NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Dunia seakan melambat ketika hantaman gelombang panas dari ledakan dahsyat itu mendorong tubuh mereka melewati batas tepi dermaga. Suara gemuruh api yang melahap kontainer tua berpadu dengan jeritan ngeri yang tertahan di tenggorokan Hani.

Detik berikutnya, rasa dingin yang menggigit dan hampa seketika membungkus seluruh tubuhnya saat mereka terhempas masuk ke dalam kegelapan laut lepas Pelabuhan Tanjung Priok.

Byurrr!

Air laut yang asin dan pekat langsung menyergap indra penciuman dan pendengaran Hani. Tekanan air yang besar membuatnya sempat kehilangan arah.

Dalam kepanikan bawah air yang membutakan, Hani merasakan sebuah tangan kekar yang sangat ia kenal mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, menariknya naik menuju permukaan.

Hah... Hah...

Hani berhasil menghirup oksigen dengan rakus begitu kepalanya memecah permukaan air. Di sebelahnya, Reza terbatuk-batuk kecil, namun tangan kirinya masih dengan sigap menyangga tubuh Sarah yang sudah setengah sadar akibat syok dan hantaman air laut.

Di atas mereka, langit malam Tanjung Priok tampak menyala merah akibat kobaran api yang membubung tinggi dari sisa ledakan di ujung dermaga. Puing-puing besi berapi berjatuhan di sekitar mereka seperti hujan meteor yang mengerikan.

"Hani! Pegang Sarah!" teriak Reza di antara deru suara api dan deburan ombak laut yang mulai tidak bersahabat.

Hani dengan cepat meraih lengan Sarah, membantu mempertahankan kepala sahabatnya agar tetap berada di atas permukaan air. Di bawah temaram cahaya api dari atas, Hani bisa melihat wajah Reza yang meringis kesakitan.

Pria itu berenang hanya dengan menggunakan satu tangan dan kekuatan kakinya. Jaketnya yang tebal sudah terlepas, meninggalkan kemeja putihnya yang kini basah kuyup dan melekat pada tubuhnya.

Pada bagian punggung kemeja itu, noda merah darah mulai merembes melebar, luka jahitannya terbuka kembali akibat hentakan keras saat melompat tadi.

"Pak Reza! Punggung Anda berdarah!" seru Hani dengan nada panik yang luar biasa, air matanya kini bercampur dengan air laut yang perih di matanya.

"Aku tidak apa-apa! Tetap berenang ke arah sebelah kiri!" jawab Reza, suaranya parau menahan rasa sakit yang teramat sangat di punggungnya.

Dari arah kegelapan sisi dermaga yang tidak terkena ledakan, sebuah sekoci penyelamat bertenaga motor milik tim pengaman internal Baskara Group melaju cepat mendekati mereka. Narendra Baskara berdiri di ujung sekoci dengan wajah yang dipenuhi kecemasan yang luar biasa.

"Reza! Hani! Pegang talinya!" teriak Narendra, melemparkan seutas tali pelampung besar ke arah mereka.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Reza menangkap tali tersebut dan melilitkannya pada tubuh Sarah dan Hani terlebih dahulu. Dua orang petugas pengaman dengan sigap menarik mereka naik ke atas sekoci.

Begitu tubuh Hani dan Sarah berhasil dievakuasi, Reza menyusul ditarik naik. Pria itu langsung ambruk telungkup di atas lantai sekoci, napasnya memburu pendek-pendek dengan wajah yang seputih kertas.

"Reza!" Narendra langsung berlutut di samping putranya, menekan luka di punggung Reza menggunakan kain handuk bersih yang disediakan di sekoci. Guratan penyesalan dan kemarahan kini bercampur di wajah sang ayah.

Hani merangkak mendekat, mengabaikan tubuhnya sendiri yang menggigil kembung oleh air laut. Ia menggenggam tangan Reza yang terasa sangat dingin. "Pak Reza... bertahanlah... saya mohon, jangan pejamkan mata Anda," bisik Hani dengan suara yang serak dan bergetar hebat.

