NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Atas Bara

Cahaya lampu kristal di langit-langit kamar pengantin itu berpendar lembut, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding-dinding sutra. Aroma melati yang semerbak—simbol kesucian pernikahan—terasa menyesakkan bagi Halra Wiragata.

Ia duduk di tepi ranjang besar yang berhias kelopak bunga mawar merah, gaun pengantinnya yang mewah terasa seperti baju zirah yang menekan dadanya.

Pintu kayu jati berukir di hadapannya terbuka perlahan. Sano Joharo melangkah masuk. Tidak ada senyum, tidak ada tatapan hangat yang lazimnya dimiliki seorang pengantin pria.

Ia melonggarkan dasi hitamnya dengan gerakan kasar, melemparkannya ke atas meja rias dengan denting yang terdengar nyaring di keheningan ruangan yang mencekam.

"Kau berisik sekali sedari tadi, Halra," suara Sano rendah, berat, dan tanpa nada.

Halra tersentak. Ia telah menghabiskan sepuluh menit terakhir dengan mengomel—sebuah mekanisme pertahanan diri yang bodoh untuk menutupi rasa gugupnya. Ia mengomentari tata letak bunga yang tidak simetris, suhu ruangan yang terlalu dingin, hingga bagaimana para tetua Wiragata menatapnya dengan rasa kasihan yang menyakitkan.

"Aku hanya... aku hanya tidak terbiasa dengan semua ini, Sano. Kau tahu itu," sahut Halra, suaranya bergetar meski ia berusaha keras untuk tetap tegar. Sebagai seorang pewaris Wiragata, ia tidak boleh terlihat goyah di depan seorang Joharo.

Sano tidak menjawab. Pria itu justru mulai membuka kancing kemeja putihnya satu per satu, tepat di hadapan Halra. Gerakannya lambat, menantang, dan penuh dengan aura dominasi yang membuat napas Halra tertahan.

"Berhenti menatapku dengan tatapan kasihan itu," cetus Sano lagi, kali ini ia sudah melepaskan kemejanya, memamerkan bahu bidang dan bekas luka tipis di dadanya—tanda pertempuran yang menjadi bukti bahwa ia adalah Joharo yang keras kepala.

"Aku tidak kasihan padamu!" sergah Halra, meski pipinya seketika memanas hingga ke pangkal telinga. Ia refleks memalingkan wajah, menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan lambang keluarga Wiragata yang terukir di gerbang depan, yang kini seolah terasa terhina oleh kehadiran pria ini.

"Lalu apa? Takut?" Sano melangkah mendekat. Suara langkah kakinya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran klan Wiragata. "Kau pikir pernikahan ini akan menjadi dongeng? Setelah apa yang dilakukan ayahmu terhadap bisnis keluarga Joharo selama sepuluh tahun terakhir?"

Halra memejamkan mata rapat-rapat. Ia bisa merasakan kehadiran Sano tepat di belakangnya. Aroma maskulin bercampur dengan aroma parfum cendana yang tajam kini mendominasi ruang pribadinya.

"Aku hanya ingin kita bersikap rasional, Sano. Kita terikat sumpah, bukan berarti kita harus saling menghancurkan secara batin," ujar Halra, suaranya kini mencicit.

Sano berhenti tepat di belakang Halra. Ia bisa melihat bahu Halra yang tegang. Sano mengulurkan tangan, namun bukannya menyentuh pundak istrinya, ia justru menarik napas panjang, menahan diri. Ada konflik hebat yang bergejolak di dalam dirinya antara keinginan untuk melepaskan segala amarah atas perjodohan ini dan dorongan untuk menaklukkan wanita yang kini sah menjadi bagian dari harta Wiragata yang jatuh ke tangannya.

"Rasional?" Sano tertawa getir. Ia mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu di dekat telinga Halra, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Dalam dunia kita, Halra, rasionalitas adalah kelemahan. Dan kau... kau adalah kelemahan terbesar yang baru saja kupaksakan masuk ke dalam hidupku. Pernikahan ini bukan tentang persatuan, ini adalah tentang bagaimana seorang Joharo akhirnya menjejakkan kaki di singgasana Wiragata."

Halra berbalik, keberaniannya muncul entah dari mana. Ia menatap mata Sano yang kelam, mata yang menyimpan badai dan rahasia besar dari perseteruan Wiragata dan Joharo. "Kalau begitu, jadikan aku kelemahan yang tak akan pernah kau lepaskan. Jika kau ingin menjadikan hidupku neraka, lakukanlah dengan cara yang jujur, Sano. Jangan perlakukan aku seolah aku tidak ada di sini, di tanah kelahiranku sendiri."

