NovelToon NovelToon
Midnight Bell, Lovers From The Past

Midnight Bell, Lovers From The Past

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Cintapertama / Reinkarnasi / Vampir / Romansa / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:98.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eriza Yuu

Lonceng di menara yang sudah lama 'tidur' tiba-tiba berdentang di tengah malam. Tepat di hari pertama kedatangan Monica Steward; gadis kota yang baru pindah ke desa tersebut. Ada sebuah legenda yang di percaya penduduk desa mengenai dentang lonceng itu. Legenda yang mengatakan jika lonceng di menara berdentang dua belas kali tepat pukul dua belas tengah malam, menandakan akan adanya hal buruk yang terjadi. Hal buruk seperti apakah itu?
Di waktu lain muncul seorang pemuda asing membantu Monica. Anehnya pemuda yang sama sekali tidak di kenal itu bisa langsung mengetahui nama Monica. Sebuah peristiwa mengerikan perlahan membuka ingatan Monica melalui mimpi-mimpinya. Siapakah pemuda itu? Apa hubungannya dengan Monica?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31

Monica, Isabelle, dan Melisa sedang dalam perjalanan pulang. Di tengah jalan tiba-tiba Arthur muncul di belakang mereka.

"Sepertinya kalian bersenang-senang tanpa aku!" kata Arthur.

Ketiga gadis itu menoleh.

"Tuan!" sapa Isabelle dan Melisa bersamaan.

"Jadi kau membuntuti kami?" tanya Monica.

"Tidak. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat kalian bertiga. Jadi aku berhenti untuk menyapa," jawab Arthur. Ia melangkah mendekati Monica dan berbicara di dekat telinganya.

"Tidak bolehkah aku menyapa kekasihku?"

Monica menyunggingkan senyum.

"Boleh saja. Tapi kau tidak boleh terus membuntuti kekasihmu!"

"Sudah kukatakan aku hanya lewat. Aku hanya membuntutimu saat berada di sekolah saja. Percayalah! Lagi pula kau bersama Isabelle dan Melisa. Itu sudah cukup membuatku tenang," jelas Arthur.

Isabelle dan Melisa saling menatap.

"Ya, aku percaya. Jadi sekarang kau mau pergi ke mana?" tanya Monica.

"Tadinya aku berencana pulang. Urusanku sudah selesai. Dan kamu?"

"Sama. Kami bertiga juga dalam perjalanan pulang," jawab Monica.

Isabelle mendekat.

"Maaf Tuan, kami berdua permisi duluan. Monica, kita berpisah di sini, ya!" ujar Isabelle.

"Eh, tiba-tiba ..." ucap Monica.

"Sampai bertemu di sekolah besok! Permisi Tuan, Monica!" pamit Melisa.

Arthur mengangguk. Isabelle dan Melisa langsung meninggalkan keduanya. Tentu saja mereka memilih pergi agar tak mengganggu pasangan kekasih itu.

Monica dan Arthur pun berjalan pulang bersama. Arthur memegang tangan Monica. Ini pertama kali mereka berjalan sambil berpegangan tangan dengan normal layaknya sepasang kekasih biasa.

"Aku ingat saat pertama kali kau memegang tanganku. Tanganmu sedingin es. Sampai-sampai membuat tubuhku serasa ikut membeku," kenang Monica mengingat pertemuan pertamanya dengan Arthur.

"Lalu?" tanya Arthur.

"Tapi sekarang aku merasa tanganmu lebih hangat," jawab Monica dengan polosnya.

Arthur tertawa kecil.

"Tentu saja. Kau sudah menjadi setengah vampir. Suhu tubuhmu juga dapat menyesuaikan dengan suhu dingin dari tubuhku. Ajaibnya aku bahkan bisa melihat sinar matahari tanpa takut terbakar. Dan itu berkat dirimu."

"Itu berarti sebelumnya kau selalu bersembunyi dari siang," tebak Monica.

"Iya. Aku hanya bisa muncul saat malam hari," timpal Arthur.

"Bukankah itu ajaib? Kita sepertinya memang ditakdirkan bersama."

Monica menatap wajah Arthur yang memandang lurus ke jalanan depan. Ada seutas senyum di sudut bibirnya. Monica memegang tangan Arthur lebih erat.

