NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas dendam. / Peningkatan diri -peningkatan kecantikan / Tamat
Popularitas:192.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Bagaimana rasanya jika seorang wanita terlahir dengan bentuk badan tambun, berwajah dan berkulit kusam? Pasti akan sangat menyedihkan bukan?

Dewi Sekar Kemuning, wanita berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi orkes melayu, selalu saja mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Meski memiliki suara yang khas namun tidak lantas membuat orang-orang di sekitarnya memuji ataupun memberikan apresiasi. Ia justru dijadikan bahan caci maki dengan fisik yang ia miliki. Ditambah lagi, di usia yang terbilang matang ia sama sekali belum pernah menjalin hubungan kasih yang membuat cemoohan demi cemoohan itu semakin datang menyerang.

Hingga pada akhirnya ia nekad pergi ke kota untuk berusaha mengubah takdir hidupnya.

"Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sang dewi yang bersinar yang dielu-elukan. Dan akan aku buat mulut orang-orang yang menghinaku terbungkam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Sebuah Rencana

Di salah satu food court yang berada di pusat perbelanjaan ini, Dewi dan Bhumi sejenak mengistirahatkan tubuh mereka yang terasa lelah sekali. Sembari mengisi perut dengan memu bakso rusuk, keduanya berupaya untuk menghalau segala rasa lelah sekaligus rasa lapar yang menyelimuti. Dua jam lebih keduanya mengelilingi mall, hingga kini betis mereka terasa kaku sekali.

"Ada apa? Mengapa kamu justru memainkan sendok dan garpu itu?"

Raut penuh tanda tanya nampak jelas membingkai wajah tampan Bhumi. Lelaki itu tidak mengerti mengapa sedari tadi Dewi menatapnya tiada henti. Ia sampai berpikir ada potongan sawi yang menyelinap di gigi.

"Bang, sebenarnya kamu ini siapa? Mengapa kamu membelanjakan aku barang-barang sebanyak ini? Apakah kamu ini orang kaya yang sedang menyamar menjadi orang tak berpunya?"

Pada akhirnya, Dewi sudah tidak kuasa untuk menahan beribu pertanyaan yang bercokol di hati dan pikiran. Melihat cara Bhumi membelikan bermacam-macam barang, Dewi semakin yakin bahwa lelaki di depannya ini bukanlah orang sembarangan. Ia sampai berpikir jika Bhumi ini merupakan sang pangeran.

Mungkin apa yang dipikirkan oleh Dewi terlalu hiperbola. Namun beginilah adanya. Setelah lelaki itu membelikan Dewi bermacam-macam model pakaian, sepatu, dan sandal, lelaki itu juga membelikannya satu barang yang begitu berharga. Ya, lelaki itu membelikan sebuah ponsel untuk Dewi tanpa disangka-sangka.

Bhumi hanya menanggapi pertanyaan Dewi ini dengan santai. Bahkan lelaki itu sibuk menyesap sumsum sapi yang ada di dalam tulang rusuk bakso yang ia nikmati ini.

"Aku siapa? Sudah jelas aku Bhumi. Masihkah kamu pertanyakan?"

"Aku tahu bahwa kamu Bhumi, Bang. Namun yang aku pertanyakan, mengapa kamu bisa membelikanku baju, sepatu, sandal sebanyak ini? Dan kamu juga membelikanku sebuah ponsel baru. Itu semua uang dari mana Bang?"

Bhumi sedikit tersenyum tipis. Ia meneguk jus jeruk yang ada di hadapannya. "Kamu tidak perlu banyak bertanya bagaimana bisa aku membelikanmu barang-barang ini. Jadi, kamu tinggal menerima dan memakainya saja."

Sorot mata Dewi kembali tajam memindai ekspresi wajah Bhumi. Ia mencoba mencari tahu akan sesuatu yang disembunyikan oleh lelaki ini.

"Apakah bang Bhumi ini merupakan salah satu afiliator binomo? Yang bisa kaya mendadak dalam waktu singkat?"

Tiba-tiba saja Bhumi tersedak daging bakso yang baru saja berjalan memenuhi kerongkongan. Mata lelaki itu sedikit terbelalak dan segera meraih jus jeruk yang ada di hadapan. Ia teguk cepat-cepat minuman menyegarkan ini.

"Afiliator binomo? Kamu bercanda? Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seorang afiliator binomo jika ponsel yang aku gunakan saja ponsel zaman baheula?"

"Lalu, jika tidak menjadi afiliator binomo seperti Indra Kenz dan Doni Salmanan, dari mana bang Bhumi bisa membelanjakan aku belanjaan sebanyak ini?"