Suasana di kamar itu berubah seketika. Dingin yang tadi menusuk kini seolah terbakar oleh intensitas tatapan mereka. Sano tertegun. Ia terbiasa menghadapi lawan yang menodongkan senjata, bukan seorang wanita Wiragata yang menantang hatinya dengan ketulusan yang tajam.

Sano meraih dagu Halra, memaksa gadis itu untuk tetap menatapnya. Jarinya yang kasar menyentuh kulit pipi Halra yang halus, menciptakan kontras yang nyata. "Kau berani sekali," bisik Sano, kali ini dengan nada yang lebih dalam, lebih berbahaya, namun ada kilatan penasaran yang baru muncul di matanya.

Halra tidak mundur. Meski jantungnya berdetak seperti genderang perang, ia tetap menatap balik. "Kita terjebak di sini, Sano. Kau dan aku. Dan jika ini adalah awal dari kehancuran legacy keluarga kita, biarkan kita hancur bersama dengan cara yang kita pilih sendiri, bukan karena skenario para tetua."

Sano menarik napas dalam, matanya menelusuri setiap inci wajah Halra yang memerah—bukan lagi karena malu, melainkan karena gejolak emosi yang tersulut. Untuk pertama kalinya, tembok pertahanan Sano retak. Ia menyadari bahwa pernikahan ini mungkin tidak akan menjadi penjara bagi Wiragata yang ia bayangkan, melainkan sebuah medan perang yang jauh lebih rumit dan mematikan.

Skenario para tetua..." gumam Sano, jemarinya perlahan turun menyentuh kerah gaun Halra. Ia tidak lagi melihat Halra sebagai pion politik, melainkan sebagai sosok yang nyata, yang bernapas, dan yang memiliki api di dalam dirinya. "Mungkin kau benar. Mari kita lihat seberapa jauh kita bisa memutarbalikkan takdir yang sudah mereka tulis untuk Wiragata dan Joharo."

Sano berbalik, berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil jubah tidurnya, meninggalkan Halra yang masih terpaku di ranjang. Keheningan kembali menyelimuti kamar, namun kali ini bukan lagi keheningan yang dingin. Itu adalah keheningan sebelum badai—sebuah kesepakatan diam-diam telah terjalin di antara mereka.

Malam itu masih panjang. Di luar sana, konspirasi besar Wiragata Legacy terus berputar, namun di dalam kamar ini, Di luar sana, konspirasi besar Wiragata Legacy terus berputar, namun di dalam kamar ini, permainan baru saja dimulai. Sano tahu bahwa menjaga Halra akan menjadi tugas yang berat, bukan karena musuh dari luar, tetapi karena ia mulai merasa bahwa setiap tarikan napas Halra mulai berpengaruh pada irama jantungnya sendiri.

Halra sendiri, meski ketakutannya belum sepenuhnya hilang, merasakan secercah harapan. Ia tahu Sano bukanlah pria yang lembut, namun pria itu jujur dengan kebenciannya. Dan dalam dunia yang penuh kepalsuan, kejujuran—sekecil apa pun itu—adalah benih yang bisa tumbuh menjadi sesuatu yang tak terduga bagi sejarah panjang klan Wiragata.

Mereka adalah dua jiwa yang dipaksa bersatuoleh rantai besi, namun di bawah lampu kristal yang berpendar, mereka mulai memahami bahwa rantai itu bisa menjadi pengikat, atau bisa pula menjadi senjata untuk menghancurkan mereka yang telah menjebak mereka ke dalam pernikahan ini.

Sano kembali mendekati ranjang, kini dengan pakaian yang lebih santai. Ia tidak menatap Halra, namun ia duduk di sisi yang berlawanan, menyisakan jarak yang cukup luas namun terasa seolah menyusut setiap detiknya.

"Tidurlah," ucap Sano singkat, mematikan lampu utama dan menyisakan satu lampu tidur yang temaram. "Besok, akan ada banyak orang dari klan Wiragata maupun Joharo yang datang untuk melihat apakah kita saling membenci atau tidak. Pastikan kau terlihat meyakinkan sebagai istriku."

"Kau juga," balas Halra pelan, membaringkan

Tubuhnya di sisi ranjang, menarik selimut hingga sebatas dada.

"Aku tidak perlu berakting, Halra," jawab Sano sebelum menutup matanya. "Karena mulai malam ini, aku akan memastikan tidak ada satu pun orang—baik itu dari kaum Wiragata maupun Joharo—yang bisa menyentuhmu tanpa izin dariku."

Kalimat itu menggantung di udara, ambigu dan penuh dengan keposesifan yang aneh. Halra menutup mata, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam pikirannya. Ia tidak tahu apakah itu ancaman atau janji, namun satu hal yang pasti: hidupnya sebagai bagian dari Wiragata Legacy tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!