Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Licik di Balik Layar
Kata-kata Mai terus menggantung di kepala Kai seperti kabut beracun yang menolak enyah. Bahkan setelah langkah kaki wanita liar itu benar-benar lenyap ditelan kegelapan koridor, Kai masih berdiri mematung.
Kulit lehernya terasa meremang, bukan karena embusan angin malam yang semakin menusuk, melainkan karena rasa terusik yang teramat sangat. Seringai Mai, dinginnya bilah belati yang sempat menyentuh dagunya, dan peringatan bahwa Hana siap menebasnya... semua itu terasa seperti jaring yang perlahan-lahan menyempit, siap mencekik lehernya kapan saja.
Kai mengepalkan tangannya di dalam saku jubah, mencoba meredam gejolak di dadanya yang kembali memanas.
Siapa sebenarnya yang sedang memegang kendali atas permainan ini?
Langkah kakinya kali ini tidak lagi ragu. Didorong oleh rasa penasaran yang bercampur amarah yang tertahan, Kai berjalan cepat menuju paviliun barat, tempat di mana Rei biasanya menghabiskan malam untuk memeriksa gulungan-gulungan laporan dari perbatasan. Jika ada seseorang yang tahu setiap jengkal pergerakan politik di benteng ini, orang itu pastilah Rei.
Namun, sebelum Kai mencapai pintu kayu berukir paviliun barat, langkahnya mendadak terhenti di balik bayangan pilar batu besar. Sayup-sayup, suara percakapan bernada rendah terdengar dari arah taman dalam yang tersembunyi di samping paviliun.
"Kau terlalu memprovokasinya malam ini, Mai. Kita butuh dia tetap tenang sampai utusan selatan benar-benar menyerahkan dokumen perbatasan itu."
Kai menahan napas. Itu suara Rei. Nada suaranya tidak lagi renyah dan penuh formalitas seperti saat di aula jamuan tadi. Suara itu terdengar dingin, penuh perhitungan, dan tanpa beban.
"Tenang? Ayolah, Rei. Kalau Kai terlalu tenang, gadis suci dari selatan itu tidak akan pernah mengeluarkan kartu as-nya," sahut sebuah suara yang sangat familier. Mai. Suara kekehannya yang renyah namun licik terdengar begitu jelas di keheningan malam. "Aku hanya menyalakan sedikit api di kepalanya. Sifat aslimu yang pura-pura jadi penyelamat klan itu justru yang membosankan."
Kai merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan keras. Sang naga di dalam dirinya seolah ikut bergejolak, marah karena merasa dikhianati. Ia mengintip sedikit dari balik pilar.
Di bawah temaram cahaya bulan, Rei berdiri tegak dengan keanggunan yang biasa ia tunjukkan, namun ekspresi wajahnya begitu datar dan kejam. Di hadapannya, Mai sedang bersandar pada batang pohon kamelia, memutar-mutar belati kecilnya dengan santai. Tidak ada permusuhan di antara mereka. Yang ada justru aura konspirasi yang begitu pekat.
"Hana tidak bodoh," ucap Rei sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Dia membawa pasukan tersembunyi di perbatasan. Jika Kai mengamuk karena provokasimu sebelum perjanjian ditandatangani, seluruh rencana kita untuk mengambil alih jalur perdagangan selatan akan hancur. Aku sudah bersusah payah meyakinkan para tetua bahwa Kai masih bisa dikendalikan."
"Dan aku bertugas memastikan Kai merasa bahwa dia tidak bisa dikendalikan," Mai memotong dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Saat dia merasa tersudut olehku, dia akan berlari padamu untuk mencari perlindungan politik, bukan? Kita bagi tugas dengan adil, Rei. Kau menjadi malaikat pelindungnya di depan publik, dan aku menjadi iblis yang mendorongnya dari belakang."
Rei hanya mendengus pelan, seulas senyum tipis yang sarat akan kelicikan muncul di bibirnya. "Pastikan saja belatimu itu tidak benar-benar menggores lehernya. Kita masih butuh darah Naga Merah di dalam tubuhnya untuk membuka segel gerbang utama bulan depan. Setelah gerbang itu terbuka... kau bebas melakukan apa saja pada pemuda naif itu."
"Tentu saja. Aku tahu batasanku," jawab Mai sambil menangkap belatinya dengan mantap, menghentikan putarannya.
Di balik pilar, Kai merasakan darahnya mendidih hingga ke titik tertinggi. Rasa panas yang biasanya menyiksa kini berubah menjadi bahan bakar amarah yang dingin. Ternyata selama ini, tekanan yang ia terima dari Mai dan perlindungan yang ditawarkan oleh Rei hanyalah dua sisi dari satu koin yang sama. Mereka berdua bersekongkol, menenun jaring kebohongan untuk memanfaatkannya sebagai bidak catur demi ambisi mereka sendiri.
Kai menarik napas dalam-dalam, menekan hawa membara yang hendak meledak dari tubuhnya. Ia tidak boleh gegabah. Sebuah senyuman getir, namun kini dipenuhi dengan tekad yang berbahaya, terukir di wajah Kai.
Kalian ingin melihat naga ini mengamuk? bisik Kai dalam hati, berbalik perlahan dan melangkah mundur ke dalam kegelapan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Maka akan kutunjukkan bagaimana rasanya bermain-main dengan api yang sebenarnya.