Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Kamu Bilang Kamu Suka Aku
Ardian tidak membangunkan Sekar setelah mendengar gumaman itu.
Ia hanya duduk di samping sofa ruang tengah, menahan napas seperti orang yang baru saja menemukan pintu rahasia di rumahnya sendiri. Di bawah lampu hangat, wajah Sekar terlihat lebih kecil dari biasanya. Rambutnya berantakan di pipi, bibirnya sedikit terbuka, dan satu tangannya masih menggenggam ujung selimut yang Darren lemparkan dari jauh tadi.
"Pak Tan... baik," gumamnya sekali lagi, kali ini tidak jelas.
Ardian menatapnya lama.
Kalimat sebelumnya jauh lebih jelas dari itu.
Jelas sekali sampai dadanya terasa penuh.
Ia mengambil tisu baru, menghapus bekas air mata di sudut mata Sekar, lalu menarik tangannya kembali sebelum jemarinya terlalu lama menempel di kulitnya. Ia tidak ingin mengambil keuntungan dari keadaan Sekar yang mabuk. Tetapi ia juga tidak sanggup berpura-pura tidak mendengar.
Malam itu, setelah Darren memastikan air hangat dan bubur sudah tersedia, Ardian tetap di ruang tengah. Bukan untuk menjaga tubuh Sekar saja, melainkan menjaga satu kalimat yang jatuh dari bibirnya.
Pagi harinya, Sekar bangun dengan kepala seperti dipukul centong nasi.
"Aduh..."
Ia membuka mata pelan. Langit-langit Rumah Tan terlihat asing selama tiga detik. Setelah itu, ingatan datang seperti rombongan ibu-ibu arisan yang masuk tanpa antre.
Club Bintang. Denny. Lina. Red wine. Tangis. Mobil. Si Kuning.
Sekar langsung duduk tegak, lalu menyesal seketika.
"Aduh, kepala saya copot, ya?"
"Belum," jawab Ardian dari dekat jendela.
Sekar menoleh.
Ardian sudah rapi. Kemeja putih, celana gelap, kursi roda menghadap sofa. Di pangkuannya ada buku, tetapi jelas ia tidak membaca. Matanya langsung menemukan wajah Sekar begitu ia bergerak.
Sekar menunduk melihat dirinya. Masih memakai pakaian semalam, hanya sepatu sudah dilepas dan selimut menutupi sampai dada. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang hilang. Tetapi rasa malu tetap naik sampai telinga.
"Saya... semalam bikin malu, ya?"
"Lumayan."
Sekar memejamkan mata. "Ya Allah."
"Kamu menangis."
"Itu saya masih ingat sedikit."
"Kamu memeluk tangan saya."
Sekar membuka satu mata. "Itu saya minta maaf."
"Kamu bicara tentang Si Kuning."
Kali ini Sekar diam. Nama itu membuat mabuknya seperti tersisa di tenggorokan. Ia mengangguk kecil.
Ardian menggerakkan kursi roda mendekat. Roda itu berhenti tepat di depan sofa, tidak terlalu dekat, tetapi cukup membuat Sekar harus menatapnya kalau ingin bicara sopan.
"Kamu juga bilang sesuatu sebelum tidur."
Sekar langsung kaku.
"Apa?"
Nada suaranya terlalu cepat. Terlalu takut.
Ardian menatapnya tanpa berkedip. "Kamu bilang kamu suka aku."
Udara ruang tengah seperti berhenti.
Sekar menatap Ardian.
Ardian menatap Sekar.
Dari arah dapur, suara gelas yang sedang dicuci terdengar sekali, lalu hening. Mungkin Darren, mungkin staf, mungkin seluruh dunia ikut mendengar. Sekar tidak punya tenaga untuk memastikan.
"Saya bilang apa?"
"Kamu bilang kamu suka aku."
"Tidak mungkin."
"Mungkin."
"Pak Tan, saya mabuk."
"Justru karena mabuk, orang sering jujur."
"Tidak selalu. Orang mabuk juga bisa mengira tiang listrik itu mantan."
Sudut bibir Ardian bergerak sedikit. "Kamu tidak mengira saya tiang listrik."
"Saya tidak tahu semalam saya mengira Bapak apa."
"Kamu memanggil nama saya."
Sekar menutup wajah dengan kedua tangan. Panasnya pipi tidak tertolong. Kalau sofa bisa menelan manusia, ia rela masuk sampai basement.
"Saya berhenti minum. Mulai hari ini, saya resmi pensiun dari dunia alkohol."
"Tidak perlu."
Sekar menurunkan tangan. "Lho, Bapak malah mendukung saya mabuk?"
"Aku hanya menetapkan aturan baru."
"Aturan apa?"
Ardian menyandarkan punggung, wajahnya tetap tenang, tetapi matanya tidak setenang itu. "Kalau kamu mau minum, hanya boleh di rumah. Dengan aku."
Sekar terdiam lagi.
Kalimat itu tidak terdengar seperti perintah majikan kepada pengasuh. Tidak terdengar seperti aturan kerja. Terlalu pribadi. Terlalu lembut. Terlalu membuat perut Sekar berputar tanpa bantuan red wine.
"Kenapa harus dengan Bapak?"
"Karena kalau kamu menangis, aku bisa memberimu tisu."
"Tisu bisa dibeli di minimarket."
"Kalau kamu mengigau, aku bisa mendengarnya."
"Nah, itu masalahnya." Sekar menunjuknya dengan jari gemetar. "Bapak terlalu tajam mendengar hal berbahaya."
"Kalimat suka aku itu berbahaya?"
