shanum gadis 25 tahun yang terjebak dalam pernikahan bak neraka baginya. sanggupkah shanum menjalani hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 31
Jam menunjukkan waktu makan siang. Saatnya para pekerja untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan mengisi perut yang sudah kosong karena dipakai bekerja. Nampak Lena tengah duduk di restoran seorang diri dengan makanan yang sudah siap di meja. Sepertinya ia menunggu seseorang, sedari tadi ia melirik jam yang ada di tangannya dan sesekali menengok ke arah pintu restoran.
"Sayang maaf aku terlambat, ada meeting sebentar penting," ucap Radit begitu sampai di meja Lena dan mendudukkan dirinya di kursi.
"Ya nggak papa, aku ngerti kok," ucap Lena.
"Langsung makan aja yuk. Laper banget nih," ucap Radit seraya menyendok makanan
"Kamu mau diantar kemana sayang?" sambung Radit di sela-sela makannya.
"Aku mau shopping aja, udah lama banget kayaknya aku nggak shopping," jawab Lena.
Sementara itu Bu Estu juga berada di restoran yang sama dengan Lena, ia ada temu janji dengan klien yang akan memesan baju pernikahan dengannya. Nampak ia masuk dan mencari kursi yang kosong. Ia memilih duduk di dekat pintu. Ia duduk sembari melihat sekeliling barangkali kliennya itu sudah datang. Namum bukan klien yang ia temukan.
"Kayak kenal sama postur tubuhnya?" batin Bu Estu yang melihat Lena duduk memunggunginya.
"Masak iya itu Lena. Nggak, nggak mungkin Lena jalan berdua dengan sorang pria. Mungkin hanya mirip," batin Bu Estu.
Tak lama kemudian orang yang ditunggu Bu Estu datang. Nampak wajah serius diantara Bu Estu dan juga kliennya. Samar samar suara bu Estu di dengar oleh Lena. Ia sedikit menoleh ke sumber suara. Seketika mulutnya menganga dengan lebar. Ia terkejut ada Bu Estu di belakangnya.
"Astaga dit ada mama di belakang, bagaimana caranya kita keluar dari sini?" ucap Lena setengah berbisik.
"Ya kita tunggu saja sampai mamamu keluar".
"Kalau dia mengenaliku gimana? Kita harus pergi dari sini secepatnya," ucap Lena panik.
Radit berpikir sejenak.
"Aku keluar sebentar, di mobil ada selendang almarhumah istriku. Kau bisa pakai itu untuk menutupi kepalamu," ucap Radit laku berjalan pergi.
Tak lama kemudian Radit kembali masuk dengan selendang yang disembunyikan di balik jasnya.
"Pakai ini di kamar mandi," ucap Radit seraya menyerahkan selendangnya.
Dengan cepat Lena menerima selendang itu dan berlari ke kamar mandi. Tak lama kemudian ia keluar dengan memakai selendang di kepalanya.
"Ayo kita keluar sekarang," aak Lena begitu sampai di tempat duduk Radit.
Dengan santai Radit menggandeng tangan Lena melewati Bu Estu. Sejenak Bu Estu melirik ke arah mereka yang berjalan bergandengan tangan.
"Tadi perempuannya nggak pakai selendang, kenapa begitu keluar pakai selendang? Mencurigakan," batin Bu Estu.
Sejurus kemudian Bu Estu tersadar dari lamunannya dan kembali meeting bersama kliennya.
Sementara di mobil, Lena akhirnya bisa bernafas dengan lega karena berhasil keluar tanpa ketahuan Bu Estu.
"Ini selendangnya. Kok bisa selendang istri kamu ada di mobil? Kamu bawa kemana mana?" tanya Lena seraya menyerahkan kembali selendang yang ia pakai.
"Permintaan anak-anak. Katanya biar mamanya jaga aku kalau bepergian. Lucu ya," ucap Radit seraya tersenyum
"Kamu sepertinya masih mencintainya."
"Nggak. Kebetulan aku dan dia dijodohkan. Aku belum jatuh cinta padanya. Tapi aku sangat berterima kasih karena dia sudah memberikan 2 anak jagoan kembar yang hebat. Dia meninggal karena melahirkan keturunanku. Jadi dia sangat berjasa untukku. Jangan cemburu ya."
"Nggak lah. Masak aku cemburu sama orang yang udah meninggal."
*
Dimalam hari, nampak Shanum dan Davin tengah menikmati makan malamnya.
"Mas kita ke rumah mama sekarang aja yuk, pas weekend kita ke rumah ibu. Udah lama juga nggak kesana."
Davin nampak berpikir
"Ya sudah kalau itu maumu. Kita habiskan dulu ini, baru kita ke rumah mama," ucap Davin.
Mereka melanjutkan makan malam dengan segera, agar tak terlalu malam ke rumah Bu Estu. Setelah makanan di piring tandas tak tersisa mereka langsung bersiap untuk kesana.
10 menit kemudian mereka sampai di rumah bu Estu. Mereka berjalan menuju pintu utama dan memencet bel.
Tak lama kemudian terdengar bunyi langkah yang mendekat.
Ceklek
"Eh non Shanum, tuan Davin mari silahkan," ucap bi Mina mempersilahkan mereka masuk
Shanum dan Davin melangkah menuju ke dalam rumah. Nampak Bu Estu yang tengah menonton acara di tv.
"Assalamualaikum ma," ucap Shanum.
