Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 Masa lalu Sisil Part 3
Aku menusuknya berulang kali secara membabi buta, menyayat dan menghancurkan tubuh bajingan itu hingga tak berbentuk lagi di atas kubangan darahnya sendiri.
Setelah memastikan dia mati, aku mengambil ponsel milik Ayah. Aku membuka kunci keamanannya menggunakan sidik jari dari jempol mayatnya yang masih hangat.
Aku mengetik sebuah pesan teks darurat berisi permintaan tolong palsu yang dikirimkan langsung ke pusat Serikat Userator, seolah-olah pesan itu diketik oleh tangan Ayahku sendiri sebelum tewas
Setelah mengirim pesan, aku menyembunyikan diriku di dalam sebuah ruangan beton tertutup di dekat reruntuhan, menunggu dengan sabar hingga bantuan Serikat tiba di lokasi.
Begitu barisan pemburu Serikat datang meretas area dan menemukanku, di situlah saatnya aku mengeluarkan bakat akting terbaikku.
Aku menangis histeris, menjerit ketakutan, dan bersaksi dengan narasi palsu bahwa Ayahku tercinta telah tewas secara tragis demi melindungiku dari terkaman monster liar.
Oleh otoritas Serikat, kasus kematian itu resmi ditutup sebagai insiden kecelakaan akibat serangan bencana monster.
Setelah kematian Ayah, aku terpaksa kembali tinggal di rumah kontrakannya bersamamu, Ibu.
Tidak lama setelah itu, aku mulai menyusun rencana berikutnya. Aku sengaja mencari tahu keberadaan pria mantan teman bisnis Ayah yang dulu mencoba meniduriku di hotel.
Meskipun dia sudah diceraikan dan jatuh miskin secara sosial, sebagai Userator tingkat atas, dia tetaplah mesin pencari uang yang sangat mudah mendapatkan uang dengan cara berburu.
Aku sengaja menjebaknya, menemuinya di sebuah kafe distrik tengah, dan berpura-pura masuk ke dalam pelukannya lagi dengan ekspresi takut. Aku sengaja membuatnya kembali tertarik pada pesona kecantikanku.
Hingga di sebuah tempat sepi yang sudah kupersiapkan, saat dia mengira akan berhasil meniduri tubuhku... aku diam-diam memasukkan obat tidur ke dalam minumannya. Begitu dia jatuh pingsan tak berdaya di atas lantai, aku membunuhnya dengan metode yang sangat rapi.
Aku mencabik-cabik tubuhnya menggunakan cakar besi, membuat skenario buatan seolah-olah ia baru saja dibantai oleh monster berbahaya.
Dan sekali lagi... kasus pembunuhan itu kembali ditutup oleh Serikat dengan kesimpulan resmi sebagai kecelakaan dibunuh oleh monster liar. Dua orang yang mencoba menghancurkan hidupku... semuanya telah lenyap dari muka bumi berkat tanganku sendiri.
Waktu pun terus berlalu dalam kesunyian...
Hingga kemudian, kau mendadak mendatangiku dengan wajah tamakmu, memberi tahu bahwa aku akan segera dinikahkan secara paksa dengan seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga yang ibunya pernah berutang besar padamu.
Saat itu aku langsung paham persis, kau hanya ingin membuang dan menendangku dari rumah karena sudah tidak mau lagi menampung atau memberi makan diriku di dalam kehidupan mewahmu.
Malam harinya, aku diam-diam membongkar lemari kerjamu, mencari tahu dan memeriksa seluruh berkas dokumen utang piutang tersebut. Di atas lembaran kertas dokumen itu, pandangan mataku mendadak terkunci saat melihat bahwa seluruh beban jaminan utang tersebut ditanggung atas nama seorang pria bernama... Arkana Herssen.
Aku langsung menyusun rencana darurat. Aku berniat untuk melacak keberadaannya dan membunuh pria bernama Arkana Herssen itu demi menjaga kesucian pernikahanku agar tidak ada yang bisa menyentuhku.
