Terlahir kembali sebagai putri dari Duke Donovan, dia sadar bahwa dirinya yang sekarang adalah seorang antagonis yang nantinya akan meninggal dengan mengenaskan. Beruntungnya dia adalah seorang wanita mandiri di kehidupan sebelumnya dan pernikahan bukanlah hal yang besar untuknya.
"Saya tidak peduli bagaimana kalian memandang saya. Ini hidup saya dan saya memiliki hak atas hidup saya sendiri."
Monster dan pedang. Sihir dan darah monster terkutuk. Keberanian dan kesetiaan. Tanpa sengaja menjerat para protagonis pria. Bagaimana kehidupannya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Villa (01)
Matahari memunculkan dirinya dan memberikan kehangatan untuk semua makhluk yang ada di bumi. Matahari yang sudah bersinar terang itu, juga membuat orang-orang mulai melakukan aktivitas.
Pagi ini istana kekaisaran tidak terlihat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Di ruangan putra mahkota, beberapa orang dengan penampilan yang rapi tengah menunggu.
Orang-orang itu adalah Duke Roan, Seth, Duke Donovan, dan putra mahkota sendiri, Miklan, serta ksatrianya, Killian. Mereka menunggu dengan tenang kedatangan kaisar.
Ketika pintu terbuka, seseorang dengan kharisma yang penuh, masuk. Keempat laki-laki tersebut segera berdiri dan memberikan rasa hormat mereka.
"Yang Mulia," ujar mereka.
"Duke Roan dan Putra Mahkota, aku telah memutuskan kalian untuk memimpin pembasmian monster yang akan kita lakukan. Kuil suci juga pasti akan membantu, Tuan Utusan Dewa, mohon bantuan Anda. Kemudian Duke Donovan, pantau setiap monster yang ada."
"Baik, Yang Mulia," jawab mereka menjawab perintah kaisar.
"Satu lagi Duke Donovan." Empat kata itu membuat bertanya-tanya. "Sampaikan kepada anak-anakmu bahwa kami membutuhkan mereka dalam pembasmian ini."
"Baik, Yang Mulia."
Lalu kaisar pergi dari ruangan itu, kemudian Duke Donovan menyusul.
"Saya harus segera pergi, mohon bantuan kalian untuk pembasmian ini." Seth tersenyum dan keluar dari ruangan untuk menemui Gabrielle.
Kini hanya tersisa Miklan dan Duke Roan di ruangan itu. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.
"Kamu tidak ingin menyusul Tuan Utusan Dewa, Duke Roan?" Miklan bertanya dengan wajah menyebalkan.
"Bagaimana dengan Anda sendiri, Putra Mahkota? Aku rasa Anda memiliki antusiasme yang tinggi ketika mendengar Gabrielle akan datang, bukankah begitu?" Duke Roan membalas Miklan tidak kalah pedasnya.
Tawa ejekan kecil terdengar, Miklan mengambil beberapa langkah untuk mendekat ke arah Duke Roan. Wajah mereka berjarak beberapa senti meter saja.
"Dengar Duke Roan, itu bukan urusan Anda." Miklan membalas dengan nada bicara tidak bersahabat. Pemuda yang menyandang gelar putra mahkota tersebut kemudian meninggalkan ruangan itu.
Menerima perlakuan tidak bersahabat dari calon pemimpin masa depan kekaisaran sudahlah biasa bagi Duke Roan sendiri. Pria itu hanya dapat menghela napasnya dan menyusul pergi.
Kaki panjang milik Duke Roan membawanya ke tempat di mana Lenka berada.
Dari kejauhan Duke Roan memandangi gadis yang terkesan acuh tak acuh dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tanpa peduli dengan tatapan orang-orang, gadis itu menikmati sinar matahari bersama dengan beberapa buah segar dan juga kedua monsternya.
Dengan langkah kaki ringan dan penuh sukacita, Duke Roan mendekati Lenka. Senyumnya merekah saat gadis itu sadar akan kehadirannya.
"Nona Donovan, selamat pagi," sapa Duke Roan.
"Selamat pagi juga, Duke Roan." Lenka membalas sapaan Duke Roan yang menurutnya aneh. Sedangkan Mort dan Teivel hanya melirik sekilas.
"Sebuah keberuntungan karena aku dapat melihat Nona Donovan ketika bersantai, apalagi bersama dengan Nona Donovan di waktu luang Anda."
Duke Roan duduk di kursi lain dengan santai, mengamati gadis di dekatnya dengan teliti. Tanpa izin terlebih dahulu, pria itu mengambil salah satu buah yang ada di piring, melahapnya dengan penuh percaya diri.
