NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015: Menyusun Tubuh Korban

Empat belas kantong hitam tiba di IKF sebelum azan subuh.

Ruang autopsi yang biasanya dingin terasa lebih sempit malam itu.

Jumlah orang bukan masalah utama.

Karena setiap kantong membawa satu bagian dari pertanyaan yang sama.

Siapa korban ini?

Arka berdiri di dekat meja stainless. Di depan pintu, petugas barang bukti menyerahkan formulir rantai penguasaan satu per satu.

"Kantong satu, lokasi belakang kontainer hijau."

"Kantong dua, bak sampah biru."

"Kantong tiga, pagar belakang."

"Kantong empat, saluran air utara."

Adira memeriksa tanda tangan.

Bambang mencocokkan nomor dengan sketsa lokasi.

Dimas berdiri di dekat wastafel, wajahnya sudah lebih baik, tetapi ia tetap menelan ludah setiap kali kantong baru diletakkan.

Pintu ruang autopsi terbuka.

Dr. Suherman masuk dengan jas putih, rambutnya sedikit berantakan. Galang mengikuti di belakangnya, wajah dingin.

Suherman berhenti saat melihat empat belas kantong di meja bantu.

"Empat belas?"

"Semua dari Rungkut," jawab Adira. "Kami butuh identifikasi awal secepat mungkin."

Galang memakai sarung tangan sambil berkata pelan, "Ini pekerjaan besar. Jangan asal cepat."

Arka tidak menoleh.

Ia sedang membaca ulang daftar nomor.

Suherman melihatnya, lalu melihat Adira.

Beberapa detik ruang itu hanya berisi suara kipas exhaust.

Lalu Suherman berkata, "Arka. Kamu yang pimpin. Saya dampingi."

Tangan Galang berhenti.

Dimas langsung menoleh.

Bambang mengangkat alis, seolah baru saja melihat papan nama ruangan diganti.

Arka juga berhenti sesaat.

Di Bab pertama kehidupannya di IKF, ia bahkan tidak diberi hak menyentuh skalpel.

Sekarang dokter senior itu menyerahkan meja utama kepadanya.

"Baik, Dok," kata Arka. "Kita mulai dari dokumentasi ulang. Tidak ada potongan yang dipindah sebelum difoto di posisi awal kantong."

Suherman mengangguk. "Lanjut."

Galang tersenyum tipis. "Cepat sekali memberi perintah."

Arka menatapnya. "Supaya tidak ada yang salah nomor, Mas Galang. Kalau salah, yang malu bukan saya saja. IKF ikut malu."

Senyum Galang kaku.

Label kuning muncul samar.

[Iri]

[Permusuhan meningkat]

Arka mengabaikannya.

Ia membuka kantong pertama di bawah kamera dokumentasi.

"Foto."

Klik.

"Nomor potongan: A1, A2, A3. Ukur panjang, lebar, berat. Catat cairan. Ambil swab luar plastik."

Teknisi bergerak cepat.

Kantong kedua dibuka.

Kantong ketiga.

Kantong keempat.

Setiap potongan diberi kode. Tidak ada yang disebut "daging" lagi. Semua menjadi jaringan, fragmen, bagian anatomi yang harus dikembalikan ke tempatnya.

Setelah dua jam, meja utama penuh wadah baja.

Arka berdiri di tengah, memegang spidol penanda.

"Pisahkan jaringan lunak dan bagian tulang. Yang punya tepi potong panjang taruh sisi kiri. Yang punya permukaan sendi taruh kanan. Jangan campur bagian atas dan bawah sebelum kita pastikan orientasi."

Dimas berbisik ke Bambang, "Dok Arka seperti mandor proyek tubuh."

Bambang menjawab datar, "Kalau kamu bilang keras-keras, kamu yang disusun ulang."

Adira mendengar, tetapi tidak menegur.

Matanya tetap pada meja.

Potongan pertama yang jelas adalah bagian paha.

Lalu panggul.

Sebagian lengan atas.

Bagian dada tanpa kepala.

Beberapa rusuk.

Tidak ada telapak tangan.

Tidak ada kepala.

Arka menyusun potongan itu dengan mengikuti arah luka menuju tubuh asalnya.

