NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 28

“Terima kasih sudah menjenguknya. Anak ini benar-benar antusias belakangan ini. Itu karena keadaannya semakin membaik. Dia tak sabar memberitahumu tentang itu. Katanya ingin meminta hadiah.” Ilyas berbisik di kalimat akhirnya.

Walaupun begitu, Angkasa tetap bisa mendengarnya membuat anak itu bereaksi panik.

“Oh, jadi begitu, yah. Ada yang ingin menagih hadiah.” Amelia tampak mengangguk-angguk.

“Eh, tidak-tidak. Mana ada. Kak Ilyas berbohong.” Angkasa menatap melas pada Amelia memohon kepercayaan.

Amelia dan Ilyas saling tatap lalu tertawa. Melihat reaksi Angkasa yang tampak menggemaskan benar-benar menghibur. Anak itu sekarang bahkan tampak akan menangis.

“Jangan menangis. Kak Ilyas hanya bercanda. Lagi pula Kakak ke mari memang ingin membawakanmu hadiah.”

Amelia mengeluarkan sebuah kotak yang agak besar dari dalam paper bag dan menyerahkannya pada Angkasa. Mata anak itu seketika berbinar. Jika sebelumnya dia diberikan figur karakter hero, sekarang adalah figur bangunan tempat tinggal para hero itu.

“Kakak, ini benar-benar untukku?” Mata anak meneliti setiap detailnya dari luar.

“Tentu saja. Suka tidak?”

“Kakak pasti bercanda, tentu saja suka. Terima kasih.” Angkasa memeluk erat Amelia.

Hari ini adalah hari ke sekian Amelia melewati hidup yang sulit dan sepi setelah pernikahannya. Mungkin jika dihitung sudah masuk empat bulan sejak pernikahannya dengan Hanan. Entah dia harus mengatakannya singkat atau terasa begitu lama. Namun, hari ini dia senang memiliki waktu luang karena Rosa dan Hanan sedang keluar bersama.

Awalnya Rosa mengajaknya pergi bersama, tapi dia lebih memilih izin ke rumah sakit untuk menjenguk Angkasa yang dikabarkan keadaannya telah membaik. Akhirnya Rosa tak memaksa lebih jauh dan Hanan juga tampak tak peduli. Ketidakpedulian itulah yang justru membuat Amelia lega.

“Kakak, Kak Ilyas bilang kalau keadaanku terus membaik, mungkin bulan depan aku sudah bisa keluar dari rumah sakit.”

Amelia bisa melihat jejak kebahagiaan di mata anak itu saat menceritakan perkembangan kesehatannya.

“Benarkah, bagus kalau begitu.” Amelia menepuk pelan puncak kepala Angkasa.

“Iya, aku bisa sekolah lagi setelah ini. Nanti aku akan memperkenalkan kakak pada teman-temanku dan memamerkan hadiah yang kudapat.”

Di tengah kesenangan Angkasa, Amelia tiba-tiba memikirkan sesuatu. Dia lalu mengangkat kepalanya dan menatap Ilyas seolah menyiratkan sebuah pertanyaan yang entah bagaimana langsung dipahami oleh perawat itu.

“Seorang dokter rumah sakit yang merupakan kenalan lama orang tuanya berencana membawa Angkasa pulang jika keadaannya sudah benar-benar membaik, tapi kami masih menunggu keputusan Angkasa karena sampai sejauh ini anak itu belum memberikan jawaban apa pun terkait tawaran dokter tersebut.” Ilyas berbisik pada Amelia.

Gadis itu merasa iba dengan kemalangan yang menimpa anak sekecil Angkasa. Dia benar-benar sebatang kara sekarang.

“Kamu harus sehat. Nanti saat hari kepulanganmu, kakak akan datang mengantarmu.”

“Serius? Janji?”

“Janji.” Amelia menautkan jari kelingking mereka yang berbeda ukuran, tapi sama-sama mungil.

***

“Tidurlah dulu. Aku akan menyusulmu nanti.” Hanan mengecup pelan dahi istrinya. Keduanya tengah berdiri di ambang pintu.

“Baiklah. Jangan lupa minum kopinya. Aku sudah membuatnya dengan susah payah.”

“Tentu. Aku pasti meminumnya sampai habis.”

Memang jarang Rosa membuat sesuatu untuk suaminya, apalagi kali ini wanita itu telah membuatkannya kopi. Pria itu akan sangat menghargainya.

Setelah memastikan istrinya terlelap, Hanan kembali ke ruang kerja dan langsung menyesap kopi yang masih hangat.

“Terlalu pahit, tapi ini jauh lebih manis karena dibuat oleh Rosa.” Pria itu tersenyum tanpa sadar. Memang benar bahwa cinta dapat mematikan indra seseorang. Itulah yang terjadi pada Hanan. Bahkan jika Rosa tak melakukan apa pun, pria itu akan tetap menyukainya.

Amelia sudah membereskan tempat tidurnya, tubuhnya sudah menyamankan diri di atas ranjang empuk dan bantal. Gadis itu begitu cepat terlelap dan terbang ke alam mimpi.

