Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sia-sia Saja
Pagi sekali, Ayra sudah melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan seseorang istimewa di bandara. Ayra belum mengetahui siapa seseorang tersebut. Yang dia tahu bahwasannya seseorang yang akan dijumpainya adalah tamu penting yang berpengaruh besar pada perusahaan.
Ayra kini sudah berdiri di depan mobil berwarna hitam. Pakaiannya pun unik sekali, memakai dress selutut dengan motif bunga-bunga berwarna pink dan tak lupa memakai topi pantai. Kalau dilihat-lihat, Ayra seperti ingin bertamasya saja. Banyak orang-orang menganggap aneh dengan penampilan Ayra. Bahkan Ayra pun menganggap hal yang sama. Merasa aneh dengan penampilan dirinya sendiri.
"Huhhhh, gara-gara bos tua itu nyuruh aku pake pakaian seperti ini, jadi pusat perhatian deh aku," kesal Ayra dalam hati.
Di satu sisi, ada seseorang yang tampak melihat penampilan Ayra sedari tadi tidak jauh dari lokasi mereka. Dia tersenyum dan merasa geli melihat penampilan Ayra. Ya, itu kali pertamanya melihat Ayra sejak 2 tahun yang lalu. Tatapannya seolah tak berhenti melihat sosok yang selalu dia rindukan.
"Kau semakin cantik dan imut dengan pakaian itu, Ay. Maaf, aku sudah mengerjai kamu. Itu hukuman buat kamu sayang karena pergi meninggalkan aku," gumamnya sambil tersenyum manis yang masih menatap lekat Ayra dari kejauhan.
Tak lama dia memalingkan wajahnya pada seseorang lain, yaitu asisten pribadinya.
"Sekarang waktunya, panggil dia!" dia memberi perintah sambil mengkode dengan kepalanya.
"Baik Tuan Bagas," jawab asisten itu.
Nyatanya, saat ini Bagas telah berada di bandara sejak tadi tanpa sepengetahuan Ayra. Malahan sejam yang lalu sudah standby di sana. Kalau Ayra tahu pasti bakal marah, ternyata dirinya telah dibohongi oleh Bagas, alias mantan pacarnya sendiri.
"Ehem, Nona Ayra!" sapa Gian.
Ayra menoleh ke arah Gian dengan pandangan aneh seolah bertanya-tanya.
"Maaf, sudah menunggu lama. Saya Gian diminta oleh Tuan untuk Nona menempati mobilnya, itu di sebelah sana," Gian menunjuk ke arah mobil berwarna merah yang tak jauh dari mereka berada.
Ayra bertambah bingung, ada sedikit curiga.
"Bukankah seharusnya kalian yang menempati mobil dari kantor saya, lalu kenapa...," belum sempat Ayra meneruskan ucapannya, Gian sudah memotong perkataannya.
"Ayo Nona ikuti saya," Gian berjalan di depan hendak menunjukkan jalan.
Namun Ayra masih saja tidak mengerti dan merasa ada yang janggal.
"Emm, tunggu sebentar. Sejak kapan kalian tiba disini dan sudah memesan mobil jemputan? Dari tadi saya telepon dari nomor yang diberi oleh atasan saya, tapi tidak ada jawaban dari kalian," protes Ayra sedikit kecewa.
"Maaf Nona, saya tidak bisa menjawab telepon anda karena ada sesuatu hal yang lebih penting dari itu," ucap Gian santai dan sedikit agak meremehkan.
"What? Berarti keberadaan saya disini tidak penting?" Ayra mendecih dan terlihat kesal.
"Ayo Nona, tidak baik kalau Tuan saya menunggu lama di mobil," Gian tidak menggubris pertanyaan Ayra, dia malah tersenyum geli.
Ayra mengeram kesal dan terpaksa menuruti perkataan Gian. Sesekali mengumpat kesal dalam hati.
"Dasar sombong, lalu untuk apa aku datang kesini kalau dinilai tidak penting? Sabar Ayra, sabar," gumam Ayra dalam hati sambil mengelus dadanya.
Gian membuka pintu belakang untuk ditempati oleh Ayra, namun lagi-lagi Ayra bingung. Dia berhenti sejenak.
"Silahkan Nona," ucap Gian.
