Melati dan Rayan sudah 5 tahun menikah, tapi mereka belum di karuniai keturunan. Di usia 5 tahun pernikahan mereka melakukan pemeriksaan kesehatan, dan hasil nya Rayan yang bermasalah.
Dokter Silvi, sahabat nya Melati memberi saran pada Melati agar Melati mengatakan bahwa diri nya yang mandul. Maka Melati akan melihat seperti apa wajah asli mereka, dan Melati pun menerima saran itu.
Setelah mengatakan hal itu, Melati di perlakukan bak pembantu. Rayan datang dengan membawa wanita hamil yang diakui sebagai anak nya.
Di hari syukuran kelahiran anak nya, Rayan mengundang Melati dan menghina nya di depan banyak orang. Melati lalu memberikan surat hasil pemeriksaan yang asli, Rayan dan kekuarga nya tidak percaya dengan hal itu.
Tapi setelah memeriksa keaslian surat itu, dan melakukan tes DNA maka mereka baru tahu bahwa anak itu bukan anak nya Rayan. Dan saat itu juga Rayan juga sudah di tipu oleh istri baru nya, harta nya sudah di bawa lari oleh wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
Setelah selesai makan malam, Melati bergegas membereskan meja makan. Walaupun di rumah ini ada pembantu, Melati tetap melakukan semua pekerjaan di rumah ini. Rayan dan keluarga nya sudah berkumpul di ruang keluarga, Melati datang menemui mereka semua.
"Silahkan di minum, ini teh nya!" Melati menyajikan teh hangat di atas meja.
Keluarga ini punya kebiasaan minum teh hangat sambil makan cemilan, setelah selesai makan malam. Mereka bisa nya berbincang - bincang sebelum tidur.
"Mel, bagai mana dengan hasil tes kesehatan itu?" Rayan membuka obrolan dengan mengajukan pertanyaan pada Melati.
"Oh itu, hasil nya,,,!" Melati berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapan nya.
"Bagai mana hasil nya Mel? Cepat katakan!" Desak Bu Arum.
"Hasil nya kau baik - baik saja mas, aku yang bermasalah!" Jawab Melati.
"Apa??? Jadi kau mandul?" Teriak bu Arum dengan suara yang memekak kan telinga nya.
Semua orang di sana langsung terkejut mendengar ucapan Melati, Melati melihat wajah mereka satu persatu.
"Jadi kau memang tidak bisa mengandung? Wajar saja 5 tahun menikah, kau tidak kunjung hamil!" Bu Arum berkata dengan ketus.
Kata - kata yang keluar dari mulut bu Arum, telah melukai hati Melati. Dia tidak menyangka ibu mertua yang sangat dia hormati selama ini, bisa berubah hanya dalam hitungan detik.
Rayan juga diam, dia tidak mengatakan apapun pada Melati. Tapi Melati tahu, dari raut wajah nya seperti nya dia sangat marah pada Melati.
"Ibu mau ke kamar, ibu lelah dan mau istirahat!" Tiba - tiba bu Arum bangun dari tempat duduk nya.
Pak Ilham pun melakukan hal yang sama, dia bangun dari tempat duduk nya dan menyusul istri nya masuk ke dalam kamar mereka.
Rayan pun melakukan hal yang sama, dia segera bangun dan beranjak dari sana tanpa bicara sepatah kata pun pada Melati.
"Kau mau kemana, Mas?" Tanya Melati.
"Aku mau melihat keadan ibu!" Jawab Rayan dengan ketus.
Rayan langsung berlalu dari hadapan Melati, tanpa bicara sepatah kata pun. Hati Melati terluka dengan sikap Rayan dan keluarga nya, padahal baru beberapa detik saja Melati mengatakan hal tersebut.
'Mungkin, Silvi memang benar. Aku bisa mengetahui wajah asli mereka semua, saat aku memiliki kekurangan!' Batin Melati di dalam hati nya.
Melati mengusap wajah nya dengan kasar, dia merasa aura hangat di rumah ini mendadak mulai menghilang. Sikap Rayan dan keluarga nya mulai berubah, dan kini Melati hanya duduk sendiri di sini.
Sementar itu Rayan sudah menyusul orang tua nya, mereka bicara bertiga di dalam kamar itu.
"Rayan, sekarang kamu tahu kan bahwa Melati itu tidak berguna sama sekali. Jadi untuk apa kau terus mempertahankan wanita mandul itu?" Bu Arum berkata pada putra nya.
