Brianna, gadis berumur 20 tahun. Yang selalu menghabiskan harinya hanya untuk bersenang-senang. Tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi dan hanya menjadi benalu di rumah. Anak tunggal yang pasti akan mewarisi semua harta kekayaan orang tuanya.
Henry, pria dewasa berumur 35 tahun yang belum menginginkan untuk menikah selepas kehilangan tunangannya 10 tahun silam. Olivia yang merupakan tunangannya dinyatakan hilang dan jejaknya tak dapat dicari hingga detik ini.
Abraham yang merupakan ayah dari Brianna menjodohkan putrinya dengan putra dari sahabat lamanya. Berharap setelah menikah Brianna akan berubah menjadi seseorang yang lebih menghargai hidup dan masa depannya.
Saat Brianna bertemu dengan sosok Henry, mereka berdua sama-sama terkejut. Karna mereka sebelumnya pernah bertemu dalam sebuah tragedi tak terduga.
Bagaimana kisah rumah tangga Anna si gadis nakal dan Henry si pria dewasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutrieRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 PERNIKAHAN ADIK IPAR
Saat bangun tidur, entah kenapa hatinya tidak merasa tenang. Padahal hari ini adalah hari bahagia bagi Zion dan Bella yang akan melangsungkan pernikahan. Sejak pagi buta, rumahnya sudah dipenuhi orang-orang yang akan merias Anna. Dia sengaja memanggilkan ahli make up artis profesional juga hairstylist. Mereka harus datang ke acara penting dengan penampilan yang memukau.
"Tuan, Nona tidak berhenti mual-mual," ucap salah seorang pelayan. Henry yang sedang duduk segera bangkit dan mengecek keadaan istrinya. Memang akhir-akhir ini Anna sering mengeluh mual-mual setiap pagi. Dan sepertinya pagi ini, mual-mualnya lebih parah. Hingga mengganggu perias yang sedang mendandani dirinya. Karna Anna harus bolak-balik kamar mandi.
"Apa sebaiknya kamu di rumah saja." Ia lihat wajah istrinya yang pucat. Tubuh mungilnya membuatnya iba.
"Apa kamu sudah gila? Aku tidak datang ke acara pernikahan adik ipar ku sendiri! Apa kata orang nanti!" Anna tetap ingin datang, walau ia merasa badannya tidak enak sekali. Tapi setidaknya ia menghargai adik iparnya.
"Aku bisa bilang ke ayah dan ibu juga Zion. Jika kamu sedang tidak baik-baik saja. Ja—"
"Diam lah! Aku tetap akan datang!" Semenjak hamil, mereka memang sering berdebat. Juga Anna yang semakin berani jika dikasih tahu. Tapi Henry selalu ingat pesan Chris, bahwa dia yang harus sering mengalah. Mood wanita yang sedang hamil memang berubah-ubah. Dia harus mengerti itu.
Henry memilih duduk di samping istrinya sedangkan seorang perias terlihat serius menancapkan beberapa kosmetik di wajah polos istrinya.
Gaun putih panjang dengan belahan sampai lutut menjadi pilihan fashionnya kali ini. Dengan tambahan lengan brukat pendek juga hiasan bunga besar di salah satu pundaknya. Tema fashion kali ini adalah black and white. Black untuk tamu undangan pria dan white untuk tamu undangan wanita. Untuk tamu undangan wanita tidak akan tertukar dengan pengantin wanita, karna Bella memilih warna merah muda untuk gaun pernikahannya.
Perutnya seakan dicabik-cabik. Rasa mual menemani setiap perjalanannya. Rasanya ingin turun dari mobil karna tidak tahan dengan rasa mual itu sendiri. Padahal ia sudah meminum obat untuk mengurangi rasa mualnya yang diberikan dokter waktu itu. Tapi tetap saja, mualnya tidak hilang.
Tidak lucu jika nanti saat acara berlangsung, Anna akan mual-mual atau bisa jadi memuntahkan isi perutnya. Itu pasti sangat memalukan.
Anna melirik suaminya, ia bisa melihat kecemasan di raut wajahnya yang dingin itu. Entah apa yang sedang ia cemaskan. Mungkinkah ia sedang mencemaskan keadaan dirinya? Anna tersenyum sedikit, merasa diperhatikan.
"Kamu nanti di dalam ruangan saja. Istirahat di sana."
Anna menggeleng cepat, ia tetap menolak. Dia tetap kekeh ingin ikut dalam acara pernikahan Zion.
"Keras kepala."
Di sebuah gedung megah, mobil mereka mulai memasuki halaman gedung. Terlihat sudah banyak mobil terparkir di sana. Padahal acaranya masih 30 menit lagi.
"Aduh ....." Saat ingin menaiki pijakan tangga yang pendek, heelsnya tak sengaja menginjak gaun panjangnya. Untung saja Anna tidak terjatuh karna Henry dengan sigap menahannya. Dengan perhatian, Henry membenarkan posisi gaunnya dan mengecek sepatu heelsnya itu.
