Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi mendekati Lily
"Kak Lily! Ini Malik bawain roti kesukaanmu!", Suara lantang Malik langsung menggema begitu ia memasuki rumah. Namun, ia tidak mendapati sosok Lily di ruang tamu.
"Kak Lily... kamu di mana, my honey bunny sweetie?", Suara Malik semakin keras hingga terdengar sampai ke dapur.
Di balik dinding dapur, Lily langsung memejamkan mata sambil mengembuskan napas panjang.
"Bener-bener hari sial nggak ada di kalender," gumamnya pelan sambil mengacak rambutnya sendiri. "Udah kecebur di sungai, sekarang harus ketemu anomali satu itu lagi."
Owen yang sedang mengaduk minuman hanya terkekeh pelan. "Udah sana, samperin si Maliknya."
Lily langsung menggeleng cepat. "Nggak mau ih kak."
Sementara itu, Kino yang berdiri tak jauh dari pintu dapur memperhatikan semuanya dengan bingung.
"Siapa sih dia? Berani banget manggil Kak Lily pakai sebutan 'my honey bunny sweetie'..." Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak mendengar panggilan itu.
"Nah, itu dia!" Malik akhirnya menemukan Lily. "My honey bunny sweetie, kok kamu kurusan sih?"
Nada bicaranya terdengar penuh kekhawatiran.
"Tapi tenang aja Your husband udah siap siaga bawain makanan kesukaanmu." Ia mengangkat sekotak roti cokelat dengan bangga.
"Huek..." Wafa spontan memasang wajah ingin muntah.
"Najis My honey, your husband. Sok Inggris banget, lu."
Malik langsung melotot.
"Diam, lu, Wafa!"
Setelah itu, ekspresinya berubah secepat kilat. Ia kembali menatap Lily dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
"Nih, my honey bunny sweetie", Malik menyodorkan sekotak roti cokelat ke arah Lily.
Lily menerimanya sambil tersenyum canggung. "Makasih ya, Lik."
Baru saja ia hendak pergi...
"Eh, my honey bunny sweetie mau ke mana?" Malik langsung mengekor di belakangnya. "Masa nggak kangen sama your husband sih?"
Suara sedih yang dibuat-buat itu membuat semua orang langsung menahan tawa.
"Udah duduk sini aja, Dek." Rafa ikut menggoda adik perempuannya.
"Aku mau ke dapur bantu Kak Owen."
"Aku ikut." Malik kembali melangkah mengikuti Lily.
Melihat itu, Ell langsung berdiri. "Stop ngejar-ngejar Kak Lily!"
Semua orang menoleh.
"Soalnya Kak Lily nggak suka sama kamu Abang!"
Sesaat suasana menjadi hening.
Lalu...
"Hahahahaha!"
Gelak tawa langsung memenuhi ruang tamu. Wajah Lily berubah merah padam.
"Stop bikin gue malu bisa nggak sih..." gumamnya sebelum buru-buru berlari menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Lily langsung meletakkan kotak roti di atas meja.
"Kak"
"Hm?"
"Lain kali bilangin ke Wafa ya"
"Bilang apa?"
"Kalau cari temen tuh yang normal", Lily melipat kedua tangannya. "Punya temen satu aja sifatnya udah kayak anomali."
Owen tertawa sampai bahunya ikut berguncang. "Ya disyukurin aja, Dek."
"Lagian tiap Malik ke sini selalu bawain makanan kesukaanmu, kan?"
Lily langsung memukul pelan lengan Owen.
Bug!
"Aduh!", Owen meringis sambil mengusap lengannya.
"Sakit, Dek"
"Rasain"
Beberapa detik kemudian, tatapan Lily beralih ke arah ruang tamu.
"Kak..."
"Hm?"
"Kalau yang duduk di samping Bang Rafa itu siapa?", Owen melirik adiknya dengan senyum jahil.
"Lho, kok malah nanyain dia? Jangan-jangan...", Owen sengaja menggantung kalimatnya. "Kamu suka lagi sama dia?"
"Apaan sih, Kak!", Lily langsung memukul lengan Owen sekali lagi.
"Enggak"
"Cuma... kayaknya nggak asing aja, Perasaan Lily pernah ketemu dia deh"
"Oh ya?", Owen tersenyum tipis.
"Kalau gitu ayo kenalan", Ia langsung menarik pergelangan tangan Lily.
"Nggak ah"
"Ayo"
"Nggak"
"Ikut"
"Nggak"
Owen menghela napas. "Pokoknya ikut", Tanpa memberi kesempatan Lily menolak lagi, Owen menarik adiknya menuju ruang tamu.
"Kak Lily!", Ell langsung melambaikan tangan. Semua orang otomatis menoleh.
