Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan tak diinginkan
Pagi di kediaman utama Wiragata menyambut Halra dengan sisa-sisa kengerian malam sebelumnya. Udara di kamar terasa pengap, seolah masih menyimpan jejak auman posesif Sano dan isak tangis Halra. Dengan susah payah, Halra bangkit dari ranjang. Setiap inci tubuhnya terasa remuk, terutama di bagian intinya yang kini menjadi saksi bisu perenggut paksa kesuciannya oleh suaminya sendiri.
Dia berjalan tertatih menuju kamar mandi, langkahnya diseret menahan perih. Di depan cermin besar, dia melepaskan jubah sutranya. Bayangan dirinya di cermin membuatnya tertegun. Leher, bahu, dada, hingga pinggangnya—setiap senti kulit mulusnya—dipenuhi oleh tanda kepemilikan dari Sano. Puluhan cupangan berwarna ungu kemerahan dan kebiruan menghiasi tubuhnya, menciptakan pola mengerikan yang menunjukkan betapa buas dan kalapnya Sano semalam.
Halra menyentuh salah satu tanda di lehernya dengan jari gemetar. Bayangan kejadian semalam, campuran antara paksaan emosional, rasa sakit fisik yang luar biasa, dan bisikan lembut Sano yang membingungkan—"Ini untuk pertama kalinya... hanya dengan istriku sendiri"—kembali menyerang ingatannya. Air mata panas menggenang di pelupuk matanya. Dia bukan lagi Halra yang sama seperti kemarin. Dia sekarang adalah wanita yang telah ditandai secara brutal oleh pria yang paling membingungkan dalam hidupnya.
Dengan tekad baja, dia menyalakan shower dan membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya. Dia menggosok kulitnya keras-keras, seolah ingin menghapus jejak sentuhan Sano, meskipun dia tahu tanda-tanda itu tidak akan hilang semudah itu. Setelah mandi, dia berdiri kembali di depan meja rias. Dengan gerakan ahli, dia mengambil concealer dan foundation dengan coverage tinggi. Dia menutupi setiap bekas cupangan di leher, bahu, dan dadanya dengan lapisan tebal, memastikan tidak ada satu pun tanda kepemilikan Sano yang terlihat oleh mata dunia.
Selesai dengan riasannya, dia mengenakan gaun sutra panjang berwarna champagne yang memiliki kerah tinggi, menyembunyikan segalanya dengan sempurna. Dia menyapukan lipstik merah darah ke bibirnya—sebuah simbol perang dan topeng kesempurnaannya.
Dia turun untuk sarapan dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat pincang. Di ruang makan, Tazam telah menantinya. Pengawal pribadi sekaligus orang kepercayaan Halra itu membungkuk hormat, namun raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Mata tajam Tazam mengamati cara Halra bergerak yang sedikit lebih kaku dari biasanya, dan bayangan lelah di balik riasan sempurna wanita itu.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Tazam. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Halra duduk di kursinya dengan anggun, topeng ketenangannya terpasang sempurna. Dia menatap piring porselen di depannya tanpa minat, lalu melirik Tazam sekilas. "Pagi, Tazam. Kau tampak... tegang."
Tazam terdiam sejenak, lalu menundukkan kepala sedikit. "Maafkan saya, Nyonya. Ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan semalam—sesuatu yang menyangkut keamanan perimeter dan tidak bisa saya abaikan. Saya... saya tidak berada di pos saat Nyonya membutuhkan saya."
Halra mengaduk sup labu di depannya dengan perlahan dan elegan. Tangannya tidak bergetar sedikit pun. Dia tahu "urusan mendadak" Tazam pasti berkaitan dengan laporan intelijen yang dia minta mengenai skandal keluarga Joharo, atau mungkin upaya Tazam untuk memantau pergerakan Savhelicha. Namun, rasa sakit di hatinya dan harga diri yang terluka oleh kejadian semalam membuatnya memilih untuk menelan kebenaran pahit itu sendirian. Mengakui bahwa Sano telah menerobos masuk, memperkosanya secara emosional dan fisik, tepat di bawah hidung Tazam yang seharusnya melindunginya, adalah sebuah aib yang tidak sanggup dia bagi, bahkan dengan orang kepercayaannya.
