NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.4

Seorang pria berseragam putih lengkap tampak sibuk menangani pasien. Keringat membasahi pelipis. Sementara langkah kakinya bergerak cepat menyusri lorong rumah sakit yang dipenuhi baut obat menyengat hidung. Namun, tatapan matanya menyimpan keresahan yang mendalam, seolah waktu adalah musuh yang harus ditaklukkan. Hatinya berdebar tidak menentu karena janjinya pada kekasihnya telah ia ingkari.

"Apa yang harus ku jelaskan pada Anna dan keluarganya?" Alvaro terus terusik, membayangkan wanita yang sedang menunggunya saat ini.

"Pasti dia sangat marah, tapi bagaimana aku bisa menghubunginya? Telepon Anna tiba-tiba dinonaktifkan." Suara langkah seorang perawat tengah menghampirinya.

“Permisi, Dok, keluarga pasien menunggu di luar.”

Suruh mereka masuk dan tolong awasi pasien. Aku ingin keluar sebentar,” ucap Alvaro sambil berlalu.

Di tengah kelelahan, dokter Alvaro duduk di sebuah taman rumah sakit. Sesekali ia melirik anak-anak kecil yang sedang saling berkejaran. Senyum tipis mengembang di pipinya, seolah kepenatan seharian di rumah sakit terobati oleh kehadiran bocah-bocah itu.

“Anak kecil tidak boleh berkeliaran di sekitar rumah sakit, ya,” suara Alvaro terdengar tegas, membuat anak-anak itu berhenti sejenak dan menatapnya dengan ekspresi kurang suka.

" Kenapa cuma menatapku ?" Alvaro bertanya sambil mengangkat kedua alisnya, seolah menggoda bocah itu.

"Pak dokter itu tidak asik," jawab salah satu bocah sebelum berlari meninggalkan taman. "Itu demi kebaikanmu sendiri, nak," gumam dokter Alvaro sendirian, matanya terus mengikuti bocah itu hingga menghilang dari pandangannya.

Wajahnya menengadah ke atas, tangan kuatnya mer3mas rambut tebalnya. Kepala terasa seperti hendak pec4h. Kesalahan yang dibuatnya bisa membuatnya gagal menjalankan tugas dengan baik.

" Kalau kurang enak badan, lebih baik istirahat," ucap seorang wanita yang mengenakan setelan seperti Alvaro.

"Aku cuma capek, tapi udah mendingan kok," jawabnya.

Wanita itu adalah dokter cantik bernama Carla, sahabat Alvaro sejak kecil. Mereka berdua menjalin persahabatan erat, Alvaro menganggap Carla seperti adiknya, dan Carla pun merasa demikian. Carla duduk di samping Alvaro, tangannya perlahan menepuk pundak sahabatnya.

"Aku perhatikan dari tadi, sepertinya kamu sedang ada masalah, ya? Ada apa? Ceritakan saja sama Carla," desaknya lembut.

Alvaro menoleh sebentar, lalu menggeleng pelan.

"Aku sudah bilang, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja... oke."

Carla merasa sahabatnya, Alvaro, sedang menyembunyikan sesuatu hari ini. Di benaknya terlintas tentang cewek yang pernah bersamanya di restoran beberapa waktu lalu. Carla pun menduga itulah penyebabnya. “Gimana hubungan kamu sama cewek cantik yang kemarin itu? Kalian tidak putus, kan?” Carla mencoba menebak. Jantung Alvaro berdegup kencang mendengar kata “putus”.

Ia tak pernah sekalipun memikirkan hal itu. Selama menjalin hubungan, mereka saling bucin, jadi mustahil bagi mereka untuk putus di tengah jalan.

"Jaga ucapanmu, Carla. Aku dan Anna sebentar lagi akan terikat dalam ikatan suci," ucap Alvaro tegas.

Wajah Clara berubah tak senang mendengar kata-kata yang tak ingin didengarnya itu.

"Oh, namanya Anna ya? Dia cantik. Kalian benar-benar serasi," Clara dengan nada menggoda sahabatnya.

Alvaro tersenyum, lalu mulai bercerita sedikit tentang Anna kepada Clara, termasuk niatnya untuk melamar kekasihnya itu.

"Wah, itu ide yang bagus. Aku mendukungmu, Al. Aku berharap kalian selalu bersama dan bahagia," ucap Clara dengan tulus.

" Aku beri tahu ya, Al, kamu harus segera ke rumah pacarmu. Aku yakin Anna akan makin kecewa kalau kamu terus menunda."

