Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Again
Suara baling-baling helikopter yang dijanjikan Elena Adiguna belum juga terdengar di atas langit lereng Gunung Welirang. Yang ada justru gemuruh mesin SUV milik tim Bramantyo yang kian mendekat, membelah kesunyian malam yang berkabut tebal. Sinar lampu sorot berkekuatan tinggi dari kendaraan taktis itu sesekali menembus sela-sela pepohonan pinus, menyapu dinding kaca vila terbengkalai tempat Zahran dan Alea berlindung.
Zahran bergerak dengan efisiensi yang menakutkan. Di bawah temaram lampu minyak yang sengaja ia redupkan hingga nyaris padam, jemarinya mengikat tali ransel taktis dengan kencang. Di dalam tas itu, tersimpan seluruh masa depan mereka: diska lepas berisi dokumen manipulasi arus kas Rotasi Company oleh Benny Priyatno, serta data korupsi lahan Yogyakarta milik Gautama.
"Zahran, mereka sudah melewati gerbang bawah," bisik Alea.
Wanita itu berdiri di dekat pilar kayu ruang tengah, memegang sebuah pisau lipat kecil yang sempat diberikan Zahran. Pakaian batiknya yang longgar kini dilapisi jaket gunung tebal. Wajahnya pucat, namun tidak ada lagi getaran ketakutan di suaranya. Kematian ibunya yang ternyata didalangi oleh orang dalam keluarganya sendiri telah mengubah seluruh sisa kerapuhannya menjadi kemarahan yang dingin.
"Kita tidak bisa menunggu helikopter Mbak Elena di sini," ujar Zahran, suaranya rendah dan tajam.
Ia menghampiri Alea, memeriksa sabuk pengaman tas wanita itu, lalu menatap lurus ke dalam sepasang manik mata yang sangat ia cintai.
"Bramantyo sudah tahu kita memegang dokumen Hasanudin. Dia tidak akan menggunakan peluru bius lagi, Alea. Ini adalah eliminasi total."
"Aku siap," jawab Alea tanpa ragu. Ia menautkan jemarinya ke sela jemari Zahran. Sentuhan hangat itu kembali hadir, menjadi satu-satunya jangkar waras di tengah situasi gila ini.
Duar!
Pintu depan vila hancur berantakan dihantam oleh ram besi penghancur. Suara pecahan kaca pecah berkeping-keping menggema di seluruh penjuru bangunan tua itu. Senter taktis bertenaga tinggi langsung memotong kegelapan, memancarkan sinar putih keperakan yang membutakan.
"Bergerak! Cari mereka di setiap sudut! Ambil tasnya, habisi orangnya!" teriakan parau anak buah Bramantyo terdengar bersahutan, diikuti oleh rentetan tembakan senjata otomatis berperedam suara.
Tass! Tass! Tass!
Peluru-peluru berkaliber sembilan milimeter merobek sofa tua dan menghancurkan tiang-tiang kayu, mengirimkan serpihan tajam ke udara.
"Tiarap!" Zahran menarik tubuh Alea jatuh ke lantai semen yang dingin, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai manusia. Ia melepaskan tiga tembakan balasan dengan akurasi buta ke arah sumber cahaya pertama. Seorang anak buah Bramantyo mengerang kesakitan, senter taktisnya jatuh ke lantai dan berputar liar, menerangi genangan darah yang mulai melebar.
"Lewat sini!" Zahran menarik lengan Alea bangkit, memaksa wanita itu berlari menuju koridor belakang yang menghubungkan bangunan utama dengan area dapur kotor.
Gudang peristirahatan ini memiliki struktur bertingkat di bagian belakang, mengikuti kontur tanah lereng gunung yang curam. Di ujung dapur, terdapat sebuah pintu kayu kecil yang menuju ke jalur evakuasi air hujan—sebuah terowongan semen terbuka yang menurun tajam menuju lembah perkebunan teh.
Tepat saat Zahran mendorong pintu kayu tersebut, sebuah bayangan besar melompat dari kegelapan samping. Itu adalah Bramantyo sendiri. Sang detektif swasta tidak lagi menunjukkan senyum tenangnya. Wajahnya mengeras penuh amarah karena kegagalannya di Sidoarjo. Menggunakan popor senjata laras panjangnya, Bramantyo menghantam pergelangan tangan Zahran hingga senjata api milik pemuda itu terlempar ke lantai.
"Kamu pikir kamu bisa mengecohku dua kali, hah?!" bentak Bramantyo, langsung melayangkan pukulan tangan kiri yang telak ke arah rahang Zahran.
Zahran terhuyung mundur, darah segar langsung mengalir dari sudut bibirnya. Namun, alih-alih menyerah, insting bertahan hidupnya bergolak. Ia menerjang maju, mencengkeram rompi taktis Bramantyo dan menghantamkan tubuh pria besar itu ke dinding bata dapur.