Bhumi hanya bisa menghela napas perlahan. Nampaknya wanita di depannya ini begitu penasaran. Namun, sebisa mungkin, Bhumi mencoba untuk tidak mengungkapkan. Bahwa sejatinya, ia merupakan salah satu anak dan cucu dari keluarga terpandang.

"Sebelum bertemu denganmu, aku lebih dulu mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan cara perfom di beberapa tempat. Dari sana lah, aku mengumpulkan uang untuk bisa menjadi tabungan."

Bhumi tidak sepenuhnya berbohong karena pada dasarnya ia sempat tampil dari kafe ke kafe sebelum bertemu dengan Dewi. Sedangkan alasannya menyembunyikan jati diri yang sesungguhnya, itu semua karena ia ingin melihat seperti apakah Dewi ini. Apakah ia benar-benar tulus berteman atau sama saja dengan orang-orang yang pernah dekatnya. Di mana mereka lebih cenderung berteman karena background keluarga yang ia miliki. Seperti inilah cara Bhumi melihat ketulusan hati Dewi.

"Abang yakin? Maksudku, tidak ada sesuatu yang Abang sembunyikan bukan?"

Bhumi mengulas sedikit senyum yang ia miliki. "Aku tidak pernah memaksamu untuk percaya kepadaku. Namun satu hal yang harus aku tekankan, bahwa uang yang aku gunakan untuk membelikanmu barang-barang ini merupakan uang halal."

Mendadak, hati yang sebelumnya dipenuhi oleh tanda tanya besar kini diselimuti oleh rasa tidak enak hati. Wanita itupun hanya bisa tersenyum kikuk tiada henti. Merasa bersalah karena telah berprasangka buruk terhadap Bhumi.

"Maafkan aku ya Bang karena sudah berprasangka buruk terhadapmu. Aku merasa heran saja mengapa Bang Bhumi bisa memiliki uang sebanyak ini."

"Sudahlah. Segera habiskan makananmu. Setelah itu kita pulang. Ingat ya, malam ini kita akan perform di salah satu kafe yang berada di kota ini."

"Siap Bang!"

Pada akhirnya, Dewi mencoba untuk memangkas segala pertanyaan yang berkeliaran di hati dan pikiran. Setelah mendengarkan penjelasan dari Bhumi, setidaknya ia merasa sedikit lebih tenang. Dan ia juga sadar akan satu hal, bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan selain percaya dengan semua kata yang terlisan dari bibir lelaki ini.

Dewi meraih sendok dan garpu yang sebelumnya ia abaikan. Ia nikmati kembali menu bakso rusuk yang begitu menggugah selera. Dan perlahan, kenikmatan khas tulang rusuk yang ada di dalam menu ini mulai memanjakan lidahnya.

***

Prang.. Prang... Prang....!!!!

"Aaarrgghhhh .... kalian memang tidak becus dalam bekerja. Lihatlah, nenek tua itu kembali pulang dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apapun. Aku benar-benar telah rugi karena telah membayar mahal kalian!"

Beberapa botol minuman beralkohol, di lemparkan ke sembarang arah oleh seorang wanita berusia paruh baya. Botol-botol itu pecah, berserakan memenuhi lantai sebuah gudang tua di mana menjadi tempat menyusun rencana. Jika tidak berhati-hati, pastilah pecahan-pecahan botol ini akan mengenai telapak kaki hingga membuatnya berdarah dan terasa begitu menyiksa.

"Kami benar-benar minta maaf Nyonya. Ini semua berada di luar prediksi kami. Karena setahu kami, kami sudah membuang nyonya Kartika dalam keadaan sekarat. Kami dapat memastikan jika nyonya Kartika meregang nyawa pada saat itu juga."

"Cih, alasan kalian saja. Pada kenyataannya si tua bangka itu bisa pulang ke rumah tanpa lecet sedikitpun. Dan kalian memaksaku untuk percaya bahwa kalian sudah melakukan pekerjaan ini dengan sempurna? Kalian benar-benar mengada-ada!"

Para bodyguard itu hanya bisa saling melirik satu sama lain. Mereka seakan khawatir jika sang bos akan melakukan hal yang jauh lebih parah dari sekedar memecahkan botol-botol minuman beralkohol ini.

"Sekali lagi, kami mohon maaf Nyonya. Apa yang harus kami lakukan agar Nyonya tidak murka seperti ini?"

Wanita paruh baya yang sebelumnya berdiri tegap di hadapan para bodyguard, kini ia putar tumitnya untuk menuju sebuah kursi roda ergonomis yang berada di tempat ini. Ia nampak memutar otak sembari memijit-mijit pelipisnya untuk membuat rencana lain yang jauh lebih matang dan sempurna. Tak selang lama, senyum seringai terbit di bibir berpoles lipstik dengan warna merah menyala itu.

