Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Hitam dan Ciuman Sandiwara
Dua hari setelah rahasianya terbongkar, Elena merasa seperti tahanan kota di dalam mansion megah itu. Namun hari ini, Nicholas memberinya sebuah kotak beludru besar berwarna hitam. Di dalamnya terdapat sebuah gaun malam sutra hitam tanpa lengan yang sangat elegan, lengkap dengan sepasang sarung tangan satin senada.
"Malam ini, kau akan ikut bersamaku ke gala dinner tahunan para pebisnis pantai timur," ujar Nicholas dingin saat mereka berdiri di koridor.
"Atau lebih tepatnya, pertemuan puncak para keluarga mafia. Di sana akan ada banyak kamera, musuh, dan mata-mata. Ingat, di depan mereka, kau adalah Alana Barrett. Wanita yang gila harta, sombong, dan sangat mencintaiku."
Elena menatap gaun itu, lalu menatap Nicholas yang sudah mengenakan tuksedo hitam sempurna. "Bagaimana jika aku melakukan kesalahan?"
Nicholas melangkah mendekat, membetulkan kerah gaun rajut pink yang masih dikenakan Elena sebelum dia berganti pakaian. "Jangan membuat kesalahan, Elena. Di dunia kami, satu kesalahan kecil berarti peluru di pelipis."
---
Dua jam kemudian, limosin mereka berhenti di depan sebuah hotel bintang lima yang telah dikosongkan khusus untuk acara malam ini. Lampu kilat dari para fotografer langsung menyambar begitu pintu mobil terbuka.
Nicholas turun terlebih dahulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya. Elena menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan menyambut tangan Nicholas. Dia memasang senyum paling menawan sekaligus angkuh yang bisa dia tiru dari Alana.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ballroom yang mewah, atmosfer langsung berubah mencekik. Ratusan pasang mata tertuju pada mereka. Nicholas Barrett adalah pria paling ditakuti, dan pernikahan mendadaknya dengan putri keluarga Vance memicu banyak spekulasi.
"Barrett! Senang melihatmu membawa serta pengantin barumu," sebuah suara berat menyapa dari arah depan.
Seorang pria paruh baya dengan bekas luka gores di pipi kirinya mendekat, memegang gelas wiski. Dia adalah Marcus Moreno, salah satu rival terbesar Nicholas dalam perebutan jalur logistik pelabuhan.
"Moreno," sapa Nicholas pendek, suaranya sedingin es.
Marcus mengalihkan tatapan predatornya pada Elena, meneliti setiap lekuk tubuh gadis itu dengan pandangan yang membuat Elena merasa kotor. "Jadi, ini Alana Vance yang terkenal itu? Kudengar kau sangat suka menghamburkan uang, My Lady. Tapi berada di samping Nicholas... bukankah itu terlalu membosankan untuk wanita liar sepertimu?"
Elena merasakan cengkeraman tangan Nicholas di pinggangnya mengencang secara halus sebuah kode keras agar dia segera bertindak sesuai perannya.
Elena memaksakan sebuah tawa renyah, tawa yang terdengar manja namun tajam. Dia mendekatkan tubuhnya ke dada Nicholas, membiarkan jemarinya yang terbalut satin hitam meraba kerah suaminya dengan sensual.
"Paris memang indah, Mr. Moreno," ucap Elena dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu namun penuh percaya diri.
"Tapi tidak ada satu pun barang di Paris yang bisa memberikan ketegangan yang kuharapkan... kecuali suamiku. Nicholas tahu persis bagaimana cara menjagaku tetap terhibur di ranjang maupun di luar."
Marcus menaikkan alisnya, sedikit terkejut dengan jawaban blak-blakan itu. Sementara itu, Elena bisa merasakan tubuh Nicholas menegang sesaat di sampingnya.
"Oh, benarkah?" Marcus menyeringai sinis.
"Kalian berdua tampak sangat serasi. Tapi aku penasaran, apakah rumor tentang pernikahan kalian yang dingin itu benar? Di lingkaran kami, banyak yang bertaruh kalian bahkan tidak saling menyentuh."
Tantangan itu dilemparkan secara terbuka. Beberapa petinggi mafia di sekitar mereka mulai menoleh, menunggu reaksi Nicholas.
Nicholas tidak bersuara selama beberapa detik. Namun tiba-tiba, dia memutar tubuh Elena hingga gadis itu menghadap sepenuhnya ke arahnya. Sebelum Elena sempat mencerna apa yang terjadi, tangan besar Nicholas sudah mencengkeram tengkuk leher belakang Elena, menariknya dengan sentakan lembut namun dominan.
Nicholas menunduk dan mengunci bibir Elena dengan bibirnya.
*Cup.*
Itu bukan sekadar kecupan formalitas. Nicholas melumat bibir Elena dengan tekanan yang dalam, menuntut, dan penuh kepemilikan.
Aroma tembakau mahal dan kekuatan absolut pria itu langsung menguasai seluruh indra Elena. Jantung Elena berdegup begitu kencang hingga dia mengira jantungnya akan meledak.
Lututnya mendadak lemas, dan secara refleks, kedua tangannya mencengkeram bahu kokoh Nicholas agar tidak terjatuh.
Di hadapan semua musuhnya, Nicholas sedang menandai wilayahnya. Dia sedang menunjukkan pada dunia bahwa wanita di pelukannya adalah miliknya, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya.
Ketika Nicholas akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, Elena terengah-engah dengan bibir yang sedikit bengkak dan kemerahan. Nicholas menatapnya dengan sepasang mata abu-abu yang kini tampak menggelap oleh sesuatu yang tidak bisa Elena artikan.
Nicholas menoleh kembali pada Marcus yang kini terdiam dengan wajah masam.
"Apakah itu cukup membuktikan, Moreno? Atau kau ingin aku menunjukkannya lebih jauh di atas meja makan ini?" tanya Nicholas dengan suara rendah yang terdengar sangat berbahaya.
Marcus berdeham, mencoba menyelamatkan harga dirinya. "Tentu saja tidak, Barrett. Nikmati malammu." Pria paruh baya itu segera berbalik dan pergi menjauh.
Elena masih mencoba mengatur napasnya yang memburu saat Nicholas mendekatkan bibirnya ke telinga Elena, berbisik dengan suara serak yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Kerja bagus, wifey. Aktingmu hampir membuatku percaya kalau kau benar-benar menginginkanku."
---