"Kenapa? Kau merasa dingin?" tanya Arthur karena memegang tangannya dengan erat.

"Tidak," jawab Monica.

Arthur melepas jaket yang ia kenakan untuk menutupi bahu Monica.

"Ini sudah malam. Kau masih bisa merasa kedinginan," kata Arthur. Ia lalu merangkul pundak Monica memastikan ia cukup hangat. Dan berjalan pulang bersama.

...*****...

Kelas di mulai. Kali ini mata pelajaran matematika, pelajaran yang paling sulit dikuasai Monica. Guru matematika memberikan penjelasan di depan kelas. Semua murid sedang memperhatikan, kecuali Archen. Ia sibuk menulis sesuatu di buku. Setelah selesai memberi penjelasan, Pak guru menulis satu soal di papan tulis untuk menguji pemahaman muridnya.

"Setelah penjelasan tadi, siapa yang bisa menjawab soal di papan tulis ini? Silahkan maju ke depan," kata Pak guru.

Semua murid saling menatap. Tidak ada yang berani maju.

"Ayo, siapa yang mau maju mengerjakan? Renata?" Pak guru memanggil Renata. Namun Renata menggeleng. Ia juga lemah dalam pelajaran matematika.

"Kelly?" panggil Pak guru berikutnya.

Kelly sontak berdiri. Ia maju ke depan dan mengerjakan soal di papan tulis itu. Selesai mengerjakan soal itu, Pak guru menyuruhnya kembali ke tempat duduk. Pak guru memperhatikan jawaban yang ditulis Kelly.

"Sayang sekali, Kelly. Jawabanmu salah!" kata Pak guru.

"Kau harus belajar lebih giat lagi."

"Iya, Pak." jawab Kelly.

Pak guru menghapus jawaban yang ditulis Kelly. Ia kembali bertanya pada muridnya.

"Siapa lagi yang mau maju mengerjakan soal ini?"

Archen masih sibuk menulis sama sekali tidak memperhatikan apa yang diucapkan gurunya di depan kelas.

"Bagaimana kalau Archen?" panggil Pak guru.

Archen meletakkan pulpennya dan langsung berdiri maju ke depan. Monica menatap Archen dengan tak yakin kalau ia bisa menyelesaikan soal itu dengan benar. Karena ia yang dari tadi mendengar penjelasan saja tidak mengerti apa lagi Archen yang sama sekali tidak memperhatikan. Setelah menuliskan jawaban soal tersebut di papan tulis, Archen kembali ke tempat duduknya.

Pak guru kembali memeriksa jawaban Archen. Ia mengangguk-angguk.

"Bagus, Archen. Kau menjawabnya dengan benar!" kata Pak guru.

Kelly langsung melihat ke arah Archen. Monica ikut melongo menatap Archen. Yang lain juga melihat sekilas ke arah Archen. Pak guru juga tak menyangka Archen bisa menjawab soal yang ia berikan dengan benar. Padahal Pak guru tahu dengan jelas kalau Archen tidak memperhatikan.

Pak guru mengulang kembali penjelasannya dari soal jawaban yang diselesaikan Archen. Lonceng berakhirnya pelajaran berbunyi.

"Karena waktu sudah habis, Pak guru akan memberikan tugas untuk kalian. Salin soal ini dan kerjakan di rumah! Kumpulkan besok di meja Pak guru," perintah Pak guru. Semua murid nampak tak bersemangat.

.......

.......

.......

Jam istirahat

Monica merapikan buku dan alat tulisnya sebelum meninggalkan kelas. Kelly tiba-tiba menghampiri meja Archen.

"Hai, Archen. Aku Kelly!" sapa Kelly. Archen nampak tak peduli.

"Em ... Bisakah kau mengajariku pelajaran matematika? Aku masih kurang mengerti dengan soal yang diberikan Pak guru tadi," tanya Kelly malu-malu.

"Minta yang lain ajari saja. Aku tidak punya waktu," jawab Archen dingin.

Monica mendengarkan tapi diam saja. Ia kemudian bergegas pergi. Archen melihat Monica meninggalkan kelas. Juga pergi meninggalkan kelas membiarkan Kelly sendiri di sana.

