NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Keputusan yang Mengubah Nasib

Faris Arjuna masih berdiri mematung di pinggir jalan raya yang bising itu, rasanya kayak kakinya menempel kuat ke aspal panas yang menyengat. Pikirannya rasanya berantakan banget, kayak mesin tua yang tiba-tiba macet total atau korsleting parah kena air. Baru beberapa jam yang lalu dia capek-capek jalan kaki keliling terminal, nyari kerjaan apa aja yang penting halal dan bisa buat makan sehari-hari. Dari nawain tenaga jadi kuli angkut barang, bantu-bantu di warung makan, sampe nawain diri jadi pelayan toko, tapi hasilnya selalu sama: ditolak mentah-mentah, diusir, atau cuma dikasih harapan kosong doang.

Dia sempet mikir dalam hati, mungkin nasibnya emang ditakdirkan buat susah terus di kota orang ini. Mungkin dia salah ambil keputusan ninggalin kampung halamannya di Sidoarjo, ninggalin orang tua yang udah tua, demi ngelanjutin hidup dan nyari rejeki yang lebih baik. Tapi sekarang? Cewek cantik, anggun, pinter, dan kelihatannya orang paling berkuasa di sini malah nawarin dia kerjaan yang selama ini cuma dia liat di film tipi atau denger dari cerita orang: jadi pengawal pribadi, orang yang jagain nyawa bos besar.

"Bodyguard? Mbak serius ngomong gitu sama saya? Nggak lagi ngerjain saya atau ngajak bercanda kan?" tanya Faris sekali lagi, matanya melotot dikit, dia takut salah denger atau malah jadi bahan ketawaan orang banyak yang masih ngeliatin mereka dari jauh. Rasanya kayak lagi mimpi indah yang sebentar lagi bakal ilang pas dia bangun.

Viona Adhitama cuma ngangguk pelan tapi mantap, tatapan matanya tajam dan tenang, nggak ada ragu sedikit pun di sana, nggak ada senyum atau nada bercanda yang kelihatan. Dia bukan tipe wanita yang suka main-main, bercanda apalagi ngerjain orang lain sembarangan, apalagi di saat nyawanya lagi terancam bahaya kayak kejadian tadi. Buat dia, waktu itu sangat berharga dan setiap keputusan yang dia ambil pasti ada alasannya yang kuat banget, dipikirin matang-matang, dan nggak bakal dia ubah gampang.

"Iya Faris. Bodyguard. Pengawal pribadi saya," jawab Viona tenang, suaranya jelas, tegas, dan berwibawa banget, bikin orang yang denger rasanya segan dan percaya. "Saya butuh orang yang kuat, berani, jujur, dan yang paling penting bisa dipercaya nyawanya sama saya. Dan tadi, pas kamu nekat nolongin saya padahal kamu nggak kenal saya, nggak ada kepentingan apa-apa, dan nggak minta bayaran sedikit pun, saya nemuin semua sifat yang saya cari itu di diri kamu."

Faris garuk-garuk kepalanya yang sebenernya nggak gatel sama sekali, bingung banget harus ngomong apa dan harus ngerespon gimana. Dia melirik tas ransel lusuh yang udah agak robek di bagian ujungnya, tas yang dia bawa dari rumah berisi semua barang pakaian dan kebutuhan yang dia punya, nggak ada barang berharga sama sekali di dalamnya. Terus dia natap Viona yang berdiri tegak di depannya, pake baju rapi, bersih, wangi, terbuat dari bahan yang kelihatannya mahal banget, beda banget sama dia yang masih pake kaos oblong udah agak pudar warnanya sama celana jeans biasa yang udah banyak lipetannya.

Kontras banget. Kayak langit sama bumi yang tiba-tiba ketemu dan nyatu di satu tempat. Orang-orang di sekitar sana yang tadi ngeliat perkelahian itu aja masih pada melongo, ada yang bisik-bisik ngomongin mereka, ada yang natap dia dengan pandangan nggak percaya dan iri, kayak nggak nyangka pemuda biasa, lusuh, dan kelihatan miskin kayak dia bisa dapet rejeki segede ini cuma dalam sekejap mata gara-gara nolongin orang.

"Mbak Viona dengerin saya baik-baik ya, saya mau jujur apa adanya biar nanti nggak ada salah paham di belakangnya," kata Faris sambil natap mata Viona lekat-lekat, dia nggak mau ada rahasia atau hal yang ditutup-tutupi di awal kerja sama mereka. "Saya ini cuma anak kampung biasa, lulusan sekolah umum aja, nggak punya ijazah tinggi, nggak pernah kerja kantoran, nggak ngerti aturan-aturan kerja yang ribet, apalagi jadi pengawal bos besar yang punya banyak musuh dan bahaya begini. Saya nggak punya sertifikat bela diri resmi, nggak pernah ikut pelatihan khusus apa-apa, nggak pernah belajar gimana cara jagain orang penting. Yang saya tahu cuma cara ngadepin preman jalanan, cara bela diri kalau diserang banyak orang sekaligus, cara ngelindungin diri sendiri sama orang yang lemah dari kejahatan. Itu aja saya dapet dari pengalaman hidup susah, sering berantem ngelawan ketidakadilan di kampung sama di jalanan Surabaya dari kecil. Apa itu bener-bener cukup buat jagain nyawa Mbak yang penting dan berharga banget ini?"

Viona narik napas panjang, terus melipat kedua tangannya di dada, dia jalan pelan mengelilingi Faris satu kali, natap dia dari ujung rambut sampe ujung kaki, kayak lagi ngecek barang dagangan yang berharga atau nyelidiki sesuatu yang dia butuhin banget. Tatapannya tajam banget, seolah dia bisa liat apa yang ada di dalem hati, pikiran, dan masa depan Faris.

"Justru itu yang saya butuhin dari kamu, Faris," potong Viona cepet, nadanya tegas banget dan yakin banget sama pendapatnya. "Orang-orang profesional yang saya sewa sebelumnya, yang punya ijazah bagus, yang bayarannya mahal banget, yang katanya ahli bela diri sama keamanan, semuanya berkhianat sama saya. Mereka gampang banget disuap, dibeli pake uang sama harta sama musuh saya, akhirnya malah jadi mata-mata buat mereka, malah nyerang saya dari belakang, malah ngasih tau kebiasaan sama tempat saya ke mana aja ke orang yang mau nyakitin saya. Mereka udah terbiasa sama dunia uang, kekuasaan, sama kemewahan, jadi prinsip mereka gampang banget goyang, niat mereka gampang banget berubah demi keuntungan sendiri. Tapi kamu... kamu orang baru di kota ini, kamu nggak kenal siapa-siapa, nggak punya urusan sama siapa-siapa, nggak punya hutang, nggak punya musuh, nggak terikat sama orang atau kelompok mana pun di sini. Dan yang paling penting, tadi saya liat sendiri, kamu nolongin saya bukan karena mau minta bayaran atau mau cari untung, tapi karena kamu nggak tega ngeliat ketidakadilan dan orang lemah disakiti. Itu sifat jujur dan berani yang nggak bisa dibeli pake uang seberapa pun banyaknya, itu yang paling mahal dan paling saya butuhin sekarang."

Faris diem, nggak bisa jawab apa-apa karena bener juga apa yang dibilang Viona. Dia mikir-mikir, logikanya sebagai orang kampung yang waspada dan hati-hati mulai jalan. Rasanya ada yang aneh banget, rasanya terlalu indah buat jadi kenyataan. Kenapa wanita sekaya, sekuat, dan sepenting ini butuh orang asing kayak dia yang belum apa-apa, yang nggak ngerti apa-apa soal dunia mereka? Jangan-jangan ini jebakan? Jangan-jangan urusan ini jauh lebih berbahaya daripada yang dia bayangin dan dia malah bakal jadi korban atau kambing hitam kalau ada apa-apa nanti?

"Tapi kenapa harus saya, Mbak?" tanya Faris lagi, kali ini nadanya lebih serius dan hati-hati, dia mau pastiin semuanya bener-bener aman dan masuk akal. "Dunia Mbak pasti dunia orang-orang kaya, pejabat, orang berkuasa, dunia yang bahayanya pasti gede banget, yang masalahnya pasti rumit banget. Apa jaminannya saya bisa selamat kalau saya terima kerja ini? Saya nggak mau nanti baru beberapa hari kerja terus udah mati dibunuh atau ditangkep polisi gara-gara urusan yang saya nggak ngerti sama sekali. Saya juga masih punya orang tua yang harus saya nafkahi sama jagain, saya nggak mau nyusahin mereka atau bikin mereka sedih kalau ada apa-apa sama saya."

Viona jalan mendekat lagi, sekarang jarak mereka cuma tinggal sekitar satu meter, bener-bener deket banget. Wangi parfum mahal yang dipake Viona langsung nyeruak masuk ke hidung Faris, bikin dia jadi agak kaku dan canggung, rasanya kayak berdiri di sebelah benda yang sangat berharga, rapuh, dan harus dijaga baik-baik.

"Jaminannya cuma satu: uang sama perlindungan saya," jawab Viona dingin tapi pasti, dia yakin banget dia bisa jaga keselamatan orang yang kerja sama dia. "Saya bisa bayar kamu sepuluh kali lipat lebih banyak dari apa pun yang pernah kamu bayangin atau kamu dapet selama hidupmu di kampung. Dengan uang itu, kamu bisa kirim uang ke orang tua kamu di Sidoarjo setiap bulan rutin, kamu bisa beliin mereka rumah yang lebih layak, bapak kamu nggak perlu lagi capek-capek nambal sandal udah bolong buat dipake berhari-hari, ibu kamu nggak perlu bangun subuh-subuh buta terus kerja berat dari pagi sampe sore cuma buat nyari uang receh beli beras sama bumbu dapur. Kamu bisa ngubah hidup keluarga kamu jadi jauh lebih baik, lebih enak, lebih tenang, dan itu semua bisa kamu dapet kalau kamu mau bantu saya sekarang dan jagain saya sebaik-baiknya."

Faris tersentak hebat, dia mundur selangkah sampe punggungnya nabrak tiang listrik yang ada di sebelahnya. Matanya melotot kaget banget, dia bener-bener nggak nyangka Viona bisa ngomong gitu. Lah? Cewek ini tau dari mana soal sandal bapaknya yang udah usang dan sering ditambal itu? Dia tau dari mana soal keadaan ekonomi keluarga Faris yang pas-pasan itu, yang sering kesusahan kalau ada kebutuhan mendadak? Apa cuma kebetulan aja dia ngomong gitu? Tapi kalimat itu bener-bener kena banget di hati, ngena tepat di titik yang paling bikin dia sakit, paling dia khawatirin, dan paling dia pengen ubah selama ini. Kesejahteraan orang tua adalah hal yang paling dia inginkan dan dia perjuangin lebih dari apa pun, itu tujuan utama dia pergi merantau ke Jakarta.

"Berapa gajinya per bulan kalau saya terima kerja ini?" tanya Faris pelan, nadanya udah berubah serius banget, rasa ragu sama takutnya udah mulai tergantikan sama harapan yang besar banget.

Viona sebutin satu angka dengan tenang dan datar, seolah angka itu cuma uang receh doang buat dia. Pas denger angka itu, rasanya jantung Faris hampir copot keluar dari dadanya, mulutnya sampe nganga nggak percaya, napasnya sempet berhenti sebentar kaget banget. Jumlah itu gede banget, jauh melebihi apa yang pernah dia dapet atau denger selama hidupnya. Itu gaji yang biasanya cuma didapet sama orang-orang yang udah kerja bertahun-tahun atau orang yang punya jabatan tinggi di perusahaan besar, bukan pemuda biasa kayak dia yang baru pertama kali kerja resmi.

"Terus fasilitasnya gimana? Tinggal di mana, makan gimana, baju kerja, sama kebutuhan lain gimana?" tanya Faris lagi, dia nyoba tetep kelihatan tenang dan profesional padahal dalem hatinya udah deg-degan campur senang luar biasa, rasanya kayak dapet rejeki nomplok yang nggak disangka-sangka. Dia mau pastiin semuanya jelas biar nggak ada kekecewaan atau masalah di kemudian hari.

"Semuanya ditanggung perusahaan, nggak ada yang kamu harus bayar sendiri," jawab Viona tegas dan jelas, nggak ada yang dia sembunyiin. "Kamu dapet apartemen layak dan aman buat ditempati sendirian, asuransi kesehatan yang lengkap buat kamu sama keluarga kalau butuh, baju kerja sama perlengkapan yang kamu butuhin buat kerja, makan sehari-hari yang layak, semuanya saya yang atur dan saya yang bayar. Kamu nggak perlu keluar uang sepeser pun buat kebutuhan itu, semuanya udah jadi tanggung jawab saya. Tugasmu cuma satu dan itu aja: jagain saya, ikut ke mana pun saya pergi, siang malem saya harus ada kamu di sebelah saya, pastikan saya aman dari orang-orang yang mau nyakitin atau nyerang saya, kayak yang tadi kejadian di sini. Gampang kan tugasnya? Cuma butuh tenaga sama keberanian aja, itu kan yang kamu punya berlebihan."

Faris narik napas panjang, terus hembuskan pelan banget sampe uap napasnya kelihatan dikit kena sinar matahari sore. Dia natap langit biru sebentar, ngeliat awan yang bergerak lambat di atas sana, terus dia kebayang wajah ibunya yang tiap hari bangun subuh banget cuma buat masak dan siapin kebutuhan rumah, kebayang bapaknya yang pulang kerja capek terus malah duduk di teras sampe malem nambal sandal udah usang biar nggak perlu beli yang baru karena sayang uangnya. Kalau kerja ini bisa bikin mereka hidup lebih enak, lebih tenang, dan nggak perlu susah-susah lagi mikirin uang buat makan sama obat-obatan, kenapa dia harus nolak? Ini kesempatan emas yang mungkin nggak bakal datang dua kali seumur hidupnya, dia harus ambil sekarang juga sebelum terlambat atau sebelum Viona berubah pikiran.

"Oke. Saya terima kerja ini," jawab Faris mantap dan tegas, dia natap Viona dengan tatapan yang udah berubah, penuh tekad dan tanggung jawab yang besar banget. "Mulai sekarang saya kerja buat Mbak, saya bakal jagain Mbak sekuat tenaga saya, saya bakal lindungin nyawa Mbak kayak saya lindungin nyawa orang tua saya sendiri. Tapi inget ya Mbak, saya bakal nurut sama perintah Mbak selama apa yang Mbak lakuin itu halal, bener, dan nggak ngerugiin orang lain yang nggak bersalah. Kalau Mbak nyuruh saya lakuin hal jahat atau ngerugiin orang, saya bakal nolak dan langsung berhenti kerja."

Viona senyum tipis, senyum kemenangan yang bikin wajah cantiknya kelihatan jauh lebih menawan dan berwibawa, meskipun di sana masih ada gurat ketegangan dan kekhawatiran yang nggak bisa dia sembunyiin sepenuhnya karena bahaya yang selalu nungguin dia di mana aja.

"Bagus. Itu yang saya cari, orang yang punya prinsip dan berani ngomong jujur. Ikut saya sekarang, kita nggak boleh lama-lama di sini, takut anak buah musuh saya balik lagi atau nungguin kesempatan lain buat nyerang," perintah Viona, terus dia langsung jalan duluan menuju mobil mewah hitam yang terparkir rapi di pinggir jalan itu, sopirnya udah nungguin lama sambil natap mereka dari jauh.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!