Reza membuka matanya sedikit, menatap Hani dengan binar mata yang masih berusaha memperlihatkan ketegaran yang tersisa. "Aku... sudah menepati janjiku, bukan? Sarah... aman..." bisiknya sangat lirih, sebelum akhirnya kedua matanya terpejam sepenuhnya karena kehilangan kesadaran akibat rasa sakit yang luar biasa.

Dua jam kemudian, atmosfer di dalam ruang tunggu koridor VIP Rumah Sakit Medika Jakarta terasa begitu sunyi dan menekan. Hani duduk di atas salah satu kursi panjang dengan mengenakan pakaian kering cadangan yang diberikan oleh sekretariat kantor.

Rambutnya masih agak lembap. Di sebelahnya, Sarah sudah mendapatkan perawatan intensif di kamar rawat biasa, beruntung sahabatnya itu hanya mengalami luka memar dan syok ringan, tanpa ada cedera dalam yang fatal.

Sementara itu, Reza masih berada di dalam ruang operasi darurat untuk menjahit kembali luka di punggungnya serta memastikan tidak ada infeksi akibat air laut yang kotor.

Narendra Baskara berdiri diam di depan jendela kaca besar yang menghadap ke jalanan kota yang sepi. Kedua tangannya diselipkan di dalam saku celananya, menatap kosong pantulan dirinya sendiri. Beban delapan tahun rahasia korporasi kini terasa begitu nyata dan menghancurkan keluarganya sendiri.

Hani bangkit berdiri dari duduknya, melangkah perlahan mendekati pria paruh baya yang paling dihormati di Baskara Group itu. Ada rasa bersalah yang teramat dalam yang masih bersarang di dada Hani karena telah menuduh pria ini sore tadi akibat hasutan Tedi.

"Pak Narendra..." panggil Hani lembut.

Narendra membalikkan badannya perlahan. Wajahnya tampak menua sepuluh tahun dalam satu malam. Ia menatap Hani dengan tatapan mata yang sarat akan permintaan maaf.

"Hani," suara Narendra terdengar berat. "Aku tahu apa yang dibawa oleh si tua Tedi kepadamu sore tadi di kantor. Dan aku juga tahu apa yang dikatakan oleh pria bertopeng di dermaga sebelum ledakan itu terjadi."

Hani menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, Pak Narendra. Sore tadi saya... saya kehilangan akal sehat saya karena emosi masa lalu. Saya sempat menuduh Anda dan Pak Reza keterlibatan dalam konspirasi yang menjatuhkan ayah saya."

Narendra mengembus napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak salah, Hani. Jika aku berada di posisimu, aku pun akan mencurigai hal yang sama. Kenyataannya, aku memang bersalah. Delapan tahun lalu, ego korporasiku terlalu besar. Aku tahu Surya Adiguna menggunakan tangan Hendra untuk memalsukan nota dinas itu. Tapi saat itu, Baskara Group sedang berada di ambang peluncuran saham perdana. Jika skandal Surya pecah, perusahaan kita akan hancur."

Narendra menatap Hani dengan mata yang berkaca-kaca. "Jadi, aku memilih untuk diam. Aku membiarkan ayahmu menjadi tameng demi menyelamatkan bisnis ini. Pemulihan nama baik ayahmu minggu depan... itu bukan uang bungkam untukmu, Hani. Itu adalah bentuk penebusan dosaku yang selama delapan tahun ini membusuk di dalam dadaku."

Mendengar pengakuan jujur dari Narendra, bendungan air mata Hani kembali runtuh. Namun kali ini, tidak ada lagi rasa marah atau paranoid. Yang tersisa hanyalah kepedihan atas takdir yang begitu rumit, serta rasa takjub pada bagaimana kebenaran akhirnya menemukan jalannya sendiri, meski harus melewati panggung berdarah.

"Terima kasih karena sudah jujur kepada saya, Pak," ucap Hani tulus, menghapus air matanya. "Sekarang kita tahu siapa musuh yang sesungguhnya. Surya Adiguna tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan Proyek-X itu kembali."