"Alea, lari!" teriak Zahran di sela perkelahian fisik yang brutal tersebut.
Alea terpaku sejenak melihat Zahran dipukuli secara membabi buta oleh mantan agen intelijen militer yang jauh lebih berpengalaman.
Naluri wanita tangguh dalam dirinya berontak. Ia tidak mau lagi menjadi jaminan aset yang pasif. Melihat sebuah penggorengan besi tua yang tergantung di dekat kompor, Alea meremuk gagangnya, lalu dengan seluruh kekuatan yang tersisa, ia mengayunkannya tepat ke arah belakang kepala Bramantyo.
Plak!
Hantaman keras itu membuat Bramantyo terhuyung, pandangannya mendadak kabur selama beberapa detik krusial. Jeda itu dimanfaatkan Zahran untuk melepaskan diri, memberikan tendangan maut ke dada Bramantyo hingga sang detektif swasta jatuh telentang di atas tumpukan piring pecah.
Zahran segera meraih tangan Alea, memungut kembali senjatanya, dan melompat keluar dari pintu belakang menuju kegelapan malam yang diguyur hujan lebat.
Pelarian kedua mereka dimulai di bawah murka alam. Hujan musim hujan menghantam lereng Welirang dengan intensitas yang membutakan mata. Jalur evakuasi air yang mereka lalui telah berubah menjadi selokan deras yang dipenuhi lumpur dan bebatuan tajam. Mereka berlari menembus kegelapan, tergelincir beberapa kali, membiarkan lutut dan siku mereka terhantam pembatas semen.
Di belakang mereka, lampu senter tim pemburu kembali menyala. Bramantyo telah bangkit, suaranya menggelegar di antara deru angin gunung.
"Kejar mereka! Mereka menuju perkebunan teh!"
Alea merasakan paru-parunya seperti hendak meledak. Setiap embusan napasnya terasa seperti menelan duri. Sepatu gunungnya yang basah membuatnya terasa seperti memikul beban puluhan kilogram, namun setiap kali ia merasa ingin menyerah, genggaman tangan Zahran di depannya mengencang. Sentuhan itu seolah mengirimkan pasokan energi baru yang menolak membiarkan Alea jatuh.
Mereka akhirnya keluar dari terowongan air dan masuk ke dalam labirin hijau perkebunan teh yang membentang luas. Pohon-pohonan teh setinggi pinggang orang dewasa menjadi pelindung sekaligus jebakan bagi mereka. Kabut gunung yang turun membatasi jarak pandang hanya menjadi dua meter ke depan.
"Zahran... aku ga lagi..." bisik Alea, tubuhnya limbung. Ia jatuh berlutut di atas tanah merah yang becek, napasnya memburu tak beraturan.
Zahran berbalik, berlutut di depan Alea. Wajahnya basah oleh air hujan yang bercampur darah dari luka di bibirnya. Ia menangkup wajah Alea dengan kedua tangannya yang berlumpur. Sentuhannya masih sama—hangat dan penuh dengan proteksi absolut yang tak terbantahkan.
"Lihat aku, Al... Lihat aku," ujar Zahran, suaranya terdengar stabil di tengah badai.
"Kita sudah melangkah sejauh ini. Kita sudah melewati lima provinsi, kita sudah membongkar kebenaran tentang ibumu. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu kembali ke Jakarta sebagai tawanan. Naik ke punggungku."
"Tapi mereka sangat dekat, Zahran—"
"Naik!" perintah Zahran dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.
Alea mematuhi perintah itu. Ia melingkarkan lengannya di leher Zahran, menyandarkan wajahnya yang basah di bahu pria itu. Zahran berdiri dengan sisa-sisa kekuatan ototnya, melangkah membelah rimbunnya tanaman teh di tengah hujan yang kian menggila.
Di balik rimbunnya daun teh, sayup-sayup suara deru baling-baling helikopter akhirnya terdengar memecah langit malam. Lampu sorot helikopter milik Elena Adiguna membelah kabut, mencari posisi mereka dari udara.
Namun di saat yang sama, sebuah suara kokangan senjata terdengar dari jarak kurang dari lima meter di belakang mereka.
"Berhenti di sana, Zahran Adrian," suara Bramantyo terdengar dingin dari balik kabut, moncong senjatanya terarah tepat ke punggung Zahran yang sedang menggendong Alea.
"Permainan selesai. Taruh tas itu di tanah, atau aku akan menembak kaki kalian berdua sekarang juga."
Zahran menghentikan langkahnya. Di bawah guyuran air hujan yang kejam, ia mengencangkan genggamannya pada tubuh Alea, bersiap untuk mengambil risiko terbesar yang akan menentukan apakah mereka akan selamat malam ini, atau berakhir sebagai jasad yang terlupakan di lereng gunung terpencil ini. Pelarian kedua mereka telah mencapai titik nadir, di mana batas antara kebebasan dan kematian hanya berjarak satu tarikan pelatuk.