Cinta bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.
Cinta tak kenal paksaan, cinta tak kenal status, cinta tak kenal usia.
Seperti yang terjadi pada Monica Alandra Putri. Rasa sayangnya pada teman baik ibunya, Egi Pramuja, tumbuh menjadi rasa cinta ketika dia sudah dewasa. Namun sayang, Egi sudah memiliki perempuan yang akan menjadi calon istrinya. Beribu-ribu cara Monica lakukan untuk memisahkan mereka, tetapi malah semakin menjauhkan dirinya dari Egi.
Ketika Monica ingin menyerahkan hatinya untuk orang lain, Egi datang membawa cinta untuknya. Kebimbangan datang di hati Monica, yang akhirnya membuat Monica terlibat cinta segitiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Panji
Leo mengantarkan Monica kembali ke rumahnya. Bagi Monica Leo seorang kakak dan anak yang baik. Sepanjang perjalanan Leo dan Monica bercerita satu sama lain. Leo menceritakan semenjak lulus sekolah menengah pertama, Leo pindah ke luar negeri untuk tinggal bersama ibu kandungnya. Monica juga baru tahu ternyata Leo dan Panji saudara satu ayah,tetapi berbeda ibu.
Meski keduanya berbeda ibu, namun hubungan mereka sangat dekat. Leo juga mengatakan kalau dirinya merasa kasihan pada Panji yang dari kecil di asuh oleh pengasuhnya. Panji juga sering di tinggal ke luar kota bahkan keluar negeri oleh Alena untuk urusan bisnisnya.
"Kamu tahu Monica, aku bisa lihat kalau Panji sangat menyukaimu, aku tak tahu jika adikku yang keras kepala itu bisa luluh oleh mu," tawa Leo. Monica pun ikut tertawa kecil.
Ternyata Monica belum sepenuhnya tahu tentang Panji, ia bersyukur Leo membantunya untuk tahu banyak soal Panji. Tak terasa waktu sudah berjalan satu jam, Leo sudah sampai di depan rumah Monica.
"Terimakasih kak Leo. Maaf jika aku merepotkan mu!" Monica melepas safety belt nya.
"Tidak masalah, Monica!" Leo tersenyum kepada Monica. "Jika kamu butuh bantuan ku soal Panji. Kamu bisa menanyakannya padaku." Monica mengangguk, keduanya pun saling bertukar nomer ponsel.
"Hati-hati di jalan, Kak Leo!"Monica melambaikan tangannya saat mobil Leo berlalu.
Di dalam mobil, Leo tak sengaja melihat botol obat di dalam dashboard yang terbuka. Leo mengambil botol obat itu. Leo menepikan mobilnya di tepi jalan, karena merasa penasaran dengan botol obat itu. Leo terus memperhatikan botol obat itu, ia pun mengambil ponsel di saku jaket nya. Leo membuka aplikasi geogle dan mencari tahu tentang obat itu. Leo membelalakkan matanya saat membaca artikel tentang obat itu. Leo belum sepenuhnya percaya apa yang baru saja ia baca. Leo memutuskan untuk pergi ke rumah sakit esok hari untuk memastikan kejelasan akan obat itu.
Keesokan harinya, Leo benar-benar pergi ke rumah sakit. Tak lupa botol obat yang Leo temukan di mobil Panji juga sudah Leo bawa. Leo menemui Dokter pribadi keluarganya yang sedang praktek di rumah sakit itu. Leo langsung memberikan botol obat yang ia bawa pada Dokter laki-laki yang bernama Dokter Mirza.
"Ini hanya sekedar Vitamin daya tahan tubuh?" ucap Dokter Mirza.
"Anda yakin, Dokter?" tanya Leo kenang kening berkerut.
"I-iya, ten-tu!" Dokter Mirza menjawab dengan nada gugup.
Leo tak sepenuhnya percaya dengan ucapan Dokter Mirza. Leo melihat dengan jelas ada yabg di sembunyikan Dokter Mirza dari dirinya.
"Dokter! Dokter sudah lama bekerja di keluarga kami, jangan buat kepercayaan kami pada Anda hilang karena apa yang sedang Anda sembunyikan dari kami. Dan jika sesuatu terjadi pada Panji, Anda lah yang harus bertanggung jawab!" ancam Leo.
Dokter Mirza menarik nafas dalam-dalam. Leo benar memang ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan dari keluarga Leo.
"Maafkan saya, Leo. Saya sudah berjanji pada Panji untuk tidak mengatakan ini pada kalian. Tapi mungkin ini saatnya kamu harus tahu yang sebenarnya, Leo!" Dokter Mirza akhirnya menceritakan semuanya tentang apa yang sudah Panji dan Dokter Mirza sendiri sembunyikan dari keluarga nya.
Leo masuk kembali ke dalam mobilnya setelah Dokter Mirza mengatakan hal yang sebenarnya. Leo tak kuasa untuk menahan air matanya. Leo memutuskan untuk kembali ke rumah menemui Panji untuk meminta penjelasan kenapa adiknya, bagaimana bisa Panji merahasiakan hal sebesar ini darinya dan juga semua orang.