"Dia sudah mendapatkannya, Hani," dahi Narendra mengeras penuh dendam. "Anak buahnya berhasil membawa map hitam itu dari dermaga sebelum melarikan diri."

Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kecerdikan mendadak terukir di sudut bibir Hani. Ia meraba saku blusnya, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang—sebuah flashdisk mini berwarna perak.

"Mereka hanya membawa map berisi draf salinan kosong yang sengaja saya tukar di dalam mobil saat perjalanan menuju dermaga tadi, Pak," ucap Hani, matanya berkilat tegas. "Draf asli Proyek-X yang sesungguhnya, beserta seluruh rekaman suara asli Surya Adiguna yang diberikan oleh pria misterius berbaju hitam itu... semuanya sudah saya pindahkan ke dalam draf digital di dalam sini."

Narendra tertegun, menatap flashdisk di tangan Hani dengan rasa tidak percaya sekaligus bangga yang luar biasa. "Hani... kamu..."

"Ayah saya mengajarkan saya untuk selalu selangkah lebih maju dalam mengamankan dokumen penting administrasi, Pak," lanjut Hani dengan nada suara yang kini dipenuhi oleh tekad yang membara.

"Surya Adiguna berpikir dia telah memenangkan permainan ini dengan meledakkan dermaga. Dia tidak tahu, bahwa dia baru saja menggali kuburannya sendiri."

Tepat pada pukul tiga dini hari, lampu ruang operasi akhirnya berubah menjadi hijau. Dokter keluar dan mengonfirmasi bahwa kondisi Reza telah stabil, meskipun pria itu harus menjalani perawatan total selama beberapa hari ke depan dan tidak boleh banyak bergerak.

Hani diizinkan untuk masuk ke ruang pemulihan intensif secara bergantian. Ia melangkah perlahan mendekati brankar tempat Reza berbaring diam dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Wajah pria itu tampak sangat damai dalam tidurnya.

Hani duduk di kursi samping brankar, meraih tangan kanan Reza yang kini sudah terasa sedikit lebih hangat daripada saat di sekoci tadi. Ia menempelkan tangan pria itu pada pipinya yang halus, membiarkan air mata haru mengalir menyentuh kulit Reza.

"Terima kasih karena selalu ada untuk saya, Pak Reza," bisik Hani dengan penuh perasaan. "Mulai hari ini, giliran saya yang akan berdiri di depan untuk melindungi Anda dan membersihkan semua kotoran yang ditinggalkan oleh orang-orang serakah itu."

Hani meletakkan flashdisk perak itu di atas meja nakas samping tempat tidur Reza. Langkah berikutnya sudah tersusun rapi di dalam kepalanya.

Sisa enam belas bab sebelum tirai cerita ini ditutup sepenuhnya, dan Hani memastikan bahwa kejatuhan Surya Adiguna akan menjadi pertunjukan yang paling megah di kota ini.

Namun, ketenangan malam itu kembali terusik ketika ponsel Hani yang berada di dalam tasnya bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal yang baru muncul di layarnya.

Hani membuka pesan tersebut, bersiap untuk menghadapi ancaman baru dari pihak Surya. Namun, begitu matanya membaca baris kalimat yang tertera di sana, dadanya kembali berdegup kencang oleh sebuah kejutan baru yang sama sekali tidak ia duga.

Pesan itu bukan berasal dari Surya Adiguna, melainkan dari si pria misterius berpakaian serba hitam yang menemuinya di kantor saat lampu padam.

“Selamat karena telah lolos dari ledakan dermaga, Hani. Skenario berjalan sesuai rencana. Tapi, pastikan kamu memeriksa laci paling bawah di meja kerja ruang tengah rumah lamamu sebelum fajar menyingsing. Ayahmu tidak hanya meninggalkan dokumen Proyek-X... beliau meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yang menjadi alasan mengapa Surya Adiguna sangat mengincar darah keluargamu.”

1
Indah Callysta Annabel
ceritanya bagus banget, alurnya rapi, bahasanya menarik, semangat kak
Vimel: Terima kasih, kak 😊
total 1 replies
Indah Callysta Annabel
bagus banget ceritanya
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!