Sistem membantu di ujung pandangannya.

Garis kuning tipis muncul di beberapa tepi.

[Orientasi anatomi cocok]

[Fragmen femur kiri]

[Fragmen humerus kanan]

Ia tidak menyebut panel itu.

Tangannya tetap bergerak berdasarkan bentuk tulang, permukaan sendi, arah jaringan otot, dan ketebalan lemak.

Pukul enam lewat tiga puluh, bentuk dasar tubuh mulai muncul.

Dimas tidak lagi bercanda.

Galang juga diam.

Suherman berdiri di sisi meja, matanya mengikuti gerakan Arka dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Perempuan," kata Arka.

Adira langsung mendekat. "Dasar?"

"Bentuk panggul. Sudut subpubik lebih lebar. Ketebalan jaringan dan bentuk fragmen dada mendukung. Perkiraan tinggi sekitar seratus enam puluh tiga sentimeter, toleransi tiga sampai lima sentimeter karena bagian tidak lengkap. Usia kira-kira dua puluh lima sampai tiga puluh lima."

Bambang mencatat. "Kepala dan tangan?"

"Tidak ada di empat belas kantong ini."

Dimas menarik napas. "Sengaja?"

Arka menatap meja. "Kemungkinan besar. Kepala untuk menyulitkan identifikasi wajah. Tangan untuk menghilangkan sidik jari."

Adira mengatupkan rahang. "Berarti pelaku tahu apa yang harus dibuang."

"Atau pernah melihat cara penyidik bekerja. Minimal tahu dasar identifikasi."

Galang akhirnya bersuara. "Kesimpulan terlalu cepat. Bisa saja kepala dan tangan hilang karena tercecer."

Arka menunjuk peta lokasi. "Empat belas kantong tersebar rapi dalam radius lima ratus meter. Bagian kecil ada. Fragmen yang sulit dilihat ada. Tetapi kepala dan dua tangan, bagian paling mudah dikenali dan paling berguna untuk identifikasi, tidak ada. Kebetulan tidak menjelaskan pola itu."

Suherman berkata pelan, "Saya setuju dengan Arka. Catat sebagai bagian belum ditemukan dan kemungkinan disisihkan."

Galang menutup mulutnya.

Label kuningnya berkedip lebih tajam.

[Ketidakamanan profesional]

Arka kembali ke meja.

Ia mengambil satu fragmen tulang panjang. Tepi potongnya punya garis halus berulang.

"Pola ini tidak cocok dengan kapak, parang, atau pisau daging manual."

"Gergaji?" tanya Bambang.

"Gergaji bertenaga. Lihat pola gerigi ini. Jaraknya konsisten, tekanan stabil. Pada tulang ada bekas panas ringan di tepi karena gesekan."

Adira menatap fragmen itu. "Jenisnya?"

"Kemungkinan gergaji tulang elektrik. Alat yang biasa dipakai di pemotongan daging besar atau fasilitas yang punya akses alat potong beku."

"Rumah sakit?" tanya Dimas, wajahnya menegang.

Arka menggeleng. "Kalau dari rumah sakit, pola penanganan dan limbahnya beda. Ini lebih kasar. Lebih cocok lingkungan pemotongan atau cold storage."

Suherman mengambil kaca pembesar, melihat tepi tulang, lalu mengangguk lambat.

"Bekas gerigi berulang. Anak ini benar."

Anak ini.

Galang mendengar itu dan menunduk lebih dalam.

Arka mengambil sampel kecil cairan dari dasar salah satu kantong. Ia mendekatkan pada cahaya, lalu mencium sangat singkat dari jarak aman.

Baunya membawa petunjuk tambahan.

Ada bau kimia tipis.

Panel abu-abu muncul.

[Jejak lingkungan: kontaminasi amonia mikro]

[Kemungkinan paparan: sistem pendingin lama]

[Relevansi: fasilitas cold storage berbasis amonia]

Arka menahan napas.

Label ini menunjuk jenis jejak lain.

Ini petunjuk lingkungan.

Lebih berbahaya jika ia salah bicara.

"Bu Iptu," katanya. "Minta lab uji cairan dan swab permukaan plastik untuk residu amonia."

Adira langsung bertanya, "Amonia?"