"Ibu mu benar Yan, kau bisa cari wanita lain yang jelas- jelas bisa memberi mu keturunan!" Pak Ilham juga ikut berkata.
"Jadi kalian setuju jika aku menikah lagi?" Tanya Rayan pada kedua orang tua nya.
"Iya, kami setuju! Buat apa terus mempertahankan wanita mandul itu!" Bu Arum kembali berkata.
"Rayan, kamu itu laki - laki. Hidup mu tidak akan berguna jika kau tidak punya keturunan!" Kembali pak Ilham berkata.
"Tapi pak, bagai mana dengan Melati. Kita butuh harta nya, setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk kebutuhan rumah ini jika Melati ada di sini!" Rayan kembali berkata.
"Rayan, kamu jangan bodoh. Saat ini perusahaan keluarga kita maju pesat dan kita tidak butuh uang dari wanita mandul itu. Jika dia tetap tidak mau berpisah dengan mu, maka kita jadikan saja dia babu di rumah ini. Kita jadikan dia pelayan untuk membesarkan anak mu nanti!" Bu Arum berkata pada Rayan.
"Iya Rayan, ibu mu benar sekali. Jika dia tidak mau berpisah, maka kita jadikan dia pelayan kita di rumah ini. Tapi jika dia setuju untuk berpisah, maka dia harus mengganti rugi semua biaya yang kau keluarkan untuk diri nya selama 5 tahun terakhir ini. Bagai mana? Kau setuju kan dengan usul Ayah mu ini?" Tanya pak Ilham.
"Aku setuju, baik lah dalam waktu dekat ini aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian!" Rayan berkata sambil tersenyum.
"Siapa dia? Kasih tahu ibu!" Bu Arum sangat senang mendengar nya.
"Mau mengenal nya sudah 9 bulan belakangan ini, dan aku sudah menjalin hubungan dengan nya sejak 6 bulan yang lalu!" Rayan berkata dengan jujur kepada orang tua nya.
"Rayan, kenapa kau baru mengatakan nya sekarang pada ibu?" Tanya bu Arum dengan kesal.
"Aku takut ibu tidak akan meresti hubungan kami, jadi aku sengaja merahasiakan nya!" Ucap Rayan lagi.
"Rayan, ibu setuju asalkan wanita itu bisa memberi mu keturunan. Benar kata bapak mu, 5 tahun ini kau sudah menghabiskan banyak uang demi wanita mandul itu. Dan sekarang sudah saat nya dia mengganti rugi semua nya!" bu Arum kembali berkata.
Malam ini, keluarga itu mulai merencanakan hal yang tidak baik untuk Melati. Kebaikan yang mereka tunjuk kan selama ini ternyata palsu.
Melati yang saat ini sedang duduk sendirian di ruang keluarga, dia berdiri dan segera menuju ke kamar nya. Teh hangat yang dia siapkan tadi, kini sudah dingin. Tidak ada yang menyentuh nya sama sekali, dingin nya air teh itu sedingin sikap mereka pada Melati malam ini.
Saat berjalan menuju ke kamar nya, Melati melewati kamar mertua nya yang berada di dekat tangga. Melati berhenti di depan pintu kamar itu, dia menatap lama pada pintu yang tertutup rapat.
'Apa yang sedang mereka bicarakan di dalam? sepenting itu kah? Sehingga aku tidak boleh mendengar nya?" Melati bertanya di dalam hati.
Melati pergi ke lantai atas, di mana kamar nya dan Rayan berada. Melati menunggu Rayan, tapi hingga malam semakin larut Rayan tidak kunjung datang ke kamar ini.
"Mas Rayan, kau bersikap seperti ini pada ku saat aku bilang bahwa aku yang bermasalah. Andaikan saja kau tahu, bahwa bukan aku yang mandul, tapi diri mu!" Melati berbisik pada diri nya sendiri.
Melati teringat ucapan Silvi tadi sang, untuk melihat wajah asli mereka semua. Dan untuk membuktikan ketulusan Rayan dan keluarga nya, maka Melati harus mengatakan hal seperti ini pada Rayan dan keluarga nya.
'Silvi, mungkin saran mu memang benar. Jika mereka tulus, maka mereka pasti menerima ku. Tapi jika mereka tidak tulus, maka aku akan bisa melihat wajah asli mereka tidak lama lagi!' Batin Melati di dalam hati.
Melati membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur, tapi mata nya tak mau terpejam. Saat ini dia masih menunggu kedatangan Rayan, seperti nya Rayan masih bicara dengan orang tua nya.
terus sehat dan semangat 😍💪