Aku mencari tahu alamat tempat tinggalnya sesuai dengan yang tertera di dokumen. Aku mendapati bahwa dia hidup sendirian di sebuah distrik kumuh ujung kota, menempati sebuah kontrakan kecil yang sangat sempit.
Pagi hari saat aku melakukan pengintaian di depan gang kontrakannya, aku melihat sosoknya keluar dari pintu rumah. Pria itu mengenakan helm keselamatan kerja dan seragam baju konstruktor proyek yang lusuh.
Namun, aku merasa sangat tidak asing dengan wajahnya.
Aku mulai membuntutinya dari belakang dari jarak aman, mencari waktu dan tempat yang paling tepat untuk memotong urat lehernya dari belakang. Aku mengikutinya sepanjang jalan hingga tiba di sebuah proyek pembangunan gedung pencakar langit, di mana ia bekerja kasar sebagai kuli bangunan di sana.
Sore pun tiba, matahari mulai tenggelam di cakrawala. Pria itu menyeka keringatnya dan berjalan kaki melangkah pulang menuju gang kontrakannya.
Di dalam kegelapan bayangan gang yang sepi, aku meraba pisau di balik blusku, merasa bahwa ini adalah waktu yang paling sempurna untuk mengakhiri hidupnya.
Namun, tepat saat aku bersiap untuk melesat menerkam punggungnya... pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya karena dipanggil oleh seorang wanita paruh baya.
"Eh, Nak Arka? Kamu baru pulang kerja? Apakah kamu ingin membayar uang sewa kontrakan bulan ini sekarang?"
Mendengar nama 'Arka' disebut oleh ibu pemilik kontrakan tersebut... seluruh sistem saraf di tubuhku seketika membeku. Jantungku berdegup luar biasa kencang hingga rasanya mau meledak.
Pantas saja... pantas saja sejak pertama kali aku melihat wajahnya dari kejauhan pagi tadi, aku selalu merasa rupa pria itu terlihat sangat familiar di ingatanku.
Pantas saja jiwaku merasakan getaran kehangatan yang sangat aneh setiap kali menatap siluet tubuhnya dari belakang.
Pria kuli bangunan yang berada di hadapanku saat itu... ternyata adalah Kak Arka-ku tercinta. Pria tampan yang selama belasan tahun ini terus kucari, kutunggu, dan kujaga kesucian jiwaku hanya untuknya seorang!
-PoV Author-
Sisil mengakhiri cerita panjangnya dengan sebuah helaan napas yang teramat sangat lega. Wajah cantiknya mendadak memancarkan rona kebahagiaan yang luar biasa cerah laksana dewi yang baru saja memenangkan takdir dunianya.
Ia menatap langsung ke dalam manik mata Ibu tirinya yang kini sudah gemetaran hebat dengan wajah pucat pasi laksana mayat.
Wanita tua itu benar-benar terguncang, tidak pernah menyangka bahwa gadis yatim piatu yang selama ini ia siksa dan ia anggap polos... ternyata adalah sosok monster berdarah dingin yang sudah membantai banyak nyawa.
"Saat itulah, Ibu... di dalam hatiku, aku beneran merasa sangat bersyukur dan berterima kasih pada takdir, karena dirimu justru berhasil mempertemukan dan menyatukan kembali diriku dengan Mas Arka-ku tersayang," ucap Sisil dengan nada suara yang teramat manis dan manja.
Namun, sedetik kemudian, senyum manis di wajah Sisil lenyap total, digantikan oleh tatapan mata kosong yang memancarkan hawa membunuh tingkat tinggi.
"Dan sekarang... setelah semua pengorbanan yang kulalui... kau secara menjijikkan mendadak datang lagi, mencoba membawa pria gendut itu untuk memisahkan kami berdua dan merusak rumah tangga bahagiaku dengan Mas Arka?" desis Sisil dingin, setiap katanya sanggup membekukan udara di dalam ruangan. "Aku... akan membunuhmu, Ibu."
