Setelah terjadinya hujan meteor di penghujung malam tahun 2050, makhluk menyerupai monster serta dungeon yang biasanya hanya ada dalam cerita fiksi mulai bermunculan di Bumi.
Para monster yang terus bermunculan mulai memburu manusia, dan setelah satu tahun berlalu sudah lebih dari 30 persen umat manusia dimangsa oleh para monster.
Disaat umat manusia mulai berputus asa menghadapi monster yang jumlahnya semakin banyak, muncullah sekelompok orang dengan kekuatan khusus yang menjuluki diri mereka sebagai seorang hunter.
Dan sejak kemunculan para hunter, sejak itulah dimulai era baru pertarungan antara manusia melawan para monster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa Liar Usia Remaja
Pertarungan Hiro dan Noel terus berlanjut, dan 30 detik sudah berlalu sejak mereka mulai bertarung. Dari dua aura kekuatan yang sedang bertarung, salah satu aura perlahan mulai melemah.
Aura itu adalah milik Hiro yang sejak awal sudah menggunakan kekuatan penuhnya untuk bertarung.
Kekuatan Hiro dapat di setarakan dengan hunter tingkat A, tapi dengan lawannya yang seorang hunter tingkat S yang sedikit lagi akan meningkat ke tingkat SS, tentu Hiro bukanlah lawan yang sebanding untuk lawannya.
Tepat satu menit pertarungan itu berakhir. Hiro yang dapat bertahan selama satu menit dapat dikatakan kalau dialah pemenangnya, walau keadaannya saat ini sangatlah kurang baik.
“Aku tidak menyangka kalau kamu sanggup bertahan selama satu menit dan membuatku cukup berkeringat.” kata Noel dengan senyum kepuasan yang menghiasi wajahnya.
“Setelah beristirahat, aku akan memberikan hadiah yang sudah aku janjikan.” kata Noel lalu dia pergi bersama dua wanita yang bertugas sebagai pelayannya.
Begitu Noel pergi, tiba-tiba Hiro roboh tapi dia masih sadar. “Terlalu memaksakan diri sampai seluruh cadangan energi ku terkuras habis.” gumamnya sambil mencoba mengumpulkan energi untuk kembali mengisi cadangan energinya.
Teman-teman Hiro yang merasa khawatir dengan keadaannya, dengan segera mereka berlari ke arah Hiro, termasuk Luna dan Shana. Mereka sama-sama ingin memastikan keadaan Hiro.
Hiro yang sudah memulihkan 5 persen cadangan energinya, dia perlahan bangkit dan menyapa teman-teman nya yang berdiri mengelilinginya.
“Aku tidak apa-apa. Aku barusan cuma kehabisan energi, bagaimanapun juga Noel bukanlah hunter yang satu tingkat denganku.” kata Hiro sambil menunjukkan senyumannya.
Teman-teman Hiro yang sedang mengelilinginya, segera mereka merasa lega setelah melihat dan memastikan sendiri keadaan Hiro.
“Kelas hari ini di bubarkan, dan untuk kalian bertujuh, ikut aku ke ruang guru! Satu lagi, kalian berdua juga ikut.” guru Mort menunjuk Luna dan Shana.
“Kalian ikut saja dengan pak tua Mort, aku akan menyusul kalian setelah menghukum sekumpulan orang lemah.” kata Fanesa sambil menatap tajam kearah para muridnya.
“Baik, kami akan ikut dengan kalian.” kata Luna setelah mendengar apa yang dikatakan Fanesa.
“Kalian semua ikuti saja aku.” kata guru Mort pada Hiro dan teman-teman nya.
Hiro dan teman-temannya mengikuti guru Mort, dan tak lama berjalan akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang dari dalam ruangan itu dapat melihat apa saja yang sedang dilakukan para murid akademi di lapangan latihan.
Guru Mort menjelaskan pada seluruh murid yang mengikutinya kalau saat ini mereka sedang berada di ruangan kepala akademi, seorang hunter tingkat A yang mungkin tak lama lagi akan naik tingkat menjadi hunter tingkat S.
Mendengar penjelasan guru Mort, Hiro dan yang lainnya segera menganggukkan kepala, dan saat ini mereka tetap berdiri tenang di ruangan itu sambil menunggu kedatangan kepala akademi.
Tak lama, seorang wanita berambut abu-abu datang dan langsung duduk di tempat duduk milik kepala akademi. “Mort, di sini banyak kursi, kenapa kamu membiarkan mereka semua berdiri?.” kata wanita berambut abu-abu.
Guru Mort cengengesan sendiri mendengar itu, lalu dia segera menyuruh Hiro dan yang lainnya untuk duduk di tempat duduk yang memang disiapkan untuk tamu yang berkunjung ke ruangan kepala akademi.
Wanita berambut abu-abu yang melihat semua orang telah duduk dengan tenang, dia mulai memperkenalkan dirinya. “Kalian bisa memanggilku bu Felicia, dan aku kepala akademi ini.”
Hiro dan yang lainnya menganggukkan kepala, lalu mereka kembali tenang karena ini segera mengetahui tujuan dari kepala akademi memanggil mereka ke ruangannya.
“Aku memanggil kalian karena ada yang ingin aku berikan pada kalian.” Felicia memberikan gelang hunter pada Hiro dan enam orang temannya, karena Luna dan Shana telah memiliki gelang hunter, Felicia memberi mereka masing-masing sebuah book skill.
Hiro dan keenam temannya segera memakai gelang hunter yang melambangkan kalau mereka telah diakui sebagai seorang hunter. Selain gelang hunter, mereka juga mendapatkan kartu Identitas seorang hunter dimana warna kartu itu akan berubah sesuai dengan tingkat kekuatan mereka.