"Kenapa memakai yang tinggi sekali! Ayo ganti, kamu pinjam saja pada Alice." Henry membawa Anna masuk, ia mencari keberadaan Alice.
"Bibi Anna! Bibi Anna!" Suara menggemaskan dari Naomi membuat senyuman Anna merekah. Dia merindukan sosok gadis kecil itu.
"Naomi sayang ...." Ia menciuminya bertubi-tubi. Lalu memeluknya dengan gemas. "Ibumu di mana, sayang?" tanyanya.
Naomi dengan sigap menariknya membawa pada gerombolan para wanita. Di sana ada Alice yang sedang mengobrol asyik dengan para istri dari teman-teman Jason.
"Kak Anna sudah datang." Alice berdiri dan mengajak Anna untuk bergabung tapi ia menolak.
"Alice, kamu bawa sepatu yang haknya tidak setinggi ini?" tunjuknya pada sepatu heels yang ia pakai.
Dan kebetulan dia membawa beberapa pasang sepatu di mobil. Anna bisa memilihnya sendiri.
"Duduk saja di sini. Jika butuh sesuatu katakan saja padaku," ucap Henry.
Kini mereka sudah duduk di sebuah kursi yang telah disediakan.
"Jika Naomi butuh sesuatu nanti Naomi katakan kepada siapa, Paman?" Naomi ikut menimpali, kini ia sedang duduk dipangku oleh Anna. Karna keponakannya itu ingin terus dekat dengannya.
"Boleh katakan saja pada Paman, Sayang." Henry yang gemas mencubit pipinya. Ia lalu membayangkan jika nanti anaknya sudah lahir. Henry menatap Anna dari samping, tak mengira jika takdir pernikahannya harus menikahi gadis kecil ini.
"Sebenarnya apa yang dirasakan Anna sekarang? Apa mungkin dia menyesal telah menikah denganku? Dia bertahan di pernikahan ini karena ada calon bayinya."
Henry berpikir, mungkinkah dia terlalu egois menerima untuk menikahi gadis ini hanya untuk kepentingan ia sendiri yang ingin melihat adiknya tidak bersedih karna gagal menikah. Sedangkan ada gadis kecil ini yang dengan jelas menolak pernikahan hanya karna belum siap.
"Aku haus ...." Anna menyentuh tenggorokannya yang terasa kering. Henry dengan sigap mengambil minuman begitupun untuk Naomi yang merengek meminta minum juga.
Satu gelas minuman berwarna hijau terasa menyegarkan saat menyentuh tenggorokannya. Tak cukup satu gelas, Anna meminta lagi dan Henry pun mengambilnya lagi tapi langsung dua gelas.
"Banyak sekali! Aku kembung nanti!" kesalnya dengan bibir dimanyunkan. Terkadang suaminya ini ada saja kelakuannya.
"Ya sudah, satunya buat aku." Hanya satu tegukan gelas itu kosong tak tersisa.
Anna memandangi Henry yang sedang minum itu terlihat seksi. Laki-laki berumur 35 tahun itu, tak tampak tua. Bahkan wajahnya bisa dibilang lebih muda dari Jason dan Zion. Itu menurut Anna.
Saat Anna sedang memandangi Henry, laki-laki itu tiba-tiba memergokinya. "Apa? Kamu terpesona dengan ketampanan aku?"
Cih.
Anna memutar bola matanya jengah. Ia lalu memilih mengobrol dengan Naomi.
Suasana di dalam gedung semakin ramai, membuat Anna pusing melihat lautan manusia.
"Aku pusing. Aku tidak nyaman di sini." Henry pun mengajaknya untuk ke sebuah ruangan.
"Istirahat saja di sini. Kan aku sudah bilang, kamu di sini saja. Kenapa bandel banget sih!" Untuk kesekian kalinya Henry mencoba sabar.
"Sabar .... Sabar ...."
"Naomi, di sini saja ya dengan Bibi Anna."
Gadis kecil itu pun bersorak riang. Dia bisa main sepuasnya di sini dengan Bibi kesayangannya.
"Aku tinggal dulu. Jika ada apa-apa, kamu bisa telfon aku. Acaranya mau di mulai. Aku harus ada di bagian keluargaku."
Anna mengangguk, di ruangan ini ia merasa sedikit tenang. Suasananya damai dan sunyi.
"Bibi, Naomi mengantuk ....." Gadis kecil itu akhirnya berbaring di ranjang, matanya perlahan terpejam. Anna menidurinya dengan cara mengelus puncak kepalanya pelan. Membuat Naomi nyaman.
Baru saja Naomi terlelap, pintu ruangannya di ketok oleh seseorang. Ia pikir, mungkin saja suaminya. Tapi saat ia membuka pintu, ternyata sosok wanita yang berdiri di depan pintu. Wanita itu tersenyum lebar tapi berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang sinis.
Congrats Henry!!!
buang Olivia kelaoot 😂😂😂