Setengah jam kemudian, gadis itu terbangun oleh suara gedoran pintu.

Dengan rambut yang setengah tertata, Amelia membuka pintu—khawatir kakaknya membutuhkan sesuatu. Namun, sosok di depan pintu jauh membuatnya lebih terkejut.

“Kamu—“

“El?”

Mata Amelia terbelalak sejenak. Bukan hanya karena nama kecil yang disebut oleh Hanan, tapi juga pria itu yang tiba-tiba masuk ke kamar Amelia dan mendekapnya dengan erat. Pintu kamar tertutup oleh gerakan kaki pria itu yang tampak gesit.

“Apa yang kamu lakukan?” Kesadaran seolah memukul telak. Amelia melepas kasar pelukan pria itu padanya. “Keluar!”

Amelia tergesa berjalan menuju pintu, tapi Hanan lebih sigap menahan pinggang rampingnya.

“El, kenapa kamu menghindariku?” Hanan kembali memeluk Amelia, lebih erat dari sebelumnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Sialan!” Amelia tanpa sadar mengumpat.

Tingkah Hanan sangat tak wajar, meski dia memang mencintainya, tapi sikapnya justru mengundang tanda tanya besar di kepala Amelia seolah akan ada badai yang menerpanya. Terbukti dari gerakan Hanan yang semakin tak bisa diprediksi. Tangannya merayap ke mana-mana membuat Amelia merinding. Bibirnya bergerak pelan menyentuh telinga gadis itu.

“El, mari kita saling memiliki malam ini.”

***

“Kenapa Mas Hanan lama sekali? Harusnya obatnya sudah bereaksi, ‘kan.” Rosa mondar-mandir di kamarnya dengan hati resah.

Jika tidak terdesak dengan keadaan dan pikirannya yang setiap hari bertarung, dia tak akan nekat melakukan ini. Beberapa saat lalu dia telah menambahkan bubuk obat ke dalam kopi Hanan yang setidaknya akan membuat suaminya itu kehilangan kendali malam ini.

Dia merasa frustasi karena Hanan sama sekali tak mau menyentuhnya lebih jauh selain kecupan di dahi. Ini juga dia lakukan atas saran Jetro yang menjadi tempat curhat setianya. Sudah satu jam berlalu dan harusnya obat itu sudah bekerja asal Hanan meminum kopinya, tapi hingga kini pria itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya.

Rosa memberanikan diri memeriksa keadaan suaminya, tapi baru beberapa langkah menuju pintu, kepala dan dadanya sudah berdenyut nyeri. Matanya melirik jam dinding yang menunjukkan hampir tengah malam. Dia sudah diingatkan untuk banyak beristirahat.

Dengan kepala dan dada yang semakin berdenyut, Rosa mengurungkan niatnya dan merebahkan diri di atas ranjang—berdoa semoga suaminya itu cepat datang karena tak peduli bagaimana keadaannya, dia ingin melakukannya malam ini.

Nyatanya, hingga pagi menjelang, Hanan tak kunjung datang ke kamarnya. Pria itu terbangun oleh cahaya matahari yang menyusup dari jendela kamar. Matanya mengerjap pelan dan mendapati pemandangan ruangan yang asing.

Dengan cepat dia terbangun dan ingatan di malam sebelumnya menyerbu kepalanya. Mulai dari perasaannya yang mendadak tak nyaman setelah minum kopi hingga tubuh yang terasa panas.

“Apa yang salah denganku malam tadi?” Hanan meremas kasar rambutnya hingga wajah Rosa yang terus memaksanya meminum kopi terlintas.

“Apa Rosa memasukkan sesuatu ke kopi itu? Tapi kenapa?”

“Aku mungkin tak bisa mengandung, tapi aku tetap ingin melakukan tugasku sebagai seorang istri.”

“Sial.”

Hanan tidak menyangka istrinya akan senekat ini, tapi yang membuatnya lebih frustasi adalah kesadaran bahwa dia telah menyentuh gadis yang selalu dia tatap dengan penuh kebencian.

1
falea sezi
lu emank g cocok ma cwek baik lun cocok ma Rosa apalagi lu bekas si rosokan🤣🤣 najis amat
falea sezi
lanjut donkk😓 baguss q ksih hadiah deh
Yourfaa: Sabar, yah Kakak. Akan kulanjut, tapi setelah menghadapi dunia yang gonjang-ganjing ini. Ngetiknya cuma bisa pas malem doang, soalnya siang kita harus kembali ke realita dunia kerja😭
total 1 replies
falea sezi
rosa ini bner bner playing victim deh
falea sezi
menikahi kaka adek kandung mana boleh kecuali uda mati tuh kakak nya😒
Yourfaa: Terima kasih buat koreksinya yah, Kakak. Karena ini cerita pertama aku, jadi masih banyak salah dan kurangnya informasi. Next bakal aku perbaiki pelan-pelan supaya alurnya lebih masuk akal dan gak bertentangan sama fakta yang terjadi 🙏🏻☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!