"Waalaikumsalam, Shanum kau kesini? Bagaimana kabarmu nak?" tanya Bu Estu senang
"Alhamdulillah sehat ma, mama sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah mama sehat juga nak, ayo kita duduk."
"Mbak Lena mana ma?"
"Kebetulan dia lagi nggak di rumah. Dia ada acara sama temannya," ucap Bu Estu menjelaskan.
"Vin, sepertinya kamu harus menegur Lena, dia terlalu sering keluar rumah dan pulang larut malam ketika kau pulang ke rumah Shanum," ucap Bu Estu pada Davin.
"Biarlah lah ma, mungkin dia bosan di rumah."
"Ya kalau setiap hari nggak baik juga Vin. Setiap mama pulang dari butik dia nggak pernah ada di rumah."
"Ya sudah nanti biar aku yang bicara sama dia."
Meraka ngobrol banyak hal, mulai dari kegiatan sehari-hari hingga bisnis Shanum yang baru saja ia mulai beberapa bulan ini. Bu Estu sangat bangga dengan Shanum, ia memanfaatkan waktunya dengan baik. Lama mereka ngobrol, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Belum nampak batang hidung dari Lena.
"Ma sebenarnya kita kesini ada kabar bahagia,x ucap Shanum dengan senyum yang mengembang.
"Apa sayang?" tanya Bu Estu.
Shanum bangkit dari duduknya dan mendaratkan pantat di samping Bu Estu lalu meraih tangan bu Estu dan meletakkan di perutnya.
"Disini ada cucu mama," ucap Shanum.
Nampak Bu Estu terkejut dan refleks membuka sedikit mulutnya.
"Ka...kamu hamil?" tanya Bu Estu sedikit tergagap.
Shanum mengangguk. Nampak raut bahagia dari wajah keduanya. Bu Estu memeluk Shanum, ia meneteskan air mata karena saking bahagianya. Ia akan mendapat cucu dalam waktu dekat.
"Jaga baik-baik cucu mama," ucap Bu Estu seraya melepas pelukannya.
"Pasti ma. Akan aku jaga dengan segenap hatiku," jawab Shanum.
"Vin, Shanum butuh perhatian lebih darimu. Kamu harus bicarakan lagi masalah ini dengan Lena. Kamu tega ninggalin istri kamu sendirian, disaat jadwalmu bersama Lena. Seminggu untuk wanita hamil lama Vin. Pikirkan lagi," ucap Bu Estu.
"Ya ma, aku juga lagi mikirin itu," jawab Davin.
"Bagaimana kalau mama tinggal di rumah kalian selama Shanum hamil?"
"Kita bicarakan lain waktu ya ma. Kuta harus pulang sudah malam," uap Davin.
"Tidur sini aja, kasian Shanum ini sudah malam. Udara malam nggak baik untuk ibu hamil. Sudah Shanum istirahatlah dikamar mu," titah Bu estu.
Shanum yang memang sudah mengantuk hanya mengiyakan perintah bu Estu. Ia melangkah ke atas menuju kamarnya yang di ikuti Davin.
"Kamu tidur dulu ya. Aku mau ke bawah lagi boleh? Aku ingin tahu jam berapa Lena pulang. Biar nanti aku tegur dia," ucap Davin.
"Jangan marah-marah ke mbak Lena, bicarakan dengan baik-baik," ucap Shanum.
"Iya sayang," ucap Davin seraya mencium kening Shanum lalu beranjak pergi.
Davin kembali ke ruang keluarga, ia duduk di sofa seraya memainkan ponselnya. Sudah tidak ada Bu Estu disana, mungkin sudah dikamar, pikir Davin.
Tak lama kemudian terlihat Wildan berjalan masuk rumah. Ia memicingkan mata demi melihat siapa orang yang duduk di sofa. Ia berjalan menghampirinya.
"Mas Davin? Ngapain disini malam-malam," tanya Wildan.
"Nungguin mbak mu, emang bener si Lena sering pulang larut malam kalau aku nggak tidur sini?" tanya Davin.
Wildan mendudukkan dirinya di sofa.
"Iya mas. Hampir tiap hari. Bahkan nih kadang perginya juga dari pagi. Nggak tahu juga kemana. Tapi aku pernah lihat dia di toko perhiasan sama laki-laki."
Davin tersentak kaget dengan penuturan Wildan.
"Kamu yakin nggak salah lihat? Gimana ceritanya kamu bisa ketemu dia?"
Flashback on
Wildan nampak berjalan keluar dari toko buku bersama Aina. Ya Aina, akhir-akhir ini mereka terlihat akur namun kadang juga terlihat seperti tikus dan kucing. Saat akan menaiki motornya, mata Wildan menangkap seseorang yang seperti familiar baginya.
"Kayak mbak Lena? Kok sama laki-laki?" batin Wildan.
Wildan mengurungkan niatnya untuk naik motor, ia berjalan mengikuti Lena masuk ke sebuah toko perhiasan yang tak jauh dari toko buku yang di singgahi Wildan. Saat sudah dekat dan ingin memanggil Lena, pundak Wildan di tepuk oleh Aina.
"Malah kesini sih ayo pulang. Keburu gelap."
Mendengar ocehan Aina, Wildan urung mengikuti Lena ke dalam toko.
"Ngapain mbak Lena kesini? Sama laki-laki lagi". batin Wildan lagi.
Flashback off
"Kamu kenal sama laki-laki itu?" tanya Davin
"Nggak. Lebih baik mas selidiki sendiri," jawab Wildan lalu beranjak pergi ke kamar.
Bersambung