Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijemput Kean
Suasana kos Sisil mendadak berubah panas saat obrolan Jeviza dan teman-temannya mengarah pada hal yang lebih intim dan dewasa, sebenarnya yang sedang mereka bahas ialah film yang baru saja merek tonton, tetapi Naura dan Sisil yang terus mengaitkannya dengan Keandra membuat tubuh Jeviza mendadak semakin gerah. Kipas angin yang masih berputar di pojok ruangan seakan tidak berasa apa-apa.
"Sil, mau mandi dong," ujar Jeviza bangkit dari duduknya.
"Gerah pasti ya abis liat film setengah biru, keinget pacar misterius Jeviza," seloroh Naura sengaja menggoda.
"Serius deh Je, penasaran gue Je, anak mana sih? Teknik, hukum, apa bisnis?" tana Sisil seraya mengambil baju yang pernah ia beli melalui online.
"Kalau gue kasih tahu, nanti kalian demam lagi."
"Mana ada? Seganteng apa emang cowok lo? Nggak yakin gue ada yang melebihi gantengnya kak Kean. Tingginya pas banget buat memperbaiki keturunan." Naura menatap Jeviza yang mulai akan pergi ke kamar mandi.
Jeviza menoleh sekali lagi sebelum benar-benar masuk, menatap Sisil dan Naura secara bergantian. Lalu tanpa berkata lagi masuk ke dalam kamar mandi. Jeviza terdiam beberapa saat di dalam kamar mandi. Bingung untuk memulai dari mana memberitahu Sisil dan Naura. Jujur saja ia hanya ingin berkuliah dengan tenang, karena jika orang lain tahu hubungannya dengan Kean seperti apa, Jeviza tidak yakin lagi bisa berkuliah sesuai keinginannya diawal jika mereka tahu statusnya dengan Kean sekarang, mungkin jika sebatas tahu mantan kekasih itu tidak akan menjadi masalah besar, tetapi statusnya dan Kean sekarang suami istri, apa lagi Kean di sana tinggal setengah tahunan lagi. Memikirkan itu membuatnya mendadak takut jika harus mengalami hubungan jarak jauh.
"Je, lo nggak pingsan di dalam kan? Sepi banget!"
Teriakan suara Sisil dari luar seketika menyadarkan Jeviza dari lamunannya. Ia mulai menggeleng, mencoba fokus dengan apa yang akan ia lakukan sekarang, sesederhana akan mandi saja ia masih dihantui pikiran tentang Kean dan status mereka.
Ponsel Jeviza yang bergetar di atas ranjang Sisil seketika membuat gadis itu melirik. Notifikasi pesan masuk dari Kean membuat Sisil mendelik, rasa ingin tahunya muncul begitu saja. Sisil tidak membuka pesan itu, tetapi membaca melalui notifikasi.
Keandra
Masih betah di situ?
Gue ngantuk, Je
Sisil melongo melihat pesan yang Kean kirimkan, sebenarnya sangat biasa dan tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Tetapi membaca pesan Kean yang mengadu "ngantuk" membuat Sisil gemas sendiri rasanya.
"Anjir, tangan gue gatel banget mua buka ini wa terus bales."
"Kenapa? Kak Pus ya?" tanya Naura penasaran.
Sisil menggeleng, menaruh ponsel milik Jeviza lalu kembali duduk di karpet bulu dengan yang lain.
"Gue nggak sengaja liat pesan kak Kean tadi," beritahu seketika membuat Naura mendelik.
"Apa? Isinya apa?" hebohnya ingin tahu.
"Kak Kean kaya yang ngajak Jeviza pulang, tapi nggak secara langsung, mana bilangnya ngantuk lagi, gemes banget nggak sih?"
"Hah? Emangnya kak Kean dimana?" tanya Naura mendapat gelengan kepala dari Sisil sebelum akhirnya keduanya menoleh ke arah Tevi.
"Lo tahu kak Kean di kafe, kak Gio kan?"
Tevi menggeleng. "Gue nggak tahu, tadi pas kita ke sana nggak ada kak Kean kok," bohong Tevi membuat keduanya langsung mendesah lesu.
"Yah...gue kira kak Kean di sana, gue boleh nggak sih ngintip pesan kak Kean kaya lo tadi?"