Halra telah memutuskan: kejadian semalam tidak pernah terjadi dalam catatannya. Itu adalah kelemahan yang harus dihapus.
"Urusan keamanan?" gumam Halra, suaranya tenang, datar, dan tanpa emosi sedikit pun. "Tazam, kau adalah pengawal pribadiku. Prioritas utamamu adalah aku. Jika kau meninggalkan posmu saat aku berada di dalam paviliun, itu adalah kelalaian besar."
Tazam tampak tersentak. Wajahnya yang biasanya tenang menampakkan sedikit keterkejutan dan penyesalan yang dalam. Dia tidak menyangka Halra akan membalas dengan ketenangan sedingin itu, bukan dengan amarah atau tuntutan penjelasan.
"Saya tahu, Nyonya," ucap Tazam, suaranya rendah dan penuh penyesalan. "Saya gagal dalam tugas saya semalam. Saya siap menerima hukuman apa pun."
Halra meletakkan sendoknya dengan denting pelan yang memecah kesunyian ruang makan. Dia menatap Tazam lurus-lurus, tatapan seorang ratu kepada bawahannya yang melakukan kesalahan fatal.
"Hukumanmu adalah memastikan hal ini tidak akan pernah terjadi lagi," tegas Halra. "Mulai malam ini, aku ingin kau berjaga tepat di depan pintu kamarku. Tidak peduli apa pun alasan keamanan di luar sana, posisimu adalah di dekatku. Apa kau mengerti?"
Tazam membungkuk dalam-dalam, rasa hormat dan dedikasinya terpancar jelas dalam gerakannya. "Saya mengerti, Nyonya. Perintah Anda adalah mutlak. Hal itu tidak akan pernah terulang lagi. Saya bersumpah dengan nyawa saya."
"Bagus," ucap Halra, kembali mengambil sendoknya. "Sekarang, lupakan kejadian semalam. Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dibahas. Kita punya agenda penting siang ini."
Tazam terdiam sejenak, masih menatap Halra dengan keraguan di matanya, namun dia memilih untuk tunduk pada perintah majikannya. "Baik, Nyonya."
Saat sarapan berlanjut dalam keheningan yang kaku, Halra menyuapkan sup ke mulutnya. Di balik topeng kaca ketenangannya, hatinya menjerit. Dia telah berhasil menyembunyikan kebenaran dari Tazam—dia telah berbohong pada satu-satunya orang yang dia percaya. Namun, dia tahu itu adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan kendali atas hidupnya dan rencananya. Dia bukan lagi Halra yang lemah. Dia adalah Nyonya Wiragata, dan dia akan menghadapi badai ini sendirian, dengan caranya sendiri.
Siang harinya, Halra tiba di Hotel Wiragata untuk memimpin pertemuan penting dengan para sosialita elit Rombright. Pertemuan ini membahas proyek amal tahunan Wiragata—sebuah acara bergengsi yang kini berada di bawah tanggung jawab penuh Halra. Halra mengenakan setelan blazer putih gading yang elegan, dipadu dengan rok pensil hitam. Penampilannya sangat profesional, cerdas, dan tanpa cela. Di ruang pertemuan, dia berhasil memukau para sosialita yang dulu memandangnya sebelah mata. Nama Halra Wiragata kini tidak lagi sekadar "istri Sano", melainkan seorang business woman yang disegani dan mampu memegang kendali.
Pertemuan berjalan sukses besar. Saat jam menunjukkan pukul lima sore, Halra berjalan keluar dari lobi hotel, berniat menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan pintu utama. Tazam berjalan di samping kanannya, bersikap waspada penuh, memindai setiap sudut dengan tatapan tajamnya setelah kegagalan semalam.
Namun, saat mereka baru saja menuruni beberapa anak tangga utama hotel, sebuah suara yang tajam dan penuh kebencian menghentikan langkah mereka.