"Ada bau kimia tipis yang tidak cocok dengan pembusukan biasa. Beberapa fasilitas pendingin lama memakai sistem amonia. Kalau hasil lab mendukung, kita bisa persempit dari semua gudang beku ke cold storage lama."

Kevin yang sejak tadi menunggu di sudut langsung membuka laptop. "Saya bisa tarik data dinas perdagangan dan daftar gudang berizin."

Adira menoleh. "Sekarang."

"Siap."

Bambang mendekat ke Arka. "Berapa banyak gudang beku di Surabaya yang masuk ukuran besar?"

Kevin menjawab sebelum Arka. "Saya cek cepat. Yang terdaftar besar dan menengah, dua puluh tiga. Kalau yang di sekitar Rungkut dan punya cold storage aktif, sebelas."

Arka berkata, "Saring yang pakai sistem amonia lama. Refrigeran modern turunkan prioritas. Pelaku butuh tempat membekukan tubuh minimal tujuh puluh dua jam. Freezer rumah tidak cukup. Butuh ruang, suhu stabil, dan akses tanpa banyak saksi."

Kevin mengetik cepat.

Ruang autopsi kembali sunyi, kecuali suara keyboard dan alat stainless.

Pukul delapan lewat dua puluh, daftar pertama keluar.

"Sebelas fasilitas di radius operasi Rungkut," kata Kevin. "Tiga memakai atau pernah terdaftar memakai sistem amonia lama. Dua aktif. Satu statusnya gudang sewa sebagian, pemilik lama pabrik pengolahan daging."

Adira menatap layar. "Nama."

Kevin memutar laptop.

"PT Segar Laut Timur. Gudang Beku Mandala. Dan satu kompleks lama: bekas Rumah Potong Rungkut Blok Dua. Sekarang disewakan per ruang."

Bambang menunjuk nama terakhir. "Bekas rumah potong. Cocok dengan gergaji tulang."

"Belum cocok," kata Arka. "Baru layak jadi prioritas. Kita tetap butuh bukti fisik."

Adira memandangnya sebentar.

"Itu sebabnya kamu di sini."

Ia mengambil HT, lalu berbicara ke tim luar.

"Siapkan tiga tim. Satu ke Segar Laut Timur, satu ke Gudang Beku Mandala, satu ikut saya ke bekas Rumah Potong Rungkut Blok Dua. Minta surat administrasi penggeledahan diproses paralel. Kita mulai dari pemeriksaan legal, kalau ada indikasi kuat langsung naikkan."

Suherman berkata, "Pemeriksaan tubuh belum selesai."

Arka melepas sarung tangan pertama, lalu memakai yang baru. "Saya lanjutkan sampai sampel siap kirim lab. Tapi arah lapangan sudah bisa bergerak."

"Kamu sudah kerja sejak malam," kata Suherman.

"Korban lebih lama menunggu, Dok."

Tidak ada yang membantah.

Pukul sepuluh kurang, bentuk tubuh yang bisa disusun sudah mencapai sekitar tujuh puluh persen.

Tanpa kepala.

Tanpa kedua tangan.

Dengan tepi potong yang terlalu rapi untuk pembunuh panik.

Adira berdiri di dekat pintu, jaketnya sudah kembali dipakai.

"Dok Arka."

Arka menoleh.

"Saya ke Rungkut malam ini. Tiga titik. Kamu ikut setelah laporan awal selesai."

"Siap."

"Kalau tebakanmu benar, kita tidak sedang mencari tempat pembuangan. Kita mencari dapur kerja pelaku."

Arka melihat potongan tulang di bawah lampu.

Garis gerigi itu masih terlihat seperti tanda tangan.

"Bukan tebakan, Bu."

Adira menunggu.

Arka berkata pelan, "Ini cara kerja. Dan orang yang punya cara kerja biasanya akan meninggalkan alatnya di tempat yang ia rasa aman."

Adira membuka pintu.

"Kalau begitu, malam ini kita datangi tempat amannya."

Panel sistem menyala tipis.

[Misi diperbarui: lacak lokasi pemotongan]

Di meja autopsi, tubuh tanpa wajah itu tetap diam.

Tetapi untuk pertama kalinya sejak ditemukan, ia mulai memberi arah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!