Leo melajukan kembali mobilnya dan meninggalkan area parkir rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Leo terus berharap agar apa yang baru saja ia dengar dari Dokter Mirza adalah sebuah kebohongan. Leo melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk segera sampai ke rumahnya.
"Shiiit"
Leo mengumpat saat laju mobilnya mulai terhalang oleh kemacetan. Beberapa kali Leo membunyikan klakson nya melampiaskan rasa kekesalaannya. Leo menyibakkan rambutnya ke belakang dan menarik nafas dalam-dalam untuk meredam emosinya. Setelah satu jam terjebak kemacetan, akhir nya Leo sampai di depan pintu gerbang rumahnya.
"Bi, Panji di mana?" tanya Leo saat melihat pengasuh Panji baru saja menuruni anak tangga.
"Ada di kamarnya, Den Le....o." Belum selesai perempuan paruh baya itu berbicara, Leo sudah lebih dulu berlari menaiki anak tangga. "Ada apa ya. Kok Den Leo sepertinya sedang marah?"
Leo berjalan cepat menaiki anak tangga dan menuju kamar Panji. Leo langsung saja membuka pintu dan langsung masuk ke dalam. Leo melihat Panji sedang membaca buku di atas kasur nya.
"Jelasin tentang obat ini, Panji!" Leo langsung melempar botol obat ke kasur, tepat di hadapan Panji.
Ada rasa terkejut di wajah Panji, sebisa mungkin Panji menyembunyikannya. "Oh, ini hanya Vitamin biasa?"
"Lo masih saja bojong sama gue, Panji. Gue udah tahu semuanya. Dokter Mirza sudah menjelaskan semuanya ke gue!"
"Oh!" Panji memang terkejut, namun Panji tetap berusaha bersikap biasa saja.
Leo yang perasaannya sudah campur aduk, makin kesal dengan sikap Panji. "Oh doang?" Leo menarik nafas. Tangannya meraih kerah baju yang di pakai Panji. "Panji, ini masalah serius, kenapa lo nyembunyiin ini dari kita semua?" Leo perlahan melepaskan cengkraman tangannya di baju Panji. "Jawab, Panji?"
"Gue gak mau ngebebanin kalian dengan masalah gue!"
"Beban?" Leo memijit keningnya. Rasa sedih bercampur dengan kemarahan, membuatnya tak bisa berbicara. Leo duduk di tepi Ranjang di hadapan Panji. "Kita ini keluarga, Panji. Ini masalah serius!" satu tetesan air maya berhasil lolos dari mata Leo.
"Gue gak sanggup, Bang. Buat bilang semua ini ke kalian!" ujar Panji.
"Kapan lo tahu soal ini?"
"Saat gue naik ke kelas sebelas!"
Berati sudah hampir satu tahun, Panji merahasiakan masalah ini. "Kenapa lo gak bilang ini ke gue. Lo gak nganggap gue ini Abang lo?"
Panji tak bisa lagi menahan sesak di hatinya. "Gak gitu, Bang?"
"Gue udah bilang, gue gak sanggup buat ngasih tahu ini semua. Gue juga gak mau tambah beban di pikiran kalian!"
"Panji, kanker otak lo udah nyampe stadium 3, dan lo bakalan tetap nyembunyiin ini semua dari kami?"
PRAAAANK
Leo dan Panji terkejut saat mendengar benda pecah. Keduanya menoleh ke arah pintu dan ternyata Alena menjatuhkan nampan berisi makanan, dan kini semuanya berantakan tepat di kaki Alena.
Alena yang berniat membawakan makan siang untuk Panji terkejut saat Leo mengatakan kalau Panji mengidap penyakit kanker otak stadium 3.
"Mamah!"
Alena tak menghiraukan pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai. Alena langsung menghampiri Leo untuk meminta penjelasan atas apa yang Leo ucapkan.
"Leo, katakan sama Mamah, apa yang kamu bilang tadi salah kan, Mamah salah denger kan?" Alena menangis. "Panji, Leo?" Alena terus bertanya pada kedua anaknya. Namun Panji dan Leo diam bak patung. "Panji, Leo, Mamah tanya sama kalian, jawab Mamah!" teriak Alena.
Alena mengguncang-_guncang kan tubuh anak tirinya, dan Leo pun langsung memeluk Alena. "Maaf, Mah. Ini memang benar. Dokter Mirza yang mengatakan ini semua sama Leo."
Alena menjauhkan tubuh anak tirinya, lalu menatap wajah Panji yang sedang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Panji..!" Panggil Alena. Namun Panji masih belum mau melihat ke arah Alena. Alena memalingkan wajah Panji supaya anaknya melihat ke arahnya.
Panji masih tidak mau melihat Alena. Panji tidak sanggup untuk melihat wajah sedih wanita yang ia panggil mamah. "Panji, lihat mamah, sayang!" Panji masih belum mau melihat Alena. Alena langsung memeluk Panji dan menangis histeris di pelukan anaknya.
"Maafin mamah, sayang!"
Panji pun langsung membalas pelukan Alena dan menangis di pelukan Alena, begitu juga dengan Leo. Ketiganya menangis bersama.
panji juga knp ga jujur aja...