Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh?
"Kamu... kamu sudah besar ya, Rachel," ucap Daddy Brian dengan senyum getir.
Daddy Brian ingin sekali menyentuh pipi putrinya, tapi tangannya tertahan di udara, takut mengotori wajah Rachel.
"Daddy kenapa tinggal di tempat kayak gini? Kenapa Daddy nggak pernah hubungi Rachel?" tanya Rachel, dengan suara yang mulai bergetar dan air mata menggenang.
Daddy Brian hanya menunduk dan tak sanggup menjawabnya. Di saat yang sama, antrean pelanggan yang didominasi buruh pelabuhan mulai berseru tidak sabar meminta pesanan mereka, Daddy Brian menoleh panik ke arah kedainya yang mulai kacau.
"Rachel, maaf... Daddy belum bisa bicara banyak sekarang. Kedai sedang sangat ramai," ucap Daddy Brian lalu menoleh pada Daniel yang masih bersandar di kap jeep tuanya dengan ekspresi datar.
"El, tolong bawa Rachel ke rumah. Kasihan dia pasti lelah dan bilang pada Anna, ini Rachel," ucap Daddy Brian.
Daniel mendengus, namun ia tetap melangkah maju dan menyambar koper perak Rachel. "Ayo! Jangan bengong di sini, kau menghalangi jalan orang mau makan," ucap Daniel ketus.
Rachel ingin memprotes, ia ingin tetap di sana menuntut penjelasan. Namun, Daddy Brian memberikan tatapan memohon dan akhirnya dengan berat hati, Rachel kembali mengikuti langkah lebar Daniel yang masuk ke gang sempit di samping kedai.
Mereka berjalan kaki melewati labirin gang yang lembap, Rachel harus mengangkat ujung rok mahalnya agar tidak terkena genangan air yang berbau tak sedap. Setelah 7 menit yang terasa seperti 1 jam bagi Rachel, mereka sampai di sebuah bangunan beton abu-abu yang menjulang tinggi.
Langkah Daniel begitu ringan saat menaiki anak tangga, seolah kopernya yang seberat 20 kilogram itu hanyalah kotak tisu. Sementara itu, Rachel merasa paru-parunya nyaris meledak dan harus mengangkat roknya tinggi-tinggi untuk menghindari puntung rokok dan genangan air yang tidak jelas asalnya di setiap tangga bangunan itu.
"Lantai... lantai berapa?" tanya Rachel terengah-engah dan keringat mulai merusak tatanan rambutnya yang sempurna.
"Tujuh," jawab Daniel tanpa menoleh ke arah Rachel.
"Tujuh? Apa tidak ada lift?" tanya Rachel dan suaranya bergema di lorong tangga yang kusam dan dipenuhi coretan grafiti.
"Kalau mau lift, balik sana ke rumahmu," jawab Daniel ketus.
Setiap lantai yang mereka lewati menyuguhkan pemandangan yang membuat Rachel ingin menangis, jemuran baju yang melintang di koridor, suara tangis bayi, hingga aroma tumisan masakan yang menyengat. Ini bukan sekadar jauh dari kemewahan, ini adalah planet yang berbeda dari dunianya.
Saat sampai di lantai tujuh, Daniel berhenti di depan sebuah pintu kayu yang cat hijaunya sudah mengelupas. Daniel tidak mengetuk, melainkan menendang bagian bawah pintu dengan pelan menggunakan kakinya.
Pintu terbuka dan menampakkan sosok wanita dengan wajah yang teduh namun guratan kelelahan terlihat jelas di matanya, ia sedang menggendong balita yang tertidur pulas di bahunya.
"Sudah sampai, El?" tanya Anna.
"Hem," jawab Daniel.
Matanya kemudian beralih pada Rachel dan seketika ia terpaku, "Oh... kamu Rachel?" tanya Anna.
"Karena aku sudah mengantarkan dia, aku pamit dulu," pamit Daniel dan meletakkan koper Rachel di lantai semen lalu berbalik pergi tanpa pamit.
"Ayo masuk, Rachel. Anggap ini rumah kamu sendiri ya," ucap Anna.
Rachel melangkah masuk dengan ragu, bau ruangan itu adalah campuran minyak telon, aroma kayu manis dari dapur dan bau lembab dinding. Ruang tamunya hanya seukuran kamar mandi di apartemen Rachel, terdapat sofa kain yang busanya sudah menipis menjadi pusat ruangan dan dikelilingi oleh mainan plastik yang berserakan.
