Kisah cinta remaja yang manis
Aninda adalah cewe yang manis, baru saja lulus SMP. Karena kepintarannya, Aninda berhasil masuk ke SMA Favorit yang ngga jauh dari rumahnya.
Ternyata cowo yang selalu menatapnya diam diam sejak Aninda kelas tiga SMP, juga masuk di SMA yang sama dengannya.
Cowo itu sangat tampan dan kaya raya, tapi dingin. Namanya Gibran. Katanya sudah punya pacar. Tapi pacarnya pindah ke kota lain waktu Aninda dan cowo itu naek kelas tiga SMP.
Aninda bingung kenapa cowo itu selalu memperhatikannya padahal sudah punya pacar. Aninda juga selalu gugup jika beradu pandang dengannya, bahkan Aninda pernah memimpikan cowo itu saat akan masuk SMA.
Aninda yang didukung beberapa temannya berusaha melayani perhatian cowo itu. Tapi tetap dengan cara tarik ulur. Aninda harus pastikan kalo cowo itu sudah putus dengan pacarnya, karena Aninda ngga mau jadi pelakor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Ada Progres
"Lo ngapain di situ, Ris. Acara mau diakhiri," sapa Guntur ketika mendekati meja Aninda dan teman temannya yang masih ada Riswan. Padahal makanan yang mereka makan sudah abis.
Mereka sebagai kating akan mengucapkan sepatah.dua kata untuk mengakhiri perpisahan mereka.
"Biasa, nungguin ayang," jawab Riswan pe-de. Bibirnya mengembangkan senyum senangnya.
Perut Aninda rasanya mual mendengarnya. Vina dan Laras saling lirik. Jelas juga mereka sebel.
"Udah jadian ya, dipanggil ayang," goda Guntur yang salah paham.
Rasanya Aninda ingin cepat pergi menjauh dari situ. Sudah.nggak enak rasa perutnya. Siap akan muntah.
"Siapa sih, kak, yang jadian," celutuk Laras kepo. Laras ngga tega melihat wajah keruh Aninda. Kasian kalo nanti bisa jadi isu nasional.
"Ituuuh... Teman kamu sama Riswan. Selamat ya, Ris, Ninda," kata Guntur dengan nada senang.
"Misi," dengan ngga sopan, Aninda menggeser kursinya dan bangkit. Dia sudah ngga tahan lagi. Vina dan Laras agak kaget, karena melihat sikap frontal Aninda.
"Eh, mau kemana? Ayoh, kak Riswan antar," kata Riswan langsung menanggapi.
"Sorry, Gun, aku nemani ayang dulu," katanya santai. Seakan senang dengan situasi yang terjadi sekarang
"Maaf, kak Riswan. Aku mau sendiri," tolak Aninda cepat dan langsung pergi meninggalkan Riswan yang terhenyak. Guntur menatap bingung.
Vina dan Laras saling pandang.
"Bentar, Ninda," seru Riswan mgga menyerah dan mengejar langkah Aninda. Riswan berhasil menarik tangan Aninda.
"Lepas, kak!" seru Aninda sambil menghempaskan pegangan Riswan, tapi ngga bisa, karena cukup kuat.
Beberapa siswa mulai memperhatikan mereka.
"Ayo, ngga apa. Kak Riswan ngga bakal nyulik, kok," canda Riswan sambil mengeratkan pegangannya membuat Aninda agak takut juga semakin ngga suka.
Aninda masih berusaha menarik tangannya.
"Kakak lepasin, asal kamu mau diantar," bujuk Riswan agak memaksa.
Aninda langsung merasa sebal, apalagi tambah banyak yang memperhatikan mereka.
"Aku udah dijemput."
"Ya udah, kakak mau lihat siapa yang jemput kamu," kata Riswan bersikeras. Dia seolah tau kalo Aninda bohong, apalagi melihat wajag panik Aninda setelah mendengar jawabannya.
"Jangan dipaksa. Ris," larang Guntur yang sudah berada di dekat mereka. Dia merasa kasian melihat Aninda yang sudah mau menangis.
"Ngga dipaksa, kok," ngeyel Riswan.
Ini kesempatannya, batinnya dalam hati.
"Lepasin," seru Gibran yang tiba tiba muncul bersama Mario dan Revi. Di belakangnya sudah ada Vina dan Laras yang menatap Aninda cemas.
Bahkan tangan Gibran langsung menarik kasar tangan Riswan yang mencengkeram lengan Aninda.
Merasa sudah terbebas, Aninda langsung berdiri di belakang punggung Gibran. Baru kali ini rasanya Aninda merasa sangat takut dan butuh dilindungi.
Ngga menyangka Kak Riswan agak memaksa.
"Sudah, Ris," lerai Guntur ketika melihat Riswan ingin meraih Aninda lagi
"Aku hanya ingin ngantar dia aja, kok," tukas Riswan berusaha tenang. Karena sudah ada beberapa adik kelas yang menghampiri mereka.
"Aninda, kamu mau pulang sama kak Riswan, kan?" suara Reva menginterupsi.
Aninda menggelengkan kepalanya. Bingung, kenapa sepertinya Kak Reva sengaja mengatur dengan siapa dirinya akan pulang.
"Aku pulang sendiri," kata Aninda tegas.
"Kata Deby kamu ada yang nganterin," tukas Reva menskak mat Aninda.
Aninda jadi terdiam.
"Dari pada Deby nanti khawatir, lebih baik kamu pulang sama Riswan," sambungnya lagi. Seakan sangat perhatian pada adik sahabatnya.