Nana, Yuna, Olivia dan Lux, kartu Identitas hunter mereka berubah warna menjadi biru yang menandakan kalau mereka telah menjadi seorang hunter tingkat C. Sementara Axel, kartu Identitas hunter miliknya berubah warna menjadi coklat saat berada di tangannya yang menandakan dia masih berada di tingkat D.
“Kenapa punyaku justru berubah warna menjadi transparan?.” kata Hiro sambil menunjukkan kartu hunter yang sebelumnya berlatar warna putih, kini kartu itu justru terlihat bening transparan selayaknya kaca.
Semua orang saling melihat satu sama lainnya setelah melihat kartu hunter milik Hiro. Mereka semua memiliki pemikiran yang sama, walau tak sejenius Noel, mereka semua yakin kalau Hiro adalah sosok remaja paling jenius di negara yang dia tempati.
“Kenapa kalian justru diam? Apa ada yang salah dengan kartu ini? Atau mungkin kekuatan ku terlalu lemah sehingga kartu ini tak mampu mengukur tingkat kekuatan ku?.” kata Hiro sambil memandang bergantian orang-orang di sekelilingnya.
Bukannya mendapatkan jawaban, Hiro justru mendapatkan injakan kakinya dari Luna yang berada tepat di sampingnya.
“Ini kamunya yang pura-pura tidak tahu atau kamu memang benar-benar tidak mengetahuinya, kartu hunter transparan seperti yang aku miliki, itu menandakan kalau kamu adalah hunter tingkat A.” kata Luna menjelaskan.
“Untuk pertama kalinya sejak hunter pertama terlahir di negara ini, baru kali ini aku menemukan hunter tingkat A di usia belum genap 20 tahun.” ungkap Felicia yang sebelumnya sempat terkejut melihat tingkat kekuatan Hiro yang hampir sama dengannya tingkat kekuatannya.
“Mulai besok kalian tidak akan lagi menjadi bagian dari kelas junior ataupun kelas senior, kalian akan aku rekomendasikan masuk ke kelas elite.” kata Felicia dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Mendengar apa yang dikatakan Felicia, seluruh teman Hiro dan dua seniornya menunjukkan perasaan bahagia mereka. Sedangkan Hiro, dia masih terlihat biasa-biasa saja walau akan direkomendasikan menjadi bagian dari kelas elite akademi yang sudah terjamin masa depannya.
“Baiklah kalian bisa meninggalkan tempat ini kecuali kamu.” Felicia menunjuk Hiro. “Tetap di sini karena ada yang ingin aku bicarakan dengan mu!.” ujarnya.
Semua orang segera pergi meninggalkan ruangan kepala akademi, meninggalkan Hiro yang merasa lebih rileks setelah kepergian semua orang.
Hanya berdua dengan Hiro, Felicia pindah tempat duduk ke sofa panjang yang sebelumnya ditempati teman-teman Hiro. “Kemari, aku tahu kamu sangat lelah setelah pertempuran barusan.” katanya sambil memukul bagian sofa kosong di dekatnya.
Saat Hiro berada di dekatnya, Felicia menarik Hiro dan membuatnya merebahkan diri dengan menjadikan paha miliknya menjadi bantal empuk untuk kepala Hiro. “Setelah lima tahun, bagaimana rasanya tidur di pangkuan bibi mu ini? Apa sudah tidak senyaman dulu?.” kata Felicia yang mana dia adalah adik dari Zizu dari Ibu yang berbeda.
Hiro memejamkan matanya menikmati kelembutan paha milik Felicia yang terakhir kali dia rasakan sekitar 5 tahun yang lalu. “Rasanya masih sama, tapi ini sedikit lebih nyaman dari 5 tahun yang lalu.” katanya dengan kedua mata terpejam.
Senyuman Felicia terlihat saat mendengar perkataan Hiro. “Paha seorang gadis tentu akan terasa nyaman.” ujarnya.
“Apa bibi belum memikirkan sebuah pernikahan? Walau hunter tingkat A dapat hidup lebih dari 500 tahun, apa bibi tidak ingin memiliki seorang pendamping yang akan selalu menemani bibi?.” kata Hiro yang perlahan membuka mata dan memandang wajah Felicia.
“Bagaimana aku bisa menikah dengan orang lain sementara 5 tahun yang lalu sudah ada yang berjanji akan menikahi ku setelah melihat tubuh polosku.” kata Felicia dengan wajah bersemu merah.
Wajah Hiro ikut memerah begitu mendengar apa yang dikatakan Felicia, dan entah kenapa pandangan matanya tiba-tiba tertuju pada dua benda menonjol yang tepat berada di depan wajahnya. “Perasaan dulu tidak sebesar ini.” katanya dalam hati.
Tapi saat dia terus memandang dua benda menonjol yang berada tepat di depan wajahnya, tiba-tiba saja kedua benda itu jatuh menimpa wajahnya. “Daripada di lihat, kenapa kamu tidak berusaha memegangnya secara langsung?.” kata Felicia yang tubuhnya sedikit menjorok ke depan.
Wajah Hiro semakin memerah saat benda kenyal padat layaknya sebuah jeli menimpa wajahnya, dan suhu badannya semakin meninggi setelah dia mendengar apa yang dikatakan Felicia.
Dia merasa ada salah satu bagian dari tubuhnya yang menegang dan terasa semakin keras. “Aku harus berhasil mengendalikan jiwa liarku....” kata Hiro dalam hati.
°°°
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya, terimakasih...