"Maaf ya, Rachel. Rumahnya berantakan sekali, Tante belum sempat membereskan mainannya Leo," ucap Anna sambil perlahan meletakkan balita di gendongannya ke atas kasur tipis di pojok ruangan yang disekat lemari kayu.
Rachel hanya mengangguk kaku, ia bingung harus meletakkan tasnya di mana. Lantainya bersih walaupun hanya dengan semen, yang tentu saja terasa dingin di bawah kakinya yang biasa menginjak karpet bulu.
"Aku Anna, Daddy-mu sering bercerita tentangmu... meski hanya lewat foto-foto lama yang dia simpan di dompet, ternyata kamu cantik sekali, jauh lebih cantik dari foto itu," ucap Anna tulus dan mencoba mencairkan suasana.
"Terima kasih," jawab Rachel singkat.
Rachel merasa bersalah karena merasa tidak nyaman, "Jadi... Daddy sudah tinggal di sini selama tujuh tahun?" tanya Rachel.
"Iya, kami bertemu saat Daddy-mu bekerja di pabrik tekstil. Sekarang, kedai itu adalah tempat penghasilan kami, meski sederhana, Daddy-mu sangat bangga bisa menghidupi kami dengan tangannya sendiri," ucap Anna.
Tiba-tiba, seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun berlari masuk dari pintu belakang sambil membawa bola plastik yang kempis, ia berhenti mendadak saat melihat Rachel dan matanya membulat besar.
"Mama, ada putri!" seru bocah itu dan menunjuk Rachel dengan jari kecilnya yang belepotan cokelat.
Anna tertawa kecil, "Itu Kakak kamu, Tio. Namanya Kak Rachel, ayo salaman," ucap Anna.
Tio mendekat dengan ragu, sementara Rachel merasa kikuk. Ia tidak pernah berinteraksi dengan anak kecil, apalagi di lingkungan seperti ini.
Namun, saat tangan kecil Tio yang hangat menyentuh jemarinya, ada getaran aneh di dada Rachel, getaran yang tidak pernah ia rasakan saat bersalaman dengan kolega bisnis bernilai miliaran.
Anna membimbing Rachel menuju sebuah ruangan kecil di sudut belakang, pintu kayunya berderit saat dibuka dam menampilkan sebuah kamar yang hanya berisi satu ranjang besi single. Sebuah kipas angin dinding yang berbunyi saat berputar, serta sebuah jendela kecil yang menghadap langsung ke arah pelabuhan.
"Ini kamar tamu, tapi biasanya dipakai Daddy kalau pulang terlalu larut dari kedai, Tante sudah ganti seprainya dengan yang bersih, kamu istirahat ya," ucap Anna lembut, meskipun ia tahu seprai katun bermotif bunga itu tentu tidak sebanding dengan sutra milik Rachel.
Rachel duduk di pinggir ranjang yang terasa keras, ia menatap kopernya yang tampak seperti benda asing di tengah ruangan itu.
"Terima kasih, maaf kalau Rachel merepotkan," ucap Rachel.
"Sama sekali tidak, Rachel. Daddy-mu... dia sangat merindukanmu. Tidurlah sebentar, nanti malam Daddy tutup kedai lebih awal agar kita bisa makan malam bersama," jawab Anna sebelum akhirnya menutup pintu dengan pelan.
Keheningan menyergap, Rachel merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar yang memiliki noda bekas rembesan air hujan. Pikirannya melayang pada Mommy Viona, Ibunya pasti sedang murka sekarang dan mungkin sedang mengerahkan seluruh asistennya untuk memblokir rekening-rekeningnya. Namun, anehnya, Rachel merasa lega karena untuk pertama kalinya dalam hidup Rachel, ia merasa bebas.
Suasana malam di distrik pinggiran Vietnam itu tidak pernah benar-benar sunyi, suara klakson motor yang saling bersahutan dan deru mesin kapal dari pelabuhan menjadi latar musik yang menemani malam pertama Rachel di sana.
Sekitar pukul sembilan malam, pintu depan terbuka. Daddy Brian masuk dengan bahu yang tampak turun karena kelelahan, kaosnya basah oleh peluh dan aroma kaldu sapi yang gurih masih menempel kuat pada dirinya, ia membawa bungkusan makanan hangat di tangannya.
"Sudah pulang, Mas?" Anna menyambutnya dengan senyum hangat dan mengambil alih bungkusan itu.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