"Bukankah seharusnya saya...," Ayra mengernyitkan dahinya heran.
"Ini perintah Nona, di dalam juga ada Tuan yang sudah menunggu," ujar Gian memotong perkataan Ayra.
Dengan hati yang tidak enak, Ayra pun terpaksa meninggalkan sang sopir dari kantornya, lalu beralih menuju mobil yang dituju bersama Gian kemudian masuk ke dalam mobil yang ada di belakang bersama seseorang, siapa lagi kalau bukan Bagas. Tapi sayangnya, Ayra tidak mengetahuinya.
Ayra sungguh bingung, dia hanya berdiam diri tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, tidak ada yang mengajaknya bicara. Apalagi Bagas yang duduk di sebelahnya seperti orang tertidur menggunakan masker dan kacamata hitam. Dari situlah Ayra sama sekali belum mengetahui siapa sebenarnya yang duduk bersama dengan dirinya.
Ayra sedari tadi melihat ke arah kanannya, menelisik keadaan seseorang yang ada di sampingnya, namun lagi-lagi Ayra tidak berani untuk mengawali pertanyaan karena melihat lelaki disampingnya memakai kacamata hitam dan masker. Jadi Ayra tidak tahu bahwa orang disampingnya itu tidur atau tidak. Dan akhirnya Ayra hanya diam dan sebisa mungkin mengusir kecanggungan dalam dirinya.
"Tuan sedang tidur, Nona. Kalau Nona mau istirahat silahkan saja, Nona bisa tidur juga disini," tutur Gian memecahkan keheningan yang sejak tadi mendera.
"Hemm," jawab Ayra pelan dan singkat.
"Apa? Menyuruhku tidur? Dasar tidak sopan," ucap Ayra hanya dalam hati.
Ayra menoleh kembali kesamping seseorang yang dia belum kenal itu dengan seksama.
"Masih pagi pun orang ini bisa-bisanya tidur," pikir Ayra dalam hati.
"Mungkin Tuan kecapekan, lagian sejak tadi hanya bekerja melalui ponselnya dengan rekan kerja yg lain," kata Gian seolah menjawab pemikiran Ayra dalam hati itu.
Sontak Ayra kaget bukan main.
"Apa dia bisa mendengar suara batinku? Hebat!" jawab Ayra dalam hati lagi.
Ayra sedikit salah tingkah sambil membenarkan pakaiannya.
Tak lama kemudian, 10 menit bukanlah waktu yang singkat bagi Ayra, karena keadaan hening dan suntuk yang membuatnya menjadi mengantuk. Apalagi pagi buta Ayra telah menyiapkan apa-apa yang diperintahkan oleh bosnya. Pantas saja Ayra kini tengah tidur tanpa sengaja di dalam mobil. Sebenarnya memang tidaklah sopan seorang karyawan tidur dengan pulasnya di dalam mobil bersama seorang atasan yang tak lain adalah bos besar di perusahaan pusat.
Setelah memastikan tidak ada gerakan dari Ayra, kini Bagas mulai membuka kacamatanya dan juga masker yang menutupi dirinya sejak tadi. Lalu Bagas menelisik wajah Ayra, begitu dalam dan penuh arti.
"Hemm kebiasaan," gumam Bagas pelan.
Bagas menggelengkan kepalanya dan terbit senyum mengembang dari dirinya yang telah terbangun dari kepura-puraan dia menyamar sebagai orang asing agar tak dikenali oleh Ayra.
Selang beberapa menit, mobil yang ditumpangi mereka pun sampai di depan hotel. Sang sopir dan Gian sang asisten langsung keluar dari mobil. Tinggallah Hanya Bagas dan Ayra yang masih tertidur pulas.
"Maaf ya sudah membuat kamu lelah hingga tertidur seperti ini. Aku akan menghukum mu jika kau berbuat seperti ini lagi," ucap Bagas pelan sambil menyibak rambut yang menutupi wajah Ayra.
Dilihatnya wajah Ayra dengan seksama dan penuh kerinduan. Ada secercah harapan untuk bisa bersama dengan Ayra kembali.
"Aku merindukanmu, Ayra. Sangat merindukanmu, sayang!" ucap Bagas kembali.