"Bagi reputasi saya sebagai pengasuh profesional, iya."
Ardian hampir tertawa. Hampir saja. Tetapi ia menahannya karena Sekar tampak sungguh-sungguh panik.
"Sekar."
Ia jarang memanggil nama pendeknya seperti itu. Biasanya "Budiman Sekar", kadang "Nomor 88" ketika sengaja menggodanya. Panggilan "Sekar" dari mulut Ardian membuat kata itu seolah baru dicuci bersih, lalu diletakkan tepat di dada.
Sekar menelan ludah. "Ya?"
"Aku tidak akan memaksamu mengakui apa pun yang kamu tidak siap akui."
Rasa malu di wajah Sekar pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih lunak.
"Tapi kamu tidak boleh bilang semalam tidak terjadi apa-apa," lanjut Ardian. "Karena aku mendengarnya."
Sekar memegang ujung selimut lebih erat.
Ia ingin membantah. Ia ingin mengatakan semua itu efek wine, efek pengkhianatan Denny, efek kehilangan Si Kuning yang muncul lagi. Tetapi tatapan Ardian terlalu jernih. Di sana tidak ada ejekan, tidak ada dorongan kasar. Hanya seseorang yang menyimpan kalimat itu seperti benda pecah belah.
"Kalau saya bilang saya lupa?"
"Aku ingat."
"Kalau saya bilang saya salah ngomong?"
"Aku tunggu sampai kamu sadar untuk membetulkannya."
"Kalau saya tidak mau membahasnya?"
"Maka kita tidak membahasnya hari ini."
Jawaban itu membuat Sekar kehabisan jurus.
Ia menunduk, lalu mengusap wajah. "Pak Tan ini... kalau marah susah, kalau baik lebih susah."
"Kalau begitu sarapan dulu."
"Saya belum bisa menelan martabat saya."
"Bubur lebih mudah."
Kali ini Sekar benar-benar menatapnya kesal. Ardian akhirnya tersenyum, tipis saja, tetapi cukup membuat ruang tengah pagi itu terasa lebih terang.
Setelah mencuci muka dan mengganti pakaian, Sekar kembali dengan rambut diikat asal. Ia mencoba bersikap seperti biasa, tetapi setiap kali melihat Ardian, kalimat itu muncul lagi.
Kamu bilang kamu suka aku.
Ia hampir menabrak kaki meja dua kali.
Ardian tidak menolongnya dengan pura-pura lupa. Ia juga tidak menyiksa dengan mengulang kalimat itu. Ia hanya memandang Sekar dengan sabar yang menyebalkan, seakan waktu ada di pihaknya.
Menjelang siang, saat Sekar membawa baki berisi obat dan air putih ke ruang terapi, ia melihat pintu kecil di samping lorong bawah terbuka. Udara dingin keluar dari sana.
"Ruangan apa itu?"
"Cellar."
"Gudang?"
"Gudang wine."
Sekar berhenti. "Bapak punya gudang dosa di rumah?"
"Wine tidak berdosa. Yang berdosa biasanya orang yang meminumnya tanpa tahu batas."
Sindiran itu masuk tepat sasaran. Sekar mengangkat baki seperti tameng. "Saya sudah tobat."
"Masuk. Aku mau simpan botol dari Mama."
Ardian menggerakkan kursi rodanya lebih dulu. Sekar mengikuti sambil menahan rasa penasaran. Ruangan itu sejuk, bersih, dengan rak kayu gelap di dua sisi. Botol-botol tersusun rapi, sebagian diberi label kecil. Bagi Sekar yang biasanya menghitung harga beras dan minyak, tempat itu seperti museum barang yang bisa membuat saldo rekening menangis.
Ardian mengambil botol dari Lina dan menaruhnya di rak tengah, bukan di bagian paling dalam.
"Yang ini mahal sekali, ya?"
"Lumayan."
"Kalau dijual bisa bayar kontrakan berapa bulan?"
"Jangan berpikir menjual hadiah Mama."
"Saya hanya berpikir ilmiah."
Ardian menunjuk rak paling atas. "Yang itu lebih lama kusimpan."
Sekar mendongak. Ada satu botol dengan label tua, warnanya elegan, posisinya seperti raja kecil di antara rakyat botol.
"Untuk apa?"
"Untuk hari pernikahanku."
Sekar terdiam.
Ardian menatapnya dari samping, menunggu.
Mungkin seharusnya Sekar menangkap sesuatu. Mungkin seharusnya jantungnya mencatat bahwa topik itu tidak datang begitu saja. Tetapi otaknya yang masih sisa mabuk memilih jalan paling aman.
"Oh." Ia mengangguk serius. "Berarti jangan dekat-dekat saya, Pak. Kalau saya mabuk lagi dan pecahkan botol itu, saya harus kerja sampai cucu saya punya cucu."
Ardian menutup mata sebentar.
"Sekar."
"Ya?"
"Keluar."
"Lho, kok diusir?"
"Sebelum aku berubah pikiran dan membuat aturan kedua."
"Aturan apa lagi?"
Ardian membuka mata. Pandangannya jatuh ke wajah Sekar, pelan, berat, dan membuat langkah Sekar mendadak lupa urutan.
"Aturan tentang orang yang boleh minum wine pernikahan itu denganku."
Sekar berdiri kaku di ambang pintu cellar.
Kepalanya masih pusing.
Tetapi kali ini, yang berdenyut bukan hanya bekas mabuk.
Di antara dingin ruangan dan aroma kayu tua, kalimat semalam kembali menggantung di udara.
Kamu bilang kamu suka aku.