Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Strategi Kucing Lapar
Bonus keberanian dari Tan Darren membuat ponsel Sekar bergetar, tetapi yang benar-benar membuat kepalanya bergetar adalah daftar makanan Tan Ardian.
Setelah turun dari teras, Darren menyeretnya ke dapur seperti orang membawa korban ke ruang operasi.
"Ini versi ringkas," kata Darren sambil menyerahkan dua lembar kertas baru.
Sekar menatap kertas itu. "Versi ringkas?"
"Iya. Yang lengkap ada di map Bu Susi. Itu bisa membuat orang kehilangan semangat hidup."
Di lembar pertama tertulis makanan yang tidak boleh dimakan. Di lembar kedua tertulis makanan yang sebaiknya tidak disajikan kalau ingin hidup tenang. Bedanya apa, Sekar belum tahu. Dua-duanya terlihat seperti daftar larangan masuk surga.
"Tidak suka bawang terlalu matang. Tidak suka bawang kurang matang. Tidak suka tomat yang terlalu lembek. Tidak suka tomat yang terlalu segar." Sekar mengangkat wajah. "Tomatnya harus punya kondisi batin stabil dulu baru boleh masuk piring?"
Darren menatapnya dengan kagum. "Mbak Sekar cepat sekali memahami penderitaan kami."
Sekar membaca lagi. "Tidak makan manis. Tidak makan pedas. Tidak makan santan terlalu kental. Tidak makan yang terlalu kering. Tidak makan yang berkuah banyak."
"Koko itu seperti kucing," bisik Darren. "Tampak mahal, galak, dan kalau salah makanan langsung memandangmu seolah kamu menghina leluhurnya."
"Kucing masih mau makan ikan asin kalau lapar."
"Nah. Koko belum tentu."
Sekar melipat daftar itu, lalu membuka kulkas raksasa yang isinya lebih tertata daripada etalase supermarket premium. Ada dada ayam, telur kampung, sayuran organik, ikan dori, udang, buah impor, dan kotak-kotak kecil tanpa label yang membuatnya curiga ada bahan makanan yang harga satu onsnya bisa membayar listrik rumah Budiman sebulan.
"Makan malam pertama," gumam Sekar. "Kita mulai dari yang aman."
"Aman menurut siapa?"
"Menurut saya."
Darren langsung membuat tanda salib kecil di udara, lalu sadar keluarganya tidak biasa begitu. Ia menurunkan tangan dengan canggung. "Pokoknya aku dukung dari jauh."
Sekar memilih nasi, telur, sedikit ayam suwir, dan sayur cincang. Nasi gorengnya tidak pedas, tidak berminyak, wangi bawang putih tipis, dengan telur yang dibikin lembut. Di rumah, menu seperti ini bisa membuat Engkong Budiman tambah dua piring. Di Rumah Tan, hidangan itu dibawa ke meja makan seperti proposal bisnis yang akan ditolak komisaris.
Ardian sudah menunggu di ujung meja panjang. Atau lebih tepatnya, ia duduk di sana dengan wajah seperti orang dipaksa menghadiri rapat yang tidak ia setujui.
Sekar meletakkan piring di depannya.
"Nasi goreng ayam. Tidak pedas. Minyak sedikit. Sayur dicincang halus."
Ardian melirik piring itu. "Terlalu wangi."
Darren yang berdiri di belakang kursi langsung memejamkan mata.
Sekar masih tersenyum. "Wangi bawang putihnya tipis."
"Aku tidak bilang bawang putih."
"Lalu wangi apa?"
"Wangi usaha terlalu keras."
Darren batuk keras.
Sekar mengambil piring itu kembali tanpa membantah. "Baik. Usaha saya kurangi."
Percobaan kedua adalah sup ayam bening. Kuahnya ringan, daun bawangnya ia sisihkan, potongan wortel dibuat kecil. Ardian hanya mencium aromanya, lalu berkata, "Terlalu hangat."
"Makanan memang umumnya tidak disajikan seperti dendam lama, Pak Tan. Tidak harus dingin."
"Ambil."
Darren berbisik, "Mbak, sabar. Jangan lempar mangkuk. Itu satu set dengan koleksi Mama."
Percobaan ketiga adalah sandwich ayam ala Prancis yang dibuat dengan roti tipis, dada ayam panggang, selada, dan tomat yang menurut Sekar sudah sangat stabil kondisi batinnya.
Ardian bahkan tidak menyentuhnya.
"Roti terlalu pucat."
