Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04
Pagi pertama di kontrakan dimulai dengan suara penjual bubur ayam.
"Bubur! Bubur ayam!"
Kirana membuka mata sebelum azan subuh benar-benar hilang dari udara. Tubuhnya masih pegal, kepala masih berat, tapi ia tidak punya waktu untuk berbaring lama. Hari ini ia harus masuk kerja di Hotel Wijaya.
Ia keluar dari kamar dan menemukan Raka tidur di tikar ruang depan dengan satu lengan menutupi mata. Bantal tipis hampir jatuh dari kepalanya. Kakinya terlalu panjang untuk ruang sempit itu, sampai lututnya sedikit menekuk.
Untuk beberapa detik Kirana diam.
Kemarin hidupnya hancur di hotel.
Hari ini ia punya laki-laki asing di ruang depan.
Ia hampir tertawa, tapi tenggorokannya terasa pahit.
Raka bergerak. Matanya terbuka pelan.
"Kenapa melihat saya begitu?"
"Aku sedang memastikan kamu masih hidup."
"Kecewa?"
"Belum."
Raka duduk, mengacak rambutnya. Wajah bangun tidurnya tetap terlalu rapi. Kirana merasa itu tidak adil.
"Aku berangkat jam tujuh," katanya. "Kamu cari kerja hari ini."
"Iya."
"Serius, Raka."
"Saya serius."
Kirana mengambil ponsel, membuka aplikasi dompet digital, lalu berhenti. Ia menghitung sebentar dalam hati. Setelah kontrakan dan perlengkapan, sisa uangnya menipis. Tapi ia tidak bisa membiarkan Raka kelaparan.
"Nomor e-wallet kamu apa?"
Raka menyebutkan nomor.
Kirana mengirim seratus ribu, lalu berpikir lagi dan menambah dua puluh ribu.
"Itu untuk dua hari. Makan jangan mahal. Kalau bisa sarapan bubur saja. Siang makan nasi di warteg. Malam nanti aku usahakan masak."
Raka melihat notifikasi di ponselnya. "Seratus dua puluh ribu untuk dua hari?"
"Kenapa? Kurang?"
"Tidak. Cukup."
"Wajahmu tidak bilang cukup."
"Saya sedang menghitung."
"Hitung lebih cepat. Hidup orang biasa memang begini."
Raka menatapnya. "Kamu sendiri sarapan apa?"
"Di hotel ada jatah makan staf kalau masuk shift."
"Kalau tidak ada?"
"Aku bisa minum air."
Raka tidak suka jawaban itu. Terlihat jelas dari caranya menatap.
Kirana mengambil handuk. "Jangan mulai menceramahi aku. Kamu yang sedang dibiayai."
"Saya belum bilang apa-apa."
"Matamu sudah."
Ia masuk kamar mandi.
Setelah Kirana berangkat, Raka berdiri di depan pintu kontrakan cukup lama. Gang itu mulai hidup. Seorang ibu menyapu halaman. Anak kecil memakai seragam sekolah berlari sambil memegang roti. Motor lewat pelan karena jalan sempit.
Raka menatap ponselnya.
Seratus dua puluh ribu.
Bima menelepon.
"Pak, saya sudah dapat data sementara. Pelayan semalam bernama Lilis. Dia pekerja kontrak. Setelah kejadian, dia tidak masuk. Nomor ponselnya mati."
"Cari alamatnya."
"Sudah. Tim menuju ke sana."
"Akun gosip?"
"Ada tiga yang pertama mengunggah. Dua sudah menurunkan konten setelah tim legal menghubungi. Satu masih bertahan karena merasa mendapat backing dari keluarga Hendra."
Mata Raka mendingin. "Backing dari siapa?"
"Diduga dari pihak Bu Ratna. Kami masih pastikan."
"Pastikan hari ini."
"Baik, Pak. Untuk jadwal Anda, rapat direksi pukul sepuluh tetap berjalan?"
Raka melihat uang elektronik yang baru dikirim Kirana.
"Pindahkan ke online. Saya tidak datang ke kantor."
"Pak?"
"Saya sedang cari kerja. Buatkan surat keterangan bahwa saya pernah membantu sebagai sopir pribadi."
Raka tersenyum tipis. "Itu berguna."
"Saya kirimkan sekarang."
Raka menutup telepon dan keluar menuju jalan besar. Dari sana, sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh. Sopir turun hendak membukakan pintu, tapi Raka memberi isyarat agar tetap di tempat.