Riswan menahan senyumnya, dan dia berterimakasih dengan Reva karena sudah membantunya untuk sedikit menekan Aninda.
"Ngga apa, kak. Nanti aku yang kasih tau kak Deby," pelan Aninda tetap menolak.
Dia ngga akan memberikan Kak Riswan kesempatan. Lagi pula Kak Riswan sangat memaksa, membuat Aninda ngga nyaman.
"Kalo kamu ada apa apa, aku yang ngga enak sama Deby, Ninda," kata Reva bersikeras. Ini kesempatan untuk mendekatkan Aninda dengan Riswan. Apalagi ada Gibran yang sepertinya menjadi tempat Aninda berlindung. Reva ngga suka dan hatinya panas saat ini.
"Aku sudah terbiasa sendiri. Maaf, aku pulang duluan," pamitnya dengan nada kesal. Aninda merasa Kak Reva memaksanya dengan tujuan lain. Bukan karena mengkhawatirkannya.
Tapi ketika dia mulai bergerak, tangannya kembali dipegang. Hampir saja Aninda akan menyentak tangan itu sebelum satu suara mendebarkan jantungnya sangat kencang terdengar.
"Aku yang akan mengantarnya," kata Gibran menahan keperrgian Aninda.
Aninda menatap Gibran ngga percaya. Keduanya bersitatap. Mata elang Gibran seperti menembus jantung Aninda.
Suasana berubah hening, seakan suara mereka tertahan untuk menyela.
Reva sampai sulit menelan salivanya ketika suara Gibran terdengar.
Dia masih ngga bisa percaya kalo. Gibran memberikan perhatiannya yang sangat berharga untuk Aninda.
"Oke, kita pulang duluan, ya," pamit Gibran sambil menarik tangan Aninda pergi mengikutinya.
Riswan masih menatap nanar kepergian Aninda. Padahal sudah di depan.mata, tapi kesempatan itu lepas begitu saja.
"Ya sudah bubar, bubar." Suara Guntur memecahkan keheningan.
Vina dam Laras pin kembali ke kursinya demgan perasaan lega.
"Gibran memang sukanya dengan Aninda," bisik Vina yang diangguki Laras.
"Kak Riswan serem juga, ya. Sampai maksa gitu," komentar Laras setelahnya.
"Iya," jawab Vina sepakat.
Sementara itu Gibran membawa Aninda ke temat parkiran motor dan berhenti di dekat motor balap.berwarna hitam metalik.
Gibran memberikan helmnya tanpa kata pada Aninda yang diterima. Aninda masih dalam diam.
Kemudian dengan santai Gibran mengambil helm di sebelahnya.
"Dipake helmnya. Jangan bengomg aja," kata Gibran menyadarkan Aninda.
Laki laki tampan itu sudah mengenakan helmnya.
"Kamu pake helm siapa?" tanya Aninda merasa ngga enak.
"Helm Revi," katanya kemudian mengambil helm di tangab Aninda dan memakaikannya di kepala Aninda.
"Laen kali jangan suka memberi harapan," komen Gibran sambil mengklik tali helmnya.
"Siapa yang ngasih harapan," protes Aninda ngga terima dan kesal karena mengingat kejadian tadi.
Gibran ngga menjawab. Dia menaiki motornya dan menoleh lagi pada Aninda.
"Ayo naek."
Dengan ragu Aninda duduk menyamping karena menggunakan rok selutut. Tasnya yang diletakkannya di atas pahanya yang tertutup rok.
"Gibran, aku mau ke rumah sakit," kata Aninda saat motor mulai bergerak.
"Oke," sahutnya sambil melajukan pelan motornya.
Jantung Aninda semakin kencang berpacu saat tubuh mereka bersentuhan.
Aninda hanya bisa berharap semoga Gibran ngga merasakan degup jantungnya yang sangat norak.
Reva yang sengsja melipir dan mengikuti Gibran dan Aninda merasakan dadamya sesak melihat pemandangan di depannya.
Akhirnya Aninda sampai juga di parkiran rumah sakit.
"Makasih," katanya sambil memberikan helmnya pada Gibran.
Gibran ngga menyahut, karema sibuk melepaskan helm Revi. Setelah menaruh helm Revi, Gibran mengambil helm yang disodorkan Aminda dan mengenakannya membuat mata Aninda mengerjap.
"Kamu nginap.d sini?" tanya Gibran sambil mengunci helmnya.
"Ngga. Nanti pulang sama mama papa."
Gibran menatap Aninda sebentar sebelum pamit.
"Aku pulang. Kamu hati hati."
"Kamu juga. Makasih, ya," ulang Aninda yang hanya dibalas dengan anggukan Gibran.
Kemudian Gibran melajukan motornya meninggalkan Aninda yang masih mematung menatap kepergiannya.
"Sudah punya pacar?"
DEG
Suara sinis mama Kamila membuatnya tersadar.
Dia menoleh menatap tantenya yang memyempatkannya tersenyum sinis sebelum.melangkah meninggalkannya.
Sakit, itulah yang dirasakan hati Aninda.
.CKK kegantung nih...😭😭
Ckk istri nya Thomas.. Padahal ponakan sendiri dijelek jelekin,asal kamu tau,Ibu mu aja lebih milih tinggal dgn putri angkat nya di bandingkan kalian yg katanya ANAK KANDUNG..🙄🙄🙄
MAMPIR THOR 🙋
hihihi