"My honey bunny sweetie!", Malik berdiri dengan wajah berbinar. Lalu tanpa izin, ia langsung menggandeng tangan Lily lalu mendudukkannya di sofa tepat di sampingnya.
"Eh!"
Lily hanya bisa pasrah.
Ell langsung memasang wajah kesal. "Stop panggil Kak Lily pakai my honey bunny sweetie!"
Malik mengangkat sebelah alisnya. "Emang kenapa, Dek?"
"Soalnya...", Ell melipat kedua tangannya.
"Kak Lily nggak suka"
Malik malah tertawa kecil. "Lagian nanti yang nikah sama Kak Lily kan aku." Ia menunjuk dirinya sendiri dengan penuh percaya diri.
"Abang Malik"
"Yang paling ganteng..."
"...dan paling paripurna."
"Ngarep," Lily menjawab singkat tanpa menoleh.
Sontak seluruh ruangan kembali dipenuhi tawa. Rafa sampai memegangi perutnya.
"Udahlah"
"Dari tadi my honey, your husband mulu, ganti topik kek."
Owen lalu menoleh ke arah Wafa. "Waf", panggilnya. "Yang duduk di sampingmu itu siapa?"
"Oh iya, kalian belum kenal, ya?", Wafa menepuk bahu pemuda yang sedari tadi lebih banyak diam.
"Namanya Sean"
Sean langsung berdiri. "Halo semuanya, kenalin, nama aku Sean." Ia tersenyum sopan sambil sedikit membungkukkan badan.
Owen membalas senyum itu.b"Halo, Sean"
"Aku Owen", Pandangan Owen kemudian tertuju pada kamera yang menggantung di leher Sean.
"Kamu suka fotografi dek?"
"Kok lu tau kak?", Sebelum Owen menjelaskan Wafa sudah lebih dulu kebingungan.
Owen mengangkat telunjuknya ke arah kamera yang dibawa Sean. "Soalnya dari tadi kameranya nggak pernah lepas."
Sean tertawa kecil.
"Iya sih."
"Aku memang suka foto-foto, tapi masih belajar, belum jago."
Lily yang sejak tadi diam akhirnya ikut tersenyum.
"Sean...", Semua mata langsung tertuju kepadanya. "Kakak juga suka fotografi loh." Lily menatap kamera yang dibawa Sean dengan mata berbinar.
"Boleh Kakak pinjam kameranya sebentar?"
Sean tampak sedikit terkejut. Namun melihat antusiasme Lily, ia tersenyum hangat sambil mengangguk.
"Boleh kak"
Dengan hati-hati, Sean melepaskan kamera dari lehernya lalu menyerahkannya kepada Lily. Jari-jari Lily menyentuh kamera itu dengan sangat pelan, seolah sedang memegang sesuatu yang berharga. Kilatan kenangan tentang kamera peninggalan maminya kembali muncul di benaknya, membuat senyum kecil terukir di wajahnya tanpa ia sadari.
Lily menyalakan kamera milik Sean. Matanya langsung berbinar saat melihat hasil jepretan yang memenuhi galeri.
Beberapa foto memperlihatkan langit senja, dedaunan yang diterpa cahaya matahari, hingga potret jalanan yang sederhana namun terlihat indah melalui sudut pandang Sean.
"Bagus-bagus, loh," puji Lily tulus.
Sean yang mendengarnya langsung tersenyum malu. Ia menggaruk tengkuknya pelan.
"Ah... biasa aja, Kak. Aku masih banyak belajar."
"Enggak, serius. Komposisi fotonya bagus. Sudut pengambilannya juga enak dilihat," lanjut Lily sambil terus memperhatikan hasil foto satu per satu.
Pujian itu membuat pipi Sean sedikit memerah.
Di samping Lily, Malik langsung ikut mendekat. Namun niat utamanya jelas bukan melihat foto, melainkan mencari alasan agar bisa duduk lebih dekat dengan Lily.
"Coba lihat juga, my honey bunny sweetie", Malik ikut melongok ke layar kamera.
"Wah... keren juga nih", Ia lalu menoleh ke arah Sean sambil tersenyum lebar.
"Yan, besok kalo gue sama Kak Lily foto prewedding, lu aja ya yang motoin."
Sean yang sedang minum hampir tersedak.
"Hah?"
Sementara itu, Wafa langsung memutar bola matanya. "Najis ah, Lik, ogah gue punya kakak ipar kayak lo."
Rafa ikut menimpali sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Lagian Lily juga belum tentu mau sama lo."
Malik langsung memasang wajah dramatis.
"Ya biarin Malik berjuang dulu, Bang, baru juga mulai udah banyak haters." Ucapan itu sukses mengundang gelak tawa.
"Hahaha..."
Hampir semua orang tertawa.
