NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Satu jam kemudian. Kantin kampus.

Mereka bertiga duduk di meja sudut. Irawan masih bersemangat, seperti biasa. Dimas duduk di ujung meja, menatap Lusi dengan tatapan yang semakin tidak waras.

"Tadi gue keren nggak, Lus?" tanya Irawan. "Gue teriak sekenceng-kencengnya. Sampe suara gue serak. Tapi nggak apa-apa. Demi lo. Semua orang sekarang tahu gue sayang sama lo."

"Bagus." Suara Lusi datar.

"Eh, Lus." Tiba-tiba Dimas bersuara. Suaranya pelan. "Lo... lo lagi ngapain?"

"Makan."

"Bukan. Maksud gue..." Dimas menelan ludah. "Kenapa lo kayak... ngerjain Irawan? Di depan semua orang? Lo sengaja kan?"

Lusi meletakkan sendoknya. Menatap Dimas. "Menurut lo?"

"Lo sengaja." Mata Dimas melebar. "Lo beneran dendem. Lo mau kita semua ngerasain apa yang lo rasain."

"Pintar."

"Tapi kenapa cuma Irawan? Kenapa gue juga..." Dimas tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menunduk, tangannya mengepal di atas meja.

"Kenapa lo juga apa, Mas?" tanya Irawan, bingung.

"Nggak. Nggak apa-apa."

Lusi menatap mereka berdua. Dua laki-laki yang dulu tertawa saat melihat video dirinya. Dua laki-laki yang dulu menganggapnya sebagai hiburan. Sekarang, satu sudah sepenuhnya jadi budak, dan satunya sedang dalam proses.

Tapi di mana dua lainnya?

"Wan. Rendy ke mana? Udah seminggu nggak keliatan."

Irawan mengangkat bahu. "Nggak tau. Terakhir gue denger, dia ngurung diri di apartemennya. Nggak keluar-keluar."

"Kenapa?"

"Katanya... dia nggak bisa berhenti mikirin lo." Irawan mengatakannya dengan nada cemburu. "Dia juga kangen sama lo. Kayak Dimas. Kenapa sih semua orang kangen sama lo? Lo kan cuma punya gue."

Lusi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis.

Rendy ngurung diri. Bayu ngilang. Dimas setengah gila. Dan Irawan jadi budak sepenuhnya.

Tiga dari empat target sudah kena. Tinggal satu lagi.

Bayu.

Apartemen Rendy, kawasan Gajah Mada. Pukul 14.00.

Rendy duduk di lantai apartemennya. Di sekelilingnya, botol-botol vodka kosong berserakan. Layar TV menyala tanpa suara, menampilkan acara musik yang tidak ia tonton. Ponselnya di tangannya, menampilkan foto Lusi.

Foto yang sama. Foto yang diam-diam ia ambil di kantin dulu.

Rendy tidak ingat kapan terakhir kali ia mandi. Tidak ingat kapan terakhir kali ia makan. Tidak ingat kapan terakhir kali ia menjawab telepon dari keluarganya. Yang ia ingat hanyalah Lusi. Lusi. Lusi.

"Kenapa..." bisiknya pada foto itu. "Kenapa gue jadi gini... gue kan cuma... gue kan cuma iseng... lo kan cuma... korban..."

Tapi kata-kata itu tidak lagi berarti. Semakin ia menyebut kata "korban", semakin ia merasa bahwa ia sendirilah korbannya sekarang.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp dari kontak yang baru ia tambahkan semalam setelah ia mencari-cari di grup kampus.

Lusi Arimbi.

Pesan singkat, hanya satu baris:

"Kak Rendy, kangen ya?"

Rendy menatap pesan itu. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya bergetar saat ia membalas:

"Iya. Kangen banget. Gue pengen ketemu lo. Boleh?"

"Boleh."

"Kapan? Di mana? Sekarang? Gue bisa ke tempat lo sekarang."

"Nanti aja. Sabtu. Di kampus. Ada acara."

"Oke. Oke. Sabtu. Di kampus. Gue datang. Pasti."

Dan Lusi tidak membalas lagi.

Tapi Rendy masih menatap layar ponselnya, berharap akan ada pesan lain. Satu kata saja. Satu huruf saja. Apa pun. Asal dari Lusi.

Di dalam dadanya, perasaan itu semakin kuat. Rindu yang tidak wajar. Kangen yang tidak masuk akal. Seperti ada magnet raksasa yang menarik seluruh tubuhnya ke arah Lusi. Dan ia tidak bisa tidak mau melawan.

Rumah kosong di perbatasan Kenjeran. Waktu yang sama.

Bayu duduk bersila di lantai tanah. Di hadapannya, keris kecil itu tergeletak di atas kain putih. Keris itu sekarang bergetar bergetar terus-menerus, seperti ada energi yang mencoba masuk dan keris itu berusaha menolaknya.

Bayu sudah tidak tidur selama tiga hari.

Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Lusi muncul. Setiap kali ia hampir tertidur, suara Lusi membisik di telinganya. Setiap kali ia lengah, bayangan Lusi muncul di sudut matanya.

"Kak Bayu... Kakak di mana? Kenapa sembunyi? Aku kangen..."

"Pergi..." desis Bayu. "Pergi..."

Tapi bayangan itu tidak pergi. Bayangan itu justru semakin jelas. Sekarang, ia bisa melihat Lusi berdiri di sudut ruangan. Tersenyum. Menatapnya.

