Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Bulan pertama Naura di rumah Pradipta selesai lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
Di hari terakhir kontrak awal, Bu Marini membuat suasana rumah seperti sedang melepas anak kos kembali ke kampus.
"Ini bawa," katanya sambil menunjuk tiga tas besar di meja ruang keluarga.
Naura menatap tas-tas itu dengan bingung.
"Bu, ini apa?"
"Kue kering, vitamin, madu, dua syal, dan sambal bawang."
"Saya hanya libur satu hari."
"Justru karena cuma satu hari, bawanya harus lengkap."
Pak Aditya duduk di sofa dengan wajah datar, tetapi di tangannya ada amplop.
Naura langsung curiga.
"Pak..."
"Bonus," kata Pak Aditya.
"Kontrak saya lewat PrimaCare, Pak. Bonus juga harus lewat aturan."
"Ini bukan dari kontrak. Ini hadiah karena Marini sekarang tidak mengomel tiap pagi."
Bu Marini langsung menoleh. "Aku masih mengomel."
"Berkurang."
"Itu karena kamu mulai patuh."
Pak Aditya mengabaikannya dan menyodorkan amplop.
Naura tidak mengambil.
"Pak, Bu, saya sangat menghargai. Tapi kalau semua hadiah saya terima tanpa batas, nanti posisi kerja saya jadi tidak jelas."
Bu Marini mengerutkan dahi. "Kamu keras kepala."
"Saya sedang menjaga agar saya bisa tetap bekerja dengan nyaman."
Pak Aditya menatapnya lama.
Lalu ia menarik kembali amplop itu.
"Baik. Kalau begitu lewat PrimaCare."
Naura tersenyum lega. "Terima kasih, Pak."
Bu Marini masih tidak puas. Ia mengambil satu tas kecil.
"Kalau sambal dan kue ini tetap kamu bawa. Ini bukan bonus. Ini bekal. Orang tua memberi bekal tidak perlu kontrak."
Kalimat itu membuat Naura sulit menolak.
Ia menerima tas kecil itu dengan dua tangan.
"Terima kasih, Bu."
Bu Marini menyentuh pipinya sekilas.
"Besok balik, kan?"
"Iya, Bu."
"Jangan berubah pikiran."
"Tidak."
"Kalau ada klien lain yang mau merebutmu, bilang Nenek. Nenek lawan."
Naura tertawa.
Sore itu, Arkan datang untuk makan malam perpisahan kontrak awal. Bu Marini menyebutnya perpisahan, padahal kontrak sudah diperpanjang.
Arkan membawa satu paper bag kecil.
Ia menyerahkannya kepada Naura setelah makan, saat Pak Aditya dan Bu Marini sedang berdebat tentang drama mana yang lebih masuk akal.
"Ini."
Naura menatap paper bag itu.
"Apa, Pak?"
"Hadiah."
"Pak Arkan..."
"Bukan uang."
"Tetap hadiah."
Arkan menatapnya, wajahnya tetap dingin, tetapi telinganya mulai memerah.
"Nenek bilang kamu menolak amplop. Ini buku."
Naura akhirnya menerima dan membuka paper bag.
Di dalamnya ada buku tentang manajemen layanan home care dan satu buku tentang bisnis elder care di Asia Tenggara.
Naura terdiam.
Ini bukan hadiah sembarangan.
Ini bukan gelang mahal, tas merek, atau benda yang membuatnya merasa dibeli.
Ini sesuatu yang berhubungan dengan pikirannya.
"Saya lihat kamu sering mencatat sistem kerja rumah," kata Arkan. "Mungkin berguna."
Naura menatap buku itu, lalu menatap Arkan.
"Terima kasih, Pak."
Arkan mengangguk. "Kalau tidak berguna, buang saja."
"Saya tidak akan buang."
Ia melihat sudut mulut Arkan bergerak sedikit.
Bu Marini tiba-tiba berseru dari sofa, "Arkan, kalau memberi hadiah jangan seperti menyerahkan berkas tender!"
Arkan langsung kembali datar. "Nenek menonton drama saja."
"Drama Nenek kalah menarik."
Naura menunduk menahan senyum.
Malam itu, sebelum Arkan pulang, Pak Jaya menerima telepon dari seseorang. Wajahnya berubah serius.
"Mas Arkan, dari rumah Bapak di Pondok Indah."
Arkan mengambil ponsel.
Percakapannya singkat.
"Kapan?"
"..."
"Tidak perlu. Saya pulang sekarang."
Ia menutup telepon.
Bu Marini langsung bertanya, "Ada apa?"
"Mbak Siti minta berhenti."
Pak Aditya menurunkan kacamata. "Yang mengurus rumahmu?"
"Iya."
"Kenapa?"
Arkan diam sepersekian detik.
"Katanya dia tidak kuat."
Bu Marini menatapnya tajam. "Kamu apakan orang?"
"Tidak ada."
"Arkan."
"Saya jarang di rumah."
Pak Aditya bergumam, "Mungkin justru rumahnya terlalu sepi."