Kecuali Lily yang hanya menutup wajahnya dengan telapak tangan, Malik yang masih memasang wajah memelas, Ell yang sejak tadi cemberut, dan Kino yang diam memperhatikan semuanya.
Entah kenapa, setiap mendengar Malik memanggil Lily dengan sebutan-sebutan aneh, hati Kino terasa tidak nyaman.
Ia sendiri tidak mengerti kenapa.
Di sisi lain, Javin memperhatikan keramaian keluarga itu sambil tersenyum.
"Rame banget keluarga lo, Raf, jadi pengen ngerasain punya adik kayak gini."
Rafa mendengus pelan. "Tiba-tiba banget pengen punya adik."
Ia lalu mengangkat bahu.
"Ambil aja kalau mau, nih pilih mau yang mana?", Ucapannya terdengar santai, seolah adik-adiknya hanyalah barang yang bisa dipilih sesuka hati.
Javin tertawa kecil.
"Kalau gitu..."
Ia mengangkat tangannya perlahan.
"Yang itu", Telunjuknya mengarah tepat ke arah Lily.
Deg...
Jantung Lily seolah berhenti berdetak sesaat. Tatapan Javin membuat pikirannya kembali mengingat kejadian sore tadi. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam erat kamera milik Sean.
Melihat perubahan ekspresi Lily, Wafa langsung menyeringai jahil.
"Wah...", Ia melirik Javin sambil menaikkan kedua alisnya.
"Jangan-jangan..."
"Lo jadi punya perasaan sama Lily lagi bang gara-gara kejadian sore itu?"
Senyum Javin semakin melebar.
"Bener, Waf", Ia menatap Lily tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. "Sejak kejadian itu..."
"...gue jadi susah tidur tiap malam."
"Hah?"
Rafa yang sama sekali tidak tahu apa-apa langsung mengernyit. "Kejadian apa?, kok gue nggak tahu?"
Sebelum Wafa sempat menjawab, Lily buru-buru memotong pembicaraan, "Udah lah."
"Nggak usah bahas kejadian itu lagi, lagian waktu itu Lily juga nggak sengaja", Nada suaranya mulai terdengar kesal.
Namun Javin justru tertawa kecil, "Sengaja juga nggak apa-apa kok, Ly."
"Malah..."
Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil tersenyum usil.
"...gue seneng."
Seketika suasana ruang tamu berubah hening. Lily langsung menatap Javin dengan wajah memerah, antara malu dan kesal.
Sementara Rafa, Owen, Wafa, Sean, Malik, Ell, dan Kino saling berpandangan, penasaran dengan kejadian yang sebenarnya terjadi sore itu. Ketegangan kecil mulai terasa, seolah ada cerita yang belum diketahui oleh semua orang di ruangan tersebut.
Ell yang sedari tadi menahan kesal akhirnya tak mampu lagi membendung emosinya.
"Udah, stop! Jangan gangguin Kak Lily lagi!", Suara lantang Ell membuat semua orang sempat terdiam.
"Ell...", Kino memanggil pelan.
Ell menoleh, "Kenapa, No?"
"Kita keluar, yuk. Ada yang mau Kino omongin"
Ell mengangguk tanpa curiga.
"Ayo"
Keduanya pun keluar menuju teras depan, meninggalkan keramaian di ruang tengah. Begitu berada di luar, Kino mengembuskan napas panjang.
"Temen-temennya abang kamu kok nyebelin banget sih, Ell?"
Ell ikut menghela napas. "Iya, No. Dari awal Ell emang nggak pernah suka sama Bang Malik."
Ia melipat kedua tangannya. "Terus sekarang malah nambah satu lagi."
"Si sok ganteng itu...."
Kino tertawa kecil mendengar julukan yang diberikan Ell.
Beberapa saat suasana kembali hening. Kino tampak ragu. Ia beberapa kali membuka mulut, tetapi kembali mengurungkan niatnya.
Sampai akhirnya...
"Ell..."
"Hm?"
"Kalau... Kak Lily pacaran sama aku..."
"...kamu setuju nggak?"
"Hah?!", Mata Ell langsung membulat sempurna.
"Apa?!"
Kino menundukkan kepalanya malu. "Sebenarnya...", "Aku udah lama suka sama Kak Lily."
Ell masih mematung.
"Sejak pertama kali kita masuk SMP."
Suasana mendadak sunyi. Ell menatap Kino lekat-lekat, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
"Nggak", Ell menggeleng cepat. "Ell nggak setuju."
"Kenapa?" tanya Kino pelan.
"Soalnya umur kamu lebih muda dari Kak Lily."
Kino tersenyum tipis.
"Ell..."
"Umur itu cuma angka, aku janji bakal jagain Kak Lily, lagian kamu juga tahu kan..."
