NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: TATAPAN DI BALIK KABUT

Matahari hari kedua di lokasi syuting luar ruangan memayungi pusat kota dengan sinarnya yang teramat terik menyengat kulit. Di bawah tenda kru yang cukup teduh dan berangin, Aini duduk dengan anggun di kursinya sembari memegang draf naskah tebal dengan fokus yang mulai terbagi dua. Di tengah hiruk-pikuk dan riuhnya kesibukan puluhan kru yang sedang sibuk mengatur arah lensa kamera dan menata properti panggung, sepasang netra teduh milik Aini tanpa sengaja bergerak mencuri pandang ke arah ujung set khusus VIP. Di sana, berdiri Arka Mahesa Pratama yang sedang mendengarkan laporan berkas dari Arga dengan saksama.

Di bawah siraman cahaya alami siang itu, Aini terpaksa mengakui sebuah hakikat yang jujur di dalam relung hatinya yang terdalam; pria berusia 35 tahun itu memang memiliki ketampanan visual yang teramat mutlak dan memikat mata. Dengan postur tegap berisi setinggi 175 cm yang dibalut kemeja katun premium berwarna terang, Arka tampak memancarkan aura karisma seorang pemimpin besar yang luar biasa kokoh dan berwibawa. Kulit kuning langsatnya yang cerah dan bersih memantulkan kilau yang sehat di bawah terik matahari, berpadu sempurna dengan garis rahang yang tegas serta bentuk hidung mancungnya yang tajam bagai dipahat oleh seniman terbaik dunia.

Namun, pesona fisik yang begitu menawan itu sayangnya berbanding terbalik dengan mulutnya yang sedingin es kutub dan selalu mengeluarkan kalimat yang ketus. Aini cepat-cepat menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir kabut kekaguman konyol itu dari dalam otaknya. Dia menolak keras untuk terpesona oleh pria sombong tersebut. Bagi Aini, harga diri seorang wanita mandiri yang telah bangkit dari keterpurukan jauh lebih tinggi dan mahal daripada sekadar mengagumi ketampanan luar dari seorang pria yang angkuh.

Sebenarnya, Aini sama sekali tidak pernah memiliki niat atau rencana untuk menyembunyikan status masa lalunya yang pernah dijatuhi talak satu oleh mantan suaminya, Arman. Di dalam berkas dokumen administrasi, biodata diri resmi, serta lembaran kontrak kerja yang telah dia tanda tangani bersama pihak agensi rumah produksi, semuanya sudah tertulis dengan teramat jujur, gamblang, dan transparan tanpa ada satu huruf pun yang dimanipulasi atau ditutupi. Namun, dunia luar terkadang memang terlalu malas untuk membaca lembaran-lembaran kertas formal yang dipenuhi oleh rincian data teks yang membosankan.

Orang-orang di jajaran manajemen agensi, para kru produksi, hingga sutradara kawakan di lokasi syuting tersebut terlanjur menebak sepihak secara serentak bahwa Aini adalah seorang gadis muda belia yang belum pernah tersentuh oleh badai pahitnya ikatan pernikahan. Mereka semua hanya menilai dari kulit luar; melihat gaya berpakaian celana levis cutbray dan blazer birunya yang sangat modis, penampilannya yang wangi, wajahnya yang bersih merona, serta binar kecantikannya yang memukau layaknya seorang anak gadis yang tengah mekar di usia muda.

Aini memilih membiarkan kesalahpahaman kecil itu menggelinding begitu saja tanpa merasa perlu berteriak memberikan klarifikasi panjang lebar kepada setiap orang yang dia temui di lokasi, sebab fokus utama dan energinya saat ini hanyalah profesionalisme kerja demi kesuksesan novelnya.

Proses syuting untuk adegan puncak luar ruangan pun akhirnya dimulai dengan tensi kerja yang cukup tinggi dan menegangkan. Aini duduk serius di samping kursi sutradara sembari ikut memantau jalannya akting para pemain melalui layar monitor kecil.

Namun, alam terkadang suka bercanda dengan garis takdir hidup manusia. Sebuah embusan angin kencang yang mendadak bertiup kencang dari arah sudut jalan layang, menghantam salah satu tiang lampu pencahayaan (lighting) besi berukuran raksasa yang berdiri tepat di dekat kursi tempat duduk Aini.

Krieeet... Brak!

Suara gesekan besi penyangga yang goyang dan baut yang terlepas seketika memecah konsentrasi semua orang di lokasi. Tiang besi yang teramat berat itu seketika kehilangan keseimbangan dan mulai roboh dengan kecepatan tinggi, mengarah tepat ke arah kepala Aini yang masih terpaku diam kaget di atas kursinya tanpa sempat menghindar. Semua kru yang melihat kejadian itu berteriak histeris ketakutan, namun jarak posisi mereka terlalu jauh untuk bisa berlari menolong dalam hitungan detik yang sempit.

Namun, dalam hitungan sepersekian detik yang teramat krusial dan mendebarkan, sebuah bayangan jangkung mendadak melesat dengan kecepatan seekor burung elang yang menyambar mangsa.

Melupakan seluruh jubah keangkuhannya, aturan kedisplinan yang kaku, serta gengsi besarnya yang setinggi langit, Arka Mahesa Pratama yang bertubuh 175 cm itu melompat maju tanpa memedulikan keselamatannya sendiri. Tangan kekarnya menarik paksa tubuh Aini, merengkuh wanita itu dengan sangat erat ke dalam dekapan dadanya yang kokoh, lalu membawa tubuh mereka berguling bersama di atas matras pengaman kru tepat satu detik sebelum tiang besi raksasa itu menghantam lantai dengan suara dentuman yang menggelegar dahsyat.

Prangg!

