Lika liku kehidupan sehari-hari yang di alami sepasang suami istri antara Aji dan Mika.
Tak pernah lepas dari campur tangan atasan mereka masing-masing di tempat kerja.
Akankah Mika bisa bertahan jika ia mengetahui yang sesungguhnya terjadi pada suaminya.
Dan, apa yang akan di lakukan suami Mika jika ia tahu apa yang di lakukan bos dari istrinya itu ingin menjalin hubungan dengan sang istri.
Aji sedang merencanakan sesuatu agar istrinya bisa memenuhi keinginan orang tuanya.
Sejatinya ia pun menginginkan hal yang sama dari Mika. Sama seperti keinginan mertuanya.
Hasil apa yang akan di dapatkan setelah mereka pulang dari berlibur?
Simak kisahnya di tulisanku yang awut-awutan ini ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Ctiik!
"Ha!! Gue ada ide!" ucap Mika dengan jentikan jarinya.
"Apaan??" terlihat binar di mata Meisya menanti ide yang akan di luncurkan oleh bibir Mika sang sahabat sejatinya. Sedangkan Meisya menatap sahabatnya dengan senyum senang.
Mika membisikkan sesuatu ke telinga Meisya dan hal itu membuat Meisya mendelik mendengar ide cemerlang yang Mika berikan untuknya.
''Gila lu, Mi. Ogah akh!'' Meisya tidak terima dengan ide yang di cetuskan oleh Mika.
Karena, Mika meminta Meisya untuk mengintrogasi Mona tentang Bagas.
''Ya udah, terserah lu aja dah. Gue cuma punya solusi itu doang. Dan untuk cara detilnya lu pikir sendiri''
''Yahh, ntar coba gue pikir-pikir dulu deh ide lu itu. Oh ya, udah malem juga. Gue cabut ya, semoga kabar baik yang gue denger dari lu besok pagi tentang ini..'' Meisya menunjuk alat tes pack yang di pegang Mika lalu ia beranjak untuk pulang.
''Oke, gue akan kabari lu besok. Hati-hati lu pulangnya'' Mika mengantar Meisya hingga ke depan teras dan menghilang di ujung jalan. Mika pun kembali masuk ke rumahnya dan hendak menutup pintu. Tetapi, ia kembali melihat ada mobil yang memasuki pekarangan rumahnya dan itu mobil yang sama dengan yang ia lihat tadi.
Aji keluar dari dalam mobil tersebut dengan menenteng kresek putih di tangan kanannya dan menghampiri Mika yang masih berdiri di depan pintu.
''Hai, sayang. Kenapa cuma berdiri di sini. Ayo masuk'' ucap Aji saat berhadapan dengan Mika di ambang pintu.
''Dari mana kamu!'' tanya Mika dengan dingin.
''Emm, cuma beli makanan aja. Yuk, kita makan dulu. Aku bawain makanan kesukaan kamu'' Aji menuntun Mika untuk masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
''Mobil siapa yang kamu bawa?''
''Itu,...mobil inventaris'' jawab Aji sekenanya.
''Oh!!''
Aji menyiapkan makanan yang tadi ia beli dan menyajikannya ke dalam piring. Lalu, ia berikan kepada Mika.
''Ini, makan lah'' Aji menarik kursi makan dan duduk di sisi Mika. Kembali indra penciuman Mika mengendus bau yang sama dari tubuh Aji. Wangi parfum yang sama dengan yang pernah ia hirup saat itu.
Mika memilih untuk menikmati makan malamnya terlebih dahulu baru nanti dia akan mencecar suaminya dengan banyak pertanyaan dan akan meluapkan emosinya yang sudah ada di ujung tanduk. Karena marah-marah nanti membutuhkan energi yang cukup.
''Aku ingin kamu menjawab jujur, Pa'' ucap Mika sambil menatap serius mata suaminya. Ia baru selesai meneguk air minum.
Aji yang di tatap begitu serius oleh istrinya mendadak menjadi tegang. Makanan yang masih di kunyah mendadak susah di telan. Segera ia meraih gelas minumnya terlebih dahulu, lalu menggak isinya hingga habis.
''Soal..apa, Mi?'' Aji menetralkan mimik wajahnya yang tegang menjadi lebih santai.
''Kenapa akhir-akhir ini kamu sering mendadak pergi dan terkesan buru-buru?''
''Ehm, urusan pekerjaan kok, sayang...'' jawab Aji, matanya tak berani menatap ke arah mata Mika yang masih saja menodongnya.
''Terus, apa maksud kamu menukar obatku!''
Glekk
Aji menelan salivanya yang tiba-tiba kering. Ia baru sadar belum jadi membuang obat itu. 'Bodohh kamu Aji' rutuknya dalam hati.
''Oo, ohh..itu aku, aku hanya ingin memenuhi permintaan ayah dan ibu sayang, kasian kan..mereka sudah benar-benar kepengen'' tukas Aji.
Brraakk!
Mika menggebrak meja dan menegakkan duduknya, membuat piring di hadapannya bergetar.
''Aku sudah bilang sama kamu! aku masih belum siap, Pa!!" Mika terlihat begitu kesal.
"Maaf, sayang. Tapi, untuk kali ini. Tolong kamu mengalah demi kedua orang tuamu" Aji merangkul bahu Mika agar duduk kembali.
"Kamu keterlaluan!!" Mika meninggalkan Aji di ruang makan sendirian dan ia masuk ke dalam kamar.
-
-
Nanti aku lanjut lagi kalo udah dapet ide ya, kiss buat kalian.