Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Labirin Hitam
Aula altar itu kini terasa lebih sempit dari sebelumnya. Udara yang terperangkap di dalamnya seolah membeku saat Ciara menatap Naomi dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara penghinaan dan rasa ingin tahu yang dingin. Ares berdiri di tengah, seperti sebuah benteng yang mencoba memisahkan dua badai yang siap bertabrakan.
"Keberanian yang menarik," ucap Ciara pelan, suaranya halus namun membawa gema ancaman yang nyata. Ia menurunkan mawar hitamnya dan menatap Ares. "Pangeran, kau memiliki pelayan yang sangat setia. Atau mungkin... terlalu setia?"
"Naomi, kembali ke dapur. Sekarang," perintah Ares tanpa menoleh. Suaranya tidak lagi terdengar hangat, melainkan penuh otoritas yang dipaksakan. Ia tahu, semakin lama Naomi berada di hadapan Ciara, semakin besar target yang ia lukis di punggung gadis itu.
Naomi menggigit bibir bawahnya hingga rasa anyir darah terasa di lidahnya. Ia menunduk singkat, bukan karena hormat, melainkan untuk menyembunyikan kilat amarah yang bisa saja meledak saat itu juga. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi, namun setiap langkahnya di atas lantai pualam terdengar seperti tabuhan genderang perang.
Setelah sosok Naomi menghilang di balik pintu kayu ek yang besar, Ciara mendekati Ares. Ia melingkarkan tangannya yang terluka ke lengan Ares, tepat di atas area di mana rune itu bersembunyi.
"Kau gemetar, Pangeran Ares," bisik Ciara. "Apakah kau takut padaku? Ataukah kau takut aku akan melenyapkan mainan kecilmu itu?"
Ares melepaskan cengkeraman Ciara dengan kasar. "Dia bukan mainan. Dan jangan pernah mencoba menyentuh apa yang menjadi urusan dalam negeriku, Putri. Kau di sini untuk sebuah aliansi, bukan untuk menjadi hakim atas siapa yang bekerja di istanaku."
Ares kemudian melangkah pergi, meninggalkan Ciara yang berdiri sendirian di tengah aula yang mulai gelap.
Ciara menatap telapak tangannya yang terbalut kain, di mana darahnya dan darah Ares telah menyatu. "Aliansi?" gumamnya pada diri sendiri. "Kau pikir ini hanya soal aliansi, Pangeran? Kau tidak tahu apa yang dibawa keluargaku dalam darah kami untuk meredam iblis di lenganmu itu."
Malam itu, hujan turun dengan deras, membasuh atap-atap tajam Kerajaan Sanjaya. Naomi tidak bisa tidur. Peringatan ayahnya, tamparan itu, dan tatapan dingin Ciara terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Namun, yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa Ares baru saja meminum darah wanita lain di depannya.
Dengan jubah kumal untuk menutupi tubuhnya, Naomi menyelinap keluar dari paviliun pelayan. Ia menuju ke perpustakaan tua di sayap timur yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Tempat itu berdebu dan penuh dengan catatan kuno yang bahkan para cendekiawan istana pun enggan menyentuhnya.
Naomi mencari sesuatu. Sebuah legenda yang pernah diceritakan neneknya tentang "Anak yang Tertukar dalam Garis Rune".
Di tengah tumpukan gulungan perkamen yang mulai hancur, ia menemukan sebuah buku bersampul kulit manusia yang terasa hangat saat disentuh. Saat ia membukanya, sebuah gambar rune yang persis dengan yang ada di lengan Ares terpampang di sana. Namun, di bawah gambar itu, ada sebuah catatan kaki dalam bahasa kuno yang Naomi mengerti secara insting.
"Rune tidak memilih raja. Rune memilih darah yang paling murni. Dan darah murni tidak selalu mengalir di dalam jubah sutra."
"Apa maksudnya ini?" gumam Naomi.
Jantungnya berdegup kencang.
Jika benar apa yang ia curigai, maka posisi Ares sebagai pewaris takhta sebenarnya terancam, dan keterikatan emosionalnya pada Ares bukan sekadar cinta biasa, melainkan panggilan darah yang lebih tua dari kerajaan itu sendiri.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar membekap mulutnya dari belakang. Naomi meronta, namun tenaga orang itu jauh lebih kuat.
"Sshhh... kau seharusnya tidak mencari tahu hal ini, Kecil," suara itu berat dan parau.
Naomi memutar tubuhnya dan mendapati ayahnya berdiri di sana dengan wajah yang pucat pasi di bawah cahaya lilin yang redup. Ayahnya tidak tampak marah, melainkan ketakutan yang luar biasa.
"Ayah? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kau dalam bahaya, Naomi. Sejak kau lahir, aku dan ibumu berusaha menyembunyikan aromamu dari para tetua kerajaan. Tapi sekarang, dengan kedatangan Putri Ciara, segel itu mulai retak. Dia tidak datang untuk menikah dengan Pangeran Ares, Naomi. Dia datang untuk menjemput pemilik rune yang sebenarnya."
Naomi tertegun. "Maksud Ayah... Ares bukan pemiliknya?"
"Pangeran Ares hanyalah wadah sementara," bisik ayahnya dengan suara bergetar. "Dan kau... kau adalah alasan mengapa rune itu terus berdenyut kesakitan setiap kali kau berada di dekatnya. Ia ingin kembali ke rumahnya, Naomi. Ia ingin kembali kepadamu."
Di luar, petir menyambar, menerangi wajah Naomi yang kini dipenuhi kengerian sekaligus pemahaman yang pahit. Ternyata, ia bukan sekadar anak pelayan yang cemburu. Ia adalah bagian dari kutukan yang sedang berusaha dimusnahkan oleh Kerajaan Sanjaya. Dan di atas sana, di menara tertinggi, Pangeran Ares mungkin sedang sekarat karena menanggung beban yang seharusnya menjadi milik gadis yang ia anggap sebagai rakyat jelata.