Monica berjalan ke kantin bersama Sera. Tahu-tahu Archen sudah berada di sampingnya.

"Jalanmu cepat sekali! Mau adu cepat denganku?" Archen menggoda Monica.

"Ha ... jelas aku akan kalah," ujar Monica.

"Belum mencoba sudah menyerah?" tanya Archen.

Sera memiringkan kepalanya untuk melihat Archen.

"Bagaimana kalau kalian bertanding lari saja saat pelajaran olahraga?" usulnya.

"Itu juga ide bagus," jawab Archen.

"Bagaimana, sayang?" Archen meminta pendapat Monica.

"Oke. Dengan syarat kau tidak menggunakan kekuatan supermu," jawab Monica.

"Setuju!" ujar Archen.

"Taruhannya apa?" tanya Sera bersemangat.

Monica melotot pada Sera membuat gadis itu diam.

"Aku tidak mau bertaruh. Kau pasti akan mengalah dan membiarkanku menang," katanya pada Archen.

"Begini saja, jika kau menang, kau boleh minta apa saja dariku. Pasti akan aku berikan. Tapi kalau aku menang, aku akan terang-terangan menunjukkan kepada semua orang kalau kau adalah milikku. Dengan begitu kau pasti akan berusaha menang, bukan?!" jawab Archen sambil menatap Monica.

"Itu terdengar cukup bagus. Sayangnya aku tidak bisa melihat," ujar Sera.

"Kenapa tidak? Kita akan bertanding saat jam istirahat supaya yang lain juga bisa melihat," balas Archen.

"Wah, kalau begitu aku harus memberitahu Isabelle dan Melisa juga," kata Sera.

Archen menatap Monica yang juga sedang melihatnya dengan sinis. Archen justru tersenyum menggoda Monica.

bersambung...

1
💖 sweet love 🌺
awalnya seru sih, tp makin kesini makin kyk drama..
💖 sweet love 🌺
mustahil, dia itu vampir murni..
bisa lihat apa aja yg udah terjadi, bahkan yg akan terjadi
Riris Marpaung
Biasa
Riris Marpaung
Buruk
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖: terima kasih sudah mengikuti karya ini kakak. kalau boleh tahu bagian mananya yang buruk ya? mungkin untuk kedepannya akan saya perbaiki.
total 1 replies
gian rasyid
waahhhh....seru banget....aq suka cerita nya
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖: terima kasih. ikuti terus ceritanya ya😊
total 1 replies
〈⎳🥑⃟HIATUS
namanya juga manusia
〈⎳🥑⃟HIATUS
jangan-jangan hantu
〈⎳🥑⃟HIATUS
kasihan banget
Zuu
Isabelle blak2an banget moga aja hati Monica tidak tertusuk oleh kata2 itu
༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§ ᴮᵉᵉ ⃝•Offff👏 🅠🅛
kasian Sera teman nya malah mengatainya dengan si mulut bencana padahal dia cuman memberitahu mereka
༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§ ᴮᵉᵉ ⃝•Offff👏 🅠🅛
wah ada apa dengan lonceng itu??
༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§ ᴮᵉᵉ ⃝•Offff👏 🅠🅛
wah keren ceritanya kak author
𝔉𝔢𝔯𝔬𝔫𝔦𝔫𝔞ʚɞ⃝🍀ᰔᩚ℠
apakah betsy kenal dengan Archen?
𝔉𝔢𝔯𝔬𝔫𝔦𝔫𝔞ʚɞ⃝🍀ᰔᩚ℠
ciee Archen cemburu nih!
𝔉𝔢𝔯𝔬𝔫𝔦𝔫𝔞ʚɞ⃝🍀ᰔᩚ℠
begitu kali hidup sebagai seorang putri bangsawan. apa-apa dilayani
Zuu
Nathan baik banget 😭
Zuu
untung Monica gak terpeleset
Zuu
ikut nimbrung tiba2
Zuu
kasian Monica udah ditinggal orang tuanya, diusir pula sama keluarga Allen padahal Monica udah gak punya siapa2
Ira Zayn
sungu luar biasa
i'm really really
Like
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖: terimakasih sudah mampir n mendukung karya ini
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!