Arkan memijat pangkal hidung.
Naura tidak ikut bicara. Itu bukan urusannya.
Namun Bu Marini menoleh padanya.
Naura langsung merasa tidak enak.
"Naura."
"Bu..."
"Kamu bisa bantu Arkan sementara?"
Arkan juga menoleh. "Nek, tidak perlu."
"Perlu. Rumahmu itu seperti kantor yang kebetulan ada kasur. Kalau tidak ada yang mengurus, kamu makan apa?"
"Saya bisa pesan."
"Kamu sudah pesan makanan bertahun-tahun, hasilnya apa? Lambungmu rusak."
Naura meletakkan buku di pangkuannya.
"Bu Marini, kontrak saya dengan rumah ini."
"Kontrak bisa dibuat tambahan."
Arkan berkata tegas, "Tidak."
Bu Marini menatap cucunya.
"Kamu menolak karena tidak butuh atau karena takut merepotkan Naura?"
Arkan diam.
Kena.
Naura menarik napas pelan.
"Kalau hanya sementara dan lewat PrimaCare, saya bisa pertimbangkan. Tapi harus jelas tugasnya."
Arkan menatapnya.
"Tidak perlu."
"Pak Arkan, ini pekerjaan. Kalau Bapak membutuhkan household manager sementara, saya bisa ambil selama jadwal Bu Marini dan Pak Aditya tidak terganggu."
"Kamu sudah bekerja di sini."
"Maka harus lewat Bu Ratih dan kontrak tambahan."
Bu Marini langsung tersenyum bangga. "Dengar? Profesional."
Arkan terlihat seperti ingin menolak, tetapi tidak punya alasan yang cukup kuat.
Pak Aditya menambahkan, "Coba saja seminggu. Kalau rumahmu tetap hancur, berarti masalahnya bukan pekerjanya."
Arkan menatap kakeknya.
"Terima kasih atas dukungannya."
"Sama-sama."
Naura akhirnya menghubungi Bu Ratih malam itu.
Bu Ratih tidak terkejut.
"Saya sudah menduga suatu hari keluarga Pradipta akan minta kamu mengurus cucunya juga."
"Bu."
"Tenang. Kita buat kontrak tambahan. Tugas terbatas: makan malam, sarapan siap, laundry ringan yang disetujui, koordinasi kebersihan, dan stok rumah. Tidak termasuk urusan pribadi sensitif kecuali disetujui tertulis."
"Saya ingin tetap ada batas."
"Harus. Justru karena kliennya laki-laki lajang."
Naura menghargai ketegasan itu.
Keesokan siangnya, kontrak tambahan dikirim.
Arkan menandatangani lebih cepat daripada Naura.
Ketika Naura membaca salinan kontrak, ada satu catatan tambahan dari Arkan di email.
`Jika pekerjaan ini membuat jadwalmu di rumah Kakek-Nenek terganggu, kontrak dibatalkan.`
Naura membaca kalimat itu dua kali.
Ia tidak tahu kenapa kalimat kaku itu terasa seperti perhatian.
Hari pertama ke rumah Arkan dijadwalkan Senin sore.
Bu Marini mengantar Naura sampai foyer seperti mengantar prajurit ke medan perang.
"Kalau dia menyebalkan, lapor Nenek."
Pak Aditya menambahkan, "Kalau dia memecahkan gelas lagi, jangan kaget."
Naura tersenyum. "Baik, Pak."
Arkan menjemput sendiri.
Itu membuat semua orang terdiam.
Ia turun dari mobil hitam, membukakan pintu belakang, lalu tampak sadar tindakannya terlalu berlebihan.
"Sekalian lewat," katanya.
Bu Marini melipat tangan di dada.
"Lewat dari mana kali ini?"
Arkan tidak menjawab.
Naura masuk mobil dengan tas kerja kecil.
Di dalam mobil, suasana hening.
Sopir tidak ada. Arkan menyetir sendiri.
Naura duduk di kursi penumpang depan setelah sempat ragu, karena duduk di belakang terasa seperti menjadikannya sopir.
Arkan meliriknya.
"Kontraknya sudah jelas?"
"Sudah, Pak."
"Kalau ada tugas yang membuatmu tidak nyaman, bilang."
"Baik."
"Jangan diam."
Naura menatap sisi wajahnya.
"Pak Arkan khawatir saya diam?"
Arkan fokus ke jalan.
"Kamu terlalu bisa diam."
Kalimat itu membuat Naura kehilangan jawaban.
Mobil melaju melewati jalan Jakarta yang macet. Di luar, lampu-lampu toko mulai menyala.
Naura menggenggam tas di pangkuan.
Ia sudah pernah masuk banyak rumah klien.
Tapi entah kenapa, menuju rumah Arkan membuatnya merasa seperti sedang memasuki wilayah yang lebih berbahaya daripada dapur, obat, atau jadwal makan.
Berbahaya karena ia sudah mulai peduli.
jgn setengah 2 ya