NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Lagi Sama

Keluarga Elios seketika menatap Naomi seolah ingin menguliti gadis itu hidup-hidup. Udara di dalam ruangan terasa menegang, dipenuhi amarah yang tak lagi disembunyikan. Tatapan mereka penuh kebencian, seakan Naomi baru saja melakukan dosa besar yang tak termaafkan.

Naomi, yang masih berdiri di dekat Max, justru tampak santai. Ia bahkan sedikit memiringkan kepalanya, ekspresinya polos seolah benar-benar bingung.

“Kenapa?” tanyanya ringan. “Ada yang salah?”

Ia melirik Viviane sekilas, lalu kembali menatap keluarga Elios. “Bukankah aku sudah melakukan apa yang kalian minta?”

Ucapan itu membuat darah Nyonya Ruby mendidih. Wanita itu melangkah maju, jarinya terangkat menunjuk Naomi dengan gemetar karena marah.

“Kurang ajar!” bentaknya. “Kenapa kau menampar adikmu?! Kau benar-benar tidak tahu diri! Kami tidak pernah mengajarkan bersikap liar seperti ini, Naomi!”

Naomi mengangkat alisnya pelan. Nada suaranya tetap tenang, nyaris datar.

“Loh, bukankah kalian menyuruhku meminta maaf?” tanya Naomi

Ia mengangkat bahu kecil. “Padahal aku tidak merasa bersalah sama sekali. Justru seharusnya kalian berterima kasih padaku, karena aku sudah menyelamatkan putri kesayangan kalian itu.”

Wajah Nyonya Ruby makin merah. Tuan Leon mengatupkan rahangnya keras-keras.

Naomi melanjutkan, suaranya tetap tenang. “Jadi kupikir, daripada aku minta maaf tanpa melakukan kesalahan apa pun, lebih baik aku berbuat salah dulu.”

Ia tersenyum tipis. “Setelah itu, baru aku minta maaf. Benar, bukan?”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Max tertegun, tapi langsung tersenyum yipis. Nyonya Arumi membeku lalu menatap Naomi. Tuan Bastian menarik napas panjang, seolah mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.

Bahkan keluarga Elios sendiri tampak tak siap dengan logika Naomi yang dingin dan menusuk itu.

Naomi sendiri tersenyum kecil dalam hati.

Harusnya aku melakukan ini dari dulu, batinnya.

Ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika ia melihat pipi Viviane memerah, bukan hanya karena tamparan, tetapi juga karena rasa malu dan terkejut.

Erick akhirnya tak bisa menahan diri. Ia menunjuk Naomi dengan wajah penuh kemarahan.

“Masalah ini belum selesai,” katanya tajam.

Tuan Leon ikut melangkah maju, sorot matanya penuh ancaman. “Kau berani menyakiti Viviane?”

Ia mendengus dingin. “Kalau begitu, bersiaplah keluar dari keluarga Elios.”

Ancaman itu biasanya cukup untuk membuat Naomi gemetar. Dulu, setiap kali kalimat itu terlontar, Naomi akan langsung panik, menangis, memohon, dan berjanji akan berubah.

Keluarga Elios pun tampak yakin hal yang sama akan terjadi sekarang. Bahkan senyum sinis sudah mulai terukir di wajah mereka, seolah menunggu pemandangan yang sangat mereka kenal.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Naomi mengangguk pelan. “Baiklah,” katanya singkat.

Ia menatap Tuan Leon tanpa rasa takut. “Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan mampir untuk mengambil barang-barangku.”

Kali ini, bukan hanya keluarga Elios yang terkejut.

Max menoleh cepat ke arah Naomi. Nyonya Arumi menutup mulutnya refleks. Tuan Bastian terdiam, menatap Naomi dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Apa?” Carlos bersuara keras, tak percaya. “Kau pikir Papi main-main dengan ucapannya?”

Ia melangkah mendekat, nadanya menekan. “Tidak, Naomi. Kau harus minta maaf. Sekarang juga. Lalu memohon pada kami.”

Naomi menatap Carlos dengan senyum mengejek. “Memohon?” Ia terkekeh kecil. “Untuk apa? Aku tidak salah sekali.”

Senyum itu justru membuat amarah Carlos semakin memuncak. “Kau sudah gila!” bentaknya.

Naomi menatap mereka dan berkata, “Gila? Tidak, aku tidak gila. Kali ini aku berpikir waras."

Wajah mereka semakin memerah. Mereka kembali melancarkan serangan.

Carlos mendengus sinis, melipat tangan di dada. “Naomi, jangan sok kuat,” katanya meremehkan. “Coba ingat-ingat, siapa yang menolongmu? Siapa yang memberimu rumah, sekolah, dan nama keluarga? Tanpa keluarga Elios, kau bukan siapa-siapa.”

Nyonya Ruby ikut menimpali, nadanya tajam dan penuh tudingan. “Kami sudah terlalu baik padamu. Memberimu makan, pakaian, pendidikan. Tapi balasanmu justru seperti ini?”

Ia menggeleng seolah kecewa. “Kau tidak akan bisa hidup di luar sana tanpa kami.”

Tuan Leon mengangguk setuju. “Dunia ini kejam, Naomi,” katanya dingin. “Kau pikir keluarga Atlas akan melindungimu selamanya? Pada akhirnya, darah tetap lebih penting daripada apa pun. Dan orang lain pada akhirnya akan membuangmu,” ujarnya sambil melirik keluarga Atlas.

Erick menatap Naomi dari balik bahu Viviane. “Sudah cukup dramanya,” ujarnya. “Hentikan sikap keras kepalamu itu. Kami tahu kau hanya menarik ulur. Kalau kau minta maaf dengan benar sekarang, semua ini masih bisa selesai baik-baik.”

Mereka berbicara bergantian, saling menyambung, seolah sudah sangat yakin dengan satu hal Naomi akan runtuh. Seperti biasanya. Seperti dulu-dulu. Mereka menunggu tanda itu, mata berkaca-kaca, suara bergetar, permohonan lirih agar tidak ditinggalkan.

Namun menit demi menit berlalu. Naomi tetap diam. Tatapannya kosong, tidak tertarik membalas satu pun ancaman itu.

Jasa?

Baik?

Naomi hampir tertawa mendengarnya.

Ia teringat malam-malam ketika ia menangis sendirian, teringat bagaimana setiap pengorbanannya dianggap kewajiban, bukan kebaikan.

Teringat bagaimana ia selalu dibandingkan, selalu disalahkan, selalu diminta mengalah.

Jika ini yang mereka sebut “baik”, maka ia tidak lagi menginginkannya.

Carlos akhirnya kehilangan kesabaran. “Katakan sesuatu!” bentaknya. “Atau kau benar-benar ingin hidup melarat tanpa kami?”

Naomi mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tenang. “Aku sudah hidup sendirian sejak lama,” jawabnya pelan. “Kalian saja yang tidak sadar.”

Ucapan itu membuat ruangan kembali hening.

Viviane yang sejak tadi dipeluk Erick, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya menatap Naomi penuh kebencian dan keterkejutan. Ini bukan Naomi yang ia kenal Naomi yang selalu mengalah, selalu tersenyum, selalu berada di bawah bayangannya.

Nyonya Ruby akhirnya kehilangan kesabaran sepenuhnya. Ia berbalik menatap Nyonya Arumi dan menunjuknya tajam.

“Pasti kalian,” tuduhnya lantang. “Keluarga Atlas pasti sudah mencuci otak Naomi! Kalian membuat dia membenci keluarganya sendiri!”

Nyonya Arumi tersenyum tenang. “Kami tidak mencuci otak siapa pun,” jawabnya. “Kami hanya mengajarkan Naomi untuk melihat cermin.”

Ia melangkah sedikit ke depan. “Apa yang Naomi lakukan hari ini sudah benar. Dia terlalu berharga untuk terus disakiti.”

Nyonya Ruby mendengus. “Kau tidak tahu apa-apa soal Naomi!”

“Oh, aku tahu,” potong Nyonya Arumi dengan suara bergetar, menahan emosi. “Aku tahu bagaimana rasanya mengasuh Naomi sejak ia masih bayi merah. Menjaganya saat demam, menenangkannya saat ia menangis.”

Matanya menatap tajam ke arah Ruby. “Dan kau?” Ia menggeleng pelan. “Kau bahkan tidak tahu makanan kesukaannya.”

Kata-kata itu menghantam keras.

Naomi berdiri terpaku. Dadanya terasa sesak, matanya panas. Namun ia menahan semuanya.

Ia lalu menoleh ke arah Max dan berbisik pelan, “Kak … aku capek.”

Hanya dua kata. Tapi cukup untuk membuat Max langsung melangkah maju.

“Sudah cukup,” kata Max dingin. “Kalian pergi sekarang.”

Tuan Leon mendengus. “Kami belum selesai.”

Max menoleh tajam. “Kalau kalian tidak pergi, aku akan memanggil pengawal.”

1
Yue Li MZy
wah,amazing KA Yuli memang the best bikin cerita ada MC cewek kuat an Tangguh
Restu Siti Aisyah
Terimakasih thor
Restu Siti Aisyah
tentu
Restu Siti Aisyah
hebat thor
Restu Siti Aisyah
wowwww👍
Diana Puji Astuti
bagus cerritanya
ika
jangan kasih kendor Naomi..👍
Milaa Eka widya
hah
Dian
sukaaaa
Priskha
sangat sangat bagus ceritanya, tdk bertele2, alur dan bahasanya jelas bikin pembaca penasaran pingin baca trs.....
Priskha
Max.... Max jd org jangan terlalu kaku knp sih??? sdh kayak kanebo aja
Ko
Alexei volkov mana? 🤔
Priskha
sekali bodoh tetap bodoh....
Priskha
itulah sifat tamakmu tdk pernah berfikir sblm bertindak, kesombongan sdh menutupi akal sehatmu....
Priskha
dasar klg toxic untung si Naomi cpt2 klg dr lingkungan klg toxic itu.... kutunggu kehancuranmu klg Elios....
Priskha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
𝓛𝓾𝓷𝓮𝓻𝓲𝓪𝓷𝓮
𝚠𝚘𝚠𝚠 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚔𝚊𝚝𝚊-𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚊𝚑 🤭
𝓛𝓾𝓷𝓮𝓻𝓲𝓪𝓷𝓮
𝚠𝚘𝚠𝚠 𝚓𝚍𝚒 𝚐𝚒𝚝𝚞 𝚊𝚕𝚊𝚜𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚎𝚗𝚊𝚙𝚊 𝚜𝚒𝚜𝚝𝚎𝚖 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚖𝚒𝚜𝚒 𝚐𝚒𝚕𝚊 𝚝𝚊𝚍𝚒 🤭
zen
⭐⭐⭐⭐⭐
Shelvia Amanda Dika
aku paling suka dgn bab ini kk author. makan itu viviane
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!