Bagas hendak mencium kening Ayra, namun gagal karena ada pergerakan kecil dari Ayra. Sepertinya gadis itu terbangun oleh kelakuan Bagas.
"Oh shittt," umpat Bagas. Dia terlihat kesal melihat Ayra terbangun.
Padahal itu adalah momen dimana Bagas ingin mencium pujaan hatinya yang sejak lama dia rindukan. Tapi lagi-lagi dewi fortuna tidak memihak dirinya. Akhirnya Bagas dengan cepat keluar dari mobil sebelum Ayra bangun dari tidurnya.
Bagas lalu menghampiri Gian dan sopir kemudian mengatakan sesuatu pada mereka.
"Katakan pada Ayra sesuai dengan yang saya tugaskan ke kamu," pinta Bagas pada Gian.
"Baik Tuan," jawab Gian.
Bagas beralih menatap sang sopir.
"Dan kau antar wanita itu pulang sampai dengan selamat, paham!" titah Bagas pada sopir.
"Iya Pak," jawab sopir patuh.
Dengan cepat Bagas masuk ke dalam hotel yang sudah di pesan oleh Gian. Sedangkan Gian sendiri menghampiri Ayra ke mobil.
Dan saat itu Ayra sedang dalam mood yang masih mengantuk, dia menyipitkan matanya dan menyapu seluruh ruangan di dalam mobil. Sontak Ayra terkejut lalu membulatkan matanya seolah panik.
"Kapan sampai? Lalu orang disebelah saya mana? Emm ... maksud saya, Tuan anda kemana? Kenapa dia tidak ada?" banyak sekali pertanyaan dari Ayra saking paniknya dia.
Gian hanya menghela nafasnya perlahan. Dia tahu bahwa Ayra kelihatan begitu takut dan cemas.
"Tuan sudah berada di hotel, Nona. Dia ingin istirahat lebih dulu, jadi Nona diperbolehkan untuk kembali pulang," tutur Gian ramah.
"Loh, bukannya...," tanya Ayra menggantungkan ucapannya dengan bingung.
"Maaf Nona, Tuan tidak bisa diganggu sekarang ini. Mungkin rapat akan ditunda. Saya juga akan konfirmasi dengan atasan anda," jelas Gian.
"Apa? Ditunda? Bagaimana bisa?" Ayra membulatkan matanya.
"Saya undur diri dulu, terima kasih atas kesediaan anda telah datang menemani kami diperjalanan menuju hotel. Anda bisa pulang dengan selamat bersama sopir taksi itu, Nona. Baiklah permisi, Nona!" tutur Gian tanpa jeda, ucapannya begitu santai. Dia pun pergi meninggalkan Ayra.
Sedangkan Ayra melongo dengan pandangan kosong. Tapi sungguh dia cukup frustasi.
"Percuma saja aku kesini kalau hanya untuk memastikan keselamatan mereka. Padahal aku sudah mempelajari semua berkas meeting dan sudah dandan mencolok seperti ini sampai-sampai membuatku malu, dasar bos nggak punya otak. Semuanya sia-sia saja. Arghhh," umpat Ayra kesal dan merasa kecewa.
"Jalan Pak!" pinta Ayra pada sopir sedikit meninggi saking kesalnya.
"Baik Bu," ucap sopir dengan sabar, lalu menjalankan mobilnya sesuai dengan perintah Ayra.
Di sisi lain, ada Bagas yang masih tersenyum senang sambil melihat foto di ponselnya. Ternyata saat Ayra masih tertidur disampingnya tadi dan saat setelah Gian dan sang sopir keluar dari mobil, Bagas diam-diam mengambil foto Ayra saat itu, karena menurutnya gaya Ayra saat tertidur begitu gemas dimatanya, apalagi setelah 2 tahun berlalu.
Bagas bisa melihat kembali keindahan di wajah Ayra yang bertambah cantik. Bagas sangat merindukan wajah itu. Wajah yang selalu diingatnya sampai kapanpun dan dimanapun dia berada. Ya, wajah Ayra grizelle yang dia ingat.
"Sampai jumpa besok, sayang. Aku sangat merindukanmu," gumam Bagas sambil mencium benda pipih di depannya berfotokan Ayra.
Bersambung....