NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

***

  Waktu seolah melambat di dalam penthouse yang kedap suara itu. Bagi Mayang, dunia luar yang bising dan berdebu kini terasa seperti mimpi buruk yang jauh. Setiap pagi, ia terbangun di atas seprai sutra dengan benang emas, menghirup aroma kopi mahal dan bunga lili segar yang diganti setiap hari.

  Mayang berdiri di depan jendela kaca raksasa, mengelus perutnya yang kini sudah memasuki bulan ketujuh. Berat dan kencang. Di balik kemewahan ini, ada sebuah tuntutan yang mulai terasa ganjil di benaknya.

  "Ibu sedang melamun?" Bibi Sumi masuk membawa nampan berisi buah zaitun dan susu kehamilan.

  "Bi," panggil Mayang tanpa menoleh. "Kenapa Tuan Aris memulangkan dua perawat yang seharusnya menjagaku bulan depan? Dia bilang... dia ingin hanya ada kami berdua saat waktunya tiba nanti."

  Bibi Sumi terdiam sejenak, meletakkan nampan dengan gerakan pelan. "Tuan Aris memiliki prinsip sendiri, Bu. Dia ingin privasi mutlak. Dia tidak ingin ada orang asing yang melihat proses kelahiran pewarisnya."

  Mayang berbalik, matanya menyipit. "Tapi ini persalinan, Bi. Bukan sekadar makan malam. Bagaimana jika terjadi sesuatu?"

  "Tuan sudah menyiapkan peralatan medis tercanggih di kamar sebelah. Dokter pribadi akan bersiaga di lobi bawah, tapi Tuan bersikeras ingin menangani proses awalnya sendiri. Dia... dia sangat memuja proses ini, Bu."

  Mayang merasakan bulu kuduknya meremang, namun rasa ngeri itu segera terkubur oleh kilauan gelang zamrud di pergelangan tangannya. Ia tersenyum getir. Apapun kegilaan Aris, pria itu telah memberikannya surga dunia.

  **

  Sore itu, Aris pulang lebih awal. Ia tidak langsung menuju ruang kerjanya, melainkan menghampiri Mayang yang sedang bersantai di sofa kulit. Aris berlutut di depan Mayang, posisi yang kini menjadi favoritnya. Ia tidak lagi menatap wajah Mayang, melainkan memaku pandangannya pada perut besar yang terbungkus daster sutra tipis.

  "Kau harus melahirkan secara normal, Mayang," bisik Aris. Jemarinya yang panjang menelusuri lekuk perut itu dengan penuh pemujaan. "Aku ingin melihat setiap detik perjuangan itu. Aku ingin kau merasakan kekuatan dari kehidupan yang keluar dari tubuhmu."

  Mayang menelan ludah. "Tuan, dokter bilang posisi bayi terkadang bisa berubah. Bagaimana jika—"

  "Tidak ada 'bagaimana jika'," potong Aris, suaranya dingin dan mutlak. Ia mendongak, menatap Mayang dengan mata yang berkilat aneh. "Aku membayarmu untuk sebuah kesempurnaan. Kelahiran normal adalah bentuk kemurnian. Aku ingin menyaksikan kau berjuang di bawah kendaliku. Kau mengerti?"

  Mayang terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk. "Saya mengerti, Tuan."

  "Bagus," Aris berdiri dan mengecup kening Mayang. "Aku sudah mengirimkan satu unit apartemen atas namamu ke pengacara. Itu bonus karena kau menurut."

  Mendengar kata 'apartemen', mata Mayang berbinar. Rasa takutnya lenyap seketika. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun rencana. Jika Aris bisa memberikannya sebanyak ini hanya untuk satu anak, maka dunia ini penuh dengan pria-pria kaya lainnya yang haus akan hal serupa.

  Malam harinya, saat Aris sedang mandi, Mayang duduk di meja rias, mematut dirinya yang tampak sangat makmur. Ia mengambil ponsel mahalnya dan menelpon ibunya di kampung.

  "Mak, adik sudah bisa jalan?" tanya Mayang dengan nada bangga.

  "Sudah, Nduk. Ya Allah, terima kasih. Operasinya sukses, rumah kita juga sudah dikeramik semua. Tetangga semua heran, katanya kamu kerja jadi asisten bos besar ya?"

  Mayang tersenyum sinis pada bayangannya di cermin. "Lebih dari itu, Mak. Mayang sekarang sudah jadi orang terpandang. Uang yang Mayang kirim kemarin cukup untuk beli sawah di desa sebelah, kan?"

  "Cukup, Nduk. Tapi kamu kapan pulang? Mak kangen."

  "Nanti, Mak. Setelah urusan di sini selesai. Mayang bakal bawa pulang uang yang lebih banyak lagi. Mak jangan khawatir, Mayang sudah tahu caranya hidup enak."

  Setelah menutup telepon, Mayang bergumam pelan, "Lahir normal atau tidak, yang penting pundi-pundiku penuh. Setelah Aris, aku akan mencari 'Aris' yang lain. Tubuh ini adalah tambang emas."

  **

  Memasuki minggu-minggu terakhir, perilaku Aris semakin obsesif. Ia melarang Mayang mengenakan pakaian dalam di dalam rumah. Ia ingin melihat bentuk perut Mayang setiap saat. Bahkan saat ia bekerja di laptopnya, ia meminta Mayang duduk di dekat kakinya.

  "Kau tahu, Mayang," ujar Aris sambil membelai perut Mayang yang bergejolak karena tendangan bayi. "Banyak wanita yang bisa hamil, tapi tidak banyak yang memiliki 'kepatuhan' seperti kamu. Kamu tidak banyak tanya. Kamu menerima peranku sebagai pemilikmu."

  Mayang mendongak, memberikan senyum terbaik yang ia pelajari dari majalah-majalah gaya hidup mewah. "Karena saya tahu posisi saya, Tuan. Anda adalah penyelamat saya. Melihat Anda senang adalah tugas saya."

  Aris menarik rambut Mayang pelan, memaksanya menatap matanya. "Apa kau akan merindukan kemewahan ini saat kontrak kita berakhir?"

  "Siapa bilang saya akan melepaskannya?" jawab Mayang berani, meski hatinya berdebar. "Saya sudah terbiasa dengan aroma parfum mahal Anda, Tuan. Saya rasa, saya tidak akan bisa lagi mencium bau asap knalpot di luar sana."

  Aris terkekeh, sebuah suara yang jarang terdengar. "Kau serakah, Mayang. Aku suka wanita serakah. Mereka lebih mudah dikendalikan."

  **

  Malam itu, hujan deras mengguyur Jakarta. Kilat menyambar di balik jendela penthouse. Mayang merasakan mulas yang berbeda dari biasanya. Sebuah remasan kuat di perut bawahnya membuatnya mengerang.

  "Tuan..." panggil Mayang parau.

  Aris yang sedang membaca buku di sampingnya langsung bangkit. Matanya tidak menunjukkan kekhawatiran, melainkan gairah yang meluap. Ia melihat jam di tangannya.

  "Kontraksi pertama?" tanya Aris, suaranya tenang namun bergetar oleh kegembiraan.

  Mayang mengangguk, keringat dingin mulai membasahi keningnya. "Sakit sekali, Tuan... Tolong panggil dokter."

  Aris justru tersenyum, sebuah senyum yang membuat Mayang menyadari bahwa pria ini benar-benar tidak normal. Aris mengunci pintu kamar utama dan mematikan ponselnya.

  "Belum waktunya dokter masuk, Mayang. Aku ingin kita berdua saja dulu. Ingat janji kita?

  Melahirkan normal. Di bawah pengawasanku."

  Aris membantu Mayang berbaring, namun ia tidak memberikan obat pereda nyeri. Ia justru duduk di antara kaki Mayang, menatap dengan intensitas yang mengerikan.

  "Mulai sekarang, rintihlah sesukamu. Sebut namaku setiap kali rasa sakit itu datang. Aku ingin mendengar bagaimana kau melahirkan masa depanku ke dunia ini."

  Mayang mencengkeram sprei sutranya, rasa sakit luar biasa menghujam tubuhnya. Di tengah penderitaan fisik itu, pikirannya masih sempat membisikkan satu hal: Bertahanlah, Mayang. Setelah rasa sakit ini, kau akan menjadi jutawan. Jangan lepaskan kemewahan ini.

  Drama persalinan paling sunyi namun paling mencekam di puncak gedung Jakarta itu pun dimulai. Mayang yang terlena kemewahan kini harus membayar angsuran terakhirnya dengan rasa sakit yang paling murni, di bawah tatapan mata seorang pria yang memujanya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah mahakarya yang sedang 'pecah'.

  ****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!