Ia masuk sendiri.
"Ke kantor cabang kecil. Jangan ke pusat."
Sopir mengangguk.
Sementara itu, Kirana tiba di Hotel Wijaya dengan seragam dapur yang masih terasa baru di tubuhnya. Hotel bintang lima itu berdiri tinggi di kawasan Kuningan, dengan lobi marmer, aroma bunga segar, dan orang-orang yang berjalan cepat seolah setiap detik bernilai uang.
Ia melewati pintu staf, bukan lobi utama.
Di dapur, Bowo sudah menunggu. Ayah asuhnya memakai seragam chef, lengkap dengan topi tinggi yang membuatnya tampak lebih penting daripada saat di rumah.
"Akhirnya datang juga," katanya. "Jangan kira karena kamu anak titipan keluarga Hendra, kamu bisa santai."
Kirana menggantung tas. "Aku datang tepat waktu."
"Di dapur hotel, tepat waktu itu terlambat. Harus datang lebih awal."
Kirana menahan napas. "Baik, Pak."
Bowo tampak puas dipanggil begitu di depan staf lain.
Ia mengajak Kirana berkeliling, memperkenalkan area persiapan, cold kitchen, pastry, dan line utama. Beberapa staf menatap Kirana dengan rasa ingin tahu. Mungkin mereka sudah mendengar gosip. Mungkin mereka hanya melihat anak baru.
Kirana tidak peduli.
Atau setidaknya ia pura-pura tidak peduli.
"Tugasmu hari ini bantu potong sayur, cuci bahan, dan lihat cara kerja," kata Bowo. "Jangan sok tahu. Hotel ini bukan tempat praktik anak SMK."
"Aku paham."
Bowo menunjuk tumpukan wortel, buncis, dan jamur. "Potong julienne. Rapi. Jangan buang banyak."
Kirana mulai bekerja.
Pisau bergerak di tangannya dengan cepat dan tenang. Potongan pertama membuat salah satu staf berhenti sebentar. Potongan kedua membuat staf lain melirik. Dalam beberapa menit, tumpukan sayur itu berubah menjadi potongan seragam, tipis, dan rapi.
Bowo kembali sepuluh menit kemudian dan terdiam.
"Siapa yang potong ini?"
Kirana mengangkat tangan. "Aku."
"Jangan bercanda."
"Kenapa aku harus bercanda soal wortel?"
Staf di dekat mereka menahan senyum.
Bowo mengambil satu potongan dan memperhatikan. "Kamu belajar dari mana?"
"Bandung."
"Sekolah murah bisa mengajar begini?"
Kirana menatapnya. "Kalau muridnya mau belajar."
Wajah Bowo mengeras.
Sebelum ia bisa membalas, seorang pria berjas masuk ke dapur. Semua orang langsung lebih tegap.
"Executive chef mana?" tanya pria itu.
"Sedang di ruang banquet, Pak," jawab sous chef.
Pria itu melihat daftar di tabletnya. "Tamu VIP di ruang private minta nasi goreng lobster. Chef utama belum selesai meeting. Siapa yang pegang?"
Bowo langsung maju. "Saya bisa, Pak."
Pria itu mengangguk. "Tamu dari Mahendra Group. Jangan sampai terlambat."
Mahendra Group.
Nama itu membuat beberapa staf berbisik. Kirana pernah mendengarnya. Grup besar yang punya properti, rumah sakit, hotel, dan entah apa lagi. Orang-orang di Jakarta bicara tentang mereka seperti bicara tentang cuaca: selalu ada, besar, dan sulit disentuh.
Bowo mulai menyiapkan bahan dengan gerakan penting. Ia sengaja memanggil Kirana mendekat.
"Lihat. Ini lobster mahal. Satu kesalahan, gajimu setahun belum tentu cukup mengganti."
"Baik."
"Jangan sentuh."
"Baik."
Kirana memperhatikan.
Bowo memang terampil, tapi ia terlalu sibuk menunjukkan diri. Ia membuang waktu untuk plating yang belum perlu, terlalu lama memilih garnish, dan tidak menyadari wajan untuk nasi belum cukup panas.
Lalu wajahnya berubah.
Ia memegang perut.
Sous chef menoleh. "Kenapa, Wo?"
"Perut saya..."
Ia mencoba bertahan, tapi jelas tidak bisa. "Kirana, jaga bahan. Jangan sentuh apa pun. Saya ke toilet sebentar."