Sisil menggeleng, menolak keras keinginan Naura. "Nggak boleh dong, itu privas**i Jevi, gue tadi kan nggak sengaja."
"Yeee si oon, kak Kean bilang mau jemput Jevi ke sini?" tanya Naura lagi.
Sisil terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menggigit jari telunjuknya, seakan sedang berpikir. "Kayaknya iya, deh."
Lagi, ponsel Jeviza kembali bergetar, kali ini bukan hanya pesan, tetapi Kean yang mencoba menghubungi langsung Jeviza.
"Anjir, kak Kean telpon Jevi." Naura menatap layar ponsel yang masih menyala dengan nama Keandra.
Beruntung Jeviza tidak memberi nama yang aneh atau manis pada kontak ponselnya.
Tidak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka. Jeviza muncul dengan baju rumahan Sisil dan keadaan lebih segar dari tadi.
"Je, buruan! Kak Kean telpon lo," heboh Naura seketika membuat Jeviza malah mematung di tempatnya.
"Malah bengong, buruan angkat, gue mau denger suara presma kita kalau di telpon." Naura menarik tangan Jeviza.
"Angkat, Je," pinta Sisil lagi.
Jeviza mengamati layar ponselnya yang masih menyala, lalu menatap ketiga temannya, dan Tevi, mimik wajahnya seperti pasrah tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Jeviza. Tetapi saat Jeviza ingin mengangkatnya, sambungan telepon itu terputus, membuatnya lega dan bisa bernapas dengan normal lagi.
"Yah...keburu mati," keluh Naura.
Jeviza tersenyum, menaruh ponselnya dan kembali duduk. Berniat untuk mulai mengemasi barang-barangnya.
"Je, tadi gue nggak sengaja liat pesan kak Kean," beritahu Sisil berhasil membuat pergerakan Jeviza terhenti.
"Kayaknya lo mau dijemput deh, kak Kean katanya ngantuk juga, lo udah janjian mau pulang bareng ya?"
Jeviza gelagapan untuk menjawab, ia mengangguk sebelum otaknya benar-benar berpikir mencari alasan.
"Iya, kalau gitu gue siap-siap deh."
"Kak Kean beneran jemput lo dong?" tanya Naura diangguki Jeviza.
"Yes, gue harus anter lo sampai bawah," sorak Naura semangat.
"Guys, jangan berlebihan deh kalau nge-fans kating, takutnya udah ada pawangnya."
"Aman, kata Jevi tadi kak Kean belum pernah bawa cewek ke rumah mas Arlo, itu berati kak Kean masih halal banget buat kita perjuangi."
Tevi mendesah, menatap Jeviza yang tersenyum tipis, Jeviza memang terlihat biasa saja, tetapi jujur saja Tevi jadi gemas sendiri dengan Jeviza yang tidak memberitahu hubungannya dengan Kean kepada Sisil dan Naura. Dengan alasan ingin berkuliah dengan tenang.
Setelah membalas pesan Kean tadi. Jeviza keluar dari kamar Sisil, tetapi kali ini tidak sendiri, ada Sisil dan Naura yang ikut serta ke bawah dan bahkan sengaja menemani Jeviza di depan kos.
Jeviza melirik kedua temannya, lalu mendongak ke atas, dimana Tevi berdiri di sana, sebelum akhirnya sebuah mobil berhenti di depan gerbang kos. Entah itu mobil milil siapa, yang jelas Jeviza belum pernah melihatnya. Saat jendela pintu mobil terbuka. Kean yang masih berada di dalam menoleh pada Jeviza.
"Gue balik ya?" pamit Jeviza diangguki Sisil dan Naura tanpa menoleh padanya.
Fokus kedua gadis itu tertuju pada Keandra yang tiba-tiba keluar, memutari mobil dan membuka pintu mobil untuk Jeviza. Seketika pergerakan Kean dari mulai keluar sampai sekarang berdiri di sisi pintu mobil membuat keduanya melongo.
"Anjing gentel banget, sama Jevi aja manis gitu apa lagi sama pacar," umpat Naura masih dengan menatap pergerakan Keandra.
Baru setelah mobil mulai bergerak menjauh, keduanya baru sadar akan sesuatu. "Hah? Yang kita liat tadi-?"
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