Mendengar ucapan tersebut, Ibu tiri Sisil langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sangat kencang dan ekstrem.
Air mata keputusasaan mengalir deras membasahi wajah menornya, memberikan gestur tubuh memelas memohon ampunan setinggi langit, bersumpah lewat tatapan matanya bahwa ia tidak akan pernah berani mengganggu kehidupan Sisil dan Arka lagi sampai kapan pun.
Sisil mengangkat sebelah alisnya, berpura-pura terkejut. "Hah? Kau berjanji tidak akan pernah mau mengganggu kehidupanku dan tidak akan berani menyentuh Mas Arka lagi seumur hidupmu, Ibu?"
Ibu tiri itu langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat kencang dan cepat, mengiyakan janji tersebut demi bisa menyambung nyawanya yang berada di ujung tanduk.
Sisil kembali mengulas seulas senyuman manis yang sangat cantik, menatap ibunya dengan tatapan melembut. "Baiklah kalau begitu... Terima kasih banyak ya, Ibu, karena sudah mau berjanji dengan tulus kepadaku," ucap Sisil teramat ramah.
SREK!
Namun, bersamaan dengan selesainya kalimat manis tersebut, sebilah pisau belati perak yang sangat tajam mendadak sudah menempel ketat di kulit urat leher bagian depan sang Ibu tiri. Sera yang berdiri di belakang sofa dengan patuh telah memposisikan senjatanya, hanya tinggal menunggu satu ketukan perintah dari sang nyonya besar untuk mengirisnya.
Sisil perlahan bangkit berdiri dari kursi kayunya, merapikan lipatan gaun kasualnya dengan sangat anggun.
Ia melangkah mendekati ibunya, lalu dengan satu gerakan kasar, jemari Sisil menjambak kuat-kuat rambut wanita paruh baya itu untuk mematenkan posisi lehernya di depan pisau.
Sisil mendekatkan wajah cantiknya di depan mata ibunya, membisikkan sebuah filosofi kematian yang teramat dingin menggunakan senyuman indahnya.
"Tapi, Ibu... satu-satunya manusia yang paling bisa dipercaya untuk menjaga rahasia dan memegang janji dengan aman... hanyalah sosok manusia yang sudah tidak bernyawa lagi~"
"Hmmm!! Hmmmm!! Hmmmm!!!!!!"
Mata Ibu tiri Sisil melotot horor sempurna, tubuhnya mencoba meronta gila meloloskan diri dari ikatan kursi, namun semua usahanya mutlak berakhir sia-sia laksana serangga kecil.
Sisil menatap Sera memberikan sebuah kode intruksi.
CRASSSSSHHHHHH!!!
Dalam hitungan detik, sebuah kepala manusia menggelinding jatuh menghantam lantai beton dengan tumpahan darah segar yang memancar deras laksana air mancur rusak di dalam kegelapan ruangan.
Sisil berjalan perlahan melangkah keluar menuju pintu besi utama, mengeluarkan selembar sapu tangan bersih untuk menyeka setitik noda cipratan darah yang sempat mengenai permukaan kulit lengannya.
"Sera... bersihkan dan lenyapkan seluruh kekacauan di tempat ini tanpa menyisakan jejak sedikit pun," perintah Sisil dingin tanpa menoleh ke belakang.
"Siap, Nyonya," jawab Sera takzim sembari mulai merapikan senjata dan tubuh mayat di hadapannya.
Sisil melangkah keluar dari dalam ruang bawah tanah terisolasi tersebut, didampingi oleh Julius yang berjalan tegap mengawal di belakangnya, kembali bersiap menjelma menjadi sosok istri yang luar biasa manis, imut, dan penurut di hadapan suami tercintanya.
Bersambung...
klo bsa ceritanya jgan terlalu lma ke yg lain
fokus ke arka aja kan dia MC
klo ke yg lain sebisanya agak dipersingkat
gitu aj dan ceritanya bagus kok
semangat buat ceritanya thor
tak kasih kopi 1👍