"Jika kalian gagal menghabisi nyawa nenek tua itu, aku akan memberikan tugas yang lain untuk kalian."

"Apa itu Nyonya? Kami pasti akan mengerjakannya sebaik mungkin."

"Cari keberadaan Arga dan habisi nyawanya! Posisi putraku tidak akan pernah aman jika Arga belum enyah dari muka dunia ini!"

"Baik Nyonya, kami akan melaksanakan tugas ini sebaik mungkin."

Wanita paruh baya itu tertawa terbahak hingga menggema memenuhi langit-langit ruangan. Pandangannya nampak menerawang dan larut dalam pikiran.

Sudah sejauh ini semua hal yang telah aku lakukan. Akan sia-sia jika aku harus berhenti di pertengahan jalan. Jika nyawa nenek tua itu sulit untuk aku habisi, aku rasa tidak dengan nyawa cucu kesayangannya. Hahahaha...

1
Sri Wahyuni
kisah yang mengharukan, namun akhirnya berakhir dengan kebahagiaan yang hakiki, adalah dikehidupan nyata akhir yg seperti itu... 🤔🤔🤔😘😘😘🌹🌹🌹👍👍👍💪💪🖕
Sri Wahyuni
hanya satu kata terucap, bahagia...
Naraa 🌻
idih najis gatau malu
Naraa 🌻
Dasar iblis EMG si Wenda, bisa jamin dah pasti dia terlibat dalam kecelakaan mamanya Bhumi, bego nya bapaknya mungut dan nikahin dia, mana udh di kasih clue nenek ga paham juga, parah bgt
Naraa 🌻
Jahat licik bgt para benalu
Wanda Pratiwi
good
Tina
Biasalah....iya kan thoorrrr , namanya jga kumpulan ibu2 julid hihihihihihi apalagi kerjaannya coba , kalau nggak menggosip & menjulid 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tina
Akhirnya.... mudah2an cita2mu segera tercapai ya Wi....💪💪💪💪 Wi.
Tina
Terima kasih ya thor, banyak pesan moral & kehidupan yg disampaikan disini, tp ceritanya tetap menarik 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰. ❤️ U thor 🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗👍👍👍👍👍👍👍
Tina
Bener jga kata Radit Ga , perlu dipertimbangkan, walau bentuk fisik bukan yg utama ,tapi kesehatan jga penting Ga.
Tina
Wuaaahhhh selamat ya Wi ,udah mau buat pertunjukan di TMII, akhirnya buah kebaikan, pengorbanan & kesabaranmu membuahkan hasil, & jgn lupa jga memberi khabar ibu & adikmu ya Wi. Dan teruntuk author moga lekas sembuh & bisa lekas menyapa penggemarmu lgi ya.....sehat selalu thor
Tina
Maaf thor,🙏🙏🙏🙏🙏🙏sekali, nggak sengaja thor...padahal aq bukannya mau kasih 1 bintang lho, tp pas mau tekan bintang berikutnya, padahal udah tak tekan2 masih nggak bisa, eee tau2nya muncul notif penilaian berhasil,akhirnya ini deh hasilnya...sekali lgi maaf ya thor, nggak sengaja 🤗🤗🤗🤗 padahal ceritanya lumayan lho, typo jga nggak terlalu tu.... cuma aq nya aja yg buru2 nekan itu bintang, sekali lgi maaaaaffff ya thor,mungkin author akan kecewa , tp tolong jgn marah ya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Tina
Yang sabar ya Dewi , semoga buah cinta & kesabaranmu membuahkan hasil .
Yora Fitriani86
hahahahahh
Sriza Juniarti
ternyata bhumi adalah arga...keren oi..🥰💕
Sriza Juniarti
bagus...tapi likenya kok sediikit ya
semangat kk💕🥰🥰
Sriza Juniarti
jahatnya.. balas thor...😤😤🤲
Maliqa Effendy
ga heran daerah Kampung Rambutan dan sekitarnya...harus extra hati2. kalo ga penting bngt jngn keluarin HP atau dompet.siapin uang secukupnya dikantong celana ..
Maliqa Effendy
lagian Dewi gampang banget sih percaya.kan jatohnya jadi gini...
Maliqa Effendy
Covernya bagus banget,Thor...semoga ceritanya jg bagus..baru mau baca ini....
Rasti Yulia: alhamdulillah... makasih kak.. tapi ini termasuk novel yang sedikit gagal karena pop nya gak naik-naik dan sepi pembaca 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!