Kirana menatap jam.
Pesanan sudah terlambat tujuh menit.
Sous chef sibuk dengan banquet. Staf lain tidak berani mengambil alih karena itu pesanan VIP.
Kirana melihat lobster yang sudah dibersihkan.
Ia mendengar suara Bowo di kepalanya: Jangan sentuh.
Lalu ia mendengar suara lain, lebih dingin: Kalau pesanan terlambat, kamu juga akan disalahkan.
Kirana mencuci tangan lagi, memakai sarung tangan baru, lalu menyalakan api.
"Kirana," bisik salah satu staf. "Mas Bowo bilang jangan."
"Kalau tamu marah, Mas Bowo akan bilang aku yang tidak menjaga."
"Tapi..."
"Aku tahu apa yang kulakukan."
Wajan panas. Minyak masuk. Bawang putih, sedikit bawang merah, cabai halus, telur, nasi dingin yang butirannya terpisah, potongan lobster yang dimasak cepat agar tidak alot. Ia menambahkan sedikit bumbu rahasia yang ia bawa di kotak kecil dari tas, campuran rempah kering yang biasa ia pakai di Bandung.
Aroma langsung memenuhi dapur.
Beberapa staf berhenti bekerja.
Kirana tidak melihat mereka. Tangannya fokus. Nasi naik turun di wajan, api besar menyalakan bunyi yang membuat dapur terasa hidup. Ia menyusun kepala dan ekor lobster sebagai dekorasi, menaruh nasi di tengah, memberi sentuhan daun bawang dan bawang goreng tipis.
Saat runner datang, piring itu siap.
Bowo kembali dua menit setelah piring keluar.
Wajahnya pucat karena sakit perut, lalu semakin pucat saat melihat meja kosong.
"Mana nasinya?"
Kirana melepas sarung tangan. "Sudah dikirim."
"Apa?"
"Pesanan VIP. Sudah terlambat."
Bowo menatapnya seperti ingin meledak. "Kamu gila? Itu tamu Mahendra Group!"
"Justru karena itu tidak boleh terlambat."
"Kalau mereka komplain, kamu tamat. Jangan bawa-bawa nama saya."
Kirana belum sempat menjawab ketika pria berjas tadi masuk lagi.
Bowo langsung maju. "Pak, maaf. Anak baru ini lancang. Dia..."
"Siapa yang masak nasi goreng lobster tadi?"
Dapur hening.
Bowo menunjuk Kirana dengan cepat. "Dia, Pak. Saya sudah larang, tapi..."
Pria itu menatap Kirana.
Kirana mengangkat dagu. "Saya."
Pria itu diam beberapa detik.
Lalu ia berkata, "Tamu minta bertemu chef-nya."
Bowo tersenyum sinis. "Lihat. Pasti komplain."
Pria berjas menoleh padanya. "Bukan. Katanya ini nasi goreng lobster terbaik yang pernah dia makan di hotel ini."
Dapur benar-benar hening.
Bowo seperti kehilangan suara.
"Nama kamu?" tanya pria berjas.
"Kirana."
"Mulai hari ini, jangan cuma potong sayur. Executive chef akan bicara dengan HR."
Bowo membuka mulut. "Pak, tapi dia baru..."
"Tamu VIP sudah memberi catatan khusus. Hotel ini menilai dari hasil."
Pria itu pergi.
Semua mata berpindah ke Kirana.
Bowo mendekat dan berbisik tajam, "Jangan senang dulu. Sekali beruntung bukan berarti kamu hebat."
Kirana menatapnya.
"Kalau begitu, semoga aku sering beruntung."
Di ruang private lantai atas, Bima meletakkan sendok setelah mencicipi nasi goreng lobster itu. Di depannya, Raka duduk dengan kemeja sederhana, menyamar sebagai sopir yang ikut makan karena "dipaksa" oleh atasannya.
Bima menatap Raka.
"Ini buatan Bu Kirana, Pak."
Raka mengambil satu suap.
Ia diam.
Raka menaruh sendok.
"Naikkan posisinya. Tapi jangan terlalu mencolok."
"Baik."
"Dan Bima."
"Ya, Pak?"
Raka menatap piring itu lagi. Senyumnya tipis.
"Cari tahu siapa saja di dapur yang mencoba menekannya."
Bima mengangguk.
Di bawah, Kirana kembali memotong bahan.
Ia datang sebagai anak baru yang dipandang sebelah mata.
Namanya mulai beredar.