Duke Roan tahu bahwa sekarang Lenka pasti sedang menatapnya, entah dengan arti apapun itu. Tetapi yang paling penting adalah Lenka menatap dirinya sekarang!
"Buahnya enak. Ini masih segar," kata Duke Roan.
"Tentu saja, karena Noah yang menyiapkannya." Duke Roan menganggukkan kepalanya dan memakan satu potong lagi.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya. "Adik kamu selalu baik kepadamu, tidakkah kamu ingin memberinya hadiah?"
"Tapi dia selalu menolak ketika saya bertanya tentang hal itu," jawab Lenka.
Mata Duke Roan berkedip beberapa kali, lalu dia bertanya, "Kamu bertanya kepada adikmu? Seperti 'Apa yang kamu inginkan untuk hadiah?' Begitu?"
Lenka menganggukkan kepalanya dan Duke Roan menatapnya dengan sedikit linglung.
"Lebih baik bertanya sebelum memberikan barang kepada seseorang," tambah Lenka.
"Tapi itu tidak menjadikan kejutan!"
"Rasanya percuma jika kita memberikan barang yang tidak sesuai di perasaan mereka, selain membuang uang, itu juga sia-sia." Duke Roan tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.
Baru pertama kali ini dia menemui gadis seperti Lenka. Cukup unik.
"Bagaimana jika aku mengajakmu ke villa milikku? Ada sebuah kebun buah kecil di sana … dan sepertinya mereka sudah masak," ajak Duke Roan.
Alis Lenka terangkat setelah mendapat ajakan dari pria yang duduk di dekatnya. Orang yang tadinya sangat membenci keluarga Donovan, kini malah mengajak salah satu dari keluarga Donovan untuk berkunjung ke tempatnya.
Karena Lenka tak kunjung memberikan jawaban dan terus menatap Duke Roan, Duke Roan pun paham akan apa yang ada di dalam kepala gadis itu.
Sebuah kecurigaan!
"Oh! Mungkin kamu sedang curiga sekarang, karena … yah hubungan keluarga kita yang kurang baik," Duke Roan mengambil waktu sejenak dan kembali berbicara, "tetapi kali ini aku tidak memiliki maksud buruk apapun. Aku akan mempertaruhkan kehormatan keluargaku jikalau aku berbuat buruk kepadamu nanti."
Duke Roan tersenyum dan menanti jawaban Lenka. Ketika pria itu mendapat jawaban, kebahagiaan meliputi dirinya.
"Baiklah," begitu Lenka menjawab.
"Kalau begitu ayo!"
Duke Roan menyiapkan kuda dengan meminjam kuda istana. Setelah mereka siap dengan jubah yang menutupi seluruh tubuh, merekapun berangkat.
Dengan kecepatan sedang, Duke Roan membawa kudanya. Selama perjalanan hati pria itu dipenuhi oleh sukacita. Berada sedekat ini dengan nona keluarga Donovan adalah sebuah hal membahagiakan baginya.
"Kamu sangat berbeda dengan dirimu saat kecil," ujar Duke Roan sembari mengingat kembali saat di mana dirinya bertemu dengan Lenka kecil.
Lenka hanya menghela napasnya. "Lebih baik Anda mempercepat perjalanan, Duke Roan. Atau Anda ingin saya yang mengambil alih kuda ini?"
"Baiklah, sesuai keinginan Anda, Nona Donovan." Duke Roan pun memacu kudanya supaya berlari lebih cepat.
Beberapa saat kemudian, sebuah bangunan berukuran sedang dan terlihat cukup sederhana. Ya, itu adalah villa milik keluarga Duke Roan.
Ketika mereka baru saja tiba di depan villa itu, seorang pelayan langsung membukakan pintu gerbang untuk tuannya.
"Tuan, selamat datang," kata si pelayan sedikit membungkukkan badannya.
"Terima kasih atas sambutan hangatmu, manis," balas Duke Roan kepada pelayan yang baru saja membukakan pintu untuknya.
Pria itu turun terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya untuk Lenka, tetapi gadis itu tidak mengindahkanya dan turun dari punggung kuda tanpa bantuan Duke Roan.
"Tolong siapkan minuman dan camilan untuk tamu-tamu kita ya~"
"Baik, Tuan."
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Duke Roan menarik tangan Lenka, membawa gadis itu ke suatu tempat dengan penuh semangat. Disusul oleh Mort dan Teivel yang tidak akan pernah membiarkan Lenka pergi tanpa mereka berdua.
Kemanakah Duke Roan membawa Lenka, Mort, dan Teivel?