"Kakak capek, ya? Istirahat aja. Sini... tidur di pangkuanku..."

"PERGI KAU!"

Bayu melempar kerisnya ke arah bayangan itu. Keris itu melesat, menancap di dinding bambu. Bayangan Lusi menghilang seketika.

Tapi Bayu tahu ini belum selesai. Ini belum akan selesai. Selama Lusi masih hidup, selama ritual itu masih berjalan, ia tidak akan pernah bisa tenang.

Ia merangkak ke dinding, mencabut kerisnya. Jemarinya bergetar saat ia menggenggam gagang keris itu.

"Ki Suryo..." bisiknya. "Aku harus ketemu Ki Suryo. Dia yang ngasih keris ini. Dia pasti tahu cara ngatasinnya."

Tapi di mana Ki Suryo? Terakhir kali ia mendengar, dalang tua itu tinggal di daerah Ngampel. Tapi alamat pastinya... hanya sedikit orang yang tahu.

Bayu menghela napas. Ia harus menemukan Ki Suryo. Sebelum Lusi menemukannya terlebih dahulu.

Terminal Bungurasih. Sore harinya.

Bi Tun turun dari bus dengan tas kain di tangannya. Matanya menyipit, menyesuaikan dengan silaunya matahari sore. Ia sudah lama tidak ke Surabaya beberapa tahun terakhir ia hanya di rumah Ki Sarowang, mengurus keperluan sehari-hari.

Tapi hari ini ia di sini dengan misi khusus. Dua misi, tepatnya.

Pertama: mengantarkan kotak kayu kecil ini ke Lusi.

Kedua: mencari informasi tentang Bayu dan kerisnya.

Ia naik ojek menuju Prawirotaman. Sepanjang perjalanan, ia memegang erat tas kainnya di dalamnya, selain baju ganti, ada kotak kayu yang terasa hangat di tangannya. Ia tidak tahu apa isinya. Tapi ia tahu, apa pun itu, pasti penting.

Kost Lusi. Pukul 17.00.

Tok tok tok.

"Nduk? Ini Bi Tun."

Pintu terbuka. Lusi berdiri di ambang pintu, wajahnya sedikit terkejut. "Bi Tun? Kok... ke sini?"

"Diutus Mbah Buyut." Bi Tun tersenyum. "Boleh masuk?"

Lusi mengangguk, mundur selangkang. Bi Tun masuk ke kamar kost yang kecil itu. Matanya menyapu sekeliling kasur, lemari, meja, dan... sisa-sisa ritual yang masih belum dibersihkan sepenuhnya. Lilin-lilin yang sudah jadi genangan beku. Bunga-bunga kering di bokor. Foto-foto dengan bayangan hitam di atasnya.

Bi Tun menatap semua itu dengan wajah yang sulit diartikan. "Kamu udah selesai ritualnya, Nduk?"

"Udah, Bi."

"Dan... berhasil?"

Lusi mengangguk. "Tiga udah kena. Tinggal satu."

"Yang punya keris?"

Lusi tersentak. "Bi Tun tahu?"

"Ki Sarowang yang tahu." Bi Tun membuka tas kainnya, mengeluarkan kotak kayu kecil. "Ini dari beliau. Katanya buat kamu. Jangan dibuka dulu, pesan beliau."

Lusi mengambil kotak itu. Ukurannya kecil, pas di genggaman tangannya. Ukiran di permukaannya rumit pola-pola kuno yang tidak ia kenali. Dan hangat. Sangat hangat.

"Apa isinya, Bi?"

"Bi Tun nggak tahu. Ki Sarowang cuma bilang, simpan baik-baik. Nanti kamu akan tahu kapan waktunya dibuka."

Lusi menatap kotak itu lama. Lalu ia meletakkannya di atas meja, di samping kitab Semar Mesem.

"Ada lagi, Bi?"

"Ada. Ki Sarowang juga minta Bi Tun cari tahu soal anak yang bernama Bayu. Di mana dia sekarang. Dan keris yang dia bawa... Ki Sarowang bilang, itu kerisnya Ki Suryo."

"Ki Suryo?" Lusi mengerutkan dahinya. "Ki Suryo Prawangsa? Dalang wayang itu?"

"Kamu kenal?"

"Aku pernah ketemu. Waktu itu..." Lusi terdiam. Ingatannya melayang ke malam pertunjukan wayang di Alun-Alun Utara. Ingat bagaimana Ki Suryo menatapnya dengan aneh. Ingat bagaimana ia menyebut nama Ki Sarowang.

"Kamu... darahnya?"

Ki Suryo tahu. Ki Suryo tahu bahwa Lusi adalah keturunan Ki Sarowang. Dan sekarang, kerisnya ada di tangan Bayu laki-laki yang jadi target keempat Lusi.

Ini bukan kebetulan.

"Mbah Buyut tahu hubungan antara Ki Suryo dan Bayu?" tanya Lusi.

"Katanya... Ki Suryo itu muridnya. Dulu." Bi Tun menghela napas. "Tapi ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang bikin mereka berpisah. Ki Sarowang nggak cerita lebih lanjut. Cuma... dia bilang, kalau kamu ketemu Bayu dan dia nggak mau nyerahin kerisnya, sebut nama itu. Ki Suryo Prawangsa.”

Lusi menatap kotak kayu di atas meja. Lalu ke foto Bayu yang bayangan hitamnya masih samar. Lalu ke liontin perak di lehernya.

[BERSAMBUNG…]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!