Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Ujian Kekuatan dan Status Murid Luar
Cahaya fajar menyingsing, mewarnai langit Kota Awan Merah dengan semburat jingga. Alun-alun utama kota telah dipenuhi lautan manusia. Pemuda dan pemudi dari berbagai klan berkumpul dengan wajah tegang sekaligus penuh harap. Hari ini adalah hari penentuan nasib; seleksi penerimaan murid Sekte Pedang Awan, sebuah sekte Bintang Dua yang menguasai wilayah radius ribuan li di provinsi ini.
Di tengah alun-alun, sebuah panggung batu telah didirikan. Di atasnya, duduk seorang pria paruh baya mengenakan jubah putih bersulam awan perak di bagian dada. Matanya setengah terpejam, memancarkan aura tekanan yang membuat napas orang-orang di sekitarnya terasa berat. Dia adalah Utusan Sekte, seorang kultivator tahap Inti Emas setengah langkah.
Lin Chen menyusup ke dalam kerumunan dengan langkah tenang. Pakaian abu-abunya yang kotor dan compang-camping membuatnya tampak kontras di antara anak-anak bangsawan yang mengenakan sutra halus.
"Lihat siapa yang datang," sebuah suara sumbang terdengar dari sisi kiri.
Ye Mang, diiringi oleh beberapa pemuda Keluarga Ye lainnya, melangkah menghampiri Lin Chen. Senyum mengejek terukir jelas di wajahnya. "Aku kira kau sudah mati membeku di pelataran belakang semalam. Untuk apa seorang cacat tanpa Dantian datang ke seleksi sekte? Apakah kau ingin mempermalukan Keluarga Ye di depan Utusan Sekte?"
Beberapa anggota klan lain yang mendengar itu mulai berbisik-bisik. Kasus jenius Keluarga Ye yang kehilangan Akar Rohnya memang sudah menjadi rahasia umum di kota ini.
Lin Chen menatap Ye Mang sekilas, raut wajahnya sedatar permukaan danau yang tenang. "Jalanan ini bukan milik Keluarga Ye. Siapa saja berhak mendaftar."
"Kau—!" Ye Mang mengertakkan gigi, merasa diremehkan. Ia ingin memberi pelajaran, namun tatapan tajam Utusan Sekte dari atas panggung membuat nyalinya menciut. Ia hanya bisa mendengus dingin. "Baik. Mari kita lihat bagaimana kau ditendang keluar seperti anjing kurap nanti."
Seleksi dimulai.
Tahap pertama sangat sederhana namun brutal: Batu Pengukur Roh. Setiap peserta harus meletakkan tangan di atas batu kristal hitam besar untuk mengukur tingkat kultivasi Qi dan keutuhan meridian mereka.
"Ye Mang! Tahap Pengumpulan Qi lapisan kelima! Akar Roh Kelas Menengah! Lulus, memenuhi syarat sebagai Murid Luar!" seru seorang penilai dari sekte ketika Batu Pengukur Roh memancarkan cahaya hijau yang cukup terang.
Ye Mang membusungkan dada, menatap sinis ke arah Lin Chen saat ia turun dari panggung. Beberapa pemuda lain menyusul, sebagian besar gagal dan menangis histeris. Seleksi sekte sangatlah kejam; mereka yang tidak memiliki bakat akan selamanya menjadi manusia fana.
"Lin Chen, bersiaplah," suara Guru Lin Tian menggema di dalam benaknya. "Batu itu melacak fluktuasi Qi di Dantian. Karena Dantianmu hancur, batu itu tidak akan bereaksi. Namun, kau bisa mengalirkan seutas kecil energi dari Titik Bintang di dadamu ke telapak tanganmu. Ubah frekuensinya menggunakan teknik penyamaran yang kuajarkan. Ingat, jangan terlalu banyak. Cukup untuk membuatmu terlihat memiliki kekuatan fisik, bukan Qi spiritual."
Lin Chen mengangguk pelan. Saat namanya dipanggil, ia melangkah naik ke atas panggung batu. Semua mata tertuju padanya. Beberapa menatap dengan kasihan, sebagian besar dengan ejekan.
"Bukankah itu Ye Chen? Dantiannya sudah hancur total, apa yang dia harapkan?"
"Sayang sekali, dulu dia adalah jenius nomor satu kita."
Utusan Sekte membuka sebelah matanya, menatap Lin Chen dengan alis berkerut. Ia bisa merasakan tidak ada sedikit pun fluktuasi Qi alami dari pemuda berpenampilan lusuh di depannya.
Lin Chen meletakkan telapak tangan kanannya di atas Batu Pengukur Roh. Sesuai instruksi gurunya, ia tidak mengalirkan Qi, melainkan menggeser sebutir kecil energi kosmis dari Titik Bintang di dadanya, menyalurkannya melalui otot dan tulang lengannya, lalu menekannya ke permukaan batu.
Wuuusss...
Batu Pengukur Roh itu terdiam sejenak. Tidak ada cahaya terang yang memancar. Para penonton sudah bersiap untuk tertawa. Namun, tiba-tiba, sebuah suara dengungan yang sangat berat dan tumpul terdengar dari dalam batu tersebut.
BZZZT... KTAK!
Permukaan batu tidak bercahaya, melainkan bergetar pelan, seolah baru saja ditekan oleh beban seberat ribuan jin (satuan berat).
Sang penilai mengerutkan kening, terlihat kebingungan. Ia menoleh ke arah Utusan Sekte. Utusan itu akhirnya membuka kedua matanya sepenuhnya, menatap tangan Lin Chen.
"Dantian yang hancur, tidak ada Akar Roh," ucap Utusan Sekte dengan suara datar yang bergema di seluruh alun-alun. "Namun... memiliki kekuatan fisik bawaan yang cukup besar. Tulang dan ototnya bereaksi keras. Ini adalah fenomena Tubuh Fana Kasar."
Utusan Sekte terdiam sejenak sebelum mengambil keputusan. "Kekuatan fisik murni tanpa Qi tidak akan membawamu jauh di jalan kultivasi. Namun, Sekte Pedang Awan selalu membutuhkan tenaga. Kau lulus... tapi hanya sebagai Murid Pelayan (Handyman Disciple) di Puncak Pandai Besi."
Ledakan tawa seketika pecah dari barisan Keluarga Ye.
"Murid Pelayan! Hahaha! Itu bahkan lebih rendah dari penjaga gerbang!" ejek Ye Mang sambil memegangi perutnya. "Sang jenius kita kini akan menghabiskan hidupnya membelah kayu dan memompa alat peniup api untuk sekte!"
Lin Chen tidak mempedulikan tawa yang mengelilinginya. Ia menarik tangannya dari batu pengukur dan membungkuk hormat kepada Utusan Sekte dengan ekspresi tenang.
"Terima kasih, Senior."
Saat ia membalikkan badan dan turun dari panggung, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang tak disadari oleh siapa pun.
"Kerja bagus," puji Lin Tian dalam benaknya. "Murid Pelayan di area Pandai Besi. Tidak ada tempat yang lebih sempurna dari itu. Kau akan dikelilingi oleh bijih besi spiritual, api bumi, dan kebebasan dari pengawasan ketat tetua sekte. Di sanalah kita akan mulai mengumpulkan sumber daya untuk menyalakan Titik Bintang keduamu, tanpa ada satupun yang menyadari bahwa seekor naga sedang tertidur di tumpukan abu."
Langkah Lin Chen terasa ringan. Mulai hari ini, ia bukan lagi Ye Chen dari Keluarga Ye, melainkan Lin Chen, seorang pelayan rendah di Sekte Pedang Awan