"Ya, aku memang sudah memikirkannya sejak tadi. Setelah pekerjaanku selesai, aku pasti akan menemuinya," jawab Alvaro.

"Jangan tunda lagi, Al. Kasihan Anna dan keluarganya," desak Clara, sahabatnya.

Alvaro menoleh kembali, tersenyum melihat semangat Clara.

"Baiklah," ucapnya, berniat tak ingin menunda lagi.

***

Di sebuah sudut kamar tepat jam 9 malam, seorang gadis cantik duduk termenung. Matanya masih sembab, bekas air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Ibunya yang sejak tadi memarahinya karena tamu yang ditunggu-tunggu tak juga muncul.

"Kenapa harus Anna yang disalahkan?" batin gadis itu bertanya-tanya.

Ibunya yakin bahwa Anna berbohong tentang adanya seorang dokter yang bisa mengobati putri bungsunya.

Sementara di kamar lain, Elizabeth merasakan hal yang sama terperangkap dalam kesunyian yang menyakitkan. Tak ada yang lebih menyiksa daripada kesedihan mendalam saat tubuhnya tak lagi mampu bergerak. Dalam sepi itu, ia terus menggerutu, mengutuk dirinya sendiri sebagai perempuan si4l.

"Aku perempuan tak berguna," teriaknya dalam kesendirian. Bantal empuk di genggamannya dir3mas kuat-kuat, seolah menjadi satu-satunya pegangan di tengah putus asa yang menggerogoti hari-harinya. Ia menanti, berharap ada seseorang yang sudi mengulurkan tangan, membantunya bangkit menuju masa depan.

" Jangan katakan itu lagi, Nak. Mama tidak mau mendengar kata-kata itu lagi. Yusi segera masuk ke kamar Eliz saat suara jeritan penuh luka itu sampai di telinganya. Hatinya terasa perih, harapannya seakan sirna hanya karena mempercayai ucapan putri sulungnya.

“Kamu sudah keterlaluan, Anna,” bisiknya dalam hati, sambil merengkuh Eliz yang menatapnya dengan kosong.

“Aku tak punya harapan lagi untuk sembuh, Ma. Kepercayaanku untuk bisa pulih sudah hilang.”

Tangisan Yusi pecah, tak mampu membendung kesedihan melihat putrinya yang tak berdaya. Berkali-kali ia kecewa, dan kini semuanya terulang lagi. Tubuh keduanya bergetar hebat, suara tangisan pilu memenuhi seluruh kamar. Pelan-pelan Anna melangkah masuk, dadanya ikut nyeri menyaksikan kedua wanita tercintanya berpelukan, saling menguatkan. “Maafkan Anna,” lirihnya sendu. Ia pun tak sanggup menahan tangis. Entah siapa yang patut disalahkan, dokter Alvaro yang gagal memenuhi janjinya, atau dirinya sendiri yang terlalu gegabah memberi harapan besar.

" Aku tidak seberuntung kakak," ucap Eliz tersedu-sedu.

"Nas!bku terlalu buruk." Anna menggeleng, menolak kata-kata adiknya.

Yusi mengusap air mata putrinya dengan mata berkaca-kaca.

"Kamu pasti akan kembali seperti sediakala. Kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi." Eliz tersenyum kecut, sadar betapa sulitnya untuk sembuh sepenuhnya.

"Aku ingin bicara sama Eliz, Ma," ucap Anna pelan. Yusi menoleh, menatapnya dengan sulit diartikan.

Tatapan tajam itu seolah belati yang menusuk hati Anna.

"Semua ini gara-gara siapa?" geram Yusi, wajahnya memerah menahan amarah yang membara di dada. Anna menunduk, matanya berkaca-kaca. Tangannya sibuk memilin ujung baju, berusaha menahan desakan perasaan yang sulit diungkapkan.

Dengan  ragu Anna berucap, "maaf, Ma, Eliz."

Hening sesaat, namun permohonan maafnya tak dihiraukan oleh Yusi, yang malah menyalahkan Anna sepenuhnya, bahkan mengira Anna sengaja membohonginya.

"Percuma kamu memberi kami harapan begitu besar. Kenapa? Kamu cemburu pada Elizabeth, hah?" Tuduhan itu membuat Anna cepat menggeleng, menolak keras.

"Anna tidak tahu kenapa dokter Alvaro belum datang sampai sekarang," jawabnya dengan suara hampir tak terdengar.

"Sudahlah, lebih baik kamu keluar dari kamar Eliz," perintah Yusi dengan tegas.

Anna tertegun sesaat, namun setelah itu ia pun keluar memberi ruang kepada adiknya bersama ibunya.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!