"Aku jago taekwondo."
Ell menggaruk kepalanya. "Iya juga sih...", Ia mulai berpikir keras.
"Kalo gitu..."
"Ell harus bantu Kino gimana?"
Wajah Kino langsung berbinar. "Nanti sore kan Kak Lily mau pergi sama Kak Owen."
Ell mengangguk.
"Iya"
"Bantu Kino buat batalin rencana itu"
Ell kembali mengangguk pelan.
Entah benar-benar setuju...
...atau justru masih kebingungan dengan semua yang baru saja didengarnya.
Sementara itu, di ruang tengah. Owen menatap Wafa dan Javin bergantian. "Kalian sebenarnya pernah ketemu di mana sih?"
Javin baru saja hendak menjawab. "Waktu itu kita nggak sengaja ketemu di jalan pu—"
"Stop", Wafa langsung memotong. "Biar gue aja yang cerita."
"Sore itu sepulang sekolah..."
"Diam", Lily langsung menyela. "Nggak ada yang perlu diceritain."
"Waktu itu Lily cuma nggak sengaja nabrak Kak Javin, udah. Gitu doang", Nada suaranya terdengar gugup. Ia jelas sedang berusaha menutupi sesuatu.
"Maemunah", Rafa menoleh tajam. "Diam dulu, gue mau denger ceritanya Wafa."
Lily langsung mengembuskan napas panjang. Sementara Wafa menyeringai penuh kemenangan.
"Jadi..."
"Sore itu sepulang sekolah..., seperti biasa Lily berubah jadi Sumala."
"Apa lo bilang?!" Malik langsung berdiri. "Lo nyebut my honey bunny sweetie Sumala?!"
"Aelah!", Wafa memutar bola matanya. "Diam dulu napa, gue tabok juga lu." Ia kembali menyandarkan tubuh ke sofa sambil menyilangkan kedua tangan.
"Lanjut, Dek"
Rafa memberi isyarat agar Wafa meneruskan ceritanya.
"Jadi..."
"Lily ngejar-ngejar gue di pinggir jalan, Terus..., Dia nggak sengaja nabrak Bang Javin."
"Terus Mereka berdua jatuh", Wafa sengaja menghentikan ceritanya beberapa detik. Semua orang mulai penasaran.
"Terus?"
tanya Owen.
"Posisi jatuhnya itu, lho...", Wafa menaikkan kedua alisnya berulang kali. "Lily jatuh di atasnya Bang Javin." Ruangan langsung hening.
"Terus..."
"Mereka ciuman"
"Selesai"
Wafa langsung menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum puas.
"Apa?!"
Seru Malik hampir bersamaan dengan Rafa.
"Jangan ngarang!", Lily langsung berdiri. "Siapa juga yang ciuman!"
Wafa mengangkat kedua bahunya. "Tapi waktu itu...", Ia menunjuk Lily dan Javin secara bergantian. "Muka kalian deket banget."
Malik langsung menggeleng keras. "Nggak mungkin", Ia menoleh kepada Lily. "Iya kan, my honey bunny sweetie?"
Tanpa izin, Malik kembali merangkul bahu Lily. Namun belum sempat tangannya benar-benar melingkar...
Lily buru-buru menepisnya.
"Jangan sembarangan", Lily kembali menatap semua orang.
"Jangan percaya omongannya Wafa, orang bibir kita waktu itu juga nggak nempel", Ucapan Javin itu membuat ruangan kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian...
Javin tiba-tiba tersenyum usil.
"Padahal..."
"Sebenernya gue mau sih"
"Hehe"
"HEH?!"Rafa langsung berdiri dari duduknya. Tatapannya berubah tajam ke arah Javin.
"Wah..., bener-bener ya lo Vin, Kalau lo mau deketin Lily..."
"...langkahin dulu mayat gue."
Javin hanya tertawa kecil melihat reaksi Rafa. Suasana mulai memanas. Namun sebelum ada yang sempat berbicara lagi...
Sebuah suara lantang terdengar dari arah pintu depan.
"Jauh-jauh dari Kak Lily!"
Semua orang spontan menoleh. Di ambang pintu berdiri Ell dengan wajah m
erah padam karena kesal. Di sampingnya, Kino ikut mengepalkan kedua tangannya.
"Dasar buaya sok ganteng!", teriak Ell sambil menunjuk tepat ke arah Javin.
Ruangan mendadak sunyi.
Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa adik bungsu keluarga itu tiba-tiba ikut membela Lily dengan semarah itu. Sementara Javin hanya mengangkat kedua alisnya, antara terkejut dan menahan tawa melihat keberanian Ell. Babak baru keributan di rumah keluarga Jaya pun kembali dimulai.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat