Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
~Tangan Nai Bikin Onde~
Suara radio yang memutar drama ketoprak terdengar samar dari arah dapur. Jam dinding masih berdetak konstan, menunjukkan pukul sembilan malam. Di sudut ruangan, seorang gadis masih sibuk menguleni adonan tepung beras ketan untuk membuat onde-onde legit.
Naira menatap baskom di hadapannya dengan lebih teliti, memastikan tekstur bahannya sudah pas. Tangannya bergerak statis, membolak-balikkan adonan dengan telaten.
"Kamu bikin berapa banyak sih, Nai?" tanya ibunya yang baru saja masuk ke dapur. Matanya melirik seberapa besar baskom ukuran sedang yang dipakai sang putri untuk mengulen.
Belum lagi, ada sebuah baskom lain di dekatnya yang berisi adonan kacang hijau kupas. Adonan itu telah ditumbuk halus lalu dimasak hingga mengeluarkan aroma manis perpaduan pandan dan santan.
"Nggak banyak, Bu," jawab Naira.
Wanita paruh baya itu kembali melirik ke arah adonan, lalu menggoda, "Kamu mau bikin buat seluruh tentara di sana?"
Naira tersipu malu, spontan menundukkan kepalanya. "Nggak, Bu. Bukan begitu."
Ibunya kemudian mengambil kursi dan duduk di hadapan Naira. "Sudah kalis belum?"
Naira menghentikan gerakan tangannya sebentar untuk memastikan tekstur adonannya. "Sudah, Bu."
"Biar Ibu bantu. Kamu bagian membulatkan isiannya."
Naira mengangguk patuh. Jemarinya mulai telaten membentuk bulatan-bulatan isi kacang hijau yang ukurannya hampir presisi. Suasana dapur kembali hening sesaat sebelum sang ibu kembali membuka suara.
"Ibu dengar dari Bude Wati dan beberapa warga soal kejadian beberapa hari lalu."
Gerakan tangan Naira mendadak terhenti. Ia mendongak, menatap lekat wajah ibunya. "Lalu?"
"Kamu sudah lakuin hal yang benar." Ibu Naira mengambil sejumput adonan kulit, menggilingnya di telapak tangan sebelum dipipihkan. "Ya karena... Santoso itu kian hari kian meresahkan."
Naira hanya mendengus pelan tanpa memberikan reaksi lebih. Berita terbaru yang sempat ia dengar, Santoso memang baru saja diarak warga karena hampir mengintip seorang gadis di bilik mandi. Beruntung korban langsung berteriak. Kejadian yang terjadi sehari setelah insiden Naira itu seolah menguatkan perkataan Naira secara tidak langsung bahwa pria itu memang berbahaya.
"Nai," panggil ibunya pelan.
"Iya, Bu?"
"Ibu rasa, kamu memang harus ikut Arka setelah menikah nanti. Takutnya kalau tetap di sini, malah bahaya buat kamu."
"Maksud Ibu?"
"Santoso bisa makin nekat karena dendam. Jadi, sebelum kamu sah menikah, Ayah sama Ibu sepakat buat antar-jemput kamu dulu ke mana-mana."
Naira tersenyum lembut, hatinya menghangat merasakan perhatian besar kedua orang tuanya. "Iya, Bu. Nanti Nai coba obrolin juga sama Mas Arka besok."
Naira segera bangkit dari kursinya. Beberapa adonan kulit yang telah bulat sempurna mengunci isian kacang hijau itu kini digulingkan di atas piring berisi wijen.
Ia kemudian menyalakan kompor minyak dan menaruh wajan penggorengan di atasnya. Dalam hitungan menit, minyak di dalam wajan mulai berdesis karena panas.
"Ibu tidur duluan, ya," pamit sang ibu seraya bangkit berdiri dengan kantuk yang sudah berat di matanya.
Ibunya berjalan meninggalkan dapur, menyisakan Naira yang kembali sibuk sendirian. Malam itu, Naira ditemani oleh paduan suara dari desis minyak penggorengan dan sayup-sayup suara radio drama ketoprak.
Sembari membalikkan onde-onde di wajan, pikirannya sempat melayang jauh. Ia menimbang-nimbang pilihan pelik: langsung pindah ikut Arka demi keselamatan, atau tetap tinggal di desa demi mengejar cita-citanya untuk sementara waktu?
Butuh waktu hampir satu jam bagi Naira untuk menyelesaikan semua gorengannya. Ketika melirik ke arah jam dinding, jarum pendek rupanya sudah merayap ke angka satu malam.
Naira segera menyimpan onde-onde yang sudah matang ke dalam lemari kayu dapur. Setelah mencuci tangan dan kakinya hingga bersih, gadis itu akhirnya melangkah ke kamar untuk tidur.
...----------------...
Subuh masih merayap pelan. Suara azan terdengar saling bersahutan di kejauhan, sesekali ditimpali oleh kokokan ayam jantan yang bersahutan. Naira sudah kembali berdiri di dapur. Tangannya bergerak telaten memindahkan satu per satu onde-onde dari lemari kayu ke dalam wadah rantang susun yang besar dan tertutup rapat.
Ia tersenyum kuyu. Kantong matanya tampak jelas dengan semburat kemerahan karena hanya sempat memejamkan mata selama tiga jam. Bibirnya sesekali menguap, mencoba menghalau sisa kantuk yang masih menggelayut berat.
Kriiiing!!!
Suara dering telepon rumah yang nyaring mendadak memecah keheningan subuh. Naira sedikit tersentak, buru-buru melangkah ke ruang tengah dan mengangkat gagang telepon sebelum suaranya membangunkan orang tuanya.
"Halo," suara berat nan serak yang sangat familier terdengar di seberang sana, diiringi sedikit derau gemeresak khas telepon kabel.
"Mas Arka?"
"Nai."
"Iya, ini Nai, Mas. Ada apa sepagi ini?"
"Bukan apa-apa. Hanya mau kasih tahu, nanti kamu datang ke batalyon setelah apel selesai, ya. Sekitar jam delapan pagi."
"Baik, Mas."
"Nanti kalau sudah sampai, langsung tunggu di pos jaga depan saja. Jangan ke mana-mana."
Naira tersenyum kecil, ia membetulkan posisi gagang telepon di telinganya. "Siap, Mas Perwira."
"Dan satu lagi... jangan bawa apa-apa, Nai. Cukup bawa berkasmu saja."
Tawa Naira seketika terdengar tertahan. Matanya otomatis melirik ke arah dapur, tempat wadah rantang jumbo berisi puluhan onde-onde wijen yang sudah rapi berjejer.
"Kamu sudah bikin sesuatu, ya?" tebak Arka langsung dari seberang sana. Nada suaranya berubah, ada selipan rasa curiga sekaligus cemas yang kedengaran menggemaskan.
"Ada, deh. Buat Mas Arka pokoknya."
Helaan napas pasrah dari seberang telepon. "Jangan bawa banyak-banyak, merepotkan kamunya nanti di jalan."
Naira kembali tersenyum lebar, rasa kantuknya menguap begitu saja. "Siap, Mas Perwira."
Hening sejenak di antara sambungan telepon mereka, sebelum suara Arka kembali terdengar, kali ini nadanya melunak jauh lebih dalam.
"Nai."
"Iya, Mas?"
"Jangan takut buat pemeriksaan kesehatan hari ini, ya? Semua bakal lancar."
"Iya, Mas. Nai nggak takut, kok."
"Ya sudah. Saya bersiap apel dulu. Hati-hati di jalan nanti."
"Iya, Mas Arka."
Klik. Sambungan telepon terputus
Naira buru-buru meletakkan gagang telepon itu kembali ke tempatnya, lalu bergegas menuju kamar. Di sana, pakaian yang telah disetrikanya rapi semalam masih tergantung sempurna. Setelan batik berwarna hitam cokelat dan rok span hitam.
Ia tersenyum manis melihatnya. Tangannya bergerak pelan, menelusuri permukaan kain tersebut dengan debaran halus di dada. Hari ini, ia akan resmi memasuki gerbang batalyon—dunia yang kaku dan tegas milik Lettu Arka Wiguna.
...----------------...
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.