rumi.
"Oke, I love You,"
Duniaaaa terasa indaaaaah, bagai duduk diam di surgaaa, menatap
sungai mengalir tenaaaang, matahari bersinar teraaaang, hati ini jadi riaaaang.
"Makasih Ya Allah, aku punya calon istri…" gumam Rumi penuh rasa bersyukur.
"Hoi! Hoi Rumi?! Hoi! Lah dia bengong…" dengus Om Leon.
"Perasaan ni markas udah gue adain pembersihan kenapa dia senyum-senyum?! Fixed kesurupan ini sih," gumam Pak Arman sambil menekan tombol interkom.
"Khalid online," sahut sebuah suara dari seberang telepon.
"Panggilin ustad, Rumi kesurupan," seru Pak Arman.
"Yalla! Buyaaa, ada emergency di ruang interogasi!" seru Khalid langsung panik sambil memanggil Mas Umar.
**