Sekar memandang roti itu, lalu memandang wajah Ardian. "Pak Tan menilai roti atau calon menantu?"
"Dua-duanya bisa gagal."
Darren menutup wajah dengan dua tangan.
Makan malam pertama resmi gagal.
Sekar membawa tiga piring kembali ke dapur. Asisten rumah tangga lain melihatnya dengan simpati yang sudah berpengalaman. Salah satu dari mereka bahkan menepuk bahu Sekar pelan.
"Biasanya hari pertama memang begini, Mbak."
"Hari kedua?"
Perempuan itu diam.
Jawaban yang bagus. Sangat menenangkan.
Sekar mencuci tangan, lalu menyandarkan pinggang pada meja dapur. Dari ruang makan, ia masih bisa melihat Ardian. Pria itu membuka koran, menutupi separuh wajahnya. Di depannya, meja kosong. Tidak ada makanan, tidak ada minuman, hanya segelas air putih yang tidak ia sentuh.
Darren mendekat dengan wajah bersalah. "Mbak Sekar, mungkin kita pesan GoFood dari restoran yang biasa Koko makan?"
"Kalau dia mau makanan restoran, dari tadi dia bilang."
"Masalahnya, Koko tidak pernah bilang dia mau apa. Dia cuma bilang tidak."
"Berarti dia belum lapar."
Seolah menjawab, dari balik koran terdengar suara kecil.
Kruk.
Sekar menoleh.
Darren menoleh.
Koran di tangan Ardian naik sedikit lebih tinggi.
Kruk.
Kali ini lebih jelas.
Darren menggigit bibir, berusaha tidak tertawa. Bahunya bergetar seperti mesin cuci rusak. Sekar memasang wajah paling sopan yang bisa ia punya.
"Pak Darren," katanya pelan, "di daftar pantangan ada larangan perut bunyi?"
Darren hampir jatuh ke lantai.
Dari balik koran, suara Ardian terdengar dingin. "Aku dengar."
"Bagus, berarti telinga Pak Tan sehat," jawab Sekar. "Saya senang ada anggota tubuh yang kooperatif."
Koran turun perlahan.
Sekar sudah siap dimarahi. Namun Ardian hanya menatapnya sebentar, lalu memutar kursi rodanya keluar dari ruang makan.
"Aku tidak lapar."
Perutnya berbunyi sekali lagi sebelum kursi roda sampai ke koridor.
Darren benar-benar duduk di kursi terdekat karena lututnya lemas menahan tawa.
Sekar memandang punggung Ardian yang menghilang. Di satu sisi, ia ingin menyusul dan memaksa pria itu makan. Di sisi lain, pengalaman bekerja di pet shop mengajarinya satu hal penting: makhluk galak yang merasa terpojok akan makin mencakar kalau dikejar.
Kucing tidak mau makan dari tangan orang baru.
Kucing lapar biasanya datang sendiri, asal mangkuknya diletakkan di tempat yang tepat.
Sekar mengangkat piring nasi goreng pertama yang tadi ditolak. Nasinya masih bagus. Ia memanaskannya sedikit, menambah telur baru, lalu memindahkannya ke mangkuk keramik putih. Tidak terlalu banyak. Cukup untuk orang yang gengsinya lebih besar daripada lambungnya.
"Mbak mau apa?" tanya Darren.
"Strategi Kucing Lapar."
"Apa itu?"
"Jangan dikejar. Jangan dibujuk. Taruh makanan di dekat jalurnya, lalu pura-pura tidak tahu."
Darren menatapnya seperti murid mendapat wahyu. "Itu bisa untuk Koko?"
"Kita lihat saja. Kalau kucingnya lebih keras kepala dari kucing asli, besok saya cari strategi lain."
Malam makin larut. Rumah Tan perlahan tenang. Lampu-lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya hangat di koridor. Sekar membawa mangkuk nasi goreng itu ke dapur kecil dekat ruang tengah, tempat yang mudah dijangkau dari jalur lift menuju kamar Ardian. Ia meletakkannya di ujung meja, tidak terlalu jelas seperti jebakan, tetapi cukup dekat untuk terlihat.
Di sampingnya, ia menaruh segelas air putih.
Tidak ada catatan. Tidak ada bujukan.
Sekar mematikan lampu dapur, lalu berjalan pergi dengan langkah sengaja dibuat ringan.
Sepuluh menit kemudian, dari arah dapur terdengar suara sangat pelan.
Sendok menyentuh mangkuk.
Sekar yang berdiri di balik sudut koridor menahan senyum.
Ternyata kucing mahal tetap kucing juga.