Suara kaca lampu hancur berantakan bergema memekakkan telinga, namun di balik bayangan matras yang sepi, waktu seolah-olah berhenti berputar bagi kedua manusia ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, jarak di antara kedua manusia keras kepala ini terkikis habis hingga menyisakan jarak beberapa sentimeter saja yang teramat dekat. Aini bisa melihat dengan teramat jelas setiap detail pori-wajah kuning langsat milik Arka, bentuk hidung mancungnya yang tajam, serta menghirup dalam-dalam aroma parfum maskulin beraroma kayu cendana mewah yang menyeruak hangat dari dada sang presdir. Sementara Arka juga menatap lurus ke dalam manik mata teduh Aini dengan napas yang memburu naik-turun karena rasa panik dan cemas yang belum reda di dadanya. Ada getaran asing yang seketika menyengat dinding jantung mereka masing-masing, membuat aliran seluruh darah berdesir hebat secara mendadak.

Begitu menyadari posisi mereka yang teramat intim dan menjadi pusat tontonan mata seluruh kru film yang melongo kaget dengan mulut terbuka, keduanya langsung bangkit berdiri dengan gerakan yang teramat canggung dan salah tingkah. Topeng gengsi, wajah datar, dan sikap sedingin es seketika dipasang kembali dengan sangat cepat di wajah masing-masing, berusaha keras berpura-pura seolah tidak ada getaran hebat yang baru saja mengguncang batin dan rasa mereka berdua.

Arka merapikan lengan kemeja premiumnya yang sedikit kusut akibat berguling tadi, berbalik menatap Aini dengan pandangan mata ketus yang sengaja dibuat sedingin mungkin untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang akut sebagai pria dewasa.

"Jangan ceroboh di lokasi investasi saya, Aini Lidya. Mata kamu itu diletakkan di naskah atau di mana? Kalau kamu sampai terluka dan masuk rumah sakit, proses syuting film saya bisa terhambat berhari-hari dan itu jelas merugikan anggaran modal perusahaan saya," ketus Arka dengan nada mendikte yang teramat angkuh.

Mendengar sindiran tajam yang bernada menyerang dan tidak tulus itu, ego wanita mandiri Aini seketika meledak gemas. Dengan lesung pipi kirinya yang berkedut tipis menahan luapan kekesalan, dia melipat kedua tangannya dengan tegas di depan dada dan menatap balik wajah kuning langsat bercahaya milik Arka tanpa ada setitik pun rasa takut atau tunduk.

"Saya sama sekali tidak meminta Bapak untuk menolong saya, ya! Lagipula, dari awal saya perhatikan, Bapak memang sengaja mencari-cari kesempatan sejak rapat kemarin. Jangan-jangan Bapak ini hanya modus berkedok aksi menolong saya agar bisa memeluk saya dengan sengaja di depan umum, bukan?!" balas Aini blak-blakan dengan nada suara ketus yang menyengat ego tinggi sang CEO raksasa dunia.

Mendengar tuduhan lancang yang keluar dari bibir manis wanita di depannya, rahang Arka seketika mengeras menahan geram. Pria berusia 35 tahun itu melangkah satu garis lebih dekat ke depan, menundukkan kepalanya sedikit agar bisa menatap tajam langsung ke sepasang manik mata teduh milik Aini. Sebuah senyuman sinis yang teramat angkuh, dingin, dan merendahkan terukir di bibir tipisnya.

"Modus?" desis Arka Mahesa Pratama, suaranya terdengar sangat rendah namun begitu menuntut wibawa yang mematikan.

"Modus dengan wanita kampungan seperti kamu? Yang benar saja! Selera saya terlalu tinggi untuk sekadar mencari perhatian atau bermodus ria dengan seorang gadis desa yang keras kepala, bermulut lancang, dan tidak tahu aturan seperti kamu, Aini Lidya. Jadi jangan terlalu tinggi memelihara rasa percaya dirimu itu di depan saya." Ujar Arka.

"Bagus kalau begitu! Jadi pastikan setelah hari ini, tangan Bapak yang mahal dan terhormat itu tidak usah lancang menyentuh tubuh saya lagi dalam situasi apa pun!" sahut Aini tak kalah pedas dan menusuk, langsung membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang teramat cuek dan acuh tak acuh. Dia langsung mengayunkan langkah kaki celana levis cutbray-nya membelakangi Arka untuk kembali berjalan menuju meja kru kamera, mengabaikan keberadaan sang penguasa ekonomi seolah pria itu hanyalah sebuah patung es pajangan yang tidak berharga di lokasi syuting tersebut.

Arka berdiri terpaku sendirian di tempatnya menatap punggung Aini yang kian menjauh dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa kesal luar biasa, sekaligus ketakutan asing yang kian mengakar dalam di lubuk batinnya. Di balik topeng kebencian, kepura-puraan, kata-kata kasar, dan sikap saling tidak suka yang mereka lempar ke permukaan, getaran takdir yang mahal justru sedang menjahit jalinan rasa kuat yang tidak akan pernah bisa mereka kendalikan lagi dengan logika. Mereka berdua kini resmi dikunci dalam sangkar gengsi yang sama besar, saling melempar dinding duri ketidakpedulian namun tak mampu menolak bahwa bayangan satu sama lain kini telah berhasil merampok kedamaian pikiran masing-masing di bawah langit kota yang kian menggelap.

Sebab, bagian paling berkelas dari sebuah awal jalinan takdir bukanlah saat dua hati saling melempar kalimat manis yang murahan, melainkan saat mereka saling tertarik namun memilih untuk bertarung di balik kabut gengsi; membuktikan bahwa sebuah jiwa yang mandiri memiliki benteng pertahanan yang teramat kokoh untuk tidak mudah roboh oleh keangkuhan sebuah kekuasaan harta.

--------------------

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!