Kisah tiga orang pria playboy bernama Riko, Aril dan Romi yang bersahabat dengan dua pria lainnya yang bernama Refan dan Bagus.
Tiga playboy ini iri melihat kehidupan dua sahabat mereka lainnya yang sudah berumah tangga hidup dengan bahagia bersama keluarga mereka.
Hal ini membuat mereka juga ingin bahagia seperti sahabat mereka lainnya. Tetapi kedua sahabatnya menyuruh dan mendukung mereka untuk berhenti menjadi seorang playboy dan membantu mereka mendapatkan pendamping hidup yang mereka sebut bidadari surga.
Ternyata untuk menjadi pria yang baik sangat sulit, mereka menjalani berbagai cobaan untuk mendapatkan bidadari surga mereka. Mungkin itu hukuman atas perbuatan mereka selama ini.
Akankah mereka berhasil insaf menjadi seorang playboy dan mendapatkan bidadari surga mereka atau mereka akan kembali pada hobby lama mereka sebagai seorang playboy?
Silahkan ikuti kisah selanjutnya. Tapi sebelum membaca silahkan pilih menu favorit dan jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya ya untuk mendukung novel ini.
Terimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tigapuluh Satu
Tanpa terasa sampai sore mereka berkumpul di rumah Bagus. Dini sudah semakin akrab dan nyaman bertemu dengan Ayu. Kalau Kinan kan sudah sering, karena Kinan adalah sahabatnya Kakaknya Dini.
"Eh sudah sore, aku panggil Mas Refan dulu ya biar kita pulang" ujar Kinan kepada Dini.
Kinan berjalan menuju teras belakang rumah Bagus.
"Mas udah sore, pulang yuk. Kita juga mau antar Dini ke rumahnya" ajak Kinan.
"Okey kita pulang" sambut Refan.
"Fan, Nan. Dini biar sama aku aja ya. Aku yang antar dia pulang" Riko meminta izin.
"Cieee ada yang mau pendekatan sama calon mertua" sindir Romi.
"Gimana yank?" tanya Refan.
"Ya udah, tapi langsung pulang kan Mas? Jangan di ajak kencan ya, belum boleh. Nanti aja pacarannya setelah halal" pesan Kinan kepada Riko.
"Beres Nyonya Refan" sambut Riko.
"Dini kata Mas Riko nanti dia yang antar kamu pulang" ujar Kinan.
"Iya Mbak, tadi Mas Riko udah minta izin aku" jawab Dini.
"Kalau begitu Mbak duluan ya" sambung Kinan.
"Hati - hati ya Mbak" balas Dini.
Refan dan keluarga kecilnya pulang lebih dahulu dari rumah Bagus. Setelah itu baru Riko mengajak Dini pulang.
"Kita pulang juga?" tanya Riko kepada Dini.
"Boleh Mas" jawab Dini.
"Baiklah.. Gus, Yu kami pulang ya. Terimakasih atas makan siangnya" ucap Riko pamit
"Oke Ko, good luck" jawab Bagus dengan senyuman
"Hati - hati Mas, semoga berhasil" sambut Ayu.
Kini giliran Riko dan Dini yang meninggalkan rumah Bagus. Mereka segera masuk ke dalam mobil.
"Rumah kamu dimana Din?" tanya Riko setelah mereka keluar dari area rumah Bagus.
"Kan ada Mas di dalam biodataku" jawab Dini.
"Maaf aku lupa" balas Riko.
"Di jalan XXX Mas" jawab Dini.
"Lho itu dekat sekolah aku dulu, iya SMU XX kan?" tanya Dini.
"Kok tau?" tanya Riko terkejut.
"Aku baca di biodata Mas" jawab Dini.
"Eh kamu bacanya detail gitu ya, masih ingat semua" ujar Riko.
"Mas Riko aja yang gak baca biodataku" balas Dini.
"Aku baca, cuma lupa. Aku hanya mengingat point - point penting saja" ucap Riko.
"Contohnya?" tanya Dini.
"Status kamu yang masih jomblo dan visi misi kamu untuk menikah" jawab Riko.
Dini langsung membuang wajahnya ke arah luar jendela karena malu.
"Menurut kamu pernikahan itu apa sih Din?" tanya Riko.
"Ibadah" jawab Dini singkat.
"Hanya itu?" tanya Riko.
"Ya hanya itu. Kalau semua yang kita jalani karena kita meyakini itu adalah sebuah ibadah. InsyaAllah kita akan lebih ikhlas Mas menjalaninya. Karena kita berharap ridho Allah. Percayalah kalau Allah ridho semuanya akan di lancarkan oleh Allah" jawab Dini.
Menarik, baru kali ini aku mendapat jawaban seperti ini mengenai tanggapan seorang gadis tentang pernikahan. Gak muluk - muluk ingin begini dan begitu. Puji Riko dalam hati.
"Kalau menurut Mas Riko sendiri?" tanya Dini.
"Pernikahan adalah rumah tangga. Ya menurut aku pernikahan adalah rumah. Tempat aku kembali, tempat aku pulang setelah letih bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Tempat aku kembali saat aku merasa sepi, sedih dan gembira. Kemana pun aku pergi, sejauh apapun aku berlari pada akhirnya aku akan kembali ke rumahku. Aku sudah lelah berkelana, kini sudah saatnya aku pulang. Makanya aku ingin memiliki rumah, aku ingin menikah" jawab Riko.
Dini tersenyum dan mengerti maksud dari jawaban Riko.
"Kamu baru tamat kuliah kan? Baru wisuda?" tanya Riko.
"Iya" jawab Dini.
"Kalau menikah mau kerja atau nggak?" tanya Riko.
"Tergantung izin suami Mas. Kalau memang suami bisa mencukupi dan tidak di izinkan aku siap aja Mas. Lagian sekarang juga belum dapat pekerjaan masih lempar lamaran ke sana kemari. Mas Riko ada lowongan?" tanya Dini.
"Ada, kamu mau?" tanya Riko.
"Boleh, kalau memang bisa sesuai dengan ilmuku" jawab Dini
Riko tersenyum mendengar jawaban Dini.
"Sebagai apa Mas?" tanya Dini.
"Mmm... sebagai istri, mau?" tanya Riko serius
Walau pembicaraan ini sudah pernah mereka bahas lewat pesan saat ta'aruf tapi entah mengapa Riko ingin sekali mengulangnya kembali.
Mudah - mudahan kalau langsung bertanya seperti ini Dini akan menjawab dengan kata - kata yang berbeda dengan jawaban Dini di pesannya.
Dini terdiam sesaat, gak menyangka kalau Riko akan seterbuka ini dia bertanya.
"Tanya Papa aja Mas. Kalau Papa setuju, aku ikut saja apa kata Papa" jawab Dini.
Riko kembali tersenyum.
Tak lama kemudian mobil Riko sudah sampai di halaman rumah Dini.
"Assalamu'alaikum" ucap Dini dan Riko bersamaan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Papa dan Mama Dini.
"Lho Din tadi perginya sama Kinan dan suaminya, pulangnya kok beda?" tanya Mama Dini.
"Iya Ma, kenalkan Pa, Ma ini Mas Riko. Temannya Mas Refah suaminya Mbak Kinan. Mas Riko menawarkan untuk mengantarkan aku pulang. Katanya dia mau berkenalan dengan Papa dan Mama" jawab Dini kepada kedua orang tuanya.
"Silahkan duduk Nak Riko" sambut Papa Dini.
Riko mencium tangan Papa dan Mama Dini dengan hormat.
"Riko Pak, Bu" ucap Riko.
Papa dan Mama Dini tersenyum ramah.
"Din buatkan minum untuk Nak Riko" perintah Mamanya Dini.
"Iya Ma, Mas aku tinggal ya" pamit Dini.
Kini Riko duduk di hadapan kedua orang Dini persis seperti mahasiswa yang sedang menjalani sidang skripsi, tegang.
Duh.. mengapa aku jadi tegang begini. Padahal aku sudah sering bertemu dengan orang penting. Saat ini aku hanya berhadapan dengan orang tuanya Dini tapi mengapa aku salah tingkah begini? Batin Riko.
"Nak Riko sudah menikah?" tanya Papa Dini.
"Ehm.. belum Pak" jawab Riko.
"Lantas kalau begitu apa tujuannya datang ke rumah saya dan mengantar Dini pulang? Bukankah Dini bisa pulang bersama Kinan dan suaminya? Atau dia juga bisa pesan taxi online. Gak perlu merepotkan Nak Riko untuk mengantarnya pulang" tanya Papa Dini.
Gleg... aduuuuh.. Papa Dini to the point sekali. Baru pertama aku datang sudah langsung bertanya seperti itu. Batin Riko.
"Ehm... begini Pak. Tujuan saya datang ke sini untuk berkenalan dengan Bapak dan Ibu. Karena.. saya ingin melamar putri Bapak yang bernama Dini" jawab Riko tegas.
"Saya sudah mendengar dari Anita dan Dini sendiri tentang proses ta'aruf yang sedang di jalani Dini. Tapi saya perlu tau pria seperti apa yang sedang menjalin perkenalan dengan anak saya. Tadi siang saat istri saya masuk ke kamar Dini tanpa sengaja istri saya menemukan biodata kamu di kamar Dini dan memberikannya kepada saya. Kemudian saya membacanya dan sudah tau semua informasi mengenai kamu. Maaf Nak Riko saya sebagai seorang ayah tidak bisa menerima kamu sebagai calon menantu saya. Walau pun kamu katakan kalau kamu ingin berubah dan bertobat tapi saya tetap tidak bisa terima anak saya mendapatkan suami mantan pria mantan tukang jajan sebelumnya. Saya tidak mau anak saya terkena penyakit yang saat ini sedang banyak di derita anak muda karena pergaulan bebas. Saya merawat dan menjaga anak perempuan saya dengan baik dan penuh kehati - hatian. Bahkan seekor nyamuk saja tidak akan saya biarkan mengisap darahnya. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik pada anak - anaknya. Saya tidak rela putri saya mendapatkan pria seperti kamu. Maafkan saya mungkin kamu berfikir saya ini kolot dan tidak bisa menerima perkembangan zaman. Mungkin bagi sebagian orang apalagi di zaman sekarang pergaulan bebas sudah hal yang biasa tapi tidak dengan saya. Saya menginginkan Dini menikah dengan seorang pria yang memperlakukan Dini sebagai wanita pertama baginya karena saya bisa jamin pria itu adalah yang pertama juga buat Dini. Saya harap ini adalah kali pertama dan terakhir kamu menginjakkan kaki kamu di rumah saya. Maaf kalau kata - kata saya menyakiti hati kamu tapi tujuan saya hanya satu, kebahagiaan putri saya Dini. Permisi saya tidak bisa menerima kamu di sini" ungkap Papa Dini.
Papa Dini langsung berdiri dan pergi meninggalkan Riko bersama istrinya di ruang tamu rumahnya.
.
.
BERSAMBUNG
gua rasa hana cm mo anaknya d urus riko dh makanya nitip anak nya